---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Media Indonesia, 11 Oktober 1999 Berharap Bisa Ditempatkan di Lokasi Transmigrasi. Sejumlah Pengungsi Ingin Tetap di NTT ATAMBUA (Media): Sejumlah pengungsi Timor Timur yang berada di perbatasan Timtim-Nusa Tenggara Timur mengaku tidak ingin pulang ke kampung halamannya jika daerah itu sudah aman maupun merdeka sebagai negara sendiri. "Yang penting masih berada dalam wilayah negara Indonesia, kami mau tinggal, terutama kalau di Provinsi NTT," kata Alicino Pereira, 53, pengungsi asal Kota Maliana, Kabupaten Bobonaro yang ditampung di Desa Haekesak, Kecamatan Pembantu Tasifeto Timur, NTT, kepada Antara di Haekesak, Sabtu. Ia juga menyambut positif jika pemerintah Indonesia menempatkan para pengungsi Timtim ke lokasi transmigrasi sehingga bisa menggarap lahan yang telah disediakan dan hasilnya bisa untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. "Kalau ada tanah dan rumah yang tersedia di lokasi transmigrasi tentu saya senang dan akan bertransmigrasi saja," ujarnya dalam bahasa daerah Timtim (Tetum) yang diterjemahkan pemuda Haekesak, Dagmar. Alicino yang mengungsi bersama istri, Theresinha de Araujo, 46, dan enam anaknya mengaku tidak dipaksa oleh pihak tertentu saat meninggalkan kampung halamannya di Maliana untuk mengungsi ke perbatasan. Semula pegawai negeri sipil (PNS) Pemda Tk II Bobonaro pada bagian pemerintahan itu hendak mengungsi di Kecamatan Balibo seperti yang telah dilakukan tahun 1975, tatkala terjadi perang saudara di Timtim. Namun setelah pengumuman hasil jajak pendapat (4/9) yang dimenangkan prokemerdekaan --karena Misi PBB di Timtim (Unamet) bertindak curang-- masyarakat Balibo juga berbondong-bondong meninggalkan daerahnya. Sehingga, Alicino bersama keluarganya turut menyeberangi Sungai Nunura --membatasi Bobonaro dengan Haekesak-- untuk mengungsi. "Kalau saat ini penanganan pengungsi lebih baik daripada dulu tahun 1975. Dulu itu lebih susah," ujarnya tatkala ditemui di pinggir lapangan Desa Haekesak. Seorang pengungsi lain yang ditampung di Kecamatan Pembantu Tasifeto Timur, Agustina dos Santos (28) mengaku tidak bersedia pulang ke Timtim dan ingin melanjutkan pekerjaannya sebagai pegawai negeri di wilayah Republik Indonesia. "Sebelum ini saya menjadi PNS di Kandepdikbud Bobonaro, saya sudah mengajukan pindah di Belu, dan tidak mau jauh dari keluarga saya yang sudah ada di Belu semuanya," katanya. Ia mengaku, telah menyatu dengan RI sehingga tidak ingin dipisahkan dari kehidupan bangsa dan negara Indonesia. "Darah Merah Putih ini telah mengalir dalam jiwa raga saya, makanya saya ingin tetap menjadi warga negara Indonesia," ujarnya. Sedangkan pengungsi Timtim, Ijaora da Costa, 20, yang ditampung di rumah darurat di Desa Baukuek, Kecamatan Kota Atambua mengaku tidak ada pihak tertentu yang memaksa meninggalkan Kota Dili beberapa waktu lalu. Ijaora bersama suami dan dua anaknya semula di tampung di tenda darurat Desa Fatubenao B, namun kemudian pindah ke Desa Baukuek. Suaminya, kemudian membangun rumah darurat dari dinding bebak dan beratap seng di tepi jalan raya di Kota Atambua menuju Kecamatan Lamaknen itu. "Timtim sudah hancur, buat apa tinggal di sana lagi, kita bisa hidup lebih baik dengan bangsa Indonesia. Apalagi kalau saat ini harus pulang kami menolaknya karena tidak aman," ujar warga asal Kampung Bebonuk Desa Comoro Dili Barat itu. Pada kesempatan lain Bupati Belu Drs Marcelus Bere mengatakan, pemda setempat hanya mampu menyediakan lokasi transmigrasi untuk menampung pengungsi Timtim sekitar lima ribu kepala keluarga. Para pengungsi yang tidak tertampung di lokasi transmigrasi di Belu diharapkan bersedia ke daerah lain di NTT maupun di provinsi lain di Indonesia. Para pengungsi Timtim di wilayah perbatasan mendapat perhatian serius sebagai saudara yang memiliki kesamaan budaya sejak zaman nenek moyang, katanya. (N-1) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 14 Oct 1999 jam 10:11:17 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
