----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Stockholm, 21 September 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

MEGAWATI MENJADI CAPRES KARENA AYAHNYA DAN UUD1945
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.


Untuk Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Ketua
Jamiyatul Muslimin Jabar KH Daud Supriyatna.

Pagi tadi sempat saya membaca tulisan tentang pidato Megawati yang
didukung oleh Ketua Jamiyatul Muslimin Jabar KH Daud Supriyatna di
http://www.republika.co.id/9909/21/21MEGA.023.html dan di
http://www.suaramerdeka.com/harian/9909/21/nas4.htm

Apa yang tersurat dari sebagian isi pidato Ketua Umum PDI Perjuangan
Megawati Soekarnoputri di kantor DPP PDI-P, Jakarta, 20 September 1999
adalah "bahwa naiknya dia menjadi ketua umum PDI-P bukan karena
kehendaknya, tetapi karena keinginan (sebagian, 35 %) rakyat" (yang
masih menganggap bahwa dia mempunyai kemampuan seperti ayahnya,
Soekarno. Nah, ucapannya tersebut diatas diucapkan ketika menyambut atas
dukungan pencalonan dirinya sebagai presiden ke 4 Daulah Pancasila)
"oleh beberapa ulama, ustadz, dan pemuda dari Jabar yang mengaku
tergabung dalam Forum Jamiatul Muslimin" (
http://www.republika.co.id/9909/21/21MEGA.023.html ).

''Saya tak akan mengatakan diri saya muslimat yang baik. Tetapi saya
berusaha berdialog dengan Allah,'' katanya. (Yang didukung oleh) Ketua
Jamiyatul Muslimin Jabar, KH Daud Supriyatna, menuturkan pendirian wadah
itu untuk membantah isu yang menyerang PDI Perjuangan akhir-akhir ini.
''Kami tersinggung atas berita yang menyatakan kader PDI Perjuangan
sebagian besar nonmuslim. Serta membantah pernyataan wanita tak boleh
menjadi presiden karena dilarang ayat suci Alquran dan Hadis,'' katanya.
Acara yang dimulai pukul 08.00 dengan istighotsah itu ditutup dengan
pernyataan sikap alim ulama dan pemuda yang tergabung dalam Jamiyatul
Muslimin Jabar. Inti pernyataan sikap tersebut, mendukung pencalonan
Megawati menjadi presiden ke-4 serta me-ngutuk pihak-pihak yang memecah
belah umat Islam dengan menyalahgunakan ayat untuk kepentingan politik.
( http://www.suaramerdeka.com/harian/9909/21/nas4.htm )

Nah sekarang, kalau kita lihat dari sudut pandang UUD 1945 yang sekuler
BAB III KEKUASAAN PEMERINTAH NEGARA Pasal 6 ayat 1, Presiden ialah orang
Indonesia asli. Ayat 2, Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat dengan suara yang terbanyak,maka menurut UUD 1945
dengan sistem triaspolitika dan demokrasi barat-nya yang sekuler di
Daulah Pancasila tersebut, siapapun boleh jadi presiden asalkan orang
Indonesia asli yang dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan
suara yang terbanyak.

Karena sampai detik ini Indonesia bukan Daulah Islam Rasulullah dengan
konstitusinya yang mengacu kepada Undang Undang Madinah, maka yang
berlaku sampai sekarang di Daulah Pancasila adalah UUD 1945 yang sekuler
yang membolehkan siapa saja jadi presiden asalkan orang Indonesia asli
dengan mendapat suara mayoritas di MPR.

Sedangkan kalau ditinjau dari sudut pandang Islam (Al Qur'an dan
hadist), Undang Undang Madinah dan contoh-contoh Penguasa di Khilafah
Islam. Yang mana pandangan menurut Islam ini pernah saya tulis dalam
tulisan "[990711] Penguasa wanita"
http://www.dataphone.se/~ahmad/990711.htm .

Dalam tulisan tersebut saya mengatakan bahwa, "Penguasa di Khilafah
Islam disebut dengan Khalifah. Seorang Khalifah adalah seorang
laki-laki, muslim, bebas, dewasa, bijaksana dan adil.

Nah, walaupun dalam Qur'an disebutkan bahwa "Kaum laki-laki itu adalah
pemimpin bagi kaum wanita..."(An Nisaa',4: 34) adalah dimaksudkan kepada
pemimpin dalam keluarga, tetapi perlu diingat bahwa, baru saja dalam
bentuk bangunan  keluarga yang begitu kecil sudah diwajibkan laki-laki
sebagai pemimpin bagi wanita, apalagi dalam bentuk negara yang besar dan
kompleks yang terdiri dari berjuta-juta keluarga.

Jadi dalam surat An Nissa' diatas mengajarkan kepada kaum Muslimin untuk
berpikir secara logis (berdasarkan wahyu Allah) yaitu, baru saja dalam
bentuk bangunan keluarga yang terdiri dari beberapa orang laki-laki dan
wanita, maka yang diwajibkan adalah laki-laki sebagai pemimpin, apalagi
dalam suatu negara yang penduduknya terdiri dari berjuta-juta laki-laki
dan wanita.

Adapun alasan mengenai Ratu Balkis dari Daulah Saba tidak bisa dijadikan
sebagai alasan untuk penguasa di Khilafah Islam, karena Ratu Balkis di
Daulah Saba adalah penyembah matahari "Aku mendapati dia dan kaumnya
menyembah matahari, selain Allah..." (An Naml,27: 24). Kemudian ketika
Nabi Sulaiman menundukkan Ratu Balkis dengan Daulah Saba-nya, maka Ratu
Balkis menyerah dan menyerahkan kekuasaannya kepada Nabi Sulaiman dan
menjadi Muslimah dibawah kekuasaan Penguasa Nabi Sulaiman "...Berkata
Balkis:"Ya, Tuhan-ku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap
diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan
semesta Alam" (An Naml,27: 44).

Selanjutnya, kalau kita ditelusuri lewat hadist mengenai penguasa wanita
ini, Bukhari dalam hadits shahih-nya menyebutkan bahwa "Tidak akan
pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (pemerintahan)
mereka kepada seorang wanita" (HR. Bukhari). Dimana hadist ini merupakan
komentar Rasulullah saw, ketika sampai kepada Rasulullah saw berita
tentang pengangkatan putri Kisra sebagai Raja Persia.

Kemudian dalam Undang Undang Madinah Bab VIII PIMPINAN NEGARA Pasal 42
ayat 1, Tidak boleh terjadi suatu peristiwa di antara peserta piagam ini
atau terjadi pertengkaran, melainkan segera dilaporkan dan diserahkan
penyelesaiannya menurut (hukum) Tuhan dan (kebijaksanaan) utusan-Nya,
Muhammad SAW.

Begitu juga Khalifah-Khalifah dalam Khilafah Islam semuanya adalah
laki-laki dari mulai Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab,
Khalifah Usman bin Affan, Khalifah Ali bin Abi Thalib (11 H-40H, 632
M-661 M).

Jadi, Surat An Nisaa' ayat 34, An Naml ayat 24, 44 dan hadist shahih
Bukhari diatas merupakan sumber pemikiran yang berdasarkan kepada
Kedaulatan Allah, yaitu berdasarkan kepada hukum-hukum yang datang dari
Allah, dibuat oleh Allah dan untuk Allah serta dicontohkan oleh
Rasulullah saw yang diteruskan dan dikembangkan oleh para Khalifah di
Khilafah Islam". ( http://www.dataphone.se/~ahmad/990711.htm )

Sekarang kesimpulannya adalah, karena Megawati Soekarnoputri sesuai
dengan pengakuannya yaitu sebagai seorang muslimat, maka saya yaqin
bahwa dia faham dan mengerti bagaimana pandangan Islam (Allah dan
Rasul-Nya) terhadap kepemimpinan perempuan dalam suatu Daulah. Tetapi
kalau Megawati tetap bersikeras untuk menjadi Presiden dengan alasan
bahwa Islam tidak melarangnya bahkan telah didukung oleh Ketua Jamiyatul
Muslimin Jabar KH Daud Supriyatna, maka seperti yang Rasulullah saw
sabdakan: "Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan
urusan (pemerintahan) mereka kepada seorang wanita" (HR. Bukhari).

Nah, kita tunggu saja, lima tahun adalah tidak lama.

Adapun kalau Megawati Soekarnoputri mendasarkan pemikirannya kepada UUD
1945 yang sekuler BAB III KEKUASAAN PEMERINTAH NEGARA Pasal 6 ayat 1 dan
Ayat 2 diatas dan tidak mendasarkan kepada Islam, maka alasannya bisa
dibenarkan. Berarti Megawati Soekarnoputri dipilih menjadi capres dan
(kemungkinan) dipilih menjadi presiden berdasarkan UUD 1945 untuk
memimpin rakyat di Daulah Pancasila, bukan berdasarkan Islam.

Inilah sedikit tanggapan saya untuk Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati
Soekarnoputri dan Ketua Jamiyatul Muslimin Jabar KH Daud Supriyatna.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Sep 1999 jam 11:08:39 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke