----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Ketua PKB menolak ajakan ketua PPP untuk menenangkan massa. Sebaliknya
Matori malah menuduh pendukung PPP sebagai provokator, penyerang, dan
pembunuh. Apa itu bukan fitnah?

Matori menuduh para da'i PPP menghasut massa untuk membenci PKB, bukankah
PKB sendiri yang melakukan hal itu?

Matori mengatakan PKB bukan partai Islam, karena partai Islam itu
ketinggalan zaman. Bukankah ini yang namanya provokasi dan menghasut? Jadi
kalau para ulama dari partai Islam membantahnya, ya jangan marah.

Sementara Gus Dur sendiri di majalah Sabili mengatakan bahwa bahwa Islam
Kanan adalah musuhnya, dan sekarang bergabung dengan organisasi think tank
Katolik, CSIS, yang diketuai JB Kristiadi, dan Leonardus Benny Murdani
mangkal sekarang.

Sebelumnya, PKB dan PDIP juga menteror warga PNU yang mengadakan muktamar di
Surabaya. Jika polisi tak menengahi, niscaya bentrokan berdarah sudah
terjadi.

Sementara di Pekalongan, karena PBNU menganggap PKB yang tidak berasaskan
Islam sebagai anak tunggal NU, maka mereka menteror ulama yang bergabung
dengan PPP dengan menimpuki rumah para ulama di daerah tsb (baca Tekad).

Baru2 ini PKB juga bentrok dengan PAN.

Bentrokan berdarah baru2 ini, ternyata sebelumnya disebabkan oleh
pengeroyokan massa PKB terhadap seorang anggota PPP hingga tewas, hal inilah
yang menyebabkan aksi balas dendam warga PPP.

Jadi jelas siapa yang provokator.

Di Kompas hari ini (tanggal 6 Mei 1999), seorang "da'i" PKB menyimpangkan
tafsir surat Al Ashr "Innal Insaana la fi khusri" dengan sesungguhnya orang2
yang merugi adalah orang2 pendukung PPP. Inikan sudah dosa besar
mempermainkan Al Qur'an.

Tapi begitulah, karena PKB bukan partai Islam, mereka seenaknya
mempermainkan Al Qur'an dan bentrok dengan partai2 Islam.

PKB sendiri berusaha memposisikan dirinya dengan partai reformis dan
menganggap PPP sebagai pro status quo. Padahal PKB yang asasnya Pancasila
itu adalah pro status quo, sedangkan PPP yang asasnya Islam adalah anti
status quo. Bukankah Suharto yang memaksakan asas Tunggal pancasila dan
melarang asas Islam adalah biang status quo?

Gus Dur sendiri terbukti telah berkunjung ke rumah Suharto berkali2, dan
mengaku punya hutang sebesar 50 juta rupiah pada pak Harto.

Jadi jelas siapa yang pro status quo dan yang bukan.

Ketua Umum PKB Tolak Ajakan PPP Tenangkan Massa Bersama

JAKARTA -- Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Matori Abdul Djalil
menolak pertemuan atau tindakan bersama-sama dengan Partai Persatuan
Pembangunan (PPP) untuk menenangkan massa. Hal itu dinyatakannya menanggapi
kasus bentrok massa PKB dan PPP di Jepara yang menjatuhkan korban jiwa.

''Kami kira masalahnya bukan menenangkan massa. Justru Hamzah Haz-lah yang
sekarang harus bertanggungjawab kepada kadernya-kadernya yang ada di Jawa
Tengah. Bagaimana mereka sekarang telah berubah menjadi provokator,
pembunuh, dan perusuh,'' ujar Matori pada acara Silaturahmi & Orientasi
Jurkamnas PKB, di Jakarta, kemarin [5/5].

Menurut Matori, insiden Jepara itu bukan bentrok antarmassa. ''Yang benar
adalah PKB diserang oleh PPP. Dan penyerangan oleh PKB ini dilakukan dengan
cara sistematis, yakni dimulai dari mereka menurunkan dai-dai yang setengah
provokator. Ada yang nama Idrus Samalulel, Cecep Rsutomi, Abu Hanifah. Yang
semuanya itu kalau dia pidato, tidak lebih dan tidak kurang, cuma melakukan
hasutan kepada massa untuk membenci PKB dengan tidak ada alasan yang cukup
mendasar,'' katanya.

Sedangkan ketika disinggung mengenai bentrok antara massa PKB dan PAN,
Matori mengatakan, berbeda dengan PPP untuk kasus yang satu ini pihaknya
barulah bisa mengatakan sebagai bentrok. Alasannya, katanya, kedua belah
pihak hanya saling bertemu di jalan dan tidak satu sama lain tidak melalukan
penyerangan.

''Nah, bila itu terjadi dengan PAN maka itu mungkin bisa dikatakan bentrok.
Hanya karena emosi,'' ujarnya. Dia lebih jauh mengatakan, munculnya berbagai
bentrokan tampakya juga bisa ditengarai adanya sebuah sknario untuk
mempertahankan status quo. Dan itu dapat dilihat di mana antar bagian massa
partai kini sudah ada usaha untuk saling dihadap-hadapkan.

''Ya, layaknya gaya man to man marking dalam pertandingan sepakbola. PKB
akan dihadapan dengan PKU, PNU, dan PPP. PDI Perjuangan dihadapkan dengan
PDI-nya sendiri, Golkar, dan partai nasionalis yang pro status quo. PAN
dihadapkan dengan PBB dan Partai Keadilan,'' katanya lagi.

Menyinggung apakah kasus itu oleh PKB akan dibawa ke pengadilan, Ketua Umum
PKB itu mengatakan, pihaknya memang berencana melakukannya. Apalagi,
katanya, pihaknya memang telah cukup lama menengarai tindakan negatif dari
para simpatisan PPP. ''Kami menuntut DPP PPP bertanggungjawab terhadap ulah
yang selama ini telah dilakukannya.'' Tak berbeda dengan Matori, Ketua Dewan
Syura PKB, KH Ma'roef Amien, menyatakan pihak PPP memang harus
bertanggungjawab atas terjadinya bentrokan di Jepara. Dan dia pun
mensinyalir bahwa aksi itu bertujuan untuk menghambat kemenangan partainya.

Menurut Ma'roef, antara PPP dan NU kini memang sudah tidak ada lagi
hubungan. Sehingga, katanya, akan menjadi janggal bila partai berlambang
Ka'bah menyatakan dirinya adalah bagian dari warga nahdliyin. ''Hubungan PPP
dengan PB NU itu ibarat mantan istri. Jadi dia tidak berhak menuntut apa-apa
lagi. Sedangkan untuk PNU, dan PKU, berdirinya itu tanpa memberitahukan
PBNU,'' kata Ma'roef Amin.
http://www.republika.co.id/9905/06/13423.htm

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 May 1999 jam 06:09:35 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke