----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Stockholm, 1 Oktober 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

KELUAR DARI SARANG AIDIT MASUK LUBANG SUHARTO TEMBUS KUBU MEGA
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.


Tanggapan untuk mereka yang merayakan hari kesaktian pancasila 1 Oktober
1999.

Hari ini Jumat tanggal 1 Oktober 1999 adalah tepat 34 tahun ketika Dewan
Revolusi yang diketua oleh Letkol Untung dengan dibantu oleh wakil-wakil
ketua Brigjen Supardjo, Letkol (Udara) Heru, Kolonel (Laut) Sunardi dan
Ajun Komisaris Besar Polisi Anwas yang didukung oleh Partai Komunis
Indonesia dibawah pimpinan Ketua Comite Central DN Aidit, juga didukung
oleh Pimpinan Angkatan Udara serta Pasukan-pasukan Batalyon 454/Para
Divisi Dipenogoro dan Batalyon 530/Para Divisi Brawijaya untuk melakukan
usaha yang disebut oleh Panglima Kostrad Mayjen Soeharto dengan sebutan
"perebutan kekuasaan Pemerintah".

Sebagian korban akibat "perebutan kekuasaan Pemerintah" pada tanggal 1
Oktober 1965 tersebut adalah 6 orang Perwira ABRI yaitu Letjen A Yani,
Mayjen R Soeprapto, Mayjen Harjono MT, Mayjen Suwondo Parman, Brigjen DI
Pandjaitan dan Brigjen Soetojo Siswomihardjo yang disebut oleh Wakil
Perdana Menteri I / Menteri Luar Negeri  Dr Soebandrio para jenderal
tersebut dengan sebutan anggota Dewan Jendral yang punya hubungan kerja
sama dengan CIA berdasarkan dokumen "konsep surat Gilchrist (Dubes
Inggris di Jakartra)" yang ditemukan ketika diadakan pengobrak-abrikan
rumah peristirahatan William Palmer Ketua American Motion Pictures
Association of Importers di Puncak oleh anggota Panitia Aksi Pemboikotan
Film Imperialis Amerika Serikat tahun 1964.

Deklarasi yang berisikan pembentukan Dewan Revolusi di pusat dan di
daerah-daerah serta pendemisioneran Kabinet Dwikora yang dikumandangkan
oleh Dewan Revolusi yang diketua oleh Letkol Untung melalui RRI yang
telah dikuasainya  hanya hidup beberapa jam saja.

Dengan tanpa diduga-duga oleh pihak Dewan Revolusi, muncullah seorang
militer yang tidak dikenal namanya oleh kalangan Dewan Revolusi tetapi
mempunyai jabatan cukup penting, yaitu Panglima Komando Strategis
Angkatan Darat (Kostrad) Mayor Jenderal Soeharto yang sekaligus menjadi
pucuk pimpinan sementara Angkatan Darat karena beberapa pimpinan
Angkatan Darat telah lumpuh yang diakibatkan oleh dibunuhnya enam
Jenderal diatas.

Dari langkah awal inilah yang memberikan jalan lebar-lebar bagi karier
dalam bidang militer dan politik untuk seorang Mayjen Soeharto panglima
Kostrad yang tidak begitu dikenal sebelumnya.

Dalam jangka waktu yang singkat gerakan Dewan Revolusi baik yang ada di
Jakarta, Solo, Wonogiri, Semarang dapat dipatahkan.

Dua hari kemudian, tanggal 3 Oktober 1965 Presiden Soekarno mengangkat
Mayjen Soeharto sebagai Panglima Operasi Pemulihan Keamanan dan
Ketertiban yang mempunyai tugas untuk memulihkan keamanan dan ketertiban
dari akibat akibat peristiwa perebutan kekuasaan yang didalangi oleh DN
Aidit dengan PKI-nya.

Dua minggu kemudian, pada tanggal 14 Oktober Mayjen Soeharto diangkat
sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat dan dilantik pada tanggal 16
Oktober oleh Presiden Soekarno.

Dalam keadaan politik, ekonomi dan sosial yang tidak stabil ditambah
dengan Soekarno yang tidak mampu memberikan penyelesaian politik yang
adil terhadap mereka yang terlibat dalam usaha "perebutan kekuasaan
Pemerintah", maka dengan dipelopori oleh KAMI dan KAPPI pada tanggal 10
Januari 1966 mengajukan tuntutan yang disebut dengan Tri Tuntutan Rakyat
yaitu, pembubaran PKI, pembersihan Kabinet dari Unsur-unsur G-30-S/PKI,
dan penurunan harga/perbaikan ekonomi.

Dari mulai tanggal 14 Februari 1966 dimulai sidang Mahkamah Militer Luar
Biasa bagi mereka yang terlibat "perebutan kekuasaan Pemerintah",
diantaranya Njono, Letkol Untung, Dr Soebandrio, Laksamana Madya Omar
Dhani, Brigjen Supardjo dan yang lain-lainnya yang tertangkap sesudah
itu.

Walaupun Soekarno mengadakan perubahan Kabinet Dwikora yang
disempurnakan atau yang populer disebut dengan Kabinet Seratus Menteri
pada tanggal 24 Februari 1966 ternyata tidak memberikan hasil kestabilan
politik, ekonomi, sosial dan keamanan. Bahkan menimbulkan demontrasi
dari pihak mahasiswa, sehingga salah seorang mahasiswa Universitas
Indonesia Arief Rachman Hakim tewas.

Akhir dari kekuasaan Soekarno adalah ketika Mayjen Basuki Rachmat
(Menteri Veteran), Brigjen M Jusuf (Menteri Perindustrian Dasar) dan
Brigjen Amirmachmud (Pangdam V/Jaya) dengan izin dan membawa pesan dari
Menteri Panglima Angkatan Darat Letjen Soeharto untuk langsung menghadap
Soekarno di istana Bogor pada tanggal 11 Maret 1966. Setelah diadakan
diskusi dan pembahasan tentang keadaan situasi politik, ekonomi, sosial
dan keamanan, maka Soekarno memutuskan untuk memberikan surat perintah
kepada Letjen Soeharto. Dimana untuk membuat surat perintah tersebut
Soekarno meminta kepada Dr Soebandrio, Dr Chairul Saleh dan Dr Leimena
serta ketiga jendral utusan Letjen Soeharto itu untuk merumuskan isi
surat perintah tersebut. Petang hari itu juga setelah surat perintah
tersebut selesai dirumuskan dan ditandatangani oleh Soekarno, ketiga
Jenderal utusan Letjen Soeharto pulang kembali ke Jakarta untuk
menyampaikan surat perintah dari Soekarno untuk Menteri Panglima
Angkatan Darat Letjen Soeharto. Dimana surat perintah tersebut dikenal
dengan nama Surat Perintah Sebelas Maret.

Dengan Supersemar ditangan Letjen Soeharto, maka pada tanggal 22
Februari 1967 dilakukan penyerahan kekuasaan pemerintahan dari Presiden
Soekarno kepada Pengemban Ketetapan MPRS No. IX/MPRS/1966 Jenderal
Soeharto. Dimana penyerahan kekuasaan pemerintahan itu didasarkan kepada
Ketetapan MPRS No.XV Tahun 1966 yang menyatakan bahwa "Apabila Presiden
berhalangan, maka pemegang Surat Perintah 11 Maret memegang jabatan
Presiden". Kemudian pada tanggal 12 Maret 1967 Jenderal Soeharto diambil
sumpah dan dilantik sebagai Pejabat Presiden Republik Indonesia
berdasarkan Ketetapan MPRS No.XXXIII/MPRS/1967.

Mulailah area baru yang dipimpin oleh Jenderal TNI Soeharto dengan
sebutan Orde Baru dengan militernya atau yang lebih dikenal dengan
sebutan dwifungsi ABRI.

Dwifungsi ABRI lahir dari Seminar Hankam I yang berlangsung dari tanggal
12 sampai dengan tanggal 21 November 1966. Dimana rumusan hasil Seminar
Hankam I kemudian disempurnakan melalui rapat kerja Hankam dalam bulan
Nopember 1967. Dalam rapat kerja Hankam 1967 itu ditentukan bahwa ABRI
menganut Wawasan Nusantara. Wawasan ini bukan merupakan wawasan
Hankamnas saja, tetapi merupakan juga wawasan Nasional. Dimana Wawasan
Nusantara ini tidak menonjolkan salah satu kepentingan bidang perjuangan
saja, melainkan semua bidang perjuangan, politik, ekonomi, sosial-budaya
dan Hankam mempunyai hubungan erat satu sama lain di dalam perjuangan
nasional. Kemudian dalam Keputusan Presiden No 78/1969 menyatakan bahwa
ABRI merupakan inti kekuatan Hankamnas yang sekaligus merupakan kekuatan
sosial yang tidak dapat dipisahkan dari perjuangan Hankamnas.

Dibawah regim militer Soeharto dengan dwifungsi ABRI-nya atau dengan
istilah lain adalah ABRI merupakan inti kekuatan Hankamnas yang
sekaligus merupakan kekuatan sosial yang tidak dapat dipisahkan dari
perjuangan Hankamnas, telah membawa rakyat Indonesia kegerbang dan
memasuki dunia militerisme.

Ternyata regim militer Soeharto terus bertahan sampai 32 tahun dengan
berhasil menguras habis kekayaan negara yang berakhir dengan
kebangkrutan Indonesia.

Sekarang setelah lepas dari cengkraman militer Soeharto rakyat Indonesia
menunggu dan kemungkinan besar 33 persen dari seluruh penduduk telah
bersedia masuk kedalam cengkraman Megawati Soekarnoputri dengan aliran
sekularisme dan nasionalismenya yang juga ikut ditumpangi oleh
penganut-penganut doktrin Hankamnas dengan dwifungsi ABRI-nya.
(Sekretariat Negara RI, 30 Tahun Indonesia Merdeka 1965-1973, cetakan ke
7 tahun 1986).

Inilah sedikit tanggapan saya untuk mereka yang merayakan hari kesaktian
pancasila 1 Oktober 1999 hari Jumat ini.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Oct 1999 jam 07:05:00 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke