---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk MILISI SIAP JADI SAKSI UNTUK PENGADILAN INTERNASIONAL JAKARTA, (MateBEAN, 20/10/99). Kolonel Inf Geerhan Lantara kini sudah balik ke markas Brigif-17, Cijantung, Jakarta Timur. Karirnya sebentar lagi akan amblas saat penyelidikan internasional dan nasional tentang kejahatan terhadap kemanusiaan akan digelar. Ia tahu bahwa namanya termasuk jajaran orang yang bertanggungjawab atas apa yang terjadi di Timor Lorosae sejak Januari lalu. Sebagai komandan brigade elit itu, karirnya bisa cemerlang. Lihat saja karir para mantan anggota Brigif-17 seperti Menko Polkam Jenderal (Purn) Feisal Tanjung, Sekjen Dephankam Letjen TNI Fachrul Razie, Kaster TNI Letjen TNI SB Yudhoyono, Pangkostrad Letjen TNI Djamari Chaniago, dan Kasum TNI Letjen Soegiono. Bayangan karir cemerlang itu ambruk dan diganti oleh bayangan mengerikan duduk di pengadilan internasional sebagai terdakwa. Dan di hadapannya duduk para anggota milisi yang dulu menjadi anak asuhnya, memberi kesaksian yang memberatkan dirinya. Pengadilan itu bukan hanya akan menghancurkan karirnya, tetapi juga sekaligus menjebloskannya ke penjara untuk bertahun-tahun. Beberapa anggota milisi yang masih berada di Jawa dan Bali sudah mengatakan siap memberi kesaksian jika diperlukan. Masalahnya hanya jaminan keamanan. "Kalau PBB berani jamin, kami mau memberi kesaksian. Sekarang semuanya sudah berakhir, dan kita harus mulai hidup baru. Yang salah harus dihukum," ujar seorang mantan komandan kompi milisi yang sekarang sudah sadar. Ia mengaku tidak tahu-menahu tentang politik, dan hanya ikut apa yang diperintahkan oleh atasannya. "Selama berbulan-bulan kami tidak boleh nonton televisi atau baca koran. Pimpinan kami keras sekali. Pokoknya hanya boleh dengar apa yang dia bicara," ujarnya. Ia mengaku beberapa kali bertemu dengan Kolonel Inf Geerhan, yang sesekali turun ke lapangan. "Pak Geerhan terlibat juga," katanya. Ia juga menyebut beberapa nama lain seperti Mayjen TNI Sjafrie Sjamsudin, Mayjen TNI HR Garnadi, dan bahkan Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Adam Damiri. Ketika ditanya tentang bentuk keterlibatan TNI, ia menjawab: "Kalau terlibat itu artinya ikut. Yang terjadi sebenarnya, milisi yang ikut TNI bukan TNI yang ikut milisi. Mereka yang kasih perintah, kok. Kami hanya menjalankan," tambahnya. Suatu ketika ia kaget ketika membaca pernyataan Pangdam IX/Udayana di Bali Post beberapa waktu lalu bahwa TNI tidak mendukung milisi. "Kok bisa Pak Udayana-1 (panggilan untuk Mayjen Adam) bicara begitu? Padahal beberapa kali ia memimpin rapat untuk mengatur strategi," ujarnya. Sebagian milisi sadar bahwa TNI mau cuci tangan, dan membiarkan mereka diadili sendiri. "Itu tidak bertanggungjawab namanya, seperti provokator saja," kata seorang pimpinan milisi Laksaur Merah Putih. Ia juga memilih bersembunyi karena belakangan mendengar beberapa anak buahnya ditangkap anggota TNI. "Kami tidak mau dijadikan kambing hitam. Biar saja nanti kalau ada pengadilan, kita sama-sama duduk di sana. Jangan hanya kami," katanya. Ia seperti menyesali perbuatannya, karena beberapa orang anggota keluarganya ikut jadi korban dalam pembunuhan massal di Suai. Sebelumnya dua orang tokoh pro-integrasi lebih dulu buka mulut. Dalam wawancara di RCTI, pimpinan pro-integrasi di Kabupaten Covalima, Rui Lopes, mengaku bahwa apa yang terjadi di Timor Lorosae sejak Januari adalah operasi intelijen. "SGI (Satgas Intelijen) yang mengatur semua itu," katanya saat itu. Pengakuan lain datang dari Thomas Goncalves, putra gubernur pertama Guilherme Goncalves, yang juga pimpinan milisi di kabupaten Ermera. Kedua tokoh ini sekarang bersembunyi di luar negeri, dan menunggu saat yang tepat untuk memberi kesaksian. Deretan ini akan semakin panjang mengingat cukup banyak milisi pro-integrasi yang putar haluan menjelang pelaksanaan jajak pendapat. Kabarnya ada ribuan anggota milisi pro-integrasi yang sudah menyeberang ke pihak Falintil, dan siap memberi kesaksian tentang apa yang mereka lakukan bersama TNI di Timor Lorosae. Jumlah yang pasti masih sulit diperkirakan, tapi yang pasti cukup banyak untuk membuktikan bahwa TNI bertanggungjawab atas kejahatan terhadap kemanusiaan yang terjadi di sana. Di kalangan TNI isu pengadilan internasional juga membuat cemas. Kabarnya saat ini beberapa perwira sedang kerja keras mengumpulkan bukti tentang kejahatan yang dilakukan Fretilin pada tahun 1975-78. Kelihatannya memang tidak ada jalan mundur bagi para perwira TNI yang terlibat dalam aksi kekerasan di Timor Lorosae. Komnas HAM sementara itu juga tengah menyiapkan penyelidikan dan pembentukan pengadilan ad hoc untuk mengadili para perwira dan pemimpin milisi pro-integrasi. *** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Oct 1999 jam 04:18:01 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
