----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Malam itu para nabi Kampung Lontar sudah berkumpul
di sekolahan SMP 38 filial kembali. Satu persatu mereka
saling bersalaman dan berpelukan. Wajah-wajah mereka
begitu nampak rupawan dan bening. Barangkali sebuah
niat yang tulus untuk menolong manusia miskin papa membuat
sinar suci  mereka muncul kepermukaan.Tapi bagaimana
pun kegelisahan mereka tidak bisa disembunyikan. Kesadaran
bahwa malam ini adalah malam aksi pencurian yang penuh resiko,
bahwa mereka akan memasuki teritori kampung Kebon Pala
yang terkenal dengan keganasan preman kampungnya, campur
aduk dengan perasaan haru keharusan berjuang menyelamatkan
orang-orang yang sedang sekarat.

Mereka makin gelisah ketika sampai jam 1 malam, Bonang belum
menampakkan hidungnya.Abung yang mereka utus untuk mengecek
Bonang, kembali dengan tangan hampa, " Enyaknya bilang, Bonang
belom balik dari Pondok Indah." Kata dia kecut.

Mereka mencoba menunggu 30 menit , tapi Bonang tidak juga muncul.
Kecemasan mulai mengendap kepermukaan. Berto yang sudah tidak
sabar segera memecahkan keheningan " Gimana ? Apa kita batalin
aja aksi kita malam ini ? "  Parjo yang duduk di pojokan tidak menjawab,
Buyung cuma mengangkat bahu , Ahmad Aidit sebagai anggota baru
karena sering digertak sudah kapok untuk memberikan opini, tiba tiba
Lim Auk Ah berdiri , tanpa basa basi satu satunya manusia
bermata sipit di ruangan yang dikuasai pribumi ini langsung berpidato ,

" Gue rasa kita harus tetap menuntasi ini misi, sebab
perut orang lapar ngga punya batas kesabaran, sebelum
semuanye terlambat, sebelum semua bayi pada koit,jadi
sangat ngga relepan kalau kita gagalin ini aksi lantaran
Bonang.."

Tarjo menyatakan persetujuannya, Buyung juga begitu,
Berto akhirnya mengalah.Mereka akhirnya berembuk,
membuka peta, dan karena menganggap Lim sebagai
anggota paling cerdas ( Lim lulusan SMEA jurusan Tata Buku
pernah menang lomba catur se Tanah Abang ) secara bulat
bulat mereka memberikan mandat agar Lim yang mendenah
langsung acara penyerbuan.

Lim menugaskan:
Buyung dan Parjo untuk menggasak keluarga Minang cilako,
Syahrir Sabirin dan  Jawa tamak, Mr Probosutembok.

Abung dan Aidit menyatroni rumah Sunda sundel tukang
tadah duit tilepan corporate asing dan jago maen perek,
Mr Anjar Kartasmita, dan keluarga Sulewesi setengah sinting
Tuan Beddu Ngamang yang item, sangar dan maruk dollar.

Sedang Lim mengajak Berto untuk merobinhoodkan
rumah lonte cina ,Anthony Salem , yang selama ini terkenal
bekerja sama dengan Bulog merongrong duit rakyat, dan
karena kali ini sisa rumah yang perlu dicongkel cuma keluarga arab ,
( Berto protes " Kok  ngga ada rumah bajingan batak yang
bisa kita rangsak ? " ) Lim meyahut " Jangan khawatir
keluarga Fuad Bawazir ini sama bajingannye ama
semua laywer Batak yang belain keluarga Pak Harto .."

Sedang Tarjo bertugas mengamati dan memberikan
warning dari jauh jika ada gerak-gerik hansip dan
preman di dalam Bajaj yang sudah siap siaga.

Jam telah menunjukan pukul dua, Bonang bangkit dari
semedinya di bawah batang Monas, hujan lebat sudah
berganti dengan gerimis ringan, setelah berjam-jam
dihanyutkan duka, Bonang tiba-tiba tersadar ada tugas
penting yang menantinya di kampungnya..sekejab dia
panik , Bonang berlari dengan tubuh yang masih basah
kuyup kembali kearah bunderan HI, beberapa kali dia
berusaha mencari bajaj dan omprengan, tapi malam
itu jalanan demikian sepi, seakan semua supir lebih
menyukai indehoy dengan para bini. Bonang berlari
dengan napas tersenggal senggal, wajahnya pucat
pasi lantaran perasaan bersalah sekaligus karena
hawa dingin yang menerpa sekujur tubuhnya yang
lembab. Bonang berlari bagai Dustin Hofman di
film Marathon Man..

Lagu " This Guy in Love With You " Burt Bacharach
melantun di kamar loteng castle keluarga Badaksono. Malam
itu Nisye, sang putri tidak bisa memejamkan matanya sama
sekali. Setelah peristiwa " Pengusiran Bonang ", cewek keras
kepala ini bukannya merasa sedih dan duka, tidak seperti
film-film India atau film bikinan Parfi yang tokoh ceritanya
pasti mewek berminggu-minggu dalam genangan air mata
setiap kali punya masalah cinta, Nisye memang menangis
sebentar, tapi 15 menit kemudian dia malah tersenyum dan
makin merasa sayang pada Bonang. Mungkin inilah yang
disebut para ahli biologis sebagai penyakit keturunan,
Gen badak yang keras membuat karakter Nisye semakin
kokoh, Nisye semakin yakin bahwa Bonang adalah pilihan
terbaik bagi hatinya, sekejab dia duduk dan membuka laci,
diambilnya sehelai kertas surat, Untuk pertama kalinya Nisye
berniat begadang untuk menulis surat pada  Bonang.

Jarum jam terus bergerak. Para Nabi kini sedang sibuk
membungkuk, mencongkel dan merangsak harta para koruptor.
Sukses pertama diraih oleh Berto yang berhasil mengangkut
mesin tik dan komputer jangkrik kepunyaan si jangkrik Bawazir.
Setelah itu Lim juga menyusul menjebol warung si cina ngehe
Anthony ,menggoyong lusinan pak rokok Marlboro, mesin kal
kulator,2 kardus sabun mandi merek tante Lux, 5 karton gede
sabun cuci Rinso dan Dino, duit di brangkas sejumlah Rp 400.000.
Dan tidak mau ketinggalan dia juga menyikat aki motor bebek yang
kebetulan nangkring di samping rumah, di sebelah warung.

Bau sukses demikian terasa mendekat, tidak mau kalah Buyung
membongkar garasi keluarga Sabirin, Dengan ketangkasan
seorang pesilat Padang, dia congkel pintu mobil Toyota Cresida,
dia kutik itu radio tape merek Blaupunk dan speaker Infinity,
sambil tidak lupa menyikat sepuluh kaset pop Eli Kasim yang
salah satu albumnya berjudul dalam bahasa inggris "  The
Widest Sidewalk in The World - Tribute for tukang kaki lima "
oleh-oleh dari perjalanannya ke Amerika.

Tidak mau kalah, Parjo berhasil menggondol rice cooker dari
dapur keluarga Probo, juga blender, juga segenap panci non
sticky bikinan luar negri. dan sambil lalu untuk melengkapi
kesebelannya pada si Jawa kikir ini, dia ludahi gudeg dan
nasi yang tergeletak di atas meja .

Kata orang sebuah marathon belum final, sebelum sang
pelari melintas dan menubruk pita finish. Seorang cewek
yang sudah tunanganpun masih sah kita kejar dan rebut
sebelum dia hijab kabul dengan gacoannya. Dan sukes
para nabi kampung lontar ini belum lengkap, selama Abung
dan Aidit belum menampakan batang hidung dan menunjukkan
prestasinya.

Abung yang sedang beraksi bersama Aidit menggotong
mesin Jahit mini keluarga Pak Kartasasmita kaget ketika
mendengar batuk-batuk dari arah kamar. Aidit mendesaknya
untuk terus berjalan, tapi Abung kaku di tempat.  Wajahnya
pucat mendadak. Di atas dinding sana dia melihat foto
Pak Karta yang memakai pakaian seragam polisi lengkap.
Tubuh Abung menggeletar dahsyat, dia memang alergi
dan phobi dengan semua orang berseragam. Aidit makin
tidak sabar dia berbisik " Abung, ayooo...cepetan kita
keluar " Tapi Abung tidak bergeming, paras mukanya
sepucat kertas.  Suara batuk makin nyaring dari kamar.
Lalu diiringi dengan suara derit kasur dan langkah kaki,
Kali ini Aidit justru yang panik, dia lepaskan itu mesin jahit
yang suaranya jatuh keras menimpa ubin , membuat kaget
Pak dan Ibu Karta, Aidit ngibrit keluar, Teriakan " Maling...!!
Maling !! " mengudara dari dalam rumah, suara gedebug
dan ampun terdengar dari ruang tamu. Seperti atlit lompat
jauh, Aidit melesat melompat pagar, tapi nasibnya sial..

Tepat di muara gang, serombongan preman beserta dua
hansip tampak menghadang.

Nabi Tarjo yang melihat kejadian itu dari jauh, segera memberikan
sinyal pada para nabi yang lain. Suara Klakson bajaj beserta
raungan mesinnya yang digas demikian kencang mengagetkan
Lim dan Berto, dengan panik mereka tinggali semua barang
didepan warung, sedang Parjo dan Buyung segera sprint ketika
melihat sekawanan laki-laki sangar berlari mengejar di belakang.

Semua nabi berlarian menuju Bajaj, suara manusia yang haus darah
membuntuti di belakang. Empat  nabi itu berhasil menyelinap
masuk bajaj yang langsung mengaum kabur.Tapi seorang preman
yang punya bakat menjadi Carl Lewis, masih sempat mengiringi
sang Bajaj, sebelum dia menikam bahu Lim yang kebetulan duduk
paling pinggir. Lim menjerit, tubuhnya berlumuran darah segar.
Tapi bajaj terus berlalu...Tarjo menyetir bagai Mario Andreti..
kepanikan nampak tebal di wajahnya..dan di bangku belakang,
para nabi juga nampak histeris...muka mereka kusut dan penuh
rasa takut. Darah Lim masih mengucur membasahi tubuh  Buyung
dan Berto. Tapi walaupun dalam keadaan begitu Lim masih
memikirkan nasib Abung dan Aidit . Ketika Buyung mengeluarkan
dasi Versache pemberian Bonang yang kebetulan dibawanya
dalam kantong, lalu mengikat bahu Lim dengan mengorbankan
dasi mahal itu agar pendarahan Lim berhenti, dan menanyakan
apakah dia perlu ke rumah sakit, Lim justru menyalak ,

" Jangan pikirin gue, pikirin nasib Abung !! Pikirin nasib Aidit "

Bentaknya sambil menangis...

[EMAIL PROTECTED]

October 19,1999

( tulisan ini dibuat dalam 45 menit. atas desakan puluhan
netter yang menanyakan kelanjutan cerbersal Bonang..
well..anda sukses mendesak saya menulis, tapi saya
juga mengharapkan mahasiswa dan rakyat di tanah air
sukses mendesak Habibie supaya mundur dari pencalonan
hari ini..AMIN ! )

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Oct 1999 jam 02:47:45 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke