----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Hujan gosip perlahan turun menyiram Nisye, dari gerimis kecil-kecilan dan
bisik bisik kecil-kecilan tentang " Nisye pacaran dengan seorang supir bajaj
" yang ditebarkan Egy di sekolahan,lambat tapi pasti, sang gerimis berubah
menjadi badai .Bukan saja murid satu kelas yang mulai mulai latah bermain
dengan desas desus " Nisye punya tunangan anak narapidana "  atau " Nisye
pacaran dengan pencopet Batak dari Tanah Abang " , bahkan beberapa guru Nisye
sendiri, seperti Pak Bustanil yang botak gendut seperti ban radial juga mulai
latah ,lantaran si tua bangka ini cemburu dan selalu napsu setiap kali
melihat Nisye saat mengajar pelajaran agama di kelasnya.

Dari semua teman sekelas, cuma Tanti yang mengerti persoalan Nisye,
selebihnya seperti cewek tomboy bernama Angelica yang sama sekali tidak
angelic,bertampang bagai oncom basi, Mamiek cewek butek yang duduk di bangku
belakang, Yayuk Habib, cewe arab putri seorang komisaris IPTN yang mirip si
Siti Sirik berhidung bengkok panjang bagai pisang, malah membuat nama baik
Nisye sebagai bulan bulanan.  Sempat -sempatnya mereka membuat lusinan
pamflet yang di tempelkan di dinding wc sekolahan " AKAN MENIKAH ; NISYE
BADAKSONO DENGAN  TOBING KAKILECET  BERTEMPAT DI AULA KELURAHAN KEBON KACANG.
HARAP PARA TAMU YANG DATANG MENINGGALI DOMPET DIRUMAH MASING MASING- yang
mengundang ( Keluarga besar copet Tanah Abang ). Jelas saja SMA 6 geger
lantaran poster itu.

Tapi Nisye jelas bermental sekeras karang karena background perjalanan
hidupnya lebih banyak dilalui sendirian.Nisye terbiasa mandiri, dia adalah
cewek independen tulen.Jangan heran  jika Nisye tidak pernah satu kalipun dia
menampakkan emosi, membuat para gerombolan perempuan yang iri padanya semakin
geram dan penasaran.Tuty Alwiyah , cewek berjilbab yang usil, liar dan ganjen
dan tukang kejar cowok-cowok basket ini misalnya, sangat marah melihat
ketenangan Nisye. Sambil berdiri di ujung sekolahan dekat WC, sang Tuti  yang
tampangnya  parah seperti Desy Anwar (  item ,cerewet, bisex plus  sok
intelek ) bersumpah demi Allah, akan membuat hidup Nisye merana suatu saat
nanti.

Setelah beberapa hari, badai gosip ini bukannya berhenti. Seperti taipun sang
badai bertiup kencang menerjang kuping demi kuping,
dari guru ke guru, dari murid ke wali murid. Tidak ada satupun yang bisa
memberhentikan sang angin, tidak juga dinding kokoh rumah keluarga Badaksono .

Bu Badak menjerit seperti orang kalah judi ketika  angin gosip akhirnya
menerpa gendang telinganya. Setengah berteriak dipanggilnya Pak Badak yang
sedang diskusi diruang tamu dengan Munawir, seorang bisnisman Umroh ternama
jago tilep duit calon jemaah. Pak Badak segera mendatangi istrinya di dapur.

" Celaka mas!  Anak kita..anak kita celaka mas..!" Teriak Bu Badak terbata
bata sambil menyerahkan pamflet kiriman Tuty Alawiyah itu.

" Ah ini kan pasti cuma berita bohongan.." Komentar Pak Badak sambil matanya
terbelalak setengah tidak percaya.

" Bagaimana ini mas? aku malu kalau berita ini memang beneran.
Kalau anak kita memang pacaran sama anak tukang copet, mau dikemanakan mukaku
ini? " Isak Bu Badak sambil mengelap lipstik merek Clinic dari bibir.

" Sudahlah Bu, biar aku yang tangani urusan ini" Jawab Pak Badak sambil
menepak -nepak pundak istrinya .

"Kemana si Nisye bu? " Tanya sang suami.

" Ah, Mas ini masa lupa terus sama kegiatan anaknya sendiri?" Jawab bu Badak
sambil mengeringkan air di pojokan mata. Dia lalu beringsut membuka calender
dinding. " Nisye sekarang lagi les bahasa Jerman di Erasmus Huis "  terusnya
lagi.

" Apa dia pergi di anter sama Pak Paluwi?" Tanya suaminya lagi.

" Pak Paluwi kan kamu suruh anter Yohana ( sekretaris pak Badak yang super
sexy dan sekel ) ke rumah Pak Domo untuk nemenin dia rapat di puncak? gimana
sih kamu mas?" Sergap Bu Badak sambil terheran-heran.

" Astaga, Si Nisye pergi sendirian kalau begitu? Ya Tuhan ini sangat
berbahaya, Jakarta bukan kota yang aman untuk putri secantik anak kita bu,
ah...jangan -jangan..." Pak Badak mulai merasa panik membayangkan anaknya
sedang kencan dengan seorang copet pasar yang bertampang kumel. Dan semakin
panik karena juga membayangkan sang copet mengecup pipi anaknya dengan mesra,
meninggali bekas daki di wajah putri kesayangannya ini.

Gosip , seperti layaknya benda benda fisik selalu terkena hukum
relative.Gosip bisa berubah bentuk menjadi baik atau menjadi buruk tergantung
dari mana kita memandang. Gosip Bonang pacaran dengan anak orang kaya di
Kampung Lontar, misalnya jelas bisa dikatagorikan gosip yang baik. Bagi
sebuah komuniti papan bawah yang miskin, berhubungan dengan kalangan papan
atas adalah suatu keberuntungan, sebuah harapan, sebuah kehormatan, sebuah
rejeki yang pantas syukuri dan di rayakan nujuh harian. Sebaliknya bagi
keluarga elit, bergaul , berpacaran dan berkasih -kasihan dengan kalangan
kaum terjengkang jelas suatu aib, sebuah polusi, sebuah mala petaka yang jauh
jauh hari harus segera di hindari.

Itulah sebabnya, kenapa begitu Pak Paluwi Pulang 30 menit kemudian, Pak Badak
langsung mengintograsi dia mati-matian.
Emosi Pak Badak demikan tinggi,bukan saja tensi darahnya yang ikut
terdongkrak, tapi kadar glukosa di darahnya juga ikut naik membuat permukaan
wajah dan tangannya memerah dan gatal gatal.

Setelah Pak Paluwi menerangkan semuanya. Pak Badak segera meminta diantarkan
ke tempat-tempat Nisye pernah pergi.
Tubuh AM Saefudin yang kurus kering ini makin gemetaran dan menciut sekecil
mumi suku Inca ketika dia menyetir mobil volvo keluar gerbang. Pak Munawir di
ruang tamu cuma melonggo tidak mengerti. Dalam hatinya dia menebak " Pasti
Pak Badak di panggil Pak Harto lagi ke jalan Cendana " lamunnya. " Ah
seandainya aku masih tetap menjabat sebagai Mentri Agama, sudah berapa banyak
deposito atas namaku? "  Renungnya. Kemudian sambil pamitan pada bu Badak,
dia berdiri , sebelum sempat melangkah keluar dari ruang tamu, Munawir sempat
bergunggam
" Sialan tuh para mahasiswa, gara gara mereka Pak Harto ngga bisa aku
manfaatin lagi .."



[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 30 Jun 1999 jam 02:50:13 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke