----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

HUKUM KARMA - SUATU INTROPEKSI MENDALAM (4)

Oleh : Ki Ageng Mangir

Hukum Karma - akibat buruk dari perbuatan tercela dari
'order baru' apakah akan terus terus berlangsung?

Lebih lanjut dalam Pupuh 257 (Pocung), Serat Centini
jilid IV melukiskan kekalutan yang terjadi pada masa
Kalabendu sebagai berikut :

Tembang 31 s/d 35:

- Krep paprangan, sujana kapontit nurut, durjana
susila dadra andadi, akeh maling malandang marang
ing marga.

Artinya: Banyak peperangan yang melibatkan para
            penjahat, kejahatan/perampokan dan
            pemerkosaan makin menjadi-jadi dan banyak
            pencuri malang melintang jalan-jalan.

- Bandhol tulus, mendhosol rinamu puguh, krep grahana
surya, kalawan grahana sasi, jawah lindhu gelap cleret
warsa.

Artinya: Alampun ikut terpengaruh dengan banyak terjadi
            gerhana matahari dan bulan, hujan abu, gempa
            bumi.

- Prahara gung, salah mangsa dresing surur, agung
prang rusuhan, mungsuhe boya katawis, tangeh lamun
tentreming wardaya.

Artinya: Angin ribut dan salah musim, banyak terjadi
            kerusuhan seperti perang yang tidak ketahuan
            mana musuhnya yang menyebabkan tidak
            mungkin ada rasa tenteram dihati.

- Dalajading praja kawuryan wus suwung, lebur pangreh
tata, karana tanpa palupi, pan wus tilar silastuti titi tata.

Artinya: Kewibawaan negara tidak ada lagi, semua tata
            tertib, keamanan, dan aturan telah ditinggalkan.

- Pra sujana, sarjana satemah kelu, klulun Kalathida,
tidhem tandhaning dumadi, hardayengrat dening karoban
rubeda.

Artinya: Para penjahat maupun para cerdik pandai tidak
            sadar apa yang diperbuat dan tidak berdaya
            karena selalu ditimpa masalah / kesulitan.
.
Pada saat in ulah para 'provokator' mencetuskan
kerusuhan adalah ilustrasi perang tanpa tahu musuhnya
seperti terlukis dalam tembang diatas - karena ABRI tidak
mampu atau mungkin terlibat dalam ulah 'provokator'
sehingga membiarkan saja negara seperti kapal pecah
dengan berbagai kerusuhan tanpa ada usaha yang berarti
untuk mengatasi.

Kalau kita memang percaya kepada Tuhan Yang Maha
Esa sebagai diamanatkan dari dasar2 negara kita
Pancasila pada sila yang pertama. Setiap saat selalu
ada tanda2 zaman ataupun pertanda yang bisa dilihat,
apakah kita sedang mendapatkan pahala karena
perbuatan kita yang baik, ataupun kita mendapat
bencana atau azab/hukuman karena perbuataan kita
yang buruk/tercela.

Pada saat ini, pertanda zaman telah menunjukakan
bahwa bangsa Indonesia saat ini sedang menerima azab
atau hukuman akibat dari karma buruk yang secara
sadar atau tidak telah diperbuat di-masa2 lalu dengan
mengabaikan perintah Allah SWT untuk selalu berbuat
baik (tidak satu agamapun yang menyuruh manusia
berbuat curang dan mencuri uang rakyat). Sebahagian
besar rakyat Indonesia telah lupa tentang moralitas, dan
mudah tergiur dengan perbuatan yang tercela. Akibat
buruk dari perbuatan buruk bangsa Indonesia saat ini
akan terus berlanjut, apabila tidak timbul kesadaran
dari mayoritas masyarakat Indonesia untuk bertobat,
dan merubah tindakannya kearah tindakan yang lebih
terpuji (dan apa gunanya kita punya banyak ulama atau
pemuka agama kalau tidak memberi contoh dan
melakukan kampanye perbuatan yang lebih baik).

Ada dua gejala yang patut dicermati, menjelang
peristiwa penting Pemilu yang akan dilaksanakan pada
tanggal 7 Juni 1999. Hasil Pemilu yang dilaksanakan
secara jujur dan adil dipercayai akan merupakan titik
balik dari sejarah bangsa Indonesia untuk mempunyai
pemerintahan yang jujur dan berwibawa dan berjuang
hanya untuk kesejahteraan rakyat menuju masyarakat
Indonesia Baru yang adil dan makmur.

Dua gejala tersebut adalah:

- Menguatnya kembali kekuatan 'orde baru' yang jelas2
biang keladi dari kekalutan bangsa Indonesia saat ini
yang menunjukkan bahwa masih lemahnya kekuatan
moral bangsa Indonesia untuk berubah dari sikap lama
yang terlanjur bermental 'korup' sehingga masih
mendukung golongan yang nyata-nyata adalah sarang
koruptor untuk kembali melanggengkan kekuasan yang
lama walaupun ganti baju dengan cap 'reformasi'.
- Ter-pecah-pecah-nya kekuatan minoritas yang murni
berjuang untuk melaksanakan 'reformasi total' untuk
mengubur secara tuntas mentalitas 'order baru' dan
memulai Indonesia Baru yang lebih transparan dan
demokratis. Seperti telah penulis kemukakan didepan
walupun jumlahnya mungkin lebih kecil, kekuatan
moral pencetus 'reformasi total' ternyata telah mampu
menjatuhkan rezim Soeharto - yang dikatakan pada
saat itu adalah rezim terkuat di Asia, bila perjuangannya
adalah benar2 murni walaupun jumlahnya lebih kecil,
tentu ada kekuatan yang tak terlihat akan membantu
menuju ke kemenangan.

Kenapa kedua gejala tersebut diatas bisa terjadi:

- Masih banyaknya unsur-unsur dalam tubuh bangsa
Indonesia tidak sadar bahwa apa yang terjadi saat ini
di Indonesai adalah akibat Karma buruk yang telah
dilakukan oleh mayoritas bangsa Indonesia dimasa lalu.
- Masih banyak para pendukung sistim KKN dari 'orde
baru' mempunyai kekuatan politik dan menyandang
dana yang besar untuk berusaha 'come-back' agar
kepentingan pribadinya terlindungi (yang berupa
kekayaan hasil KKN maupun jaringan bisnis dengan
sistim KKN).
- Melakukan segala cara, termasuk pola lama - sogok
menyogok, adu domba, provokasi, intimidasi - untuk
menggalang kekuatan kembali.
- ABRI dengan perpanjangan tangannya para preman
masih setia sebagai bagian tak terpisahkan dari
kekuatan penyangga dari mereka yang tidak
menginginkan perubahan ke arah transparansi dan
demokratisasi (karena kalangan pimpinan ABRI juga
banyak yang terlibat KKN).
- banyak kaum 'reformis' masih berkompromi dengan
kekuasaan yang lama sehingga memberi kesempatan
kepada penjaga 'status quo' melakukan konsolidasi dan
politik adu domba diantara partai pendukung 'reformasi'

Apakah Karma buruk akan berlanjut menghantui bangsa
Indonesia ?

Menurut pendapat penulis, kalau konsolidasi 'order
baru' berhasil melakukan come-back dan memenangkan
Pemilu '99 sudah pasti Karma buruk bangsa Indonesia
akan berlanjut karena kita akan dipimpin oleh para
pemimpin yang bermental korup dan tercela yang
dimasa lalu dan juga saat ini adalah para pemimpin yang
paling senang membohongi rakyat (dan kalau ini yang
terjadi mayoritas bangsa Indonesia memang masih
senang berkorupsi ria dan ber-moral rendah, akibat yang
lebih buruk (azab) dari yang sekarang mungkin akan
terjadi karena bangsa Indonesai tidak punya kesadaran
untuk memperbaiki moralnya yang buruk).

Penulis sendiri punya keyakinan bahwa para pedukung
'reformasi total' akan mengalami kemenangan selama
yang diperjuangkan adalah murni buat kepentingan
rakyat banyak, karena ini adalah karma baik. Walaupun
kemenangan mungkin tidak bisa dicapai dengan mudah
mengingat kekuatan 'kebatilan' dan 'kezaliman' masih
cukup besar (tidak ada suatu perjuangan menegakkan
kebenaran dan keadilan yang mudah, pasti dengan
pengorbanan yang besar yang selama ini korban telah
berjatuhan dari kalangan para mahasiwa martir yang
'mati muda' dalam peristiwa Trisakti dan Semanggi).

Kalau memang bangsa Indonesia ingin menghilangkan
Karma buruk dan Pemilu '99 adalah momen titik balik,
harapan penulis, jangan sekali-kalii mayoritas bangsa
Indonesia salah pilih, memilih partai atau golongan
yang jelas2 akan mengembalikan Indonesia kepada
sistim 'orde baru' yang korup. Pilihlah partai2 (walaupun
tidak banyak) yang nyata-nyata mendukung 'reformasi
total' kearah Indonesia Baru yang lebih 'transparan' dan
demokratis.

Menurut pendapat penulis hanya beberapa partai politik
saat ini yang bisa diharapkan akan berjuang melakukan
perubahan menuju Indonesia Baru yaitu: PAN, PBB,
PDI Perjuangan, PKB, PRD, PUDI (berdasarkan urutan
abjad). Banyak partai partai yang sekedar partai bunglon
yang hakekatnya orang-orang pendukung setia 'orde
baru' dimasa yang lalu secara ter-gesa2 menjelma
menjadi partai 'reformasi' yang secara mental tidak
mungkin mereka akan berubah begitu cepat (bahkan
mungkin tujuannya justru ingin mempertahankan sistim
lama). Note: Kalau seandainya saja partai2 tersebut
bersatu menggalang kekuatan, penulis kira partai2
pendukung 'status quo' tidak akan mampu
menghadapinya.

Lebih lanjut Serat Centini jilid IV, melukiskan peralihan
zaman Kalabendu ke zaman Kalasuba yang penuh
kebahagian bagi bangsa Indonesia (penulis menaruh
kepercayaan hal ini akan terjadi - yang mudah2-an
milenium baru yang menjadi titik awalnya):

Pupuh 257 (Pocung), Tembang 44:

- Wektu iku, wus parek wekasanipun, jaman Kaladuka,
sirnaning ratu amargi, wawan-wawan kalawan memaronira.

Artinya: Pada saat itu sudah dekat dengan akhir dari
            zaman Kaladuka (Kalabendu - yaitu pada saat
            pertanda zaman seperti telah dikemukakan pada
            tembang2 sebelumnya, yang telah penulis
            kemukakan diatas)

Pupuh 258 (Girisa), Tembang 1:

- Saka maramaning Hayang Sukma, jaman Kalabendu
sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenengan nata, ing
kono raharjanira, karaton ing tanah Jawa, mamalaning
bumi sirna, sirep dur angkaramurka.

Artinya: Atas kehendak Allah SWT, jaman Kalabendu
            hilang, jamannya berubah, kemulyaan dan
            kemakmuran akan terjadi di Jawa/Indonesia,
            hilang kutukan bumi dan angkaramurkapun
            mereda.

Kesimpulan.

Bahwa dari petikan-petikan Serat Centini jilid IV,
dikemukakann bahwa bangsa Indonesia setelah
mengalami kekalutan yang sangat dari pengaruh Karma
negatif atas perbuatan mayoritas bangsa Indonesia
dimasa yang lalu (terutama semasa 32 tahun terakhir ini)
yang mayoritas bangsa Indonesia ikut2-an korupsi, takut
tidakkebagian, takut kelaparan kalau tidak ikut korupsi,
dan mayoritas larut pada pengaruh 'angkaramurka' untuk
meniru teladan yang jelek dari para pemimpin yang
mayoritas korup - pencuri uang rakyat.

Kesadaran murni kaum muda yang diwakili para
mahasiswa untuk melakukan perubahan sudah dimulai
- walaupun mereka adalah minoritas, dan telah
mengambil risiko yang sangat besar - tapi telah berhasil
menjatuhkan suatu rezim yang pada saat itu dianggap
rezim terkuat di Asia, adalah pertanda zaman bahwa
Karma moral positif mulai menampakkan kehadirannya
di Indonesia. Justru hal ini yang harus dicermati oleh
kalangan partai politik yang menyatakan dirinya
pro-reformasi agar melakukan dukungan yang lebih luas
sehingga masyarakat luaspun ikut mendukung 'reformasi
total' menuju Indonesia Baru yang lebih transparan dan
demokratis.

Usaha2 yang dilakukan kalangan pendukung 'order baru'
dengan Golkar dan ABRI sebagai pendukung utamanya
adalah usaha terakhir dara para pelaku Karma negatif
untuk mempertahankan eksistensinya, yang pertanda
zaman disebabkan mereka adalah pembawa Karma
negatif pada kehidupan bangsa, karean perbuatan
mereka masa lalu, yang akibat buruknya masih kita
rasakan bersama saat ini, secara pasti walaupun agak
lambat akan terkikis habis, menyongsong kebangkitan
para pembawa Karma positif - dengan moral yang lebih
bersih - yang akan membawa bangsa 'Indonesai ke
kemulyaan dan kesejahteraan pada masa Kalasuba.

Sebagi kata penutup, penulis serukan pada masyarakat
bangsa Indonesia, perhatikan pertanda zaman, 'eling lan
waspada' adalah kata kuncinya, ingat dan waspada
untuk selalu berbudi luhur apapun keadaannya, bahwa
pergantian zaman akan berlaku dimana orang yang
bermoral buruk akan menerima Karma buruknya dan
tidak akan mungkin bisa menghindar dari azab dan
hukuman. Hukum Karma - 'becik ketitik, ala ketara' -
tidak akan pandang bulu apakah anda rakyat jelata,
pemimpin, raja, bahkan kelompok bangsa akan
menerima akibat perbuatannya baik ataupun buruk.
Jangan salah pilih untuk mengikuti mereka yang punya
Karma buruk - kalau tidak ingin celaka dan sengsara -
karena Karma yang baik sudah mulai menampakkan
kehadirannya dan akan makin menguat untuk membawa
bangsa Indonesia kearah kemulyaan dan kebesarannya
dalam tata masyarakat yang menjunjung tinggi nilai2
'etika' dan 'moralitas' berbudi luhur.

Tamat.

Mei 1999.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 May 1999 jam 05:18:06 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke