---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Media Indonesia, Senin, 19 Juli 1999 Dipersulit Mendaftar Jajak Pendapat. Warga Timtim di U. Pandang Protes UJUNGPANDANG (Media): Sedikitnya 50 warga Timor Timur (Timtim) di Ujungpandang melancarkan aksi protes kepada panitia jajak pendapat Internasional Organization for Migrasion (IOM), Sabtu (17/7). Mereka protes karena tidak diperkenankan mendaftar karena alasan tidak memiliki bukti identitas lebih dari satu, "Kok, kami dipersulit. Yang menentukan nasib bangsa kami adalah warga Timtim, bukan mereka," ujar Gabrielle. Menurut dia, kemungkinan banyak warga Timtim pribumi tidak memiliki kartu identitas lantaran keberangkatannya ke daerah bersifat dadakan akibat maraknya aksi teror kadang disertai pembunuhan. "Baik muslim dan nonmuslim yang prointegrasi, selalu mendapat teror dan intimidasi dari pihak lain," katanya. Ia juga menjelaskan kebanyakan mereka berasal dari dua kabupaten terisolasi setelah dilegalisir panitia setempat sebagai jaminan bahwa mereka benar-benar adalah warga Timtim pribumi. "Apa pun alasannya, kami tidak ingin IOM tidak menjunjung sikap netralitas sebagai badan yang ditugaskan PBB untuk suatu misi dalam rangka menentukan masa depan Timtim. PBB harus netral, tidak boleh memihak. Jangan-jangan aturan itu hanya rekayasa belaka agar kelompok prointegrasi bisa kehilangan suara," jelas Gabrielle. Menurut dia, persoalan mendatangi tempat sekretariat pendaftaran jajak pendapat mungkin tidak terlalu jadi soal, "Tetapi kami warga Timtim di sini, menyambung hidup saja sulit. Apalagi harus mengeluarkan biaya," katanya. Kemungkinan pelaksanaan jajak pendapat, salah satunya dipusatkan di Ujungpandang (Benteng Foor Rotterdam) untuk wilayah Sulawesi. "Bisa tidak representatif. Karena bagi warga Timtim yang tinggal di Ambon, Sulut, Sultra, maupun Sulteng berpikir akan datang ke Ujungpandang lantaran terbentur soal dana," ujarnya sembari menambahkan yang tinggal di Ujungpandang saja dan daerah sekitarnya mengalami kendala seperti itu. Sementara itu, Yahya Tanetti, minta kepedulian baik pemerintah Timtim dan Sulsel, terlebih lagi pejabat penting di Jakarta agar benar-benar menyikapi persoalan-persoalan tersebut. "Bukan hanya warga Timtim saja yang dapat menentukan masa depan Timtim, juga pemerintah Indonesia," katanya. Ia juga menjelaskan, ada ribuan warga Timtim berdomisili di daerah ini yang tersebar di beberapa kabupaten. Mereka umumnya sebagai pekerja kasar, ABRI/Polri, guru, dan mahasiswa. Sementara itu pihak koordinator IOM, Garfield Du Couturier memahami benar kendala warga Timtim, "Saya sudah pernah bilang bahwa kendala mereka terutama yang berdomisili di luar Sulsel karena terbentur dengan masalah ongkos perjalanan," ujarnya. Mengenai kelengkapan sebagai syarat administrasi untuk mendaftar jajak pendapat, Du Couturier mengatakan, "Aturannya memang sudah demikian bahwa pendaftar jajak pendapat paling tidak memiliki dua kartu identitas diri, apakah berupa KTP, akta kelahiran atau dokumen pernikahan," ujarnya. Sementara itu sedikitnya 100 warga Timor Timur (Timtim) di Ujungpandang berkumpul di Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat. Sabtu (17/7). Mereka dari berbagai kelompok usia datang dari daerah lain di Sulsel, menggelar apel memperingati 23 tahun hari integrasi Timtim ke dalam kedaulatan Republik Indonesia (RI). Kendati bermandi peluh akibat panas terik matahari bagaikan membakar tubuh, suasana peringatan siang itu, tetap berlangsung penuh khidmat. Seluruh warga Timtim yang ikut di dalamnya, pada umumnya berkulit hitam legam dengan berpakaian apa adanya. Suasana hening diselimuti perasaan haru yang mendalam ketika Sang Saka Merah Putih dikibarkan diiringi lagu Indonesia Raya. Di antara mereka ada yang tidak kuasa membendung air matanya, "Kami ingin selamanya menjadi warga negara Indonesia," ujar salah seorang ibu usai upacara dengan nada bergetar. Pembacaan pernyataaan sikap adalah salah satu rangkaian dari prosesi upacara peringatan 23 tahun masyarakat Timtim berintegrasi dengan Indonesia. Inti pernyataan sikap mereka, minta agar pemerintahan Indonesia untuk tegas menentukan sikap terhadap segala keputusan yang telah disepakati dalam pertemuan tripartit menyangkut penyelesaian masalah Timtim. (HE/K-3) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Jul 1999 jam 05:34:26 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
