----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

From: idris syafiee
KEKUATAN POLITIK ISLAM PASCA PEMILU

Kekuatan Islam belum berakhir! Itulah ungkapan Ketua Umum PPP, Hamzah Haz di
hadapan ribuan jamaah Tabligh Akbar di Masjid Agung Al-Azhar bertema Peta 
Politik
Umat Islam Pasca Pemilu, Ahad, 4 Juli lalu. Menurut Hamzah, kekuatan Islam 
masih
sangat menentukan pada pemerintahan mendatang jika parpol berasas Islam 
(PPP,
PBB, PK, PNU, Masyumi, PSII) dan parpol berbasis massa Islam (PKB dan PAN)
bergabung dalam satu fraksi: Fraksi Islam, di Sidang Umum MPR mendatang. 
Menurut
perkiraannya, partai-partai tersebut akan mendapatkan 169 kursi di DPR, 
yakni dari
PPP (58 kursi), PKB (48), PAN (33), PBB (15), PK (8), PNU (5), Masyumi (1), 
dan PSII
(1). Jumlah ini kata Hamzah lebih banyak dibanding perkiraan perolehan kursi 
PDI-P
(151) dan Golkar (125). Sedangkan Ketua PBB Yusril Ihza optimis. Sebab, 
katanya,
kepentingan Islam tidak hanya dibawa parpol Islam, tapi juga ada di Golkar, 
ABRI,
bahkan PDI-P (Republika, 5/99).

Di satu sisi, kita merasa gembira melihat pemimpin parpol Islam masih punya
semangat memperjuangkan aspirasi Islam. Di sisi lain, kita bertanya, apakah 
itu bukan
sekedar menghibur diri? Sebab, acara itu kelihatannya dibuat untuk mengobati
kekecewaan para pemuka umat terhadap hasil pemilu 7 Juni 1999 kemarin.

Hasil pemilu itu memang tidak seperti yang diharapkan. Partai-partai yang 
berasas
Islam maupun berbasis massa Islam harus menerima kenyataan pahit: jumlah
perolehan suara mereka tertinggal dari PDI-P. Bahkan di antara 12 parpol 
berasas
Islam, hanya PPP yang masuk lima besar. Lainnya, untuk mendapatkan suara 
minimal
2% (10 kursi) agar bisa ikut lagi pada pemilu mendatang saja sudah sangat 
sulit.
Sementara itu, PDI-P makin kukuh di tangga pertama dengan meraup lebih dari 
30%
suara. Berikutnya berturut-turut adalah Golkar, PKB, PPP. Dan di luar dugaan 
banyak
orang, PAN (dengan basis kalangan Muhammadiyyah) yang dinilai partai paling
reformis justru terpuruk di posisi lima.

Faktor-faktor apakah yang menyebabkan partai-partai Islam kelihatan kurang
mendapat dukungan dari umat Islam? Lalu apa yang mesti diperbuat oleh 
partai-partai
Islam dan kaum muslimin secara keseluruhan? Tulisan ini mencoba 
menganalisisnya.

Mengapa Kalah?

Paling tidak ada tiga faktor penyebab kekalahan parpol Islam dalam pemilu 
kali ini. Pertama,
faktor adanya banyak parpol Islam dan berbasis massa Islam. Dengan 12 parpol 
berasas Islam
dan dua parpol berbasis massa umat Islam (PKB berbasis NU; PAN berbasis 
Muhammadiyyah),
belum lagi Partai Golkar yang sekarang banyak diisi para alumni HMI juga 
berusaha tampil
"Islami", suara umat Islam menjadi terpecah-pecah. Hasilnya, PDI-P yang 
kendati dipenuhi lebih
dari 50% caleg non-muslim dan dipimpin oleh Megawati yang banyak 
dipersoalkan, ternyata
unggul.

Seandainya parpol Islam tidak terpecah seperti sekarang, hasilnya tentu akan 
lain.

Kedua, faktor keadaan umat Islam. Harus diakui, kemenangan PDI-P dan 
kekalahan parpol Islam
adalah cermin buram umat Islam Indonesia: begitulah kualitas kita! Sekalipun 
sudah ditunjukkan
bahwa PDI-P adalah partai yang sangat sekuler dengan track record menentang 
Islam sejak masa
awal orde baru, lantas kini mencalonkan 50% lebih calegnya yang non muslim, 
tetap saja
dukungan umat mengalir kepada partai metal ini. Mengapa umat bersikap 
seperti itu? Paling tidak
ada dua faktor penyebab, lemahnya dakwah Islam dan gencarnya propaganda 
sekularisme yang
diterima umat Islam selama hidup di masa orde baru maupun orde lama, bahkan 
sejak
penjajahan Belanda. Memang, Sekularisme adalah warisan penjajah kafir 
Belanda.

Harus diakui bahwa dakwah Islam yang dilancarkan selama ini belum berhasil 
membentuk
kesadaran politik Islami pada diri umat. Islam baru ditangkap sebatas 
persoalan ibadah ritual dan
semangat moral. Jadi, tidak mengherankan bila pilihan politik umat malah 
dijatuhkan pada partai
yang nyata-nyata sering berseberangan dengan aspirasi Islam.

Ketiga, faktor internal partai. Parpol-parpol Islam yang berlaga dalam 
pemilu baru lalu, rata-rata
belum genap berumur setahun. Terlalu singkat untuk melakukan konsolidasi.

Tapi lepas dari kendala waktu, secara obyektif parpol Islam yang mengikuti 
pemilu itu memang
memiliki setidaknya empat kelemahan mendasar. Yakni kelemahan pada ide 
(fikrah), kelemahan
metode (thariqah), kelemahan personel (asykhas) dan kelemahan ikatan 
(rabithah) antar personel.

Secara ide, parpol Islam belum menunjukkan perspektif Islamnya secara 
menarik. Ide yang
dibawa masih bersifat umum tanpa batasan yang jelas. Kalaupun detil, tidak 
tampak landasan
Islamnya. Misalnya, belum jelas benar bagaimana ide parpol Islam tentang 
tatanan ekonomi,
termasuk tentang bagaimana mengeluarkan bangsa ini dari krisis ekonomi dan 
agar tidak terulang
kembali di masa mendatang. Karena politik adalah mengurus umat, parpol Islam 
seharusnya
membuat konsep Islami yang matang untuk mengurus umat dalam berbagai 
aspeknya, dan
memecahkan persoalan umat secara mendasar.

Pertanyaan-pertanyaan seperti apa bangunan masyarakat Islam itu, bentuk 
pemerintahannya,
bagaimana pengaturan Islam di bidang politik, ekonomi, sosial, pendidikan, 
dan hukum; haruslah
dijawab dengan gamblang dan dipersiapkan dengan serius. Sehingga parpol 
Islam memang
kelihatan datang untuk menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat secara 
keseluruhan
dengan cara Islam. Bukan sekadar mendudukkan orang-orang Islam di kekuasaan.

Di samping kelemahan ide, banyak parpol Islam tidak memiliki metode 
(thariqah) untuk
menerapkan ide-ide Islam yang dimaksud. Bagaimana sebenarnya jalan yang 
harus ditempuh
agar seluruh tatanan hidup masyarakat diatur dengan Islam. Dengan demikian 
parpol Islam
memiliki agenda dan langkah yang jelas, bukan sekadar mengekor partai lain, 
atau terjebak
kepada jargon-jargon seperti reformasi, demokrasi, amandemen UUD, dwifungsi 
dan sebagainya.
Kalau hanya seperti itu, wajar saja bila umat menilai adanya parpol Islam 
tidak mempunyai arti
buat mereka dan merupakan upaya sia-sia. Umat belum bisa melihat perbedaan 
yang nyata antara
parpol Islam dengan parpol sekuler.

Kelemahan ketiga, parpol Islam bertumpu pada orang-orang yang belum 
sepenuhnya memiliki
kesadaran yang benar dan niat yang lurus. Sebagian besar hanya mengandalkan 
semangat, atau
terlibat karena dorongan kepentingan pribadi (kedudukan, jabatan, keuntungan 
materi dan
sebagainya). Mungkin saja sebuah partai Islam memiliki ide (platform) yang 
bagus, tapi sudahkah
hal ini dipahami secara mendalam oleh para anggotanya?

Kelemahan keempat, di antara anggota bahkan pengurus parpol Islam belum 
terdapat ikatan yang
benar. Sementara ini mereka hanya diikat oleh aturan keorganisasian, 
simbol-simbol atau
slogan-slogan organisasi. Atau oleh figuritas tokohnya. Mestinya parpol 
Islam mengadopsi
Tsaqafah Islamiyyah (aqidah Islam dan seperangkat pemikiran, hukum, maupun 
pendapat yang
terpancar darinya) lalu dikulturkan kepada para kader dan simpatisannya agar 
menjadi pengikat
yang benar (rabithah shahihah). Tidak jarang ikatan yang tidak benar di atas 
memicu konflik
internal seperti yang selama ini sering terjadi.

Membangun Kekuatan Politik

Keterpurukan parpol Islam dalam pemilu ini tentu saja bukan akhir segalanya. 
Parpol Islam justru
harus bangkit untuk menata ulang perjuangannya. Sebagai sebuah partai 
politik, parpol Islam
harus menegaskan dua hal penting, yakni arah atau tujuan perjuangannya dan 
cara mencapai
tujuan itu. Arah perjuangan ditentukan oleh persepsi parpol itu terhadap 
persoalan yang dihadapi
umat atau masyarakat: apakah sebagai persoalan kerusakan sistem kehidupan, 
ataukah sekadar
kerusakan parsial (seperti soal korupsi, kemiskinan, kesenjangan pusat 
daerah dan sebagainya).

Realitas kehidupan masyarakat kaum muslimin di negeri ini �dalam tinjauan 
Islam�
menunjukkan bahwa persoalan yang tengah dihadapi oleh masyarakat saat ini 
tidak lain adalah
kerusakan sistem kehidupan akibat dominasi paham sekularisme. Dengan kata 
lain, persoalan
utama umat saat ini adalah tidak diterapkannya Islam secara total dalam 
tatanan kehidupan
bermasyarakat. Inilah pangkal hancurnya kehidupan umat dan pangkal timbulnya 
berbagai krisis.

Dengan demikian, semestinya arah dan tujuan partai politik Islam tidak lain 
adalah melanjutkan
kehidupan Islam (isti�nafu al-hayati al-Islamiyyah). Yakni mengembalikan 
kaum muslimin dan
masyarakat secara keseluruhan pada pengamalan seluruh hukum-hukum Islam baik 
menyangkut
aqidah, ibadah, makanan, minuman, akhlaq, dan muamalah (ekonomi, politik, 
sosial, budaya
pendidikan dan sebagainya). Bukan sekadar mewarnai perundang-undangan yang 
dihasilkan
DPR atau kebijakan-kebijakan pemerintah dengan nilai-nilai Islam. Pengalaman 
menunjukkan,
tujuan yang sangat parsial turut memberikan andil bagi keterpurukan Islam di 
negeri yang
mayoritas muslim ini. Oleh karena itu, tujuan "mewarnai" harus segera 
digantikan dengan tujuan
"menegakkan Islam".

Adapun thariqah (metode) yang ditempuh untuk penerapan Islam secara utuh 
adalah melalui
tegaknya kembali Khilafah Islamiyah, sebuah sistem amanat Rasulullah saw.

Untuk mengemban perjuangan seperti itu, parpol Islam harus memiliki kekuatan 
yang bertumpu
pada dukungan masyarakat atau memiliki basis massa (qo�idah sya�biyah) yang 
kuat. Untuk itu,
sejumlah langkah strategis harus ditempuh. Pertama, membina umat dengan 
pembinaan yang
mendasar. Menanamkan kepada mereka pemahaman aqidah Islam baik sebagai 
aqidah ruhiyah
(perihal keakhiratan) maupun aqidah siyasiyah (mengatur perihal kehidupan 
dunia) secara
terus-menerus. Lalu membangun kesadaran politik Islam umat, yakni menjadikan 
hukum-hukum
Islam sebagai pemikiran politik untuk menilai peristiwa yang sedang 
berkembang dan
menyelesaikan problematikanya. Perlu disadarkan, tidak akan syari'at bisa 
dilaksanakan dengan
baik kecuali dengan tegaknya Khilafah Islamiyah. Dan tidak akan tegak daulah 
Khilafah Islamiyah
kecuali dengan perjuangan yang bersifat politik. Harus disebarkan pula opini 
ke tengah umat
bahwa Islam adalah satu-satunya solusi. Islam akan membawa kedamaian, 
keadilan,
kesejahteraan. Syari'at Islam adalah rahmat bagi seluruh masyarakat, 
termasuk penduduk
non-muslim.

Kedua, secara internal parpol Islam harus melakukan pembinaan intensif 
terhadap para
anggotanya. Jangan sampai terjadi, kader partai Islam justru tidak tahu apa 
yang sedang
diperjuangkan partainya, sehingga ia tidak tahu pula apa yang harus 
dilakukan untuk masyarakat.
Atau lebih parah, terjadi konflik antaranggota partai oleh karena perbedaan 
ide.

Tujuan pembinaan dan pengkaderan ini adalah untuk membentuk kader-kader inti 
parpol yang
berkepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah). Yakni terbentuknya pada diri 
kader kemampuan
berfikir dan bertindak secara Islami. Kader partai ini harus dibina dengan 
tsaqofah hizbiyyah
(pemikiran-pemikiran kepartaian) yang sama, yakni hanya pemikiran Islami. 
Sebab, kesamaan
pemikiran inilah yang akan mengikat mereka secara langgeng. Kesamaan 
pemikiran pula yang
akan mempercepat tercapainya tujuan perjuangan partai. Oleh karena itu, 
parpol Islam mutlak
harus memiliki seperangkat ide (ara�), pemikiran (afkar), hukum-hukum 
(ahkam) tentang berbagai
hal, terutama berkenaan dengan pengaturan kehidupan masyarakat untuk dikaji 
oleh para
anggotanya dan disebarkan ke tengah masyarakat untuk diikuti dan selanjutnya 
diperjuangkan.

Ketiga, kader-kader partai yang telah dibina ini akan bergerak membina kader 
partai berikutnya.
Dan yang paling penting, kader partai ini membangun interaksi di tengah 
masyarakat untuk
melakukan pergolakan pemikiran (shiraa ul fikri). Tujuannya untuk mengubah 
opini masyarakat
serta meraih kekuasaan dengan dukungan masyarakat.

Bila selama ini "diyakini" bahwa cara meraih kekuasaan adalah melalui 
kekuatan intra parlemen,
parpol Islam kini harus melihat secara cermat, baik berdasarkan pada 
realitas sejarah maupun
dalam wacana tentang perubahan sosial serta tuntunan normatif, bahwa 
kekuatan ekstra
parlemen, yakni kekuatan yang bertumpu pada dukungan masyarakat, adalah 
kekuatan yang
sangat efektif. Revolusi Perancis yang mengakhiri kekuasaan despot Raja 
Louis, revolusi Bolsevijk
yang meruntuhkan kekaisaran Rusia, termasuk jatuhnya Marcos dan Soeharto, 
semuanya terjadi
melalui kekuatan ekstra parlemen. Dan yang pasti, tegaknya masyarakat Islam 
di Madinah juga
melalui dakwah yang sepenuhnya bertumpu pada dukungan umat dan para pemuka 
masyarakat
Madinah.

Pada fase pergolakan pemikiran ini, yang harus dilakukan oleh parpol Islam 
adalah mengubah
pemahaman masyarakat sehingga searah dengan pandangan-pandangan Islami yang 
dimiliki
parpol Islam. Masyarakat harus disadarkan tentang kewajiban dan tanggung 
jawab mereka
terhadap Islam, termasuk kewajiban untuk menerapkan seluruh aturan Islam dan
memperjuangkannya agar tegak di tengah masyarakat. Dorongan iman dan 
ketaqwaan harus
dibangkitkan agar masyarakat dengan sepenuh kesadaran dan kerelaan menuntut 
penerapan
syari'at Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Secara bersamaan juga harus dibentuk kesadaran Islami umat untuk menolak 
setiap pemikiran
yang bertentangan dengan ajaran Islam seperti komunisme, sosialisme, 
sekularisme, penetapan
hukum di tangan rakyat atau ide kedaulatan rakyat �oleh karena penetapan 
hukum semata adalah
hak Allah� dan sebagainya. Termasuk menolak setiap penyelesaian persoalan 
dengan cara
bukan Islam karena itu akan sia-sia dan hanya akan menambah dosa. Umat hanya 
menginginkan
bahkan merindukan sistem Islam saja.

Khatimah

Perubahan pemikiran masyarakat dan penolakannya terhadap setiap sistem 
selain Islam adalah
kunci utama penerimaan mereka terhadap ide-ide dan tujuan perjuangan 
parpol-parpol Islam.
Dengan begitu, masyarakat akan mendukung penuh parpol yang benar-benar 
memperjuangkan
Islam. Bahkan mereka, dengan kesadaran sendiri, akan bergerak menuntut 
penguasa yang ada
untuk menerapkan aturan Islam dalam segenap aspek kehidupan masyarakat. 
Inilah awal dari
kemenangan perjuangan parpol Islam, yang tidak lain adalah juga kemenangan 
seluruh kaum
muslimin. Insya Allah!

Wallahu muwaffiq ila aqwamit thariiq!

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 13 Jul 1999 jam 11:12:16 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke