Bangga Saya Menjadi Orang Indonesia

oleh Ade Armando

SATU

Ketika kelurahan tempat saya tinggal terlambat memulai
pendaftaran, para ketua RT terus aktif
mempertanyakannya pada Ketua RW, yang pada gilirannya
bertanya pada Lurah. Akhirnya, hanya dua hari menjelang
akhir masa pendaftaran tahap pertama, kami mendengar
pengumuman yang disebarluaskan melalui pengeras suara
masjid tentang lokasi pendaftaran pemilu.

Dan tiba-tiba saja, masyarakat bergerak. Tanpa komando,
antartetangga saling mengingatkan untuk menggunakan
hak pilih. Rombongan keluarga demi keluarga terlihat
mengalir ke lokasi-lokasi pendaftaran. Masyarakat
berkumpul dalam suasana penuh gairah tanpa kesan
ketegangan. Perbedaan partai sama sekali tak penting.
Apalagi perbedaan ras, etnik atau agama. Kekhawatiran
bahwa sistem baru yang mengharuskan warga untuk aktif
akan menekan angka partisipasi ke titik rendah tak terjadi.

Dan saya melihat langsung bagaimana warga berdiskusi
tentang betapa pentingnya pemilu. Seorang warga yang
semula skeptis -- dengan alasan ''toh hasilnya akan sama
saja!'' -- akhirnya mendaftar juga setelah salah seorang
kerabatnya berkeras bahwa, ''kita semua
bertanggungjawab pada Tuhan kalau nanti pemerintah
yang terpilih ternyata sama zalimnya dengan pemerintah
Suharto!''.

Masyarakat antusias mengikuti pemilu -- dan siapapun
tahu, itu adalah tanda-tanda cerah bagi demokrasi.

DUA

Saya percaya anak-anak saya akan tumbuh dalam
Indonesia yang jauh lebih baik.
Tanggal 19 April lalu masjid Istiqlal dibom. Seorang teman
saya di kantor percaya bahwa aksi balas dendam akan
segera berlangsung. Argumennya: ''Satu orang Muslim
dibacok orang gila saja sudah cukup untuk menjadikan
umat Islam membumihanguskan toko-toko Cina, apalagi
Istiqlal dibom''.

Sejak awal saya yakin itu tak akan terjadi. Sebagian umat
Islam Indonesia mungkin adalah orang-orang yang rela
melakukan apa saja untuk membela agama yang
diyakininya, tapi mereka bukan orang-orang tolol. Terlepas
dari segala tuduhan tentang ketertinggalan,
ketidaktoleranan, atau keradikalan, saya percaya umat
Islam Indonesia adalah makhluk berpikir.

Dan, Alhamdulillah, paling tidak sejauh ini, keyakinan saya
cukup terbukti.

Tidak ada kemarahan, hujatan, atau kebulatan tekad
untuk melakukan pembalasan, kecuali kepada si pelaku.
Para pemuka agama segera mendukung pernyataan
Presiden bahwa insiden itu adalah aksi terencana untuk
menciptakan konflik antaragama. Ahmad Soemargono,
tokoh yang oleh sebagian pihak disebut secara sinis
sebagai 'Bapak Fundamentalisme Indonesia', di Republika
segera sesudah insiden dikutip menyatakan: ''Saya kira
pemboman masjid ini tidak mungkin dilakukan oleh kaum
Kristiani. Saya menganalisis pemboman ini dilakukan
kelompok pemecahbelah antarumat beragama, antara
golongan masyarakat.''

Saya rasa kelompok yang berada di belakang tragedi
Banyuwangi, Ketapang, Kupang, Ambon, Sambas,
Purbalingga, dan Istiqlal, kini terpaksa memutar otak lebih
keras untuk melanjutkan program penghancuran Indonesia
yang tak kunjung terpecahbelah ini.

TIGA

Saya optimistis dengan Indonesia.

Salah seorang teman kantor istri saya menjadi pengurus
Partai Amanat Nasional, dan duduk dalam divisi
pemenangan PAN. Ia sangat percaya pada Amien Rais.
Dua hal perlu dicatat: ia beragama Kristen, dan ia tinggal
di daerah yang dinilai sebagai basis PDI Perjuangan.

Seorang teman kantor lainnya, juga beragama Kristen,
bahkan mendukung Partai Kebangkitan Bangsa. Dengan
bangga ia bercerita bagaimana sekarang ia banyak
berhubungan dengan para kyai. Sebelumnya, ia
menanggalkan dukungan pada PDI Perjuangan karena
kecewa. Tapi, kenapa PKB? ''Ya, cocok saja,'' jawabnya.

EMPAT

Saya percaya Indonesia siap berdemokrasi.

Saya beruntung tak melewatkan kesempatan untuk
menyaksikan siaran tunda Debat Antarcalon Presiden
melalui SCTV Selasa lalu. Saya rasa akan banyak orang
setuju bahwa acara itu hadir sebagai tonggak sekaligus
pelajaran penting tentang keterbukaan yang dewasa di
Indonesia -- sesuatu yang tak pernah memperoleh
peluang untuk berkembang sejak Soekarno memulai
Demokrasi Terpimpin pada 1957!

Kita menyaksikan bagaimana acara itu diselenggarakan
oleh panitia, calon presiden, panelis, hadirin, dan media
yang siap berdemokrasi. Kekhawatiran terbesar
sebelumnya tentunya adalah kemungkinan bahwa acara
itu akan menjadi ajang 'saling bantai' antarcalon, di
hadapan khalayak yang bukan hadir untuk mendengarkan
argumen, dengan potensi kerusuhan yang perlu serius
diperhitungkan.

Alhamdulillah, itu semua tak terjadi. Kita memang
menyaksikan konflik yang menjurus ke arah pribadi antara
Amien Rais dan Yusril Ihza Mahendra, tapi itu tak pernah
mencapai tahap ketegangan yang siap meletus.
Sebaliknya, suasana utama perdebatan tersebut adalah
rileks, yang ditandai oleh mengalirnya berbagai joke di
sepanjang acara, di hadapan hadirin yang ternyata tidak
haus darah.

Dan SCTV barangkali harus dinobatkan sebagai TV Station
of the Month karena menyebarluaskan acara itu tanpa
potongan berarti, kendati harus menggeser program lain
yang penayangannya sudah direncanakan jauh
sebelumnya dan mungkin bisa lebih mendatangkan iklan.

Adalah pelajaran sangat berharga tatkala Yusril --
pemimpin sebuah partai Islam -- mengutip contoh tentang
bagaimana PM Mohammad Natsir dahulu mengisi sepertiga
dari pos menteri dalam kabinetnya dengan tokoh-tokoh
Nasrani.

Adalah pelajaran sangat berharga melihat Didin
Hafidhuddin dengan rendah hati menyebut perlu belajar
dari ketiga kandidat presiden lain, serta mendinginkan
perdebatan Amien-Yusril dengan menyebut mereka
sebagai putra-putra terbaik bangsa yang justru perlu
bekerja sama untuk menyelamatkan Indonesia.

Adalah pelajaran sangat berharga menyaksikan Amien
berjanji akan melibas feodalisme nanti, kendati dia tentu
sangat tahu bahwa ucapannya itu akan menghilangkan
peluangnya untuk didukung oleh pencinta Sultan
Hamengku Buwono X.

Adalah pelajaran sangat berharga menyaksikan Sri Bintang
Pamungkas hanya tertawa-tawa menerima segenap reaksi
negatif terhadap gagasan-gagasan yang dilontarkannya.
Itu, dan banyak contoh lainnya, adalah pelajaran penting
tentang keterbukaan, toleransi, kesediaan untuk mengakui
pihak lain, kesediaan untuk bekerja sama dan
menomorsatukan kepentingan bangsa, kerendahhatian --
dengan kata lain pelajaran penting tentang demokrasi.
Dan itu semua terselenggara dengan diprakarsai dan
dipanitiai oleh sekumpulan mahasiswa yang tergabung
dalam Forum Salemba, kelompok anak muda yang secara
konsisten menyuarakan reformasi damai, tanpa kekerasan,
dan bahwa perubahan sesungguhnya hanya akan terjadi
melalui perjuangan yang tak sekadar turun ke jalan.

LIMA

Perjalanan Indonesia masih sangat-sangat panjang.
Namun saya percaya ada banyak tanda-tanda terang di
sepanjang jalan. Karena itu saya berani berkata: Saya
bahagia menjadi orang Indonesia. Saya bangga.

-------------
Ya. Aku juga sama bangganya dengan penulis artikel ini.
Aku bangga menjadi orang Indonesia.
Tetanggaku di Bekasi baik hati semua.
Dan aku tak harus menjadi pengungsi di negeri sendiri.

Semoga demikian seterusnya adanya.

IS


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke