----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://click.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Memperalat Komputer, Mencurangi Pemilu

Kecurangan pemilu-pemilu lalu antara lain melalui manipulasi piranti lunak
yang digunakan untuk mencatat penghitungan suara. Akankah terulang?

Awalnya adalah kecurigaan dan ingin tahu. Selepas Pemilu 1997, Istomo Gatot
dan sejumlah penggemar komputer di Bandung penasaran soal kecurigaan
sejumlah tokoh parpol di Medan, atas hilangnya 6.000 suara pemilih Golkar di
sana. Entah bagaimana caranya, kelebihan suara itu masuk ke kantung PDI, dan
hasilnya, Fatimah Achmad -yang waktu itu caleg PDI nomor satu untuk daerah
pemilihan Medan-- bisa duduk di kursi DPR.
Semula dicurigai ada rekayasa penghitungan suara di sejumlah tempat
pemungutan suara (TPS). Tapi, setelah dicek, ternyata tidak ada perbedaan
antara jumlah suara total yang tercatat di lembar berita acara TPS-TPS dan
tabulasi data yang terekam pada komputer di Panitia Pemilihan Indonesia
(PPI).
Kecurigaan pun beralih pada kemungkinan manipulasi dalam piranti lunak
(software) yang digunakan untuk mencatat perhitungan suara. Piranti lunak
bernama Pemilu1 itu dibuat Bakorsiskomlek (Badan Koordinasi Sistem
Komunikasi dan Elektronika) Mabes ABRI. Dari puluhan kali eksperimen, mereka
makin curiga pada piranti lunak itu. Tapi, belum diketahui, bagaimana
program tersebut sampai melakukan kesalahan, dan siapa pula yang
merancangnya.
Sampai akhirnya, beberapa bulan lalu Istomo, pengacara yang kini aktif di
Partai Amanat Nasional (PAN) Bandung itu, ditemui seorang pemrogram komputer
(programmer) yang mengaku merancang semua kecurangan itu. Tanpa mau
menyebutkan identitas si programmer dengan alasan keamanan, Istomo dan
kawan-kawannya mulai mengotak-atik cakram padat (CD ROM) berisi program
piranti lunak pencatat perhitungan suara yang digunakan pada Pemilu 1997.
"Ternyata pengakuan si programmer tadi benar. Piranti lunak itu sudah
diakali sedari awal. Mereka yang mengoperasikannya pun tidak menyadarinya,"
ujar Istomo, yang kini sekretaris Panita Pemilihan Daerah Tingkat II
Bandung.
Rupanya, ada program dalam bahasa mesin, mirip virus komputer, yang sengaja
disusupkan pada piranti lunak itu dan pada saatnya akan membuat kesalahan
pada proses pengolahan data. Berdasarkan penuturan sang programmer, ada tiga
cara mengaktifkan virus itu.
Pertama, piranti lunak itu akan mulai aktif saat data bernomor urut tertentu
dimasukkan. Misalnya, setelah data ke-100, piranti lunak secara otomatis
mulai ngaco. Tanpa sepengetahuan si operator komputer, ia akan menukar dan
memindah-mindahkan angka yang ada dalam tabel basis data penghitungan suara.
Sekilas memang tidak tampak ada kecurangan, sebab jumlah total suara yang
masuk tidak mengalami pertambahan. Hanya komposisi perolehan suaranya yang
berubah. Kecurangan seperti ini bisa lolos, karena biasanya saat diperagakan
di hadapan para wakil peserta Pemilu, hanya diuji-cobakan dengan sampel
sedikit data.

Menang 100 Persen

Kedua, program penyusup itu mulai aktif hanya pada tanggal ia mulai
digunakan. Jadi, aktivasinya dipicu oleh kalender elektronik yang ada pada
BIOS (Basic Input Output System) di motherboard  komputer, bila ia
menunjukkan tanggal tertentu. Mirip betul dengan virus komputer yang biasa
menyerang pada tanggal atau bulan tertentu.
Kecurangan ini pun lolos, karena uji coba piranti lunak biasa dilakukan
sebelum tanggal pelaksanaan penghitungan suara. Kalaupun ada verifikasi, hal
itu dilakukan setelah penghitungan suara. Akibatnya, manipulasi yang secara
sistematik telah dilakukan sulit ketahuan. Ketiga, virus itu mulai aktif
bila si operator mengetikkan kata atau angka tertentu. Misalnya, nama
kabupaten tertentu, dimasukkan sebagai bagian dari data.
Begitu program "subversif" itu bekerja, biasanya yang terjadi adalah
pengalihan jumlah numerik dalam suatu tabel, dari sel yang satu ke sel yang
lain. Misalnya, sebut saja hasil kemenangan suara terbanyak yang diperoleh
suatu partai tentu dipangkas, dan dibagi rata ke partai-partai lainnya.
Akibatnya, otomatis, partai runner up akan langsung mencelat sebagai
pemenang. "Sebenarnya, dengan program itu, di mana pun Golkar bisa dibuat
menang 100 persen. Jadi hasil tabulasi perolehan suara sudah bisa dirancang
jauh-jauh hari. Tinggal tergantung skenario apa yang diinginkannya sebagai
hasil akhir Pemilu," tambah Istomo.
Istomo dan kawan-kawan memang tidak mengantungi seluruh data perolehan suara
Pemilu lalu untuk bisa membuktikan lebih lanjut temuannya. Mereka pun tidak
bisa cepat berkesimpulan kalau kecurangan serupa juga terjadi di
tempat-tempat lain. Namun, setidaknya mereka memperjelas adanya kemungkinan
kecurangan dalam Pemilu, yang dipersiapkan sangat rapi dengan memanfaatkan
mekanisme yang ada.
Pemanfaatan komputer dalam penghitungan suara digunakan sejak Pemilu 1982.
Tujuannya, mempercepat proses diketahuinya hasil Pemilu. Pada proses ini,
hasil perhitungan suara di tiap TPS secara berturut-turut dikumpulkan ke
tingkat desa atau kelurahan, kecamatan, kabupaten atau kotamadya, propinsi,
dan berakhir di tingkat pusat, atau PPI. Kesalahan penghitungan suara di
suatu tingkat akan sangat mempengaruhi perhitungan suara di tingkat
berikutnya. Apalagi jika ada usaha memanipulasi yang disengaja.
Peliknya lagi, selain hasil perhitungan suara di PPI pada pemilu terdahulu
selalu berbentuk tabulasi yang tidak diuraikan (break down) kembali ke
tingkat yang lebih rendah, proses pengumpulan suara ini tidak pernah
transparan. Sangat sulit melacak kembali perolehan suara suatu partai di
tingkat nasional berdasarkan hasil perolehannya di tingkat-tingkat yang
lebih rendah.
Sebetulnya menyediakan jaringan komputer untuk sistem penghitungan suara
secara nasional juga tidak mudah. Ada kompleksitas kualitatif untuk bisa
melayani wilayah seluas lebih dari 5 juta kilometer persegi (termasuk darat
dan lautan), yang terdiri dari 27 propinsi, 327 daerah tingkat II, 3.903
kecamatan, dan 291.337 TPS.
Saat ini baru 207 kabupaten yang disentuh jaringan internet, terutama
melalui Wasantara, yang dikelola PT Pos Indonesia. Bahkan masih sekitar
4.000 kecamatan yang sama sekali belum terlayani telepon. Padahal menurut
Dhana Dharsono, ketua kelompok kerja sistem informasi Pemilu yang
diperbantukan ke Komite Pemilihan Umum (KPU), teknologi web-lah yang
direncanakan akan digunakan dalam sistem informasi perolehan suara Pemilu 7
Juni 1999.

Kini Lebih Transparan

Belum lagi soal mesti tersedianya minimal sebuah komputer di setiap
kabupaten. Itu artinya, harus tersedia anggaran Rp 1,5 - 2 trilyun untuk
infrastuktur komputeritasi penghitungan suara. "Karena keterbatasan
infrastruktur inilah, sampai sekarang Indonesia tidak pernah punya pusat
pengolahan data pemilih di tingkat manapun," tegas Dhana.
Selain itu, program yang digunakan untuk mencatat dan mengolah hasil
perhitungan suara pun sama sekali baru. Kali ini seluruh program dan sistem
dirancang oleh sipil, tanpa sedikitpun melibatkan teknisi militer, dan
birokrasi pemerintahan. Bahkan, untuk mencegah kemungkinan dibobol oleh para
hacker, Dhana dan kawan-kawan telah mengunci kode-kode pada lubang ekskripsi
homepage KPU itu.
"Nantinya, semua orang bisa langsung mengakses situs milik KPU, di alamat
URL http://www.kpu.go.id, untuk mengetahui hasil akhir penghitungan suara.
Berbeda dengan sistem sebelumnya yang tidak transparan, sekarang semua data
bisa di-break down sampai ke tingkat TPS. Pokoknya jauh lebih transparan,"
kata anak mantan Pangdam III Siliwangi dan Sekjen ASEAN yang dipenjarakan
semasa Orde Baru, H.R. Dharsono (alm).
Dhana mempersilakan siapa saja yang berniat mengaudit dan mengevaluasi
piranti lunak yang akan digunakan, bila curiga bakal terulangnya kecurangan.
Bahkan bila kemudian telah dipublikasikan dan ada yang menemukan
ketidakcocokan antara data homepage dengan lembar berita acara di suatu TPS,
KPU menyediakan 900 nomor faksimili untuk menerima pengaduan yang masuk.
Nomor faksimili itu akan disiarkan oleh KPU seminggu sebelum dan setelah
Pemilu.
Secanggih apapun sistem yang digunakan, Dhana tetap tidak menutup
kemungkinan ada peluang penyimpangan. Terutama karena proses pemasukan data
di tingkat TPS hingga ke Panitia Pemilihan Tingkat II (PPD II) masih secara
manual.
"Pada saat itulah peran serta para anggota kelompok pemantau Pemilu,
Panwaslu, wakil-wakil parpol, dan seluruh warga masyarakat dibutuhkan untuk
mengawasi kejujuran proses kerja yang dilakukan operator komputer di kantor
PPD II. Bila perlu, mereka melakukan validasi terlebih dulu data di komputer
dengan formulir C, atau lembar berita acara di masing-masing TPS, sebelum
dikirim ke tingkat yang lebih tinggi," tegasnya.
Komputer, internet, atau jenis perangkat teknologi apapun, tetaplah cuma
alat. Ia tak punya perasaan, tidak punya ambisi untuk menang, apalagi niat
busuk untuk curang. Cuma manusialah yang punya niat untuk curang, apapun
motifnya.

Andreas A.P./Laporan Tiarma Siboro (Jakarta), Aendra Medita (Bandung)

Pemilu Homepage: http://www.indo-news.com/pemilu/

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 May 1999 jam 17:43:12 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke