---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Malam itu hujan menggujur Jakarta dengan derasnya. Gemuruh dan kilatan Halilintar terdengar seperti ledakan misiu yang cahaya flashnya seperti sedang memotret dataran penuh dosa di bawahnya, seakan Tuhan sedang memberikan tembakan peringatan bagi divisi manusia ingkar juga para algojo berseragam dan batalion dewa-dewa dajal yang memerintah negeri in-untuk segera berhenti dan kembali menjadi manusia yang lurus dan mencuci niat buruk dan jutaan dosa yang pernah mereka perbuat dengan air langit ini- atau akan mengalami eksekusi dari sang Khalik . Tapi cuma sedikit orang yang tergetar hatinya oleh suara gesekan dua partikel di awan sana. Sebagian kecil dari mereka bangkit dari gubuknya untuk berlari menerjang kegelapan dan hujan untuk ambir air wudhu di pompa luar dan kembali kedalam rumah yang biliknya terus menerus bergetar untuk sholat Tahajud .Mereka akan menegggelamkan diri mereka pada Tuhan dan memohon ampun pada sejumlah dosa yang mereka pernah perbuat. Tapi sebagian besar dari mereka justru meneruskan maksiat. Di ratusan kamar hotel-hotel mewah perzinahan berjalan terus, gemuruh petir bahkan terdengar seperti mengiringi irama getaran ranjang , membuat mereka ekstasi. Di beberapa gedung gedung mewah,para pengusaha kelas kakap yang sedang terjerat kasus manipulasi melakukan lobi lobi gelap untuk meloloskan diri dengan selusin Jaksa yang tawar menawar harga sebuah keadilan dengan angka angka tinggi. Di Kompleks Perumahan Mentri, beberapa preman dan serdadu bayaran bergabung dengan beberapa santri penjual agama nampak sibuk mendengarkan instruksi dari sang operator untuk meneruskan rencana mereka mengganjal seorang wanita dari kursi kepresidenan dengan cara apa saja-demi sebuah kekuasaan. Tapi gelegar halilintar lenyap setelah lewat tengah malam. Seperti yang sudah sudah, Tuhan akhirnya putus asa mengetahui bahwa manusia jarang mempan di gertak oleh senjatanya.Kini di langit yang tertinggal cuma gerimis kecil membuat suasana malam menjadi begitu romantis. Dan malam yang syahdu seperti ini adalah malam yang cocok untuk para manusia berjiwa melankolis untuk berpuisi. Malam itu semua orang yang merasa atau mengaku berjiwa seniman bangkit dari pembaringan. Bonang segera bergegas mencari sehelai kertas dan pulpen. Tarjo yang di dalam kamarnya berdiri dan bersiap dengan kapur tulis dan papan tulis. Ahmad Aidit berhenti membaca Das Kapital di ruang tamu rumah kontrakannya yang sumpek , sang penyair yang puisinya pernah terbit di pojokan koran Pos Kota ini merasakan desakan yang kuat untuk menulis kembali.Bahkan Abung yang tidak pandai baca tulis ,segera membangunkan si Ipung , anak SD tukang jual koran yang sedang numpang tidur di kamarnya untuk membantu dia mendikte perasaan romantisnya. Bukan saja itu, Ahmad Sudirman, sersan polisi yang dulu pernah menggampari Abung di Komdak juga ikutan mempunyai dorongan kuat untuk menciptakan puisi, laki -laki galak yang menjelang usia pensiun dan pernah naik haji 3 kali dan bercita cita mengarabkan Indonesia serta sangat anti Komunis ini duduk dengan tegak menghadap keluar jendela rumah mencoba menangkap inspirasi. Adalah Ahmad Aidit yang menggoreskan pena duluan. Setelah memejamkan mata 10 menit, dia mulai menulis. Judul puisinya " Rinduku Padamu Stalinku " kemudian dibawahnya dengan tangan bergetaran karena emosi, dia menulis baris demi baris: Jejak kaki Gerwani Adalah langkah pasti negeri ini. Muso adalah sang nabi Kau pasrahkan jiwamu pada kaum petani. Dor..dor dor..kamupun lewat. Kini aku ditinggali sendirian Dimanakah komunis cintaku beranjak pergi? Bahkan bangkai Lenin dan Stalin sudah pergi lama transmigrasi Dari kuburan mewah ke bumi Russia kembali. Padamu Stalin, aku mengabdi... - A.Aidit Kampung Rambutan 14 Juni. Karena puisi itu menyangkut hakekat emosi mana yang lebih mendominasi, Puisi Abung lain lagi. Sambil menggaruk garuk karena ngantuk ,Ipung mendiktekan ekpresi perasaan yang Abung yang sedang teringat akan pengalaman digebuki pasukan anti huru hara dalam kertas, KENANGAN DI SENAYAN Setoran gagal. Bajajku remuk. Demonstari mahasiswa. Bikin muka dan dompetku benyut. Macet di sini, macet di sana. Negeri ini seperti mesin bajaj tanpa busi. Polisi..? Ih seremnya.. Muka tampanku, digampari mereka. Di Senayan,hidupku merana.. Sedang Tarjo yang terobses pada perjuangan nasibnya. Menulis ala Sutarji atau siapalah itu penulis puisi rumit yang hobby menyelipkan kalimat kalimat sok nyentrik. HIDUP KOLANG KALING. Ling kamu berhembus. Lang kamu terbang. cemas cemas gesit meraba di dada Ling, aku daun. Lang dikau tiada. pret pret pret Pantatku kecepirit. -Tarjo Sukirno Setelah selesai, Tarjo menatap papan tulis dan terpesona oleh puisinya sendiri, walaupun dia sendiri sebenarnya tidak mengerti artinya sama sekali " Pokoknya kedengaran satra lah " begitu dalam hatinya. Ahmad Sudirman, sang satpam from Komdak,pecinta UU Madinah lain lagi. Setelah menangkap ide dengan mantap dia menuliskan puisi ini: DALAM RANGKA MENEGAKAN KEADILAN SOSIAL BAGI BANGSA INDONESIA SESUAI DENGAN PIAGAM MADINAH DAN STRATEGI RASULLULAH MENGHADAPI BAHAYA LATEN YAHUDI DI KHAYBAR. - ( maaf ini baru judul ) Karena saya menerima surat dari Pak Gunadi yang tinggal di Jogjakarta. Tertanggal 10 Juni Tahun sembilan belas sembilan puluh sembilan. Inilah jawaban saya terhadap problema Indonesia. Yaitu kembalilah wahai umat muslim dan saudaraku semua. Kembalilah kepada amanat nabi sang rasul terakhir. Muahamadarasullulah diucapkan sejuta kali. Allah akan menumpas komunis dan sekularisme. Tangan tangan para nasrani akan dibumi hanguskan. Negara Agama adalah tujuan. Mari Islamkan bumi Indonesia sesuai dengan Undang Undang Madinah. Wakum Dinkukum Waljadin. Allahu Akbar..Allahu Akbar... Asasamualaikum WWW.com Ahmad Sudirman. Karet Belakang.Jumat Pon, 14 Juni 1999 Oke menyimpang sedikit, jauh diseberang benua, seorang perantauan berinisial HB siang itu duduk didepan komputer seperti biasanya. Jiwa kosong dan pengejarannya akan esensi Tuhan plus ditambah dengan tingkat kecerdasan yang rendah walaupun telah berpuluh puluh menamatkan berbagai jenis buku, menulis puisi yang menunjukan keputus asaan akan Tuhan, berjudul " Where are you ,asshole? "di bawahnya dia menulis dua bait: Yo, God.. Where the fuck are you? Tapi setelah memikirkan bahwa tidak ada nilai estetika sama sekali pada itu puisi, HB segera merubahnya dengan judul " Rindu Tuhan " Kali ini dia menulis dengan 4 bait: Tuhan, Aku buta dan lumpuh Kamu mematung dan bisu Kapan kita bisa bertemu? Mari tinggalkan HB dan kembali pada Bonang. Dalam batok kepala pria Batak berdagu petak ini , sosok Nisye begitu mendominasi. Seperti layaknya seorang pecinta ,dia menjadi pemuja.Malam ini tidak ada satupun hal yang bisa menggeserkan Nisye dari pikirannya. Seperti syair lagu lagu cengeng karya Dedy Dores, Bonang menuliskan ini puisi: AKU CINTA KAMU, NISYE SAYANG. Aku terduduk disini, kamu di sana sayang. Jemuran eh basah lagi sayang. Biarpun bumi ini berhenti berputar sayang. Engaku...... ( Tiba tiba suara gemuruh halilintar menggelagar dahsyat, Bonang segera berhenti menyelesaikan itu puisi, Barangkali Tuhan sedang memperingatkan dia untuk tidak lagi menulis syair-syair murahan yang menjemukan jiwa ) Entah dari mana datangnya perubahan itu, tiba tiba Bonang mampu menulis kelimat dengan cara yang jauh lebih beradab. INI PUISI Malam ini aku melahirkan ini puisi. Kuberikan nyawa pada setiap kalimat dan kata. Kuberikan dia merdeka. Puisiku berlari dan mengetuk setiap pintu hati. Dia ingin menyapa setiap jiwa santun yang bisa ditemui. Tapi hampir semua pintu tetap saja terkunci. Satu dua yang terbuka, cuma ingin memenjarakannya pada bingkai bingkai kosong tanpa arti. Puisiku menggelandang, berjalan, merayap dan melata. Dia tersesat dalam dalam setiap rimba. Puisiku menjadi pengemis dari kota ke kota. Sampai dia meyaksikan kehadiranmu... Kamu menyambutnya dengan suka Kamu berikan puisiku jiwa. Kamu menyerahkan separuh cinta. Dan kamu tabung sisanya untuk kita bersama. Sebuah surga dia temukan di balik dadamu. Dan dia mengabari ini dalam sebuah pesta. Sayangku, Kita dipertemukan oleh kalimat-kalimat ini. Kita telah lebur bersatu dalam kata-kata. Sebuah puisi tidak akan pernah mati. Ketika generasi ini padam dan sirna nanti. Ketika kita telah lama pergi. Puisi ini akan terus melantunkan lagu cinta kita Sampai bumi binasa.. - Bonang - Kampung Lontar, Malam di bulan Juni. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 1 Aug 1999 jam 00:27:41 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
