---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://click.indo-news.com/cgi-indo-news/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Yayasan HAK (Hukum hak Azasi & Keadilan) Jl. Gov. Serpa Rosa no. T-095 Lt. 1 Farol - Dili, Timor Timur Telp.: +62 390 313323 Fax.: +62 390 313324 Laporan Kasus Pembantaian di Liqui=E7a Tanggal 5 - 6 Mei 1999 I. Latar Belakang Salah satu kelompok milisi yang dibentuk sebagai reaksi terhadap kebijakan baru pemerintah Indonesia tentang penyelesaian masalah Timor Timur adalah milisi Besi Merah Putih (BMP) yang berbasis di Kecamatan Maubara, Kabupaten Liqui=E7a. Dengan menggunakan panji-panji Merah Putih, kelompok ini telah melakukan pemaksaan terhadap rakyat sipil untuk menyatakan kesetiaannya kepada Bendera Merah Putih. Sejak pembentukannya pada bulan Januari 1999, BMP telah melakukan serangkaian tindak kekerasan, teror dan intimidasi terhadap rakyat, misalnya dengan melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan-kendaraan yang melintasi jalur Liqui=E7a-Maubara. Dalam aksi-aksi pemeriksaan di jalan tersebut,= mereka secara paksa menggunduli penduduk laki-laki yang berambut panjang, melakukan penahanan dan penyiksaan tanpa alasan, bahkan pembunuhan terhadap orang-orang yang ada dalam daftar mereka untuk dibunuh. Dalam pemeriksaan-pemeriksaan tersebut, para anggota BMP selalu membawa daftar yang memuat nama orang-orang yang mereka anggap berlawanan politik dengan mereka dan harus dihabisi. Sejumlah motor dan mobil dinas juga telah dirampas dari para Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang menurut mereka tidak pantas untuk memakainya. Selain melakukan pemeriksaan yang disertai berbagai tindak kekerasan di jalan-jalan, kelompok BMP juga telah melakukan sejumlah penyerangan terhadap penduduk sipil di sejumlah kampung di wilayah Kabupaten Liqui=E7a. Penyerangan-penyerangan yang dilakukan selama tiga bulan pertama tahun 1999 telah menelan sejumlah korban jiwa dan korban luka-luka, serta sejumlah rumah penduduk sipil telah pula dibakar. Selain membakar rumah-rumah, kelompok milisi ini juga telah melakukan penjarahan terhadap rumah-rumah penduduk sipil yang dibakar atau dihacurkan. Aksi-aksi penyerangan tersebut selalu dilakukan bersama anggota ABRI, baik dari satuan TNI maupun satuan Kepolisian (baca laporan Yayasan HAK untuk Triwulan Pertama 1999).=20 Aksi-aksi penyerangan, teror dan intimidasi ini telah menciptakan suasana ketakutan dan perasaan tidak bebas di kalangan masyarakat sipil. Akibatnya sejumlah penduduk telah melarikan diri dan mencari perlindungan di tempat-tempat lain. Akibat dari salah satu penyerangan ke Desa Dato, Kecamatan Maubara, Kabupaten Liqui=E7a tanggal 4 dan 5 April 1999, sejumlah penduduk telah menungsi ke Pastoran Paroki Liqui=E7a. Para penduduk sipil= yang mengungsi di Lingkungan Gereja Liqui=E7a inilah yang kemudian telah menjadi sasaran penyerangan, dan mengakibatkan 59 korban jiwa dan 35 korban luka-luka. Selebihnya, 16 orang penduduk sipil hingga saat ini tidak diketahui keberadaannya. Saksi mata mengatakan bahwa masih terdapat sejumhal pengungsi yang terbunuh atau terluka, tetapi korban-korban tersebut tidak ditemukan lagi beberapa saat sesudah aparat keamanan membereskan tempat kejadian. II. Kronologi Kejadian dan Identifikasi Korban Secara kronologis, peristiwa pembantaian di lingkungan Gereja Liqui=E7a= sangat terkait dengan peristiwa-peristiwa penyerangan sebelumnya. Penduduk sipil yang menjadi sasaran penyerangan milisi BMP mencoba melakukan upaya pembelaan diri dari serangan BMP. Tetapi upaya bela diri yang meraka lakukan justru mengundang aksi penyerangan yang lebih keras lagi, melibatkan aparat militer Indonesia, dan memaksa mereka untuk mengungsi ke Gereja Liqui=E7a.= Di lingkungan Gereja inilah mereka akhirnya menjadi sasaran pembantaian Milisi BMP yang didukung oleh tentara dan Brimob (Kepolisian). 1. Peristiwa Desa Dato Pada tanggal 4 April 1999, pukul 16.00 Waktu Timr Timur (WTT), sedikitnya 18 orang anggota Besi Merah Putih (BMP) mendatangi masyarakat di Desa Dato, sekitar 3 km arah Barat Kota Liqui=E7a. Tanpa alasan yang jelas, para= anggota BMP ini menghancurkam 1 buah rumah milik Felisberto do Santos, Pegawai Dinas Peternakan Daerah Tingkat II Liqui=E7a. Diduga serangan tersebut berkaitan dengan tuduhan terhadap masyarakat Desa Dato sebagai pendukung kemerdekaan. Sesaat kemudian, masyarakat yang menyaksikan penghancuran rumah tersebut melakukan serangan balik terhadap para anggota BMP itu. Para anggota BMP melarikan diri ke Markas Komando Rayon Militer (Koramil) Liqui=E7a Kota. Suasana menjadi sangat tegang.=20 Mendengar kejadian itu, satu jam kemudian, Pastor Rafael dos Santos mendatangi kantor Koramil Liqui=E7a dan bertemu dengan Komandan Koramil.= Dalam pertemuan itu, disepakati bahwa tanggal 5 April 1999 pukul 12.00 WTT akan diadakan pertemuan untuk mendamaikan warga Desa Dato (termasuk Felisberto do Santos) dan para anggota BMP. Suasana tegang menjadi sedikit reda sesudah rencana pertemuan perdamaian tersebut disepakati. Pada hari Senin, 5 April 1999, sekitar pukul 07.00 WTT, warga Desa Dato dan sekitarnya berdatangan ke Kantor Desa menghadiri pertemuan perdamaian yang telah disepakati sehari sebelumnya. Di luar dugaan mereka, para anngota BMP yang berbasis di Kecamatan Kota Maubara melakukan penyerangan besar-besaran dari arah Barat Kota Liqui=E7a. Penyerangan ini mula-mula hendak diarahkan= ke wilayah Desa Dato. Serangan tersebut membuat masyarakat sekitarnya ketakutan, dan sebagian melarikan diri ke Gereja. Masyarakat semakin ketakutan setelah mengetahui bahwa pasukan keamanan dari Kodim 1638 Liqui=E7= a, Koramil 01 Liqui=E7a, Polres Liqui=E7a dan Batalion Teritorial (BTT) 143= turut melakukan serangan dari arah kota Liqui=E7a. Masyarakat lari tercerai berai dan suasana di Kota Liqui=E7a semakin kacau balau.=20 Menurut keterangan para saksi mata dan saksi korban, penyerangan di Desa Dato mula-mula dilakukan oleh para anggota BMP yang bersenjatakan panah, tombak, parang dan pedang dan berada pada posisi paling depan, berhadap-hadapan dengan warga desa. Para anggota BMP ini melepaskan tembakan panah dan melempari warga desa dengan batu. Ketika serangan ini dibalas oleh warga desa dengan lemparan batu, para anggota BMP ini menarik diri dan aparat militer yang berada pada posisi belakang anggota BMP langsung bereaksi dengan melepaskan rentetan tembakan ke arah warga Desa Dato yang sedang berjaga-jaga. Tembakan beruntun itu mengakibatkan sejumlah korban tewas dan luka-luka di pihak warga Desa Dato.=20 Dalam serangan tersebut, selain jatuh korban manusia, beberapa rumah penduduk dibakar oleh anggota BMP dan aparat militer. Bersamaan dengan kejadian tersebut, dari arah Markas Kodim, Polres dan Koramil Liqui=E7a terdengar bunyi letusan senjata. Hal ini menyebabkan masyarakat kota Liqui= =E7a panik dan banyak yang melarikan diri (mengungsi) ke gereja Liqui=E7a. Selain itu ada juga yang mengungsi ke hutan dan ke kota Dili.=20 Berikut adalah identifikasi korban manusia dan kerugian material yang dialami warga Desa Dato dan sekitarnya akibat penyerangan milisi BMP dan aparat militer pada peristiwa 5 April 1999 itu. Juga disertakan identitas para pelaku yang dapat diidentifikasi oleh para saksi mata dan saksi korban dalam penyerangan 5 April 1999 itu. =20 =B7 Korban luka-luka pada peristiwa 5 April 1999 yang dievakuasi oleh Suster-suster Carmelita Maubara ke Dili pada tanggal 6 April 1999 untuk dirawat di Poliklinik Motael dan Rumah Sakit Umum Dili adalah 8 orang, dengan identitas sebagai berikut: 1. Jos=E9 Cerilio do Santos, 17, L, pelajar SMU Kristal Liqui=E7a, warga= Desa Fatu Kesi (Liqui=E7a), anak Felisberto do Sampaio Pires, Kepala Desa Fatu Kesi, Kecamatan Liqui=E7a Kota, terkena satu buah peluru di paha kiri dan tembus ke belakang. 2. Manuel Caldeiro, 27, L, warga transmigran Kampung Faularan, Kecamatan Maubara yang mengungsi ke Kota Liqui=E7a. Korban tertembak di telapak tangan kiri. Luka yang dialaminya cukup dalam dan parah.=20 3. Manuel Floris, 23, L, warga Liqui=E7a, petani. Tertembak di bagian abdominal, dan tembus ke belakang. Luka yang dialaminya cukup parah.=20 4. Paulina de Jesus, 23, P, petani, warga Liqui=E7a, dibacok di bahu kanan= dan di bagian pelipis kiri. Korban dibacok di rumahnya dalam penyerangan oleh anggota BMP yang didukung aparat militer (ABRI).=20 5. Francisco Xavier, 31, L, petani, warga Kampung Raimea, Desa Vatubou, Kecamatan Maubara, terkena pedang.=20 Kelima Korban tersebut dirawat di Poliklinik Motael, Dili. 6. Jaime do Santos, 20, L, Petani, warga Desa Fatu Kesi, Kecamatan Liqui=E7a Kota. Korban dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Bidau, Toko Baru, Dili. 7. Crisanto Oliveira, 23, L, warga Desa Dato. Korban ditangkap dan disiksa oleh anggota Kodim 1638 Liiquica, hingga mengalami luka-luka. Korban dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Bidau, Toko Baru, Dili. 8. Lucas Soares, 36, L, warga Desa Dato. Korban dibacok pada bagian muka dan Kepala. Korban dirawat di poliklinik Motael Dili. =B7 Korban yang meninggal dunia pada peristiwa 5 April 1999: 1. Julio, 25, L, warga Kampung Kukae Laran , Desa Dato, Kecamatan Liqui=E7a= Kota. 2. Laurindo, 40, L, Kepala Dinas Peternakan TK II Liqui=E7a, warga Kota= Liqui=E7a. 3. Feliz, 27, L, warga Desa Dato, Kecamatan Liqui=E7a Kota. 4. Francisco, 25, L, warga Desa Vatuvou, Kecamatan Maubara. 5. Paulino Ribeiro, 28, L, Pengawai Tata Usaha SMU Negeri I Liqui=E7a, warga di Desa Manumeta, Kecamatan Liqui=E7a Kota. =B7 Rumah-rumah yang dirusak dan dibakar dalam Peristiwa 5 April 1999, masing-masing milik:=20 1. Jacinto da Costa, L, Kepala Desa Dato. 2. Filomeno de Paix=E3o, L. 3. Gregorio N. M. do Santos, L. 4. Amadeu, L. 5. Mateus Hulamuda, 48, L. 6. Fernando da Costa, L. 7. Mau Gunda, L, pengrajin besi.=20 8. Jorge, L. 9. Saulus 10. Felisberto do Santos, L. =20 =B7 Para pelaku Peristiwa 5 April 1999 yang berhasil diidentifikasi: 1. Abilio Martins, Kopral Satu (Koptu) TNI -AD. 2. Domingos Askopas, Prajurit Dua (Prada) TNI-AD.=20 3. Yakobus, Sersan Dua (Serda) TNI-AD.=20 4. Tobias, Koptu TNI-AD.=20 5. Antonio Gomes, Koptu TNI-AD.=20 6. Jacinto, anggota TNI-AD bertugas di Liqui=E7a.=20 7. Alberto, anggota TNI-AD, bertugas di Liqui=E7a. 8. Teofilo, anggota TNI-AD bertugas di Liqui=E7a. 2. Peristiwa Penyerbuan Gereja Liqui=E7a Akibat serangan tanggal 5 April 1999 itu dan suasana ketegangan yang tampaknya sengaja diciptakan di Kota Liqui=E7a dan sekitarnya, rakyat yang merasa terancam oleh aksi-aksi brutal para milisi dan militer, mengungsi ke Gereja Liqui=E7a. Tetapi ternyata lingkungan Gereja yang merupakan tempat sakral dan dihormati, justru tidak cukup aman bagi mereka. Aksi penyerangan milisi BMP dan aparat militer terhadap rakyat Liqui=E7a ternyata berlanjut pada hari berikutnya, Selasa, 6 April 1999. Kali ini Gereja Liqui=E7a,= tempat sejumlah penduduk sipil sedang mengungsi mencari keselamatan, menjadi sasaran penyerangan tentara dan BMP. Menurut kesaksian para korban, pada sekitar pukul 06.00-09.00 WTT, rumah pastor dan gereja paroki Liqui=E7a, kembali dibanjiri oleh sejumlah= pengungsi dari Kecamatan Maubara. Diperkirakan jumlah pengungsi saat itu melebihi 2000 (dua ribu) orang. Para pengungsi ini terdiri dari perempuan, tua, muda, dan anak-anak. Terdapat juga bayi dan ibu-ibu yang sedang hamil tua.=20 Sekitar pukul 09.00 WTT, anggota BMP, aparat militer dari kesatuan BTT 143, Kodim 1638 Liqui=E7a, Koramil Liqui=E7a, Polisi dan Brimob memblokir halaman Gereja Liqui=E7a. Dan saat itu terdengar suara teriakan yang bernada provokasi, berupa ancaman dan caci maki, seperti =85."kami akan= mempertahankan merah putih dan memilih otonomi". Mendengar aksi provokasi itu, Pastor Rafael mendekati aparat militer dan menjelaskan bahwa orang-orang yang ada dalam Gereja adalah perempuan dan anak-anak. Eurico Guterres, Komandan milisi Aitarak manjawab bahwa kelompoknya tidak bermaksud melakukan kekerasan terhadap orang-orang yang berada dalam Gereja. Postor Rafael meminta agar menghubungi Bupati Liqui=E7a, Leoneto Martins untuk hadir menyelesaikan masalah. Pesan Pastor Rafael, yang bermaksud berdialog untuk memulangkan para pengungsi itu, ternyata ditolak oleh Bupati. Eurico Guterres yang diutus menyampaikan pesan Pastor Rafael kembali dan mengatakan bahwa "Bupati Leoneto Martins masih naik darah (emosi)".=20 Selanjutnya Eurico Guterres kembali ke Markas Kodim Liqui=E7a. Suasana saat itu semakin memanas. Aparat Brimob terus mendekati dan kemudian memblokir pagar Gereja. Konon kehadiran aparat Brimob itu untuk mengamankan Pastor dan rakyat. Menurut kesaksian Pastor Rafael, pada sekitar pukul 13.00 WTT, anggota BMP mencoba menyerbu ke dalam halaman gereja. Penyerbuan dimulai ketika aparat melontarkan granat gas air mata ke dalam Gereja dan disusul dengan tembakan sporadis ke atas yang mengakibatkan para pengungsi panik dan ketakutan. Dalam keadaan panik dan dengan mata yang pedih terkena gas air mata, para pengungsi lari berhamburan keluar dari Gereja. Kesempatan itulah dimanfaatkan anggota BMP menyerbu masuk ke dalam lingkungan Gereja. Dengan cara yang sangat keji mereka melakukan pembantaian (dengan cara menusuk dan memotong orang-orang yang kepedihan terkena gas air mata) dengan panah dan tombak.=20 Sementara itu, sebagian yang bersembunyi di atas loteng rumah Pastoran dan kamar mandi Pastor ditembaki oleh aparat militer dan Brimob yang juga turut masuk dalam lingkungan gereja ketika Postor telah ditarik keluar. Menurut kesaksian Pastor Rafael, penduduk yang bersembunyi di loteng dan kamar semuanya terbunuh. Mereka adalah Kades Dato, Jacinto da Costa Concei=E7=E3o Pereira, Agustinho, Victor, Leovogildo, Pelajar SMU 3 dan Lucio.=20 Menurut pengakuan salah seorang saksi korban peristiwa tersebut, ia bersama beberapa orang bersemunyi di bawah kolong tempat tidur Pastor Rafael ketika penyerbuan berlangsung. Ia menyaksikan langsung orang-orang ini ditarik ke luar dari kolong tempat tidur lalu dibantai oleh tentara dan anggota BMP. Korban lolos dengan melompat keluar dari jendela kamar Pastor Rafael yang sebelumnya telah dirusak para penyerbu. Namun, ketika baru melangkah sekitar dua meter, ia ditembak dari arah belakang yang mengenai bagian kanan punggungnya. Ia selamat dari maut karena dibantu oleh beberapa anggota BMP yang kebetulan adalah teman dekat. Korban kemudian diantar ke rumah Kapolres Liqui=E7a dan tidak lama kemudian dipindahkan ke rumah Bupati Liqui=E7a,= Leoneto Martins. Pada 7 April 1999, secara sembunyi, korban dievakuasi oleh keluarganya ke Dili dan dirawat di RSUP Dili.=20 Namun hingga sekarang keberadaan korban-korban yang tewas belum diketahui. Seorang saksi yang merupakan salah satu dari 18 orang yang bersembunyi dalam Gereja ketika penyerbuan berlangsung, kepada STT saksi menceritakan bahwa sekitar pukul 18.45 WTT, dia dan kawan-kawannya menyaksikan mayat-mayat itu dilempar ke atas enam buah truk Hino, tetapi tidak diketahui ke mana mayat-mayat itu diangkut. Saksi tidak menyebut berapa jumlah mayat yang diangkut. Dalam penyerbuan ke lingkungan gereja Liqui=E7a, kediaman pastor Rafael juga ikut dijarah dan dirusak. Uang sebesar Rp. 8.000.000 (delapan juta rupiah) milik SMPK Liqui=E7a dan uang derma umat untuk Gereja Liqui=E7a yang= disimpan pastor Yosef Daslan, dijarah oleh para penyerbu. Sebuah sepeda motor milik pastor Yosef Daslan dan sejumlah kendaraan milik penduduk juga dijarah. Berikut adalah identitas para korban, yang meninggal/tewas, luka-luka dan hilang dalam peristiwa penyerbuan Gereja Liqui=E7a, yang diperoleh Yayasan= HAK berdasarkan laporan masyarakat, para korban dan saksi mata, sebagai berikut= : =B7 Identitas korban tewas pada penyerbuan Gereja Liqui=E7a tanggal 6 April= 1999: 1. Jacinto Canisio Pereira, 47, L, Kepala Desa Dato, tewas di Gereja= Liqui=E7a. 2. Antonio do Santos, 24, L, warga di Desa Hatukesi, tewas di Gereja= Liqui=E7a. 3. Durva, 20, P, warga Desa Dato, tewas di Gereja Liqui=E7a.=20 4. Joni Mausoko, 28, L, warga Desa Dato, tewas di Gereja Liqui=E7a. 5. Evangelina Gon=E7alves, 14, P, warga Desa Dato, tewas di Gereja Liqui=E7a= ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 25 May 1999 jam 04:54:26 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
