----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://click.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

From: Endang Prabaningsih
RAJA BAMBU : INTRODUKSI

Dari pertapaan di kaki gunung Kelut, salam sejahtera. Saya bernama : Raja Bambu. Tak 
ada seorang dapat mengatakan saya bukan Raja Bambu,
karena saya benar-benar menguasai papringan. (taman bambu) Rakyat
saya terdiri dari dua sapi, tujuh kambing dan dua lusin ayam kate. Saya
urus rakyat saya dengan baik, kepentingannya saya penuhi. Mereka
merasa senang dan tentram, karena tahu, kalau ada hujan dan badaipun,
mereka terlindungi. Makanan, meskipun sederhana pasti ada. Mereka
juga tahu, Raja Bambu mengasihi mereka. Kalau ada yang sakit, RB
selalu akan memanggilkan dukun ampuh dengan jampi-jampi.
Karena sepinya tempat saya, saya banyak waktu untuk merenungkan,
bukan saja "kerajaan" saya, tetapi juga negara kita tercinta, Indonesia.
Mengapa negara yang subur dan kaya raya ini, sampai ada dalam
keadaan menyedihkan begini. Segala macam malapetaka atau krisis
melanda kita. Ada krisis makanan, krisis uang sekolah, krisis obat
obatan dan susu, krisis pemerintahan, krisis lahan kerja, krisis berfikir
mudeng dan lain sebagainya.
Bapak bapak petinggi pemerintah diatas, memakai istilah-istilah yang
mentereng seperti : krisis moneter, globalisasi ekonomi, stabilitas nilai
tukar, reliabilitas perbankan, GNP maupun penghasilan per kapita dan
sebagainya. Mereka juga mengutarakan berbagai kebijaksanaan oleh
punggawa agung menkoekuin yang meliputi restrukturisasi, intervensi,
reschedule hutang valas, subsidi selektif dan sebagainya. Memang
istilah-istilahnya kedengaran hueeeeebat sekali. Tetapi apa artinya itu
semuanya, saya nggak tahu. Teman-teman saya juga nggak ngerti.
Kadang-kadang masuk dalam fikiran saya, apakah para petinggi
sengaja memakai istilah yang sukar-sukar, supaya kita kita ini merasa
bodoh dan bengong. Kita terus dapat merasa lebih hormat lagi pada
mereka, karena pintarnya, sampai nggak dapat dimengerti orang
biasa. Kita harus ..........waaaah, seperti menghadapi satrio sekti
mondro guno.
Barangkali dengan mendengarkan kehebatan bicara para petinggi,
mungkin, kita dapat lupa akan krisis-krisis yang melanda kita setiap
hari. Namun, kadang-kadang, saya menanya diri sendiri : Kalau
saya dan kawan-kawan nggak ngerti omongannya para petinggi,
apakah para petinggi mengerti krisis yang kita hadapi setiap hari.
Ya, mestinya bapak bapak mengerti kesulitan kita. Bukankah
kebutuhan kita sehari hari merupakan tugas, tanggung jawab
mereka ? Kebutuhan kita tidak dapat dipenuhi dengan istilah dan
akronim yang hebat-hebat atau janji-janji yang muluk-muluk.
Usahakanlah, agar rakyat ini berkesempatan untuk mendapat
makan, membeli baju, uang untuk menyekolahkan anak dan uang
untuk membeli obat kalau sakit.
Raja Bambu ini, sering mengadakan musyawarah dengan para
penasehat kerajaan. Para penasehat saya adalah : pak No, tukang
kayu, pak Lup, penggarap tegalan, dik Bowo, penanam pohon buah,
pak Rin, tukang serba bisa, Wit, Amat, Heri dan pak Di, sopir bakul
kecap. Kadang-kadang saya juga mendatangkan penasehat ahli
lain, yang dapat memberi advis mengenai makanan ayam, atau
rambanan buat kambing. Memangnya tanggung jawab Raja Bambu
begitu besar. Tanpa mendengar nasehat para ahli, yang mengetahui
keadaan kehidupan sebenarnya, Raja Bambu tidak mungkin
mengambil kebijaksanaan yang tepat. Dengan musyawarah ini rakyat
saya senang, para penasehat senang, karena dapat ketela goreng
dan kopi tubruk. Raja Bambu juga senang karena rakyat senang.
Bebarapa hari yang lalu, saya mendengar bapak pemimpin tertinggi
kejaksaan Republik mengatakan : "Pekerjaan saya banyak sekali.
Setiap hari pekerjaan saya bertambah. Pekerjaan saya jauh lebih
banyak dari pendahulu saya. Karena itu, kalian jangan berharap
saya dapat menyelesaikan kerjaan sulit ini dalam waktu singkat".
Wah, kasian juga bapak ini. Meskipun punya mobil mewah, ia
barangkali tidak punya penasehat seperti Raja Bambu.
Kalau pak Di dan Heri ditanyak, mereka akan menasehatkan :
"Pak, diantara kerjaan yang banyak itu, mbok dipilih satu atau dua
yang penting untuk rakyat. Selesaikanlah itu. Lainnya dapat
diserahkan pada mas Bowo, pak Rin dan Amat. Pasti beres, deh."
Betul juga.
Kalau Raja Bambu harus menghadapi pekerjaan yang terlalu banyak
dan setiap hari tenger-tenger saja, karena sudah loyo sebelum kerja,
maka, alhasil, Raja Bambu nggak berbuat apa-apa. Kambingnya
kelaparan, sapinya bengok-bengok.
Barangkali bapak petinggi kejaksaan itu perlu penasehat praktis,
yang dapat memberi nasehat sederhana yang dapat dilaksanakan.
Waktu yang digunakan untuk mencari alasan mengapa kerjaan
tak terselesaikan dapat dipakai untuk bekerja benar. Pasti alhasil,
bapak petinggi akan dapat menyelesaikan kerjaannya, satu demi
satu. Tiap hari akan ada kemajuan, tiap hari akan ada persoalan
yang terselesaikan. Rakyat senang. RB sanggup mengusulkan
bapak petinggi untuk jadi pahlawan rakyat, pahlawan nasional.
Kalau obrolan Raja Bambu ini kurang bernilai, mohon maaf. Kalau
cara berfikirnya Raja Bambu terlalu sederhana, mohon maaf juga.
Memangnya Raja Bambu hanya seorang yang terbatas ilmunya.
Raja Bambu yang prihatin.
Blitar

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 May 1999 jam 17:39:59 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke