---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk ISTIQLAL (18/7/99)# HABIBIE TAK MENCERDASKAN TAPI MEMBODOHI BANGSA Oleh: Alam Tulus Seorang Presiden RI yang sungguh-sungguh, tentu ia akan berpegangan pada isi Mukadimah UUD 1945, yang diantaranya mengatakan "mencerdaskan kehidupan bangsa", bukan memperbodoh kehidupan bangsa, terutama dibidang politik. Bagaimana dengan Habibie selaku Presiden RI dalam pidato peringatan hari Kebangkitan Nasional yang ke-91? Mencerdaskan kehidupan bangsa atau justru memperbodoh kehidupan bangsa? Pidato Presiden Habibie ketika memperingati Harkitnas, 20 Mei lalu, seperti yang diberitakan Kompas (20 Mei 1999) antara lain mengatakan, "dalam perspektif kesejarahan, orang yang mengaku reformis tidaklah mungkin memisahkan dirinya dalam jalinan status quo. Sebaliknya dalam situasi perubahan cepat yang dialami sekarang ini, status quo sesungguhnya adalah suatu kemustahilan," kata Habibie dalam pidato Radio dan Televisi, dalam rangka menyonsong puncak acara peringatan hari kebangkitan nasional ke-91. Sebagai pewaris semangat Budi Utomo, sambung Habibie pula, marilah kita menghindari sikap pemukulrataan yang tidak jujur dan tidak adil tentang masa lampau kita. Sebagai bangsa, kita telah melakukan long march yang begitu panjang dan mematok tonggak-tonggak yang begitu banyak. Habibie dalam seruannya yang berkaitan dengan pemantapan pendidikan politik rakyat, minta agar jangan terjadi kejutan-kejutan politik yang tidak terkendali yang dapat berakibat fatal. Demikian Habibie. Apa artinya ucapan Habibie tersebut? Apakah Habibie tidak menciptakan kejutan-kejutan politik yang tidak terkendali yang dapat berakibat fatal? Apakah sesungguhnya yang hendak dituju Habibie dengan pidatonya itu: untuk mencerdaskan kehidupan bangsa di bidang politik? Apakah Habibie sebagai seorang dari Orde Baru, berhak untuk menyatakan dirinya sebagai pewaris semangat Budi Utomo? Untuk memudahkan kita menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada baiknya ikuti Tajuk Rencana harian Rakyat Merdeka (21/5) serta tanggapan Ketua Umum DPP PKB, Matori Abdul Djalil atas pidato Habibie itu. Tajuk Rencana Rakyat Merdeka (21/5) dengan judul Harkitnas Versi Status Quo di antaranya menulis: Syahdan, pada Harkitnas 20 Mei ini, Habibie mengatakan dalam perspektif kesejarahan, orang mengaku reformis tidaklah mungkin memisahkan diri dari status quo. Sebaliknya dalam situasi perubahan cepat yang dialami sekarang ini, status sesungguhnya adalah suatu kemustahilan. Dikatakan Habibie pula: sebagai pewaris semangat Budi Utomo, malah kira menghindari sikap pemukul rataan yang tidak jujur dan tidak adil terhadap masa lampau. Ada dua hal yang harus kita perhatikan dalam pidato peringatan harkitnas ini. Pertama, pendefinisian pengertian status quo dan siapa sebenarnya para pewaris semangat Budi Utomo. Pertama kali istilah status quo berbunyi sebagai status quo ante belum, yakni keadaan sebelum perang pecah. Akan tetapi dengan jalanan waktu, pengertian berubah menjadi hanya status quo saja, yaitu berarti situasi sebelum terjadi sesuatu tuntutan terhadap perubahan fundamental politik, ekonomi, sosial dan budaya masa lampau. Masalah ke dua, siapa sebenarnya pewaris sah semangat kebangkitan rasa kebangsaan nasional sebagaimana yang dimaksud Wahidin Sudiro Husodo, Sutomo, Tirtokusumo dan Cipto Mangukusumo. Apakah mereka yang terkait dengan apa yang disebut Orde Lama, ataukah mereka yang terkait dengan ideologi apa yang dinamakan Orde Baru. Sepanjang kenyataan sejarah, rezim Orde Lama masih bisa dikatakan sebagai rezim yang konsekuen menentang neo kolonailisme, kapitalisme internasional dan menjunjung tinggi semangata kebangsaan. Sebaliknya rezim Orde Baru lebih mirip kolaborator daripada neo kolonialisme, lebih akomodatif terhadap kekuasaan kapitalisme internasional, sangat represif terhadap rakyatnya sendiri, tidak memiliki semangat kebangsaan sama sekali, bahkan bertekad bulat untuk menjadikan bangsa Indonesia semacam "underdog" dinegeri, yang oleh nenek moyangnya diwariskan kepada mereka, dan tidak kepada bangsa asing. Mana mungkin generasi yang sekarang ini menutup mata terhadap kenyataan-kenyataan masa kini, dan mana bisa bangsa Indonesia tidak mampu membedakan mana reformis dan mana status quo. Hanya manusia yang tidak bisa membedakan mana minyak mana air, mana emas mana loyang saja, yang tidak bisa membedakan mana kelompok yang tidak menyukai perubahan, karena masa lampau, atau situasi status quo ternyata tidak sesuai dengan rasa keadilan dan peri kemanusiaan. Tajuk Rencana Rakyat Merdeka ini akhiri dengan kalimat "dalam suasana pembaharuan demikian itu, marilah kita peringati harkitnas kali ini sebagai hari kemenangan reformasi atas kekalahan status quo untuk selama-lamanya. Pembodohan Politik oleh Habibie Sedang Ketua Umum DPP PKB, Matori Abdul Djalil bereaksi keras terhadap pernyataan Habibie yang menyebutkan tidak mungkin kaum reformis memisahkan diri dari status quo. Menurut Matori, pendapat itu sangat tendensius (Rakyat Merdeka, 21/5). PKB menolak pernyataan Habibie itu, tegas Matori dalam pembukaan kampanye nasional PKB di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Menurut Matori pernyataan Habibie itu sekaligus bukti pemerintahan saat ini masih melakukan praktek pembodohan politik dan disinformasi yang menyesatkan untuk membenarkan praktek-praktek kekuasaan yang sangat jauh dari cita-cita reformasi. Ini mencerminkan betapa minim pemahaman politik Habibie, seperti pernyataannya mengenai Komas (komunisme, marhaenisme dan sosialisme). Bagi PKB lanjut Matori, garis antara kekuatan reformasi dengan pro status quo sangat jelas dan tegas, yaitu terletak pada konsistensi dan komitmennya pada reformasi itu sendiri, serta sikap, semangat dan budaya politik yang dikembangkannya. Karena itu PKB mengajak seluruh warga bangsa untuk mewaspadai kekuatan status quo saat ini dalam mempertahankan kekuasaannya, melalui praktek-praktek pembodohan politik. Demikian Matori. HABIBIE BUKAN MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA Dengan mencermati isi Tajuk Rencana diatas, serta reaksi keras dari Ketua Umum DPP PKB, Matori Abdul Djalil dapat diketahui bahwa Habibie mengakui dirinya tak bisa memisahkan dari status quo. Reformisnya adalah reformis status quo, pura-pura, bukan sungguhan. Habibie memang dari Orde Baru. Tujuan yang hendak dicapai Habibie, ialah supaya kaum reformis yang sungguhan mengikuti langkahnya yang sangat jauh dari cita-cita reformasi. Pembodohan politik yang dilakukan Habibie melalui pidato harkitnasnya itu hanya melanjutkan politik pembodohan yang dilakukan guru besar politiknya, yaitu, Soeharto, melalui konsep massa mengambang. Habibie bukannya mencerdaskan kehidupan bangsa, seperti yang ditugaskan oleh Mukkadimah UUD 1945, tapi pembodohan kehidupan bangsa. Dalam rangka pembodohan politik bangsa itu jugalah Habibie suka menciptakan kejutan-kejutan politik, seperti tuduhan bahwa Komas (komunisme, marhaenisme dan sosialisme) menghalalkan segala cara untuk memecah belah bangsa; juga menuduh tindakan Makar terhadap Kemal Idris dkk karena pernyataan politiknya yang hingga kini tak ada kelanjutannya; juga mengadakan hubungan telepon dengan Jaksa Agung Andi Ghalib, supaya jangan sungguh-sungguh melakukan pemeriksaan terhadap Soeharto dsb. Hanya menunjukkan Habibie tidak mengenal malu dengan mengatakan ia sebagai pewaris semangat Budi Utomo. Padahal apa yang dilakukan Orde Baru, dimana Habibie termasuk didalamnya, sangat bertentangan dengan semangat Budi Utomo, seperti dikatakan Tajuk Rencana Rakyat Merdeka "tidak memiliki semangat kebangsaan sama sekali". Habibie baru bisa berhak mengatakan sebagai pewaris semangat Budi Utomo, bila ia melaksanakan reformasi secara total, bukan seperti yang terjadi selama setahun ia menjadi presiden, dimana ia tetap mempertahankan status quo. KESIMPULAN Jelas kiranya bahwa Habibie bukannya menjadikan hari kebangkitan nasional ke-91 sebagai hari meningkatkan kecerdasan bangsa, yang selama 32 tahun telah diperbodoh oleh rezim Soeharto, malahan Habibie melanjutkan politik pembodohan bangsa itu, seakan rakyat tak bisa membedakan mana yang reformis dan mana yang mau status quo. Tampaknya setiap langkah yang diayunkan Habibie, hanya mempertinggi tempat jatuh. *** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 Jul 1999 jam 08:36:19 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
