----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

HUKUM KARMA - SUATU INTROPEKSI MENDALAM (1)

Oleh : Ki Ageng Mangir

Prolog

Beberapa tanda-tanda zaman Kala Bendu - 'bebendu'
atau malapetaka besar yang saat ini sedang menimpa
bangsa Indonesia saat ini  - disalin dari Serat Centini
jilid IV :

Pupuh 257 (Pocung), tembang 28:

- Wong agunge padha jail kurang tutur, marma jeng
  pamasa, tanpa paramarteng dasih, dene datan ana
  wahyu kang sanyata.

Artinya: Para pemimpinnya berhati jail, bicaranya ngawur,
            tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang
            sejati (note: barangkali para pemimpin sebaiknya
            tidak banyak bicara, yang penting buktinya
            berjuang untuk kepentingan rakyat banyak).

Pupuh 257 (Pocung), tembang 41 s/d 43:

- Nawung krida, kang menangi jaman gemblung, iya
  jaman edan, ewuh aya kang pambudi, yen meluwa edan
  yekti nora tahan.

Artinya: Untuk dibuktikan, akan mengalami jaman gila,
            yaitu zaman edan, sulit untuk mengambil sikap,
            apabila ikut gila/edan tidak tahan.

- Yen tan melu, anglakoni wus tartamtu, boya keduman,
  melik kalling donya iki, satemahe kaliren wekasane.

Artinya: Apabila tidak ikut menjalani, tidak kebagian
            untuk memiliki harta benda, yang akhirnya bisa
            kelaparan.

- Wus dilalah, karsane kang Among tuwuh, kang lali
  kabegjan, ananging sayektineki, luwih begja kang eling
  lawan waspada.

Artinya: Sudah kepastian, atas kehendak Allah SWT,
            yang lupa untuk mengejar keberuntungan, tapi
            yang sebetulnya, lebih beruntung yang tetap ingat
            dan waspada (dalam perbuatan berbudi baik dan
            luhur walaupun hidup serba sulit).

Hukum Karma

Pada saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami
'bebendu', malapetaka besar atau cobaan yang berat
dengan berbagai krisis yang ada baik itu krisis ekonomi,
krisis sosial politik, krisis kepemimpinan, bahkan mungkin
juga krisis 'budaya'.

Apakah keadaan yang terjadi pada saat ini sesuatu yang
memang terjadi begitu saja ataukah ini suatu 'hukum
karma' yang sedang menimpa bangsa Indonesia sebagai
akibat dari perbuatan kita dimasa yang lalu, apakah itu
perbuatan kita sebagai individu, perbuatan para pemimpin
kita, bahkan perbuatan kita sebagai kelompok atau
bangsa secara keseluruhan.

Hukum Karma adalah hukum sebab akibat yang pada
hakekatnya adalah bahwa suatu peristiwa tidaklah berdiri
sendiri tapi adalah akibat dari suatu peristiwa ataupun
perbuatan sebelumnya. Dalam bahasa Jawa ada
peribahasa yang mengatakan 'becik ketitik, ala ketara'
yang artinya perbuatan baik ataupun buruk pada suatu
saat akan ketahuan yang bila kita kaji lebih lanjut adalah
suatu penjabaran dari hukum karma yang bisa diartikan
apabila kita ingin mendapatkan 'akibat' hasil yang baik,
kita harus berbuat 'sebab' yang baik. Sebaliknya apabila
perbuatan kita buruk atau telah melakukan 'sebab' yang
buruk 'akibat'-nya tentu akan buruk.

Hukum Karma buat penulis adalah sesuatu yang sangat
logis, biarpun dari sudut pandang 'spiritual' agama bisa
menjadi suatu yang sangat komplek disebabkan oleh
suatu peristiwa tidak begitu saja bisa dilihat akar sebab
akibatnya dikarenakan keterbatasan analisa kita,
ataupun keterbatasan kita dalam menggali informasi
dari perbuatan seseorang dimasa yang lalu yang tidak
sepenuhnya kita ketahui, untuk bisa menyimpulkan
seseorang tertimpa malapetaka ataupun kebahagian
se-mata2 akibat logis dari perbuatan masa lalunya.
Karena itu 'hukum karma' lebih efektif dijadikan sarana
intropeksi mendalam dalam diri sendiri, karena hanya
diri kita sendiri yang tahu perbuatan kita dimasa yang
lalu apakah itu baik atau buruk yang bisa mengakibatkan
malapetaka ataupun kebahagiaan.

Adalah lebih mudah untuk menjelaskan Hukum Karma
dengan beberapa contoh cerita Mahabharata dan
Pewayangan (ini bisa dimengerti karena Hukum Karma
berasal mula dari pengaruh agama Hindu dan Budha
yang mengenal reinkarnasi - dilahirkan kembali.
Sedangkan agama Islam tidak mengenal Hukum
Karma yang dikaitkan dengan reinkarnasi tapi lebih
pada sebab akibat perbuatan seseorang akan terjadi
pada masa kehidupannya didunia dan lebih jauh
kemudian diakhirat nanti).

Penulis akan mengambil cerita dari kehidupan sebab
akibat dari riwayat Dewi Drupadi sebagai contoh Hukum
Karma secara individu atau perorangan dan Riwayat
BangsaYadawa (kerajaan Dwarawati yaitu dengan rajanya
Sri Kresna - titisan Wisnu) sebagai contoh Hukum Karma
kelompok suku atau bangsa.

Riwayat Dewi Drupadi:

Dalam Mahabharata Dewi Drupadi diceritakan bersuami
lima yaitu kelima Pandawa Lima. Dalam Pewayangan
dikarenakan budaya Jawa tidak mengenal polyandri
diceritakan sebagai istri Puntadewa/Judistira saja.
Pandawa Lima itu sendiri putera Pandu raja Hastinapura
dengan urutan dari yang paling sulung : Puntadewa,
Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Dikisahkan Dewi
Drupadi mengalami sebab-akibat dalam riwayat
kehidupanya sebagai berikut :

Sebab : Diceritakan pada suatu saat Pendawa berhasil
mendirikan kerajaan Amarta atau Indrapasta dengan
istana yang sangat megah dan dalam peresmiannya
mengundang para Kurawa - saudara sepupu sekaligus
seteru dari Pendawa yang berjumlah seratus - untuk
melihat-lihat keindahan istana dan sangat membuat
kagum tapi juga rasa iri dari para Kurawa. Pada saat
Duryudana sedang melihat-lihat keindahan taman yang
begitu indah, dia tidak menyangka bahwa kaca yang
begitu bening ternyata adalah kolam sehingga dia
menginjak dan terperosok masuk kedalam air. Dewi
Drupadi yang melihatnya tidak tahan untuk tertawa.
Sebagai raja Hastinapura pada saat itu Duryudana
merasa sangat malu ditertawakan oleh Dewi Drupadi
dan dalam hatinya menimbulkan rasa dendam.

Akibat : Sekembalinya ke Hastinapura, timbul niat
jahat dari Duryudana untuk mengakali para Pandawa
agar bisa merebut negara Amarta / Indrapasta dengan
bantuan pamannya Patih Sengkuni dengan cara
mengundang Pandawa bermain dadu. Dikarenakan
Puntadewa memang senang main dadu, tanpa
menaruh curiga undangan bermain dadu dipenuhi.
Dengan kelicikan Patih Sengkuni akhirnya Puntadewa
dikalahkan yang pada akhirnya semua kekayaannya,
istananya, kerajaannya, bahkan adik2-nya, sampai
akhirnya bahkan istrinya Dewi Drupadi ikut dipertaruhkan
dan dikalahkan dimeja judi. Pada saat Pandawa sudah
tidak punya apa2, karena sudah dikalahkan dimeja judi
para Kurawa menjadi sangat gembira dan lupa diri. Pada
saat itu Duryudana teringat pada saat dipermalukan oleh
Dewi Drupadi ketika berkunjung keistana Amarta dan
meminta adiknya Dursasana mengambil Dewi Drupadi
yang maksudnya akan dipermalukan didepan umum
karena sudah menjadi milik mereka. Tentu saja Dewi
Drupadi tidak mau datang ketempat perjudian, tapi diseret
oleh Dursasana dengan cara menyeret rambutnya yang
terurai karena sedang haid. Sesampainya ditempat
perjudian Durjudana mengundang Dewi Drupadi untuk
duduk dipangkuannya. Tentu saja Dewi Drupadi tidak mau
menuruti kehendak Duryudana, oleh karena itu Duryudana
memerintahkan Dursasana menelanjangi Dewi Drupadi.
Dewi Drupadi kemudian berdoa memohon pertolongan
dewa Wisnu, dan atas pertolongannya setiap kali kain
dari Dewi Drupadi tertanggal didalamnya selalu ada
lapisannya, sampai kain-nya ber-tumpuk2 dan Dursasana
kelelahan tanpa berhasil menelanjangi Dewi Drupadi
yang akhirnya sadarlah semuanya bahwa Dewi Drupadi
mendapat perlindungan dewata (Note: Untuk yang pernah
menyaksikan serial TV Mahabharata produksi India,
episode yang melukiskan babak kisah ini sangat bagus
dilukiskan didalamnya dan sangat mengharukan) .

Peristiwa ini menyebabkan, sebab yang lain :

- Bima/Werkudara bersumpah akan meremukkan paha
  Duryudana karena lancang meminta Dewi Drupadi duduk
  dipangkuannya.
- Werkudara juga bersumpah akan menghirup darah
  Dursasana karena perlakuan yang tidak senonoh dari
  Dursasana terhadap Dewi Drupadi..
- Dewi Drupadi bersumpah tetap akan menguraikan
  rambutnya dan tidak akan menyanggulnya sampai
  dengan dicuci dengan darah Dursasana karena
  perlakuan yang diluar batas kesopanan dari Dursasana.

Dan sumpah tersebut terlaksana pada saat terjadi perang
Bharatayuda - yaitu perang saudara besar antara
Pandawa dan Kurawa yang sesama keturunan Bharata.
(Note : Mahabharata adalah epos kepahlawanan yang
peperangan sebagai simbol kebenaran melawan kebatilan
adalah sebagai cerita sentralnya. Cerita Mahabharata
sendiri ditulis beberapa abad sebelum Masehi, jadi nilai2
yang bersifat 'barbarian' masih ada didalamnya seperti
apa yang dilakukan oleh Werkudara kepada Dursasana
dalam peperangan - tentunya tidak bisa diterima sebagai
nilai-nilai kemanusiaan pada saat ini)

Riwayat Bangsa Yadawa.

(Bersambung)

Mei 1999.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Oct 1999 jam 04:19:23 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke