---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Republika, 28 September 1999 The Guardian: Pembantaian Massal di Timtim Bohong Besar NEW YORK -- Kabar buruk tentang Timtim oleh media massa Barat terutama Australia, akhirnya terbukti bohong. Koran terkemuka Inggris, The Guardian, membeberkan cerita seram mengenai pembantaian massal di Timtim -- termasuk pembunuhan lebih dari 100 pastor dan suster oleh tentara Indonesia dan para milisi - hanya omong kosong yang dibesar-besarkan. ''Sejauh ini tak ada bukti-bukti mengenai pembantaian massal di Timtim,'' tulis koran itu besar-besar dalam edisi akhir pekan yang diperoleh Antara di New York, kemarin. Berdasarkan laporan investigasi wartawan Maggie O'Kanne langsung dari Dili, The Guardian menulis bahwa sampai saat ini hanya 15 mayat yang ditemukan di Dili yang berpenduduk 130.000. Temuan lain berupa tiga jenazah lain di pinggir kota. Komandan Pasukan Inggris di Interfet, Brigjen David Richards, yang dikonfirmasi soal pembunuhan massal, mengatakan hal yang sama. ''Saya belum menemukan bukti-bukti mengenai hal itu,'' tegasnya. Selama tiga hari investigasi di Dili, wartawan O'Kanne mewawancarai lebih dari 100 pengungsi, dan hanya satu orang yang mengaku anggota keluarganya tewas terbunuh. Temuan itu mematahkan wawancara televisi seorang sukarelawan dari Australia yang mengklaim bahwa ia pernah melihat mayat-mayat berserakan di Markas Polda di Dili dan darah mengalir sampai ke dinding- dinding sel tahanan. Buktinya, ketika O'Kane mengunjungi Markas Polda yang baru saja ditinggalkan polisi RI, sel-sel tahahan itu dipenuhi dengan sampah dan sisa-sisa makanan -- bukan oleh mayat-mayat sebagaimana diceritakan oleh sukarelawan Australia tadi. ''Tak ada tanda-tanda bekas darah ataupun usaha untuk membersihkan sel-sel tahanan,'' tulis O'Kane. Laporan lain yang sempat tersebar ke seantero dunia mengenai 20 orang terbunuh di keuskupan sekitar Pelabuhan Dili juga dianggap tak benar oleh The Guardian. ''Memang kantor Uskup terbakar, tapi tak ada bukti tubuh-tubuh yang gosong terbakar atau bau mayat yang membusuk,'' cerita O'Kane. Pada The Guardian, Pastor Fransisco dari Keuskupan Dili mengatakan bahwa laporan milisi prointegrasi menembaki para pengungsi dan menewaskan lusinan adalah tidak benar. Fransisco hanya menyebut satu orang yang tewas di rumah Uskup Belo. Mengenai kabar lebih dari 100 pastor dan suster tewas terbunuh dalam dua pekan setelah jajak pendapat 30 Agustus, juga tidak berdasar. Yang benar empat tewas. ''Kami hanya tahu ada empat pastor yang di Suai dan satu pastor di Dili," tandas Fransisco. Ratusan pengungsi meminta perlindungan di halaman rumah Uskup Belo dan dilayani Pastor Fransisco sejak jajak pendapat 30 Agustus. Namun, tak ada satu pun dari para pengungsi itu yang melaporkan adanya pembantaian massal atau kuburan massal. ''Saya mendengar laporan individual mengenai adanya mayat yang ditemukan di sini dan di sana, tapi tak ada laporan mengenai pembunuhan massal,'' kata Fransisco. Kabar bohong tentang keburukan RI di Timtim memang sedang gencar dihembuskan oleh media-media massa Australia. Di lapangan, para wartawan Australia bahkan melakukan konspirasi dengan serdadu negara itu, yang memang ditunjuk PBB sebagai ketua Interfet. Koran The Sydney Morning Herald (SMH) yang beraliran konservatif garis keras, pada edisi Senin kemarin, di halaman muka mengaku telah mendapat bukti-bukti yang diberikan serdadu Australia di Dili mengenai dugaan kekejaman dan pembunuhan rakyat Timtim oleh militer RI. Dubes RI untuk Australia, Wiryono Sastrohandoyo, sebelumnya telah mengingatkan diplomasi melalui media massa Australia sangat berbahaya, karena akan memicu sentimen dan kebencian dari rakyat Australia kepada Indonesia. Itu terbukti ketika warga Australia ramai-ramai menyerang dan membakar Konsulat RI di Darwin dan Perth. Belum lagi berbagai ancaman yang diterima warga RI di negara kanguru yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan masalah Timtim. Harian South China Morning Post kemarin membeberkan bahwa sekitar 40 wartawan dari Australia menikmati fasilitas khusus di Timtim. Mereka bergabung dengan serdadu Australia dan mengikuti perjalanan khusus yang dikawal oleh para prajurit negara tersebut. Harian Cina berbahasa Inggris itu juga menyebutkan dalam homepage-nya bahwa di tengah kegiatan liputan di Timtim, para wartawan Australia tersebut tak diizinkan memberikan air minum jatah militer kepada wartawan lainnya. ''Padahal orang-orang terlihat haus, lapar, dan gelisah,'' ungkap harian tersebut. Tapi, tak semua orang Australia mendukung campur tangan terlalu jauh PM John Howard dalam soal Timtim. Mantan Menlu Australia Gareth Evans mengecam pernyataan Howard mengenai doktrin pertahanan, yang membuat hubungan bilateral Australia-RI maupun dengan tetangga Asia lainnya semakin tercabik. Upaya mengembalikan kebijakan luar negeri Australia kembali pada jalurnya menjadi tidak mudah setelah muncul retorika Howard tentang 'nilai-nilai Australia', 'bangsa Eropa', dan 'Deputi AS di Regional'. Itu terkuak pada tulisan Evans dalam artikelnya di Harian The Australian, kemarin. Menurut Evans, Howard sengaja mengedepankan isu kemerdekaan Timtim karena menilai secara domestik lebih popular ketimbang hubungan bilateral dengan Indonesia. Namun, justru di situlah letak kesalahan Howard. Menurut Evans, kedua isu itu sama pentingnya jika Pemerintah Australia ingin melindungi kepentingan nasional dan bekerja secara efektif di kancah regional dan internasional. Evans kemudian membela kebijakan pemerintahan Paul Keating dan Bob Hawke saat dia menjadi Menteri Luar Negeri yang mengedepankan karakter Australia yang ideal dan realistis. Itu semua terbukti berhasil dalam melindungi keamanan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Australia, di samping tetap mampu terlibat dalam menyelesaikan masalah regional. Kesalahan Howard lainnya dalam soal Timtim, kata Evans, adalah Howard terlalu gembira dengan keberhasilannya mempengaruhi keputusan Presiden BJ Habibie untuk menyelenggarakan referendum. Surat Howard kepada Habibie Desember 1998 intinya mendesak Indonesia untuk memberikan otonomi segera kepada Timtim dan kemungkinan memberikan kesempatan rakyat Timtim menentukan nasibnya sendiri. Howard lupa kalau respons Habibie atas suratnya itu jauh lebih progresif-- dengan membuka kesempatan rakyat Timtim untuk merdeka-- dan tampaknya belum dibicarakan secara luas dengan kalangan militer Indonesia. Evans mengingatkan tak adil jika yang terjadi di Timtim sekarang ini, menjadi tanggung jawab Indonesia secara keseluruhan. Karenanya ia mengecam tindakan sebagian masyarakat Australia yang bereaksi secara berlebihan yakni membakar bendera, memblokade kedutaan, memboikot Garuda, dan tuntutan mencabut bantuan kepada Indonesia. (ant) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 30 Sep 1999 jam 09:15:28 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
