---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- Mas Iwans, Ada dua teori saya tentang surat ini. TEORI PERTAMA: Orang Israel (Mossad) dan orang militer (apalagi yang punya latar belakang intelijen) macam Benny Murdani dan Theo Syafei bukanlah orang bodoh. Mereka tidak akan membuat surat tertulis yang bisa menjadi perkara di kemudian hari. Hal-hal yang sifatnya amat rahasia, tidak akan disampaikan lewat surat. Dalam komunikasi rahasia kedutaan Israel, mereka juga biasa menggunakan sandi ganda (laporan yang sudah dikodekan dengan kode rahasia. Dan laporan terkode itu lalu dikodekan sekali lagi, sehingga bisa dibilang mustahil bisa diurai oleh penyadap). Untuk menguraikan, butuh waktu puluhan tahun. Jadi kalau sampai surat macam ini tersebar, hanya ada kemungkinan: 1. Ini surat palsu. 2. Surat palsu ini sengaja dibocorkan untuk menghasilkan dampak tertentu (kemarahan/kecurigaan umat Islam terhadap PDIP, yang ujung-ujungnya menolak Mega menjadi Presiden). Biasanya, dalam dunia intelijen dan taktik-taktik propaganda, orang yang ikut menyebarkan disinformasi itu sendiri tidak sadar bahwa ia telah dimanfaatkan pihak lawan, karena ia mungkin secara tulus memang percaya pada informasi itu. Artinya, teman Anda yang menyampaikan surat ini mungkin tulus, jujur dan berniat baik. Sebegitu tulusnya, sehingga ia tidak sadar telah menjadi agen penyebar disinformasi. Tentang kubu siapa yang menolak Mega menjadi Presiden, 'kan sudah jelas. TEORI KEDUA: Tapi bisa juga propaganda ini bertujuan sebaliknya. Surat-surat ini dibuat sebegitu cerobohnya agar orang tidak percaya pada surat ini, dan pada saat yang sama menimbulkan kepercayaan yang lebih besar pada PDIP/Mega. Citra buruk akan terlontar pada pihak yang dituduh merekayasa surat ini. Bingung? Memang begitulah propaganda. Namun untuk mengeceknya, bisa dilihat pada siapa audiens surat ini. Bila surat-surat ini ditujukan (dibocorkan) pada konsumen umat Islam Indonesia yang relatif awam, maka saya cenderung bahwa teori pertama yang benar. Satrio A. Warga RT 02/RW 27 Depok II Tengah (Yang sedang mempelajari cara-cara propaganda). -----Original Message----- From: iwans Bung Don dan Pak Mik, dapatkah anda men-follow-up surat ini kalau seandainya OPOSiSI belum menerimanya lewat internet ? Insya Allah surat ini valid. Saya menerimanya dari salah seorang kawan saya di PDI Perjuangan, namanya DS Pulungan. Pak Pulungan ini termasuk orang yang disingkirkan dari Balitbang PDI Perjuangan karena banyak mempertanyakan kebijakan partainya sendiri. Selanjutnya saya cek pada Sekretarisnya Pak Arifin Panigoro, teman saya juga yang pernah mengajak saya ke Carita. Eh dia malah memberi saya faks surat dari Dubes Israel di Singapura kepada saya. Gile bener !!! Salam, Iwan --------------- Surat I --------------- Singapore, June 10 1999 Dear Mr.J. Kristiadi, A friend of mine has forwarded the following message to me. I'm delighted to see evidence of an awareness among Indonesian politicial elite of the importance of a rational political system, one which is free from primordial sentiment. I believe this is a strong clue and important capital >toward a more dynamic world order. Good luck and my best regards to Mr. Murdani. faithfully, Daniel Meggido -------------------------------------- Surat II -------------------------------------- Jakarta, 1 Juni 1999 Pak Try yang terhormat, Semoga Tuhan selalu memberkati Bapak. Dengan hormat, Nampaknya persoalan Pak Harto sudah ada titik terang di partai kami. Datangnya justeru terutama dari Mbak Mega yang bersikeras agar Bapak tidak usah diadili, mengingat budi baiknya dulu dalam membendung tekanan-tekanan mahasiswa yang menginginkan ayahandanya untuk diadili. Jadi, syukurlah, persoalan ini bisa selesai secara internal. Karena itu, memang fraksi TNI di Senayan nanti serta beberapa politisi yang berhubungan baik dengan kita harus menjamin dukungannya kepada kombinasi Mbak Mega dan Bapak (kepastian kombinasinya kita bahas lagi pada pertemuan di rumah Pak Arifin pekan depan). Maaf saya mesti mengulang-ulang keyakinan saya, Pak, bahwa Habibie tidak bisa dipercaya mengamankan Pak Harto dari pengadilan atau proses apapun. Jajaran AD tentu akan dipermalukan. Kubu Islam fundamentalis (termasuk Amien) pasti tetap mendesak Bapak diadili. Ini mengkhawatirkan. Pak Harto juga menyatakan kekhawatirannya dalam soal ini saat bertemu dengan Dimyati dan Sabam Sirait akhir pekan kemarin. Itu makanya saya sendiri terkejut saat diberi tahu Dimyati, dari pertemuan itu Pak Harto memberi isyarat yang kuat bagi kemenangan partai kami. Bahkan Pak Probo segera diberitahu agar memberi dukungan konkrit berupa dana, khusus untuk putaran terakhir kampanye di Jakarta. Jadi kalau Wiranto masih terus ragu dan mencoba lebih percaya dengan kelompok fundamentalis, kita tinggalkan saja dia. Agaknya dia memang sudah susah diajak kembali ke korps. Tentang Ghalib yang Bapak khawatirkan, Pak Harto juga menunjukkan kecemasannya. Beliau menilai Ghalib memang kurang cakap dan tidak hati-hati. Taruhannya memang leher kita semua, terutama Bapak dan keluarga. Saya sudah atur agar ada jalan mengganti Ghalib lewat ketidakpuasan rakyat. Yang paling ngotot selama ini memang orang-orang LBH, mereka punya lembaga khusus menangani korupsi namanya ICW. Hanya memang kita harus jamin agar jangan sampai orang-orang fundamentalis bisa menempatkan Baharuddin Lopa atau Adnan Buyung sebagai ganti, berbahaya sekali. Kemungkinan yang paling aman Ismudjoko (wakil Ghalib). Demikian Pak, mohon maaf, karena kesibukan saya belum sempat menemui Bapak. Pembicaraan dengan Pak Benny mengenai jalur kita di AD perlu diintensifkan, agar kita selalu siap untuk semua keadaan. Hormat saya, Theo Syafei ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 30 Jun 1999 jam 04:48:58 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
