---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk DEKLARASI PENDIRIAN YAYASAN PENELITIAN KORBAN PEMBUNUHAN 1965/1966 Oleh: Alam Tulus Menurut Forum Keadilan (No 01, 11 April 1999) KH Yusuf Hasyim 2 kali berhadapan dengan PKI. Pertama sebagai anggota TNI, KH Yusuf Hasyim turut menumpas pemberontakan PKI Madiun 1948. Ke dua, ia menjadi Komandan Banser (Ansor) yang menggulung para pendukung PKI, seusai kudeta berdarah 30 September 1965. Kini ia sepakat dengan niat Latief untuk meluruskan kembali sejarah seputar peristiwa itu. Mengapa? Beberapa waktu yang lalu, kata KH Yusuf Hasyim, saya didatangi tim dari radio dan TV Australia, juga dari Eropa. Mereka menanyakan soal pembunuhan orang PKI pada 1965. Mereka membawa beberapa foto dan dokumen yang berasal dari komandan markas setempat. Ada dari Solo, Madiun dan sebagainya. Saya lihat ada usaha kalangan LSM yang bergerak di bidang HAM untuk mengangkat peristiwa pembunuhan anggota PKI. Menjawab pertanyaan wartawan Forum (Ketika menjadi Ketua Banser Nasional, Anda memerintahkan pembunuhan itu?), KH Yusuf Hasyim menjawab, "Tidak." Itu akibat pergolakan di daerah yang tak bisa kami kontrol. Di daerah-daerah terpencil selalu ditemukan dokumen dari komando militer tingkatan Kecamatan dan Desa berupa daftar nama orang-orang yang diincar. Baik dari Ansor, NU dan tokoh-tokoh Islam lainnya. Saya menemukan dokumen seperti itu di daerah seperti di Tulung Agung dan tepi pantai Blitar. Setelah sekian lama saya baru sadar, karena dokumen itu kami dapati dari tentara, apakah benar seperti itu. Apakah ini kerjasama antara kami dan ABRI? Tapi, persoalannya adalah siapa memakai siapa dalam menghadapi pemberontakan PKI. Dengan mencermati keterangan KH Yusuf Hasyim itu jelas terbayang keraguannya akan kebenaran dokumen yang didapati dari komandan militer setempat. Besar kemungkinan dokumen itu adalah hasil rekayasa komandan militer setempat, supaya Banser mau bekerjasama dengan mereka menumpas PKI. Banser diperalatnya. Kecil kemungkinan Banser memperalat ABRI untuk mencapai tujuannya sendiri. Itulah tampaknya latar belakang mengapa kini KH Yusuf Hasyim menyetujui niat Latief untuk meluruskan sejarah Peristiwa G30S dan pembantaian anggota dan simpatisan PKI. Dan benar seperti yang diperkirakan KH Yusuf Hasyim ada usaha kalangan LSM yang bergerak di bidang HAM untuk mengangkat peristiwa pembunuhan anggota PKI. Lihatlah kenyataan di bawah ini. YPKP 1965/1966 GUGAT SOEHARTO Pada 17 April 1999, dengan bertempat di Gedung YLBHI Jakarta, telah dideklarasikan berdirinya Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966. Yayasan didirikan untuk kemanusiaan, keadilan dan kebenaran. Di dalam Deklarasi ini telah memberikan sambutan Ibu Sulami, selaku Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) 1965/1966. Ibu Sulami adalah mantan Wakil Sekretaris Jenderal Gerwani. Siaran persnya dibacakan oleh dr Ribka Tjiptaning, salah seorang pendiri YPKP. Berikut ini adalah siaran pers tersebut. Perebutan kekuasaan yang dilakukan jenderal Soeharto atas presiden Sukarno pada tahun 1965 didahului dengan apa yang dinamakan "Gerakan 30 September", disusul dengan pembantaian brutal besar-besaran atas golongan kiri di Indonesia. Pembantaian atas rakyat yang tak bersenjata, tak berdaya, dan tak berdosa itu dilakukan di masa damai oleh Soeharto dengan aparat militer dan antek-anteknya. Jumlah korban menurut ensikplopedi "Britannica" (1991) antara 80 ribu dan 1 juta orang. Menurut Ratna Sari Dewi dalam wawancaranya dengan Televisi BBC (1 Juli 1992) 2 juta orang, sedang menurut Jenderal Sarwo Edhie pada Permadi SH 3 juta orang. Tiga puluh empat tahun lamanya kekejaman di masa damai yang tiada taranya dalam sejarah dunia itu dianggap benar dan sah oleh rejim Orde Baru, padahal tindakan itu jelas-jelas bertentangan dengan isi dan makna Pancasila, yang selalu dibangga-banggakan sebagai ideologi bangsa Indonesia; bertentangan juga dengan Deklarasi Hak-Hak Asasi Manusia PBB, yang mana pemerintah RI ikut menanda-tanganinya, sehingga pembantaian itu sangat bertentangan dengan asas hukum dan rasa keadilan yang berlaku, baik di Indonesia maupun di dunia internasional dan juga bertentangan dengan ajaran agama manapun mengenai perlakuan terhadap sesama manusia. Kekejaman itu ternyata menjadi preseden buruk bagi praktek-praktek perlakuan Orba terhadap rakyat Indonesia. Kasus-kasus lain yang sifatnya mengorbankan rakyat dan sebaliknya membenarkan tindakan kejam penguasa Orba, baik besar maupun kecil mencontoh atau mengacu kepada pengalaman besar yang pertama itu. Dengan mudahnya Orba menggusur, menangkap, menculik, menyiksa, memperkosa dan membunuh demi yang namanya "Pancasila dan UUD 1945". Sehingga Pancasila dan UUD 1945 kehilangan makna yang semestinya. Lalu berubah menjadi pentungan kayu yang tiap kali menelan korban sia-sia. Sampai sekarang. Praktek-praktek ini harus dihentikan, kalau tidak rakyat Indonesia yang sudah dirusak oleh Orba akan semakin rusak, sehingga tak seorang pemimpin pun akan sanggup memperbaikinya dan cita-cita masyarakat adil dan makmur hanya akan tinggal lamunan belaka. Untuk itu kita harus bertolak dari kasus yang pertama, yaitu meneliti dan mengungkapkan data pembunuhan massal 1965/66 seakurat mungkin, sehingga angka-angka tsb tak akan lagi menjadi angka kira-kira dan praktek pembunuhan dan perlakuan brutal tsb tidak lagi hanya menjadi dongeng. Dengan angka-angka dan pengungkapan praktek, kita tunjukkan bahwa perbuatan di masa lalu itu bukan hanya tidak benar dan tidak sah, melainkan sangat salah dan keliru untuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan ini Jenderal Besar Soeharto sebagai pelaksana utama pembunuhan dan perlakuan yang salah dan keliru itu harus dimintai pertanggungjawabannya. Kami serukan kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia tanpa kecuali, juga yang telah menjadi korban maupun yang telah menyebabkan jatuhnya korban untuk bergabung dengan kami dalam usaha yang besar ini. Dalam hal ini kita tidak harus mulai dari awal, sebab sejak pada 1994 Ibu Sulami dan kawan-kawan (Ibu Sulastri, Ibu Subarti, sdr Iskandar dan sdr Fajar) sudah melakukan penelitian di daerah Blora, Boyolali, Cilacap (Wangon), Kendal (Plantungan), Klaten, Magelang, Purwodadi, Purwokerto, Salatiga, Semarang, Sidoarjo, Solo, Sragen, Sukoharjo, Temanggung (Parakan), Wonosobo, dan Yogyakarta. PARA PENDIRI YKPK 1965/1966 Untuk dapat melaksanakan pekerjaan ini secara nasional, maka pada 7 April 1999, kami telah mendirikan Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 "(Indonesian Institute For The Study of 1965/1966 Massacre), dikuatkan dengan Akte Notaris No 1/7 April 1999 dan ditanda-tangani oleh Notaris Ny. Nanny Wahjudi SH. Yayasan ini didirikan antara lain oleh Pramudya Ananta Toer, Hasan Raid, Koesalah Subagyo Toer, Sulami, Sumini Martono, dr Ribka Tjiptaning dan Suharno. YPKP 1965/1966 ini berasaskan Pancasila, menurut arti serta makna yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, berikut ketentuan dalam batang tubuh UUD 1945 dan penjelasan-penjelasannya. Ada pun maksud dan tujuan YPKP 1965/1966 ini ialah membantu pemerintah RI dalam usaha ikut mencerdaskan bangsa guna mewujudkan masyarakat Pancasila seutuhnya. Juga berusaha berdasarkan kemampuan yang ada dalam pengamalan Pancasila serta UUD 1945 dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat Pancasila secara murni dan konsekuen. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut di atas, yayasan ini berusaha mengumpulkan literatur-literatur, mencari informasi-informasi, menerima informasi, mencari saksi mata, menghubungi keluarga korban, melakukan penelitian di lokasi-lokagi yang diperkirakan ada korban pembunuhan, dan bekerjasama dengan semua lembaga yang berkaitan dengan penelitian korban pembunuhan 1965/1966 termasuk lembaga hukum dan sejarah, membuat kesimpulan dan kemudian kesimpulan tsb disampaikan kepada pemerintah dan semua badan yang terkait. Kesimpulan tersebut menjadi dokumen penelitian yang masuk dalam sejarah Indonesia. Usaha-usaha lainnya yang tidak bertentangan dengan maksud dan tujuan Yayasan serta tidak bertentangan dengan UU dan PP. Yang lainjnya adalah bekerjasama dengan lembaga/badan/yayasan sejauh tidak bertentangan dengan asas dan tujuan Yayasan. AJAKAN YPKP 1965/1966 YPKP mengajak kepada saudara di manapun berada untuk ikut ambil bagian dalam tugas mulia mengungkapkan pembunuhan yang terjadi pada tahun 1965/1966 tersebut, dengan cara menyumbangkan tenaga kerja sukarela, informasi baik secara lisan maupun dalam bentuk uraian tertulis, rekaman, foto, video, dokumen dan sebagainya, sarana lain apapun, dalam bentuk benda bergerak maupun tidak bergerak, jasa apapun bentuknya serta dana. KEKEJAMAN PERNAH TERJADI DI NEGERI KITA Perlu dicatat bahwa di antara undangan yang memberi sambutan atas berdirinya "YPKP 1965/1966" ialah Pak Sudibyo, mantan menteri Front Nasional di masa pemerintahan Sukarno. Beliau salah seorang tokoh PSII di masa itu. Pak Sudibyo antara lain mengatakan: YPKP jangan sampai bertujuan untuk membalas dendam. Biarlah sejarah yang akan bicara kepada anak cucu kita. Bahwa kekejaman pernah terjadi di negeri ini. Beliau akan membantu YPKP untuk menegakkan kemanusiaan, keadilan dan kebenaran. Pak Sudibyo juga mengemukakan bahwa dalam setiap perjuangan tentu akan ada korban. Hal itu disadari Bung Karno. Menurut Bung Karno usahakanlah korban sesedikit, atau seminimal mungkin. Perjuangan perlu diteruskan. BERTAHUN-TAHUN SUMINI TUNGGU KEPULANGAN SUAMI Sementara itu Ibu Sumini Martono, mantan anggota Gerwani, yang juga menjadi salah seorang pendiri YPKP 1965/1966 ini mengatakan kepada wartawan Terbit (15/4) bahwa pada saat G30S terjadi, dia berada di Wonosobo. Saya tidak tahu menahu tentang G30S itu. Namun 17 November 1965 ia diambil dan dipenjara sampai 26 Februari 1966 di LP Wirogunan. Kemudian 3 Maret 1966 saya dan suami (Martono, mantan anggota BTI) diambil kembali. Sampai hari ini keberadaan suami saya tidak diketahui, masih hidup atau mati. Itulah salah satu tujuan Ibu Sumini sebagai salah satu pendiri YPKP 1965/1966, yang dideklarasikan 15/4. Ia pun masih terus melacak suaminya sampai nanti ketemu.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 30 Apr 1999 jam 12:28:52 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
