---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Rakyat Merdeka, 24 September 1999 Ketahanan Nasional Semakin Terpuruk KEBINGUNGAN di kalangan elit politik tampaknya semakin meningkat, tanpa ada tanda-tanda sedikitpun akan mereda. Semakin banyak pernyataan muncul yang simpang siur dan tidak jelas juntrungnnya. Di satu pihak, ada yang menganjurkan menghentikan arus bantuan dari Dana Moneter Internasional (IMF). Namun di lain pihak ada yang menganjurkan agar Indonesia keluar saja dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Sekiranya ada sedikit waku untuk menelusuri dua "opsi" elit politik yang sedang dilanda kemelut penalaran itu, maka kita akan mampu mengambil kesimpulan, bahwa kedua "opsi" tersebut sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan. Apa sebabnya? Jika kita yang menghentikan arus bantuan dari IMF karena ingin menutupi malu besar yang disandang elite politik pada puncak piramida kekuasaan berkaitan dengan keterlibatan mereka dengan kasus Bank Bali. Atau karena kebobrokan pada semua BUMN serta perbankan nasional kita, maka sasaran utama tahun ini untuk menghempang krisis ekonomi yang tingkatnya paling gawat, akan pupus. Jika tahun ini tidak ada kucuran dari IMF, neraca pada APBN akan jomplang. Mengapa? Tidak ada dana untuk membayar gaji tentara, polisi, pegawai negeri. Dan yang bisa dipastikan, juga tidak ada uang sepeser pun untuk mendanai jaring pengamanan sosial (JPS), pada saat pengungsi dari Timor Timur sebanyak 200 jiwa lebih mengahadapi kelaparan. Tidak dapat dibayangkan, malapetaka dan kemelut apa lagi yang akan terjadi yang bisa memicu kemelut lebih besar daripada yang pernah kita alami menjelang dan sesudah peristiwa 21 Mei 1998 lalu. Kemudian menyusul "opsi" kedua, yakni memobilisasi sentimen massa untuk berkonfrontasi dengan opini PBB yang telanjur beroleh kesan, Indonesia telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan di wilayah bekas jajahan Portugal, dan bukan wilayah bukan jajahan Hindia-Belanda. "Opsi" kedua ini sama fatalnya pada saat ini. Penjelasannya mudah. Konfrontasi dengan opini PBB akan berfokus kepada konfrontasi dengan Australia. Konfrontasi akan berkonvergensi menjadi konfrontasi polittik dan ekonomi, yang menyedot semua energi yang tersisa, dan sebenarnya diperlukan bagi pemulihan ekonomi Indonesia. Konfrontasi berkepanjangan kepada sasaran yang sebenarnya bukan musuh utama, bisa berdampak senjata balik gagang. Ujung tombak tidak dihadapkan kepada musuh, akan tetapi mengarah kepada diri kita sendiri. Penjelasan tentang hal ini juga sederhana. Indonesia berperan pada dua front sekaligus. Sementara kedua musuh itu adalah dua sahabat karib pemerintah Orde Baru di bawah pimpinan jenderal besar Soeharto. Yang satu dengan "bantuan" yang "sangat lunak", dan yang kedua, dengan perjanjian kerjasama ketahanan, plus eksplorasi minyak bumi di celah Timor yang cukup strategis. Akumulasi permasalahn tidak bisa dicegah, yang tak pelak akan muncul tumplek-tumplek, dan membenamkan Indonesia kepada samudera kesulitan yang tak kunjung berakhir. Akibatnya tidak saja disintegrasi bangsa, akan tetapi juga tamat riwayat Indonesia sebagai negara kebangsaan yang semula begitu dikagumi dunia. Juga tamat citranya sebagai pemimpin Gerakan Non Blok. Mengapa hal seperti ini bisa terjadi menjelang milenium ketiga ketika semua bangsa di dunia menyisingkan lengan baju mereka untuk melangkah dengan mantap ke era penuh ketidakpastian itu? Jawabnya sama mudahnya dengan yang diberikan kepada pertanyaan terdahulu. Para elite politik yang selama ini memandu bangsa Indonesia, adalah elite politik yang kental dengan budaya dan praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Oleh karenanya, bisa dipastikan akan membawa bencana berskala besar kepada seluruh negeri. Negeri yang ketahanan nasionalnya semakin terpuruk. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Sep 1999 jam 09:32:59 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
