----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 34/II/26 September-1 Oktober 99
------------------------------

CARA CLINTON 'KUASAI' LOROSAE

(POLITIK): Meski tahu tentang operasi TNI dan milisi, AS sengaja berdiam
diri. Tanpa menanggung beban besar, AS akan 'kuasai' Timor Timur. Australia
kena 'dikerjai.'

Amerika Serikat memang selalu ingin 'menguasai'. Cara yang dipergunakan pun
macam-macam. Bisa lewat serangan militer, bisa lewat diplomasi bisa pula
lewat dominasi ekonomi seperti yang selama ini dilakukan pada negara-negara
dunia ketiga, termasuk Indonesia. Di Timor Timur, meski terkesan terlibat
setengah hati, namun keinginan untuk `mendominasi' bukannya hilang sama sekali.

Ada gelagat, setelah menghancurkan Irak dan Kosovo dengan cara perang,
sukses tersebut ingin diulangi di Timtim. Bedanya, AS menggunakan jalan yang
lebih halus. Keterlibatannya dalam pasukan PBB kali ini, semata-mata untuk
menunjukkan bahwa AS sama sekali tak cucitangan dengan persoalan Timtim.Pada
dasarnya, AS tak hendak mengeluarkan terlalu banyak 'energi' untuk masuk
Timtim. Apalagi, beberapa kali intervensi yang dilakukan sebelumnya,
dikecam, tak saja di dalam, tapi juga di luar negeri. Karena itu, Australia
dibiarkan ngoyo -sekaligus menanggung separuh lebih beban operasi itu.

Negeri kanguru ini merasa dikibuli Paman Sam mentah-mentah setelah pasukan
multinasional mulai berdatangan ke Timtim. Ternyata jumlah pasukan yang
dikirim di luar dugaan semula. Selain para pilot pesawat tempur, Amerika
cuma menyediakan bantuan logistik, perlengkapan komunikasi dan intelejen
berikut personil. Totalnya mencapai dua ratus orang.

Kecelenya Australia bisa dimaklumi. Pasalnya sejak mula PM John Howard telah
meyakinkan masyarakatnya bahwa Amerika telah menjadi teman aliansi baru
mereka. Howard tambah yakin setelah mengetahui intelejen kedua negara
mengetahui rencana TNI jika opsi otonomi ditolak. Melihat sikap Washington
adem anteng, Canberra pun ikut-ikutan kalem.

Howard kemudian mulai berhitung. Hubungan kedua negara dirasanya mulai
mengkarib. Banyak untung direguk kalau dia pilih menunggu sinyal Gedung
Putih. Apalagi akses Australia ke kawasan Asia lebih dekat secara geografis.
Amerika juga diyakini tidak bakal mengutak-atik kiprahnya di Celah Timor.
Bargain di hadapan Ratu Inggris kiranya kian meningkat.

Bahwa Amerika mengetahui rencana TNI dari A-Z diungkapkan pengamat politik
luarnegeri Amerika, Noam Chomsky dalam wawancara dengan Alternative Radio,
(8/9). CIA dan Pentagon diberitakan memperoleh informasi langsung dari sang
inisiator. Lantas kenapa Clinton diam? Justru belakang hari baru melempar
pernyataan-pernyataan galak.

Spekulasi pun berkembang. Jangan-jangan aksi-aksi TNI dan milisi terjadi
karena lampu hijau dari Clinton. Layaknya anggukan Presiden Henry Ford dan
Menlu Henry Kissinger kepada Soeharto tahun 1975. Sinyal oke Ford dan
Kissinger ini lantas memicu peluru pertama invasi militer Indonesia ke Lorosae.

Tebak-menebak macam begini segera saja disergah banyak pengamat. "Kalau
green light langsung barangkali tidak ada. Dalam dunia diplomasi, 'diam'
itulah yang diterjemahkan sebagai lampu kuning," ujar seorang pengamat luar
negeri. Ini yang membuat Wiranto bersikukuh dengan rencana semula. Maka
Nopember 1998, Mayor Jenderal Zacky Anwar Makarim, intelejen wahid
Indonesia, ditugasi menyiapkan elemen-elemen operasi.

Adem anteng Amerika memang layak mengundang tanya. Sebab untuk membatalkan
rencana TNI, bukan perkara sulit bagi Clinton. Cukup dengan menelpon
Wiranto. "Persis seperti yang dilakukan Madeleine Albright pada 21 Mei 1998
(saat Soeharto jatuh)," lanjut Chomsky. Saat itu, Menlu Madeleine Albright,
memberitahu Soeharto bahwa Washington menghendaki terjadinya "transisi
demokratis" di Indonesia. "Right now Mr. President," tandas Albright.

Keterangan Chomsky soal informasi yang diperoleh intelejen Amerika di atas
ternyata bukan rekaan atau spekulasi. Sejauh ini tidak keluar bantahan
apapun dari Gedung Putih. Richard Holbrooke saat didesak di sidang PBB
justru berkilah, "Karena kami mengebom Kosovo, tidak berarti kami harus
mengebom Dili."

Chomsky mengaku kesal dengan ambiguitas Amerika. Clinton memang membatalkan
kerjasama pelatihan militer. "Tapi dia tidak meng-cut penjualan senjata ke
Indonesia, sambil tetap mendeklarasikan bahwa Timtim bukan lagi bagian dari
Indonesia yang memang bukan dan tidak akan pernah."

Karena itu muncul dugaan kuat AS sedang "memainkan" sesuatu. Untuk meraih
pengaruh di Timtim, AS tak mau mengambil resiko merusak hubungannya dengan
Indonesia -bagaimanapun Indonesia adalah "rekan setia" selama puluhan tahun.
Dengan begitu, bisa dipahami mengapa AS berdiam diri, meski tahu banyak
rencana TNI di Timtim.

Kepentingan AS, tampaknya adalah mendapatkan pengaruh yang lebih strategis
dalam jangka panjang. Akan sangat mencolok jika Amerika mengirim pasukan
dalam jumlah besar, sementara dunia internasional santer bicara rencana
pangkalan militer Amerika di Timtim. Pentagon pun diminta Clinton untuk
memberi jalan pada diplomasi 'mengatasi sipil dengan cara sipil'. Artinya
Amerika ingin menampilkan wajah baiknya lebih dulu. Bantuan kemanusiaan bagi
pengungsi Timtim misalnya, kini sedang dikoordinir secara besar-besaran oleh
LSM-LSM AS.

Inilah permainan itu. Masuk arena dengan wajah lebih 'manusiawi'. Dan jangan
heran, bila situasi mereda, Anda mendengar tentang pembangunan pangkalan
militer di Timtim. Paling tidak, perusahaan AS bakal lebih dulu berdiri di
sana. Siapa tertawa paling akhir dia menang. Demikian bunyi adagium.
Australia garang di awal, tapi tiada oleh-oleh dibawa pulang pasukannya.
Malah hubungan dengan Indonesia, makin rusak. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Sep 1999 jam 10:05:16 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke