----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

From: Syahbuddin Abdurrauf
Z. Afif:

BERSATU DAN WASPADA
MENGHADAPI OPERASI INTEL TNI-POLRI

Menurut Danrem 012/Teuku Umar, Kol. Syarifuddin Tippe keadaan di Aceh kini
"tenang". Terhadap pernyataan itu, masyarakat Aceh patut berhati-hati, dan
pelopor-pelopor dalam perjuangan menuntut referandum bagi hak Aceh
menentukan   nasib   sendiri, sewajarnya waspada dan tentunya tidak lengah
memegang peranan memimpin massa untuk tujuan strategis yang hendak dicapai
rakyat Aceh.

Di balik pernyataan Danrem itu, tersembunyi operasi intelijen TNI-POLRI yang
sangat intensif. Pasukan siluman yang terdiri dari Kopassus dan Kostrad
dengan pakaian preman, serta desertir TNI lainnya dan preman bayaran tetap
melakukan penembakan dan pembunuhan misterius, pembakaran, penculikan,
perampokan, intimidasi, pemerasan dan berbagai macam provokasi dan rekayasa
lainnya. Pasukan siluman itu masuk ke Aceh segera setelah pengumuman
pencabutan DOM oleh Jenderal Wiranto selaku Pangab. Mereka menyusup dari
Sumut melalui Aceh Tenggara, ke Aceh Tengah dan menyebar ke seluruh Aceh.
Diperkirakan jumlah mereka sekitar 400 orang, lengkap dengan peralatan
canggih dan sangat terlatih. Menurut pengakuan salah seorang anggota
Kopassus yang ditangkap rakyat di Lhoksukon, ada 200 orang anggota Kopassus
yang masuk secara gelap ke Aceh. Yang memegang komando pasukan siluman itu
adalah Mayjen Syafrie Syamsuddin, mantan Pangdam Jaya, yang terlibat dalam
penculikan aktivis pejuang demokrasi sebelum mahasiswa mendepak Suharto dari
kursi presiden   pada bulan Mei 1998. Ketika terjadi peristiwa Krueung
Geukuh, Aceh Utara yang mengorbankan puluhan massa, Syafrie Syamsuddin ada
di sana. Tragedi Beutong Ateuh, Aceh Barat, suatu pembunuhan massal di mana
turut gugur ulama Teungku Bantaqiah, pasukan siluman Kostrad bergerak dari
Aceh Tengah. Keberadaan Mayjen Syafrie Syamsuddin secara gelap dan
berpakaian preman di Aceh, pernah dipersoalkan oleh Dr Hasballah M Sa�ad
dalam diskusi tentang Aceh di kantor PP Muhammadiyah di Jakarta pada 7
Agustus 1999.

Mengadu Domba Bangsa Aceh

Di antara yang perlu dan penting diwaspadai sekarang ini adalah politik adu
domba. Dengan operasi intelnya, TNI-POLRI mengadu domba kelompok masyarakat
dan sesama bangsa Aceh. Operasi intel TNI-POLRI mencari atau menciptakan
celah untuk  membuat orang Aceh wilayah utara membenci orang Gayo. Mereka
mencari atau menciptakan celah juga untuk mengadu domba orang Aceh dengan
penduduk Aceh yang beragama bukan Islam, antara penduduk asli Aceh dengan
kaum pendatang. Dengan demikian intel TNI-POLRI berusaha menceraiberaikan
persatuan dan kesatuan bangsa Aceh umumnya.

Sebagaimana disiarkan dalam Harian WASPADA 4 Oktober 1999, setelah gagal
menciptakan bentrokan etnis antara penduduk asli Aceh dengan pendatang, kini
upaya dilakukan untuk memecah belah antara sesama penduduk asli Aceh. Semula
upaya dilakukan agar timbul bentrokan antara  orang Aceh dan orang Gayo yang
ditiupkan di Aceh Tengah, lalu beralih ke Aceh Utara. Syukurlah, menurut
WASPADA masyarakat kedua kabupaten (Aceh Tengah dan Aceh Utara) tidak
terpengaruh terhadap upaya provokator yang menginginkan Aceh pecah belah.

Jelas, bahwa isu-isu yang mengancam orang Gayo, sehingga banyak pelajar,
guru dan penduduk asal Gayo yang berdiam di Aceh Utara (Bireuen) eksodus
kembali ke Aceh Tengah, merupakan suatu kampanye operasi intel TNI-POLRI
untuk membuat kekacauan dan mengalihkan sasaran atau tujuan perjuangan
rakyat Aceh.

Operasi intel diusahakan juga menyusup ke kalangan kelompok-kelompok
masyarakat, organisasi-organisasi massa mahasiswa, ke dalam partai politik,
ke kalangan ureung dayah, ke dalam LSM, ke dalam GAM atau AGAM dan ke
kalangan lainnya yang selama ini menggemakan tuntutan pelaksanaan
referandum, menuntut supaya diadili dan dihukum pelaku pelanggaran HAM
selama    dan sesudah DOM, menentang dibentuk KODAM di Aceh, menuntut
penarikan PPRM dan TNI-POLRI keluar dari Aceh. Intel TNI-POLRI mencoba
mengadu domba antara mahasiswa dengan LSM, atau antara LSM dan mahasiswa
dengan GAM/AGAM, antara ureung dayah dengan LSM atau GAM/AGAM. Caranya
antara lain dengan membesar-besarkan perbedaan antara satu dengan lainnya di
kalangan kekuatan, golongan atau lapisan masyarakat Aceh itu. Padahal,
setiap kekuatan, golongan dan lapisan masyarakat di samping punya program,
tuntutan dan tujuan umum yang sama, tentu punya program, taktik dan tuntutan
khususnya sendiri sesuai dengan keadaan internnya masing-masing. Misalnya,
antara mahasiswa dengan ureung dayah, tentu ada perbedaan tertentu, karena
masing-masing mempunyai kebutuhan dan syarat-syarat internnya yang khas.
Tujuan intel TNI-POLRI itu jelas, mau mencerai-beraikan kekuatan rakyat
Aceh, agar tuntutan-tuntutan bersama yang diperjuangkannya menjadi
terabaikan atau teralihkan dan tidak mencapai tujuannya.

Martabat Aceh di Mata Dunia

Petugas-petugas intel TNI-POLRI berusaha membentuk organisasi-organisasi
tandingan atau palsu. Orang tentu  pernah mendengar     atau membaca berita
tentang  adanya GAM/AGAM palsu atau gadungan, yang tugasnya membuat
provokasi, intimidasi, pembakaran, pengutipan dana secara paksa dan dalam
jumlah yang ditetapkan begitu tinggi, sehingga sangat meresahkan masyarakat.
Ini adalah cara intel TNI-POLRI untuk menjatuhkan nama GAM/AGAM di mata
masyarakat dan menjauhkan mereka dari rakyat yang harus dilindungi dan
dibelanya.

Peristiwa-peristiwa yang diciptakan kaum provokator dalam rangka operasi
intel TNI-POLRI itu, kalau berkembang dan berhasil, dapat menjatuhkan
martabat Aceh yang sudah mendapat perhatian besar dan positif dari dunia
internasional, badan PBB dan simpati dari rakyat  di seluruh penjuru
Nusantara.

Patut diwaspadai pula, gerakan razia jilbab yang dilakukan sementara orang
secara paksa, dapat dimanfaatkan oleh TNI-POLRI dalam menjalankan operasi
intelnya. Cara-cara pemaksaan sampai mempermalukan perempuan dengan
menggunting rambut  dan roknya di tempat umum, sungguh tak pantas menurut
adat reusam Aceh, tentu bukanlah cara yang didakwahkan dalam menegakkan
Syariat Islam. Ini terjadi justeru di saat srikandi-srikandi Aceh sedang
bangkit kembali untuk menegakkan kembali martabat bangsa Aceh dari
penghinaan dan penodaan oleh TNI-POLRI. Razia jilbab seperti itu sangat
memberi angin kepada keefektifan operasi intel TNI-POLRI. Di mata
internasional akan dipandang Aceh berada dalam gerakan fundamantalisme. Ini
tentu tidak menguntungkan bagi bangsa kita Aceh dalam menghimpun sokongan
internasional bagi perjuangan untuk mencapai penentuan nasib sendiri Aceh.
Para ulama, teungku dayah diharapkan  bimbingannya dalam hal mewajibkan
berjilbab ini.

Pihak-pihak yang berkepentingan (terutama jenderal-jenderal TNI Angkatan
Darat dan kaum  birokrat penguasa) yang menjadikan Aceh usaha bisnisnya,
sangat menghendaki dan berusaha sekali agar Aceh tetap kacau, baku hantam
antara sama penduduknya. Dengan membuat kekeruhan-kekeruhan,
jenderal-jenderal Angkatan Darat dan kaum birokrat penguasa RI akan
menangguk keuntungan sebesar-besarnya.

Menghadapi situasi tersebut, sangatlah penting peranan kaum ulama, para
teungku dayah, kerja sama antara organisasi  mahasiswa, ormas lainnya, LSM,
GAM/AGAM untuk menenteramkan dan mempersatukan masyarakat Aceh, mencegah
provokasi dan intimidasi yang dikendalikan dan direkayasa oleh TNI-POLRI
serta membekuk provokator. (19 Oktober 1999).

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Oct 1999 jam 03:19:48 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke