----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Republika, 14 Juni 1999

Kecurangan Pemilu

Sungguh ajaib, pemilu bisa dicurangi. Sampai tingkat
tertentu, itu berarti kekhawatiran masyarakat
sebelumnya kini terbukti. Padahal, untuk mengatasi
kemungkinan yang dikhawatirkan itu, telah cukup
banyak langkah dilakukan. Di kartu suara, ada
keharusan petugas di TPS membubuhkan tanda tangan.
Ada lagi materai berhologram, lalu jari dicelup tinta
(impor) yang baru hilang seminggu kemudian. Yang paling
penting, ada pengawas atau pemantau independen, baik
dari kalangan mahasiswa, forum rektor, atau masyarakat
umum yang menunggui penghitungan suara.

Kecurangan terjadi dalam berbagai bentuk, seperti ada
jumlah suara yang -- anehnya -- justru kian menyusut
sementara penghitungan berlangsung. Tetapi sementara
ada yang menyusut, ada yang kian membesar untuk
pihak lain. Atau, terjadi mark up jumlah suara untuk
partai tertentu. Yang lebih aneh lagi, sebagian
kecurangan terjadi di Ibu Kota, yang ditongkrongi oleh
seabrek pengamat dan pemantau. Atau, karena
disebut-sebut terjadi kecurangan, pemilunya harus
diulang, tetapi minus sebuah partai. Lho?

Kita tahu benar betapa menjelang pemilu, soal
kemungkinan pemilu dicurangi dan bagaimana
mengatasinya, telah dengan ingar-bingar dilontarkan dari
segala penjuru; semua orang berbicara. Belum lagi soal
biaya yang didanai oleh badan-badan internasional dalam
jumlah besar. Betapa saat itu proposal untuk meminta
biaya "pemantauan pemilu" bertumpuk, salah satunya di
UNDP, diajukan oleh sekian banyak kelompok pemantau
"instan". Kesan yang timbul, tak pelak lagi, jadi tak
nyaman.

Tapi begitulah, ada saja kejadian yang menyebabkan
penghitungan suara diulang bahkan pemilunya pun
dituntut diulang. Menurut hitungan orang awam,
bagaimana mungkin, dengan sekian pasang mata
melototin penghitungan suara, kecurangan masih juga
terjadi? Artinya, pihak-pihak yang memang nawaitu-nya
kotor lebih pandai bermain patgulipat dibanding sekian
banyak orang yang menugguinya. Pertanyaannya otomatis
adalah, apa yang dikerjakan oleh para pemantau dan
pengawas yang jumlahnya sekian banyak itu, bahkan dari
luar negeri pun -- termasuk mantan presiden sebuah
negeri adikuasa dan rombongan dari Uni Eropa. Tentunya
mereka tidak sekadar tidur tetapi saling mencatat, saling
mengoreksi kalau ada kekeliruan. Apa lagi kurangnya?

Tak dapat disangkal, ini merupakan pemilu pertama di
era kebebasan, setelah rekayasa mewarnai sekian
pemilu sebelumnya, dengan hasil yang sudah bisa
diramalkan. Hanya persentasenya saja yang berbeda, mau
lebih tinggi berapa persen, asal tidak 100 persen sajalah.
Ketidaksiapan petugas lapangan sangat kentara, karena
tak cukup waktu untuk mengajari mereka
aturan-aturannya. Di samping itu, Komisi Pemilihan
Umum sendiri juga masih mengubah-ubah aturan,
sampai saat terakhir pun. Akibatnya terjadi
kecentangperenangan saat orang mau mencoblos.

Itu mohon dimaklumi saja. Namanya juga belum "hafal".
Tetapi yang mengherankan, kecurangannya itu rupanya
masih lengket pada sejumlah orang, sehingga di saat
rakyat ingin melihat proses pemilihan yang jujur, adil,
terbuka, masih juga mereka tega berlaku culas. Sialnya,
orang-orang itu berhasil mengelabui sekian banyak
pengawas di sekelilingnya.

Rasanya, kalau pemilu harus diulang tanpa sebab yang
luar biasa, hanya akan memubazirkan dana besar sekali
yang harus ditanggung rakyat, yang mereka sumbangkan
untuk partai-partai berpemilu. Kecurangan memang tak
boleh dibiarkan, harus diberantas. Pelaku-pelaku
kecurangan itu jelas melecehkan kejujuran, keadilan,
yang selama ini dipasung dan kini dengan susah payah
ingin ditegakkan. Kita yakin kecurangan hanya
segelintir, tak melanda seluruh penjuru.

Memang diperlukan kebersihan niat semua pihak, baik
partai-partai maupun masyarakat umumnya, untuk
belajar memahami makna kejujuran dan keadilan,
terhadap diri sendiri maupun, terutama, terhadap orang
lain, demi kemaslahatan bangsa, bukan sekadar
pemenuhan ego pribadi-pribadi. Kita masih bisa bersikap
optimistis, bahwa masa depan bangsa ini tak sesuram
yang barangkali pernah dibayangkan.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Jun 1999 jam 11:00:29 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke