---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk KONFLIK KAPOLDA-KAPUSPEN, KONFLIK INTELIJEN JAKARTA, (TNI Watch!, 1/10/99). Pernyataan Kapuspen Hankam/TNI Mayjen Sudrajat yang saling bertentangan dengan Kapolda Metro Jaya , Mayjen (Pol) Noegroho Djajoesman dilatari konflik kepentingan intilejen dan bukti tidak solidnya hubungan Kepolisian dan TNI. Pernyataan Sudrajat bahwa penembak Yun Hap, mahasiswa Fakultas Tehnik Elektro, Universitas Indonesia, adalah aparat keamanan yang stres, dibantah Noegroho pada hari yang sama. Sudrajat mengakui bahwa pelaku penembakan sudah diketahui asal kesatuannya dalam wawancara dengan RRI Programa II, Sabtu (25/9) pukul 09.00 pagi. "Kami sudah mengidentifikasi kesatuan dan jenis senjata yang digunakan dalam penembakan itu," ujar Sudrajat. "Waktu itu aparat sudah ditarik. Tapi ada pasukan yang stres, dan saya tidak tahu mengapa tiba-tiba ada berondongan senjata," ujar Sudrajat. Saat didesak asal kesatuan dan jenis senjata yang digunakan, Sudrajat berkilah akan memberi keterangan lanjutan.=20 Sudrajat mengatakan semestinya aparat kepolisian mengetahui lebih dahulu kesatuan yang bertanggung jawab terhadap penembakan tersebut karena saat itu aparat TNI di Bawah Kendali Operasi (BKO) aparat Kepolisian. Sudrajat sendiri berjanji akan memproses secara hukum pada aparat yang melakukan penembakan itu. "Bukan pemimpin kesatuannya yang dihukum, tapi orangnya langsung," janjinya. Namun pengakuan Kapuspen TNI itu dibantah Noegroho. Ia menyangkal keterangan Kapuspen Hankam tersebut. Noegroho mengatakan tidak ada aparat polisi yang stres, dalam jumpa pers. "Saya rasa tidak ada aparat yang stres," ujar Noegroho. "Saya rasa tidak ada itu. Saya rasa enggak. Itu baru informasi yang masuk, ya begitu. Ada lagi informasi yang mengatakan aparat masuk truk, lalu keluar tembakan," kilah Noegroho. Menurut sumber TNI Watch!, koordinasi intelijen selama ini memang sudah kacau. Ini karena konflik internal antara Ka BAKIN (Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara) Mayjen TNI Z.A. Maulani dengan Ka BAIS (Kepala Badan Intelijen Startegis) Letjen Tyasno Sudarto makin terbuka, hingga konflik itu makin menetes kejajaran aparat intilejen di bawahnya. Mayjen (Pol) Noegroho Djayoesman adalah jendral yang sekubu dengan Maulani. Dengan pernyataan Sudrajat itu, kubu Maulani merasa ingin dijebloskan dan dikurbankan. =20 Sudrajat yang sekubu dengan Kabia Mayjen Tyasno Sudarto =7Fmenghendaki pengusutan kasus penembakan mahasiswa 23-24 September lalu diungkap sehingga menyelamatkan citra TNI yang makin terpuruk. Namun kubu Maulani menganggap kasus penembakan tersebut dapat menjadi amunisi politik yang dapat menggembosi kelompoknya selaku tim sukses Habibie. Jadi pengungkapan pembantaian Yun Hap itu tak bakal tuntas. Noegroho Djayoesman yang belakangan dijuluki "jendral taleban" karena dekat dengan Front Pembela Islam (FPI), organisiasi Islam garis keras yang pro Habibie, punya banyak catatan hitam sejak muda. Ketika baru lulus AKABRI Kepolisian tahun 1971 ia menculik dan membunuh aktivis mahasiswa ITB, Rene L. Konrad seusai pertandingan basket. Usai tanding mahasiswa ITB melawan Taruna AKABRI Kepolisian itu berubah jadi perkelahian satu lawan satu. Noegroho muda tak bisa mengalahkan Rene, maka bersama tiga orang anak buahnya ia menculik Rene pada malam harinya. Rene ditemukan tewas dengan bekas aniaya dan luka tembak dari leher ke punggung keesokannya.=20 Noegroho melambung karirnya setelah ikut "menemukan" Xanana Gusmao, ketika ia menjabat Kapolwil Timor Timur, di Dili pada 1993. Xanana waktu itu bersembunyi di ruang bawah tanah milik seorang anggota Polwil Timor Timur, Sersan Augusto Pareira. Noegroho mengetahui persembunyian Xanana dari Pareira dan melaporkan temuannya itu ke Komandan Satgas Intelijen Kopassus (SGI) Timor Timur, Kolonel Inf Mahidin Simbolon (kini Kasdam IX Udayana). Simbolon dan anak buahnya berhasil menangkap Xanana dan menjadikan Kopassus harum namanya. Simbolon waktu itu tak menyebut secuilpun peran Noegroho. Ia malah menangkap Pareira, yang sebelumnya dijamin keselamatannya oleh Noegroho, dan mengirimnya ke Pengadilan Militer. Noegroho waktu itu sempat sakit hati, kendati akhirnya ia dipromosi menjadi Pati Mabes Polri (dengan pangkat brigjen), kemudian Wakalpoda Jawa Barat dan Kapolda Metro Jaya menggantikan Mayjen (Pol) Hamami Nata yang gagal mengamankan Jakarta dari kerusuhan besar Mei tahun lalu. Simbolon sendiri menggunakan tiket "Xanana" untuk menduduki jabatan Komandan Korem Timor Timur. *** _______________ TNI Wacht! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku TNI, dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan ketentaraan para perwiranya pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya. Tujuannya agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi bersama-sama. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 2 Oct 1999 jam 01:05:48 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
