----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


CATATAN PERJALANAN DI BUMI LORO SA'E (8)

Dear Joko dan Riri,=20

Aku pasti kangen pada kalian. Bisakah kita ketemu sebelum aku pergi ke
beberapa kota untuk melanjutkan penelitianku yang tertunda? Nomer teleponku
memang berubah, dan aku sudah mengabarkan perubahan itu pada Nita dan
Edwin. Nanti, aku pasti akan menghubungimu, Ri, sepulang kamu dari luar
kota. Kata Edwin, kamu baru pulang dari Makassar pada awal minggu, ya. Aku
juga sulit menghubungi Joko di kantornya, karena operator telepon di sana
tampaknya sering tak ada di tempat.=20

Duh, aku sudah kangen makan batar fai, jagung tumbuk yang dimasak dengan
kangkung dan aidila funan (bunga pepaya). Kalau dicampur dengan aimanas,
hmm sedap banget. Sorry, aku batal ngirim resep membuat aimanas yang aku
janjikan dulu. Aku lupa minta resep pada mamanya Manuel. Aimanas buatan
Mama Helena dicampur dengan jeruk nipis dan belimbing sayur. Hmm, aku jadi
ngiler. Pengen makan batar fai dicampur aimanas.  Ngomongin Manuel aku jadi
sedih. Di saat-saat terakhir aku ketemu  Manuel, dia panik karena tidak
bisa menghubungi keluarganya lewat telepon sementara untuk menuju Maliana
tak ada lagi kendaraan ke sana. Kalian pasti juga mendengar bahwa Maliana
Kota dibakar habis oleh milisi. Aku nggak tahu bagaimana nasib Mama Helena
dan keluarganya.=20

Joko dan Riri, aku pun sangat berduka atas pembunuhan terhadap Agus
Muliawan, koresponden Asia Press, Jepang. Agus tewas ditembak bersama
delapan orang lain ketika menumpang mobil dalam perjalanan dari Lospalos ke
Baucau. Agus Muliawan, yang lahir di Bali pada 15 Agustus 1973 itu berada
di Timor Lorosae sejak Februari lalu untuk membuat film dokumenter TV. Dia
adalah satu-satunya jurnalis Indonesia yang masih menjalankan tugasnya di
sana setelah rombongan terakhir jurnalis dan pemantau meninggalkan Bumi
Lorosae pada 11 September. Menurut informasi, pada 19 September Agus turun
dari hutan menuju Baucau bersama beberapa orang pastor dan suster. Dari
Baucau Agus menuju ke Lospalos. Di Lospalos inilah kendaraan yang mereka
tumpangi itu diberondong tembakan, pada Sabtu, 25 September 1999. Yang
menembak tentara Indonesia. Siapa lagi kalau bukan mereka.=20

Tewasnya tamatan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, UGM dua tahun lalu itu
menambah daftar jumlah wartawan yang tewas ketika meliput di Timor Lorosae.
Sebelumnya Sander Thoenes, koresponden Financial Times juga ditembak
anggota TNI. Aku sedih mendengar kematian Agus, bukan karena aku kenal dia
dan sempat ngobrol dalam  beberapa kali di beberapa acara. Tapi kematian
dua jurnalis itu merupakan bukti kebrutalan aparat TNI, yang terus
melakukan teror dan mereka tak pernah dikenai  hukuman.=20

Kali ini aku akan memenuhi janjiku untuk cerita tentang dokumen-dokumen yang
menggambarkan bagaimana pembumihangusan wilayah Timor Lorosae itu telah
direncanakan dengan matang. Dokumen pertama yang aku baca berasal dari
Kantor Menteri Negara Koordinator Bidang Politik dan Keamanan. Surat itu
merupakan fotocopy dari dokumen asli. Jadi sangat mustahil kalau pejabat
terkait  kemudian berkoar-koar bahwa surat itu palsu karena stempel dan
tandatangan gampang dipalsukan.  Aku pun nggak tahu bagaimana dokumen yang
bersifat "rahasia" itu bisa bocor ke mana-mana.  Kalian tahu, dokumen
bernomor  M.53/Tim P4-OKTT/7/1999 itu berasal dari Asmenko I/Poldagri
(Asisten Menko Polkam I bidang Politik Dalam Negeri), yang ditujukan kepada
Menko Polkam, ditulis pada tanggal 3 Juli lalu. Dari judulnya saja sudah
jelas skenario di dokumen ini: "Gambaran Umum Apabila Opsi I Gagal".
Rupa-rupanya Kantor Menko Polkam punya tim khusus yang membuat laporan dari
Dili, yang diberi julukan Tim Polkam.=20

Butir pertama ditulis, setelah kurang lebih 23 tahun Timor Timur
berintegrasi dengan Indonesia, Timor Timur kelihatan maju dengan pesat
terutama di bidang fisik/materiil. Dalam waktu singkat infrastruktur
tergelar sungguh menakjubkan, tapi tidak diikuti oleh mental spiritual
masyarakatnya. Ri, aku nggak sepenuhnya percaya dengan kalimat ini. Memang,
di sana ada perumahan elite, perumnas, dan pembangunan "kota baru" di
beberapa kabupaten. Apakah mereka itu tak pernah tahu kalau di
kampung-kampung amat banyak penduduk yang miskin. Bangunan badan jalan di
mana-mana juga tak sempurna. Kali aja banyak yang dikorupsi, ya? Setiap aku
pergi ke "kota baru" di kabupaten itu aku jadi teringat kampung-kampung di
desa di Jawa. Kontras bener dengan bangunan peninggalan Pemerintah
Portugis. Penduduk di sana selalu membedakan kedua wilayah itu: kota baru
dan kota lama. Dari bangunan puskesmas, kantor pos, sampai kios-kios di
sana pasti  mengingatkan aku pada pembangunan yang ada di Jawa. Norak lah,
pokoknya.=20

Pernyataan lain tertulis: "Perlawanan bersenjata GPK masih terus berlanjut
dan ada kecenderungan makin berkembang. Regenerasi berlangsung secara baik,
sehingga tumbuh kelompok perlawanan yang lebih terpelajar dan militan,
mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan klandestin sehingga kegiatan-kegiatan
terornya cukup berhasil, mampu menarik, menciptakan opini, mempolitisir,
sehingga terbangun masyarakat anti integrasi. Secara terang-terangan
masyarakat anti integrasi ini dapat menciptakan kehidupan yang mencekam,
sehingga terjadi eksodus besar-besaran terutama di kalangan masyarakat
pendatang." Kalian jangan kaget, rakyat yang melawan di mana-mana, oleh
pemerintah Indonesia  selalu saja dicap sebagai GPK [Gerakan Pengacau
Kemananan].  Kita pun selalu mendengar ucapan pejabat yang menyebut
"masyarakat anti integrasi". Itu karena pemerintah menganggap wilayah Timor
Timur pada tahun 1975 sebagai berintegrasi dengan Indonesia. Apakah kalian
percaya, ketika Indonesia menyebut Timor Timur berintegrasi dengan
Indonesia? Aku katakan, kata integrasi itu sangat tidak tepat. Yang terjadi
adalah Indonesia menginvasi wilayah itu dan lantas saja pemerintah mengaku
wilayah itu sebagai propinsi yang ke-27. Nanti deh aku ceritakan bagaimana
proses invasi itu dan bagaimana lahirnya kelompok perlawanan.

Pada butir kedua disebutkan: "Kelompok pro integrasi yang cukup banyak
tersebar di seluruh wilayah selama ini sedang terlena dan menjadi
bulan-bulanan kelompok anti integrasi. TNI terpojok bahkan mendapat teror
dari kelompok anti integrasi. Suasana demikian kacau sehingga pemerintah
menilai tidak ada gunanya Timor Timur dipelihara, karena sepanjang
keberadaanya terus menerus membuat masalah, sehingga lahirlah Opsi II."
Enak saja ya mereka ngomong? Kalau memang pemerintah menilai tidak ada
gunanya memelihara Timor Timur, seperti yang diakui dalam dokumen itu
kenapa mereka melakukan berbagai upaya menggagalkan referendum? Dan,
menurut versi pemerintah selalu dikatakan, TNI mendapat teror dari kelompok
pro kemerdekaan. Kenapa tak diakui sebaliknya?

Pernyataan ini merupakan kelanjutan dari kalimat di atas. Lahirnya Opsi II
mengagetkan dan membangunkan kelompok pro integrasi yang merasa bahwa
mereka akan punah seandainya terlepas dari Indonesia. Karenanya kebangkitan
kelompok pro integrasi dalam sekejap bisa membalik suasana menjadi lebih
dominan. Walaupun situasi keamanan telah terkendali hingga saat ini
masyarakat pendatang belum/mungkin tidak akan pernah kembali lagi. Kecuali
nanti kalau Penentuan Pendapat dimenangkan Otonomi Khusus.=20

Joko, siapa sih sebenarnya yang dimaksud sebagai kelompok pro integrasi
itu? Pegawai Negeri Sipil atau yang lebih dikenal dengan PNS itu? Tentara
dan keluarga? Milisi atau siapa? Tak ada yang bisa memaksa ketika rakyat
Timor Lorosae menolak tawaran otonomi luas itu. Memang kalau dilihat saat
kelompok otonomi melakukan kampanye, khalayak yang datang banyak betul.
Tapi, sebagaimana kalian tahu, mereka datang karena dipaksa datang. Mereka
dibagi kaos, dijemput dengan kendaraan, diteror dan seterusnya. Sekali
lagi, kampanye pro otonomi itu sangat mirip dengan kampanye Golkar, sebelum
masa yang disebut pemerintah Indonesia sebagai masa reformasi itu.

Yang juga lucu pada alinea itu disebutkan bahwa TNI mendapat teror dari
kelompok pro kemerdekaan. Tukang teror itu menuduh orang lain menteror
dirinya. Maling teriak maling? Mungkin=85 Tapi yang jelas pada saat Habibie
menawarkan dua opsi CNRT (PLO-nya Timor Timur) memutuskan untuk memberi
kesempatan kepada jalan penyelesaian Indonesia ini dan secara sepihak
memutuskan FALINTIL (tentara pembebasan nasional Timor Timur) untuk tidak
melakukan penyerangan apa pun. Sebenarnya Ketua CNRT malah kebablasan
karena dia juga melarang seluruh jajaran gerakan perlawanan melakukan
demonstrasi protes damai. Tapi toh TNI "merasa" diteror. Kayaknya mereka
ini gentar ngeliat sejak sekitar 1997 di Timor Timur terjadi demonstrasi
besar-besaran menuntut referendum di bawah PBB untuk penyelesaian status
politik Timor Timur. Kalau kalian ikuti berita-berita, terutama media luar
negeri, kalian pasti tahu betapa demonstrasi yang dimotori kaum muda itu
mendapat dukungan sampai desa-desa.=20

Joko dan Riri, simak baik-baik butir ketiga ini. Opini dunia saat ini telah
demikian terpengaruh, sehingga PBB mengambil inisiatif untuk datang ke
Timor Timur setelah persetujuan Tripartit di New York sepakat untuk
melakukan Penentuan Pendapat bagi rakyat Timor Timur, apakah menerima atau
menolak Otonomi Khusus yang dikonsepkan PBB. Apabila menerima rakyat Timor
Timur tetap berintegrasi dengan bangsa Indonesia, sedangkan bila tidak,
maka akan lepas dari pelukan Indonesia. Tim United Nations Assesment
Mission on East Timor (UNAMET) telah datang ke Timor Timur mendahului
sebelum Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Timor Timur siap menerima
kehadirannya. UNAMET disambut gegap gempita oleh kelompok anti integrasi,
karena kedatangan UNAMET mereka anggap sebagai dewa penolong, sedangkan
Pemerintah Daerah terpesona dan tidak berbuat apa pun, walau Pemerintah
Pusat dengan Keppres No. 43 telah banyak melakukan koordinasi antar
Departemen.=20

Coba kalian simak dengan jernih kalimat berikut ini. Dengan kedatangan
UNAMET, suasana kembali menjadi mengkhawatirkan karena kelompok anti
integrasi mendapat angin, sedangkan Pemerintah Indonesia yang diberi
tanggung jawab menjamin keamanan dalam upaya Penentuan Pendapat
menginstruksikan agar semua pihak (dalam hal ini yang terjangkau adalah TNI
dan kelompok pro integrasi) untuk tidak melakukan sesuatu yang berbau
intimidasi. Angin segar mendorong kelompok anti integrasi yang
mengintimidasi dan berlindung di balik UNAMET. Kalian percaya pada kalimat
ini?

Butir ini keterlaluan bohongnya. Seolah-olah PBB datang dan bikin referendum
itu karena kemauannya sendiri. Padahal mereka datang karena permintaan
pemerintah Indonesia. Presiden Habibe bilang ke PBB dan Portugal mau kasih
pilihan kepada rakyat Timor Timur: "otonomi" atau "lepas". Nah menurut
kesepaktan Tripartit (Indonesia, Portugal, dan PBB) pilihan ini ditentukan
dalam suatu referendum yang diselenggarakan PBB. Jadi bisa dibilang PBB
melaksanakan keinginan pemerintah Indonesia. Seharusnya kalau menurut
ketentuan internasional (Resolusi 1514 PBB tentang Kemerdekaan Bagi Rakyat
dan Wilayah Jajahan), dalam kasus Timor Timur harus dibikin "referendum
penentuan nasib sendiri" yang pilihannya adalah: (a) merdeka, (b) otonomi
dalam federasi dengan negara bekas penjajah (dalam hal ini Portugal), dan
(c) bergabung dengan negara merdeka lain (dalam hal ini Indonesia).

"Pada awal kedatangan Tim Polkam (bagian dari Satgas P3TT), banyak pihak
yang melontarkan optimisme bahwa Otonomi Khusus akan menjadi pilihan
masyarakat namun setelah kedatangan UNAMET, terdapat banyak sekali faktor
pendukung yang mendorong kelompok anti integrasi untuk berada di atas
angin. Terlalu skeptis kalau kita mengatakan UNAMET memihak, tapi dengan
selalu tertinggalnya kita di dalam merespon manuver pihak yang tidak
bersahabat, optimisme yang semula amat meyakinkan, menjadi bergeser. Ini
dikarenakan yang pertama karena ruang gerak kita demikian dibatasi,
kemudian ketidakberdayaan kita mengimbangi manuver UNAMET yang di dalamnya
didukung oleh personil-personil lokal dan kelompok anti integrasi, UNAMET
didominir oleh kelompok anti integrasi, dan ada kecenderungan tugasnya
tidak sekadar menyelenggarakan Penentuan Pendapat belaka, tapi lebih jauh
dari itu."

Aneh 'kan? Apakah setelah Ali Alatas menandatangani Kesepakatan 5 Mei
antara Indonesia, Portugal dan PBB itu para aparat di Kantor Menko Polkam
tidak "ngeh" apa yang akan menjadi tanggungjawab dan ruang lingkup gerak
UNAMET di sana?  Aku sih nggak kaget kalau pemerintah bersikap optimis
bahwa otonomi yang ditawarkan kepada rakyat Timor Lorosae akan menjadi
pilihan masyarakat. Kenapa? Karena pejabat-pejabatnya selama ini percaya
dan yakin pada hasil rekayasa-rekayasanya tanpa pernah menyelami dan
kemudian memahami apa yang diinginkan rakyat di Bumi Lorosae. Membayangkan
otonomi menang itu kira-kira sama dengan membayangkan Golkar menang besar
dalam pemilu pasca-Soeharto.=20

Nah, logika pada butir ini lebih kacau lagi. Katanya, tugas untuk
memenangkan Otonomi Khusus untuk rakyat Timor Timur, sesungguhnya tidaklah
begitu sukar, karena yang dijadikan rebutan adalah rakyat mengambang, yang
tuntutannya sangat sederhana, yaitu tersedianya bahan makanan dan
obat-obatan. Siapa yang dapat memberi makanan dan pengobatan pada mereka
lah panutannya. Bahkan kelompok anti integrasi pun menunggu uluran tangan
ini, tapi apa daya kita selalu terlambat, sedangkan pihak anti integrasi
mampu memanfaatkan peluang kehadiran UNAMET dengan tugas-tugas tambahannya
seolah-olah sebagai dewa menolong.

Memang, rakyat di sana memerlukan bahan makanan dan obat-obatan. Ya, karena
mereka miskin. Tapi apakah kalau mereka miskin tak mempunyai keinginan
lain: menjadi bangsa yang merdeka, tak dijajah dengan semena-mena? Mereka
ingin merdeka, ingin terlepas dari penjajahan. Oleh karena itulah pada 28
November 1975 rakyat mengumumkan kemerdekaan (dari Portugal) dan setelah
itu terus berjuang melawan pendudukan Indonesia sejak 7 Desember 1975. Dan
kalau mereka menyambut gembira kedatangan UNAMET, apakah ini salah?
Bukankah hanya UNAMET yang akan menyelenggarakan referendum? Bisa kalian
bayangkan seandainya Indonesia yang menjadi penyelenggara referendum itu?
Ya, pasti saja referendum itu pasti akan direkayasa habis-habisan untuk
memenangkan Indonesia. Bukankah pemerintah sudah dikenal selalu bertindak
curang setiap kali menyelenggarakan pemilihan umum.  Jangan-jangan
pemerintah juga nggak tahu bahwa direct ballot, yang kemudian diartikan
sebagai jajak pendapat itu bukanlah pemilu.=20

Di Dili ini telah menunggu sebanyak 32 LSM yang siap membantu "pengungsi",
begitu kalimat pada butir keenam. Batasan antara pengungsi dan rakyat yang
lapar tidak ada, bahkan rakyat lapar tersebut bisa digiring dalam sekejap
untuk menjadi pengungsi di bawah tekanan kelompok anti integrasi. Banyak
lagi dana-dana yang segera akan mengalir dari luar negeri, kesemuanya dapat
mengubah peta kekuatan. Dalam konstelasi demikian, rasa optimis yang
tadinya demikian besar menjadi meragukan, apalagi janji-janji dari pusat
belum dipenuhi. Pemerintah Daerah dan TNI saat ini hanya bisa menyaksikan
orang lain memberi makan rakyat kita, sedangkan kelompok pro integrasi
mungkin tidak tersentuh. Katanya, untuk menyikapi situasi seperti ini,
memang masih tersedia waktu, namun waktu berjalan terus, tanpa terlihat
adanya tanda-tanda yang menguntungkan bagi pemenangan Opsi I. Oleh
karenanya tidaklah salah apabila kita memprediksi kemungkinan paling buruk,
yaitu Opsi I tidak diterima.

Pejabat-pejabat itu punya mata hati enggak sih, bahwa selama ini telah
terbukti bahwa rakyat memang banyak yang mengungsi. Itu bukan karena
kemauan mereka atau demi mendapat bingkisan sekantung beras, obat-obatan
atau susu bagi anaknya yang masih berusia di bawah lima tahun. Tapi
bagaimana mereka tidak akan meninggalkan kampung halamannya kalau mereka
diteror atau rumah mereka dibakar oleh kelompok yang dikenal sebagai milisi
itu? Menurut pengalaman, ya mereka yang dikenal sebagai kelompok pro
kemerdekaan [ingat, dalam bahasa pemerintah: anti integrasi] yang diusir
dari rumahnya. Mereka kemudian tinggal di hutan, yang dijaga ketat oleh
milisi. Bantuan yang jelas-jelas ditujukan untuk mereka yang mengungsi itu
pun sulit mencapai ke lokasi. Coba kalau mereka tahu, bahwa yang namanya
pendukung integrasi memang nggak pernah jadi pengungsi karena milisi nggak
pernah menyerang rumah-rumah para pendukung integrasi itu.

Bagaimanakah gambarannya apabila Opsi I gagal? Tim Polkam punya tiga
alternatif pemikiran. Kalian  baca baik-baik, ya?=20

[a] Kelompok anti integrasi akan berpesta pora, seperti terjadi pada saat
penarikan pasukan non organik dari Aceh pada bulan Agustus 1998 yang lalu.
Sementara rakyat Aceh telah merasa menang. TNI yang sedang diupacarakan
untuk kembali home base dilempari batu dan dicaci maki. Hal seperti ini
bisa terjadi di Timor-Timur dalam skala yang lebih sadis lagi. Walaupun
sudah beberapa kali digelar pertemuan-pertemuan, kesepakatan di antara
kelompok-kelompok bersenjata dengan kelompok-kelompok militan pro integrasi
baik di Pusat maupun di Daerah, tidak ada jaminan kedua belah pihak akan
saling menerima apabila Opsi I gagal. Pemerintah Indonesia mungkin merasa
terlepas dan beban berat menanggung permasalahan Timor Timur yang tidak
pernah selesai kecuali kehilangan muka di mata dunia, tapi kelompok pro
integrasi siap untuk mengambil posisi seperti kelompok anti integrasi siap
untuk mengambil posisi seperti kelompok anti integrasi saat ini. Pemerintah
Indonesia dalam hal ini tetap tidak bisa lepas tangan apabila pendukung
integrasi dibantai kelak. Dari monitoring selama ini, dapat diduga apabila
Opsi II menjadi pilihan masyarakat, maka  kelompok pro integrasi akan
melanjutkan perlawanan, dengan mengamankan terlebih dahulu keluarganya di
NTT. Dari aspek ini sudah dapat dipastikan pemerintah Indonesia tidak bisa
lepas tangan.=20

Jelas 'kan bagaimana liciknya pemerintah Indonesia? Seorang teman dari Aceh
pernah berkomentar, kenapa ketika tentara disuruh meninggalkan Aceh,
wilayah yang sarat konflik itu, banyak warga masyarakat yang mencaci maki,
ya karena kekejaman tentara 'kan? Kalau pemerintah sangat khawatir, bahwa
perlakuan lebih buruk lagi bagi tentara, ya mestinya tentara sudah bisa
mengukur dong, bagaimana tentara memperlakukan rakyat sipil di Bumi
Lorosae. Aku ingat benar penuturan Ronaldo ketika dia "diamankan" di Polda.
Katanya, polisi yang bertugas di sana ngotot atas instruksi bahwa
pembumihangusan akan segera dimulai. "Jangan besok dong, karena keluarga
kita 'kan belum sempat dibawa ke Kupang." Memang, pemerintah Indonesia tak
lepas tangan karena tentara telah menyediakan senjata otomatis agar
pendukung integrasi tak dibantai. Logikanya bagaimana sih? Jelas saja
rakyat sipil di Bumi Lorosae kan nggak punya senjata seperti yang disiapkan
oleh tentara  Indonesia.=20

[b] Bagaimana pula sikap kelompok anti integrasi terhadap para pendatang
terutama TNI/Polri dan para Pegawai Negeri Sipil RI dan pendatang lainnya.
Apabila Opsi I menang pun TNI/Polri non Organik dan PNS non pribumi harus
meninggalkan Timtim secara terhormat. Bila Opsi II berlaku, akan terjadi
suatu  hal yang menakutkan bagi PNS RI. Suasana menegangkan adalah saat
mengumumkan hasil Penentuan Pendapat. Para kelompok pro integrasi yang
paling tegang, tanpa mengenyampingkan PNS RI. Mungkinkah PNS RI mampu tetap
melaksanakan tugasnya sampai saat pengumuman hasil Penentuan Pendapat.
Mereka akan minta jaminan pemerintah dan TNI bagi keselamatan mereka tidak
sekadar janji-janji, tapi harus dapat melihat rencana evakuasi terhadap
mereka yang tersebar di seluruh wiyah Timor-Timur.

Riri, faktanya di lapangan lain. PNS non pribumi sudah kabur jauh sebelum
pengumuman hasil referendum pada 4 September lalu. Kantor-kantor milik
pemerintah saja sudah kosong melompong. Dan pemerintah Indonesia tampaknya
tak berusaha menyelamatkan rakyat yang jadi PNS di sana.  Ketika itu ada
tawaran dari pejabat pemerintah, bahwa PNS di Timor Lorosae akan ditempat
dan dipekerjakan di seluruh Indonesia. Aku pernah membaca majalah D&R, yang
berhasil mewawancarai pengacara Aniceto Guterres Lopes, SH. Direktur
Yayasan Hak itu mengatakan: "PNS di Timor Timur itu ada dua: orang Timor
Timur dan pendatang. Kalau mereka putra Timor Timur, berpartisipasi dalam
jajak pendapat, berarti mereka memiliki Timor Timur. Secara pribadi, saya
tidak rela kalau mereka meninggalkan Timor Timur meskipun pemerintah
Indonesia menjanjikan lapangan pekerjaan. Karena, Timor Timur adalah milik
seluruh rakyat Timor Timur. Kalau mereka pendatang, sebenarnya tidak perlu
harus dievakuasi karena itu bisa juga berarti satu pemaksaan. Bisa saja
mereka tetap di Timor Timur dan membantu rakyat Timor Timur berkarya.
Mereka harus diberi kebebasan. Persoalannya adalah jaminan keamanan. Kalau
saja Timor Timur dalam situasi seperti ini aman dan tenteram, pasti mereka
akan dengan tenang memilih Timor Timur. Dua puluh empat tahun cukup lama
dan pembauran itu sudah terjadi; dan rakyat Timor Timur tidak merasa pernah
bermusuhan dengan rakyat Indonesia." Jelas 'kan maksudnya?

[c] Tidak bisa diabaikan bagaimana sikap para Milisias asal Timor-Timur yang
direkrut dari pendukung integrasi. Mereka adalah pahlawan integrasi. Apakah
mereka akan ikut induk pasukannya atau mungkin tidak mau meninggalkan
Timor-Timur, yang berarti akan memilih mengangkat senjata. Mereka adalah
putra daerah yang mempunyai anak, isteri dan saudara-saudara di Timor
Timur. Paling tidak mereka menitipkan anak, isteri dan saudara-saudarannya
di NTT.=20

Joko, asal  ngomong saja Tim Polkam ini. Jauh sebelum pengumuman
referendum, anggota TNI/polisi yang putra daerah sudah dilucuti senjatanya.
Mereka tak lagi memegang senjata selama bertugas. Bahkan ada ancaman, agar
mereka menyerahkan foto copy kartu pemilihan dari UNAMET. Aku tahu persis
karena paman Jose menjadi anggota tentara di sana. Dan, tak heran jika
kemudian kita tahu banyak tentara dan polisi yang putra daerah banyak yang
melakukan desersi.=20

[d] Sudah dapat dipastikan bahwa kehidupan kemasyarakatan akan terganggu.
Perekonomian akan lumpuh, karena pengusaha pada umumnya adalah pendatang,
walaupun saat ini mereka masih aktif. Tapi sampai kapankah ini berlangsung.
Kira-kira hari "H" minus beberapa hari sebelumnya mereka akan menghindar ke
NTT. Sudah ada tanda-tanda kelompok anti integrasi telah membuat daftar
kepemilikan baru terhadap asset-asset yang akan ditinggal pemerintah dan
pendatang. Mereka tidak atau belum mampu mengoperasikan manajemen
kemasyarakatan, tidak akan mampu menghidupkan rumah sakit. Walaupun PNS RI
yang anti integrasi cukup banyak tapi umumnya tidak punya kemampuan. Paling
tinggi mereka akan dikendalikan oleh Gereja, sedangkan yang lainnya akan
dikendalikan oleh UNAMET atau Australia dengan relawannya.

Kalian tahu 'kan, rakyat sipil yang ada di kampung-kampung sudah punya
persediaan padi hasil panen mereka. Tapi kemudian, cadangan mereka itu pun
juga dijarah atau dibakar. Oh, jadi karena ada dugaan kelompok pro
kemerdekaan akan "mencuri" aset-aset itu maka seluruh aset yang ada di sana
kemudian dibakar habis.  Aku pernah mendapat informasi dari seseorang, yang
kalian nggak usah tahu siapa. Bapak beranak satu ini mengatakan, pemerintah
Indonesia sesungguhnya sedang berusaha mengamankan aset yang mereka miliki
di Bumi Lorosae, tapi ternyata ada "pasukan lain" yang membakar semua itu.
Masuk akal enggak, siapa yang dimaksud dengan "pasukan lain" itu. Artinya,
polanya sama dengan ketika terjadi peristiwa Mei lalu di Jakarta. Pejabat
menyebutnya sebagai pasukan liar yang menjarah dan meluluhlantakkan
sejumlah bangunan di Jakarta dan sekitarnya. Ada hal lain yang ingin aku
komentari. Karena dugaan rakyat nggak bisa mengoperasikan rumah sakit, maka
pemerintah Indonesia kemudian melarang Dr. Dan Murphy, yang datang atas
kemauan sendiri untuk mengobati pasien-pasien miskin di Timor Lorosae,
padahal dia sudah mengantongi visa. Sementara dokter-dokter dari Indonesia
sudah lama meninggalkan tempat tugasnya. Hal, lain karena ada kecurigaan
pihak gereja yang akan mengendalikan masa sulit itu, maka kemudian gereja
dan tempat lain yang berkaitan dengan gereja dirusak dan sejumlah pastor,
suster dan pendeta dibunuh dengan keji? Atau apa?

Butir kedelapan ini juga perlu kalian simak. "Menyikapi hal-hal di atas kita
hanya mempunyai waktu untuk memenangkan Otonomi Khusus selama lebih kurang
6 minggu lagi, namun bila ini gagal, waktu yang 6 minggu itu sangatlah
singkat untuk membuat rencana penyelamatan personil pro integrasi beserta
asset-asset lainnya. Karenanya penyusunan rencana Kontingensi menghadapi
Opsi II harus dikembangkan sedini mungkin. Pemerintah masih terus
menyisakan anggaran untuk mendukung rencana cadangan ini. Bila pemerintah
sudah kesukaran di dalam mendukung pemenangan, konon menghadapi kemungkinan
yang tidak diharapkan tanpa rencana cadangan ini, wibawa pemerintah di mata
dunia akan lebih terpuruk, apalagi di mata rakyat Indonesia umumnya."
Mungkin juga, karena rencana ini dan itu untuk menyelamatkan aset dan
penyelamatkan personil pro integrasi gagal dan waktu semakin sempit,
pemerintah Indonesia lalu kalap. Karena itu bakar saja semua aset itu dan
pembunuhan di mana-mana dilakukan. Tapi, coba kalian simak langkah-langkah
antisipasi yang dilakukan Tim Polkam di bawah ini.=20

Menyadari keterbatasan waktu untuk melakukan upaya memenangkan paket
otonomi, Tim Polkam mengantisipasi dengan langkah-langkah berikut: =20

[a]. Tetap atas komitmennya untuk memenangkan Otonomi Khusus. Kita sudah
ketinggalan langkah di dalam upaya merebut hati rakyat. Bantuan-bantuan
dari LSM asing sudah menunggu dan dapat dipastikan akan diboncengi oleh
unsur-unsur politis, dan akan dimanfaatkan oleh kelompok anti integrasi.
Oleh sebab itu komitmen pemerintah tersebut harus diwujudkan dengan lebih
memberdayakan kelompok pro integrasi. Mereka sangat mengharapkan ada
sesuatu daya baru agar dapat melakukan Operasi Simpatik.

[b]. Membuat rencana cadangan (Rencana Kontijensi) untuk menghadapi
sitauasi apabila Opsi I tidak diterima, yaitu: [1]. Rencana untuk
menyegerakan evakuasi PNS RI dan pendatang (sebelum pengumuman hasil
Penentuan Pendapat) ke daeah NTT; [2]. Penyiagaan unsur-unsur TNI (AD, AL,
AU) baik personil maupun peralatan di dekat daerah-daerah untuk evakuasi;
[3] Penyiapan daerah NTT untuk menerima pengungsi secara besar-besaran
berikut pengamanannya; [4] Merencanakan dan pengamanan rute pengunduran,
kalau mungkin merusak fasilitas-fasilitas objek vital; [5] Menurut
informasi kekuatan bersenjata anti integrasi mendapat dropping senjata yang
signifikan, yang dapat dipastikan tidak akan diserahkannya, meskipun ada
kesepakatan damai. Ini menandakan bahwa apabila Opsi I berhasil
diperjuangkan, kelompok anti integrasi masih tetap memiliki rencana lain
dalam memperjuangkan  kepentingannya.

Kalian tahu, dokumen ini ditandatangani oleh Asmenko I/Poldagri, H.R.
Garnadi yang ditembuskan ke Sesmenko Polkam selaku Sekretaris Tim P4-OKTT.
Kalian jangan tanya singkatan apa P4-OKTT itu. Joko dan Riri, aku tak perlu
memberi komentar atas upaya langkah antisipasi yang akan dilakukan oleh
pemerintah Indonesia ketika Opsi I gagal. Tapi aku ingin menambahkan bahwa,
selain daerah NTT yang dipersiapkan sebagai kawasan untuk menampung rakyat
sipil Timor Lorosae yang dipaksa meninggalkan kampung halamannya,
pemerintah juga sudah mempersiapkan wilayah-wilayah untuk menampung mereka
sebagai transmigran. Makanya, tak heran jika banyak tuntutan dari berbagai
pihak, agar mereka dikembalikan ke Bumi Lorosae.=20

Aku mendapatkan peta Propinsi Nusa Tenggara Timur berikut lokasi untuk
transmigrasi dan berapa kepala keluarga untuk setiap daerah. Judulnya,
"Potensi Calon Lokasi Resettlement Propinsi NTT." Kalian jangan bosan
membaca angka-angka dan nama wilayah yang tak pernah aku kenal sebelum ini.
Di Waemantar [550 KK], Uluwae [300 KK], Haming [1.000 KK], Yubuwa [600 KK],
Maubokul [400 KK], Warambadi [250 KK], Kuruwaki [200 KK]. Sedangkan
Nagerawe [300 KK], Lambu [200 KK], Soa [1.000 KK], Haekanaike [300 KK],
Susulaku.2 [300 KK], Netemnanu [500 KK], Noebaun [300 KK], Loiram SP.1.2
[500 KK], Timliko SP.1S/DSP.5, Tudemauta [700 KK] dan Kokor [500 KK]. Duh,
bosan ya menyimak angka-angka tapi kita harus tahu bahwa data ini
menunjukkan bahwa pemerintah kita sangat tidak manusiawi.

Di kawasan Lantoka [500 KK], Tanyumanu [80 KK], Manleten [350 KK], Haekesak
[300KK], Holeki [150 KK], Halileki [150 KK], Motadelek [300 KK], Besikama
[2.050 KK],  Harekakae. SP1S/D SP.6 [1.600 KK], Beimeo [700 KK], Nititefuli
[300 KK], Haekanaike [300 KK], Maubesi/Sekon [1.100 KK], Mauritsu [200 KK],
Taikola/Bena. D1 [500 KK], sedangkan Oemoro [300 KK] dan Camplong [200 KK].
Joko dan Riri, kawasan di NTT yang akan digunakan ini dibagi menjadi dua
daerah, yaitu daerah potensial irigasi dan daerah potensial non irigasi.
Aku pernah membaca salah satu media asing, menteri transmigrasi mengatakan,
40 persen rakyat Timor Lorosae yang berada di wilayah Indonesia ingin
kembali ke tanah kelahirannya. Kalau mereka diperbolehkan menjawab jujur,
tanpa tekanan, pastilah seluruh pengungsi itu ingin kembali ke Bumi Lorosae.

Joko dan Riri, ternyata baru satu dokumen yang bisa aku kabarkan pada
kalian. Jangan bosan jika disurat mendatang aku masih akan melanjutkan
menulis tentang dokumen yang lain lagi. Aku sudahi dulu surat ini. Aku
pengen tidur nyenyak malam ini.=20

1 Oktober 1999

Salam,

Pratiwiu

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Oct 1999 jam 14:14:28 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke