---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk PANGDAM JAYA MAYJEN TNI DJAJA SUPARMAN, MEMULUSKAN KARIR DENGAN MENGGEBUK MAHASISWA JAKARTA, (TNI Watch!, 24/9/99). Hati-hati para aktivis mahasiswa! Jumat sore (24/9), seusai shalat Jumat, Laskar Front Pembela Islam (FPI) dan Angkatan Muda Kabah, bahu-membahu dengan pasukan TNI untuk melawan aksi mahasiswa. Mereka bergerombol di sekitar Pasar Bendungan Hilir, seberang Kampus Universitas Atma Jaya. Sebagaimana diketahui, FPI adalah organisasi massa Islam fundamentalis yang dibina oleh Pangdam Jaya Mayjen TNI Djaja Suparman. Aksi terakhir yang pernah mereka lakukan adalah pawai keliling Kota Jakarta dalam rangka mendukung Habibie beberapa waktu lalu. Sudah umum diketahui, bila FPI mengadakan pawai, selalu mendapat perlakuan yang ramah dari aparat. Ini merupakan pertanda, bahwa FPI dan TNI berada di garis yang sama. Keberadaan FPI, sering membuat gerah tokoh-tokoh Ormas Islam sendiri, seperti Dr Said Agil Siradj (tokoh NU dan PKB), Prof Dr Alwi Shihab (NU dan PKB), dan Prof Dr Ahmad Syafie Ma'arif (Ketua Umum Muhammadiyah). Mereka secara terang-terangan menentang keberadaan organisasi semacam FPI, karena memanfaatkan jargon Islam untuk kepentingan politik (baca: kekuasaan). Beberapa anggota FPI, didampingi beberapa aparat Kodam Jaya, sejak Jumat pagi dikabarkan telah mengamati lokasi Kampus Universitas Atma Jaya, yang akan dijadikan sasaran serangan. Kegiatan memata-matai oleh FPI tersebut, sempat diketahui oleh beberapa mahasiswa yang sedang ngepos di Kampus Atma Jaya. Untuk menghindari bentrokan sehingga bisa dibelokkan sebagai kasus "SARA" (karena Atma Jaya adalah perguruan tinggi Katolik), maka mahasiswa sudah menyingkir ke kampus-kampus terdekat, seperti Universitas Dr Moestopo (Kebayoran), Univ Sahid (Tebet), STIE Perbanas (Kuningan) dan Bina Nusantara (Kemanggisan). Maraknya aksi-aksi mahasiswa akhir-akhir ini telah dimanfaatkan oleh Mayjen TNI Djaja Suparman untuk meningkatkan pamornya. Tampaknya setelah era Timor Timur usai, kini yang dijadikan arena untuk "mendulang" prestasi demi karir mereka kelak, adalah gerakan perlawanan kelompok pro-demokrasi, terutama dari kalangan mahasiswa. Memang dengan berakhirnya "era Timor Timur", kalangan perwira kehilangan lahan untuk mengaktualisasikan dirinya. Maka harus segera dicari lahan lain. Celakanya, gerakan mahasiswalah yang dijadikan sasarannya. Sepertinya sudah menjadi tradisi TNI, yang menjadikan bangsa sendiri sebagai "lawan tanding". Djaja Suparman termasuk perwira pertama yang mempraktekkan cara baru tersebut. Djaja sadar, Jakarta adalah wilayah strategis, merupakan kesempatan emas baginya untuk meningkatkan pamornya. Namun Djaja harus hati-hati, jangan sampai pengalaman pendahulunya, Mayjen TNI Syafrie Sjamsudin yang malah terjungkal karena bermain api pada "Peristiwa Mei 1998". Ketika memberi keterangan pers siang ini, Mayjen TNI Djaja Suparman dengan sikap dingin mengatakan, bahwa peserta aksi hari ini dan kemarin, adalah orang-orang bayaran. Logika Djaja ini dinilai oleh sejumlah kalangan sebagai logika kerdil, tidak menggambarkan Djaja sebagai salah satu peserta terbaik saat mengikuti Sesko ABRI tahun 1994. Sebuah gerakan mahasiswa pro-demokrasi, yang menyuarakan aspirasi rakyat, dengan ringannya disebutnya sebagai demonstran bayaran. Djaja Suparman adalah lulusan Akmil tahun 1972. Penugasan pertamanya adalah di Kediri, sebagai Danton. Beberapa waktu kemudian dipercaya sebagai Komandan Bataliyon 507/Sikatan (Surabaya), yang merupakan pasukan andalan Kodam V/Brawijaya. Sesudahnya, ia dipercaya sebagai Dandim di Probolinggo. Kemudian ditarik ke Makodam V/Brawijaya, sebagai Waasops Kasdam V. Setelah berdinas di staf, Djaja ditarik kembali ke satuan tempur, sebagai Komandan Brigif 13/Galuh Kostrad (Tasikmalaya). Karir Djaja tampak semakin menanjak setelah ia dipercaya sebagai Komandan Resimen Taruna Akmil di Magelang. Sesudah menjadi Danmentar, bintang satu diraihnya saat dipercaya sebagai Kasdam II/Sriwijaya. Setelah bertugas di Palembang, ia kembali lagi ke Surabaya, sebagai Pangdam V/Brawijaya, dengan pangkat Mayjen. Dan sejak akhir Juni 1998 lalu, Djaja dipercaya memegang komando pada Kodam Jaya. *** _____________ TNI Watch! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku TNI, dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan ketentaraan para perwiranya pelanggaran-pelanggran hak asasi manusia yang dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya. Tujuannya agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi bersama-sama. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 24 Sep 1999 jam 18:56:51 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
