----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Laki-laki anglo itu duduk di samping kanan meja saya,
alis matanya lebat, parasnya sedikit pucat, badannya
kurus dan seperti sebatang kaktus, dia selalu punya
kecenderungan menghindari kerumunan.

Awalnya saya tidak begitu memperdulikan kehadiran dia,
tapi setelah hari ketiga, ketika kebutuhan berbicara tiba
saya tegur ini bule dengan menawarkan kaset Johan Strauss Jr
dan sejumlah  koleksi Schumman  untuk distel di radio
di walkmannya.

Es di wajahnya perlahan melumer,

" Hai nama saya Tim " Katanya  sambil meyodorkan tangan.

" Cool, nama saya Hasan " sambil menyambut tangannya.

Tim mengaku kaget mengetahui saya menyukai classical
Music, keheranan mengantung pekat di matanya begitu
dia tahu saya banyak kenal komposisi Mozart , barangkali
karena kebanyakan employee selama ini yang dia tahu
musiknya adalah Mariah Carey atau hard rock , atau
mungkin juga dia tidak menyangka si "Asian gelap "
seperti saya ini ternyata mengenal banyak American
History.

Tapi yang membuat Tim makin terbelalak adalah,
ketika iseng bercerita tentang religi dan folosofi.
Matanya yang cekung makin nampak dalam, ketika
saya ngomong soal Spinoza dan Jasper, dia banyak
terdiam, Tim mengira saya adalah seorang Asia yang
cerdas, sejak obrolan pertama itu Tim berhenti take break
di luar gedung untuk menghisap rokok seperti kebiasaannya
,dia lebih suka berbincang dengan saya di break room,
Tim worship me, dia memuja saya setengah mati...

" Saya dulu adalah seorang katolik yang taat"
Kata Tim dalam nada tidak pasti  seperti sedang murid
kepada gurunya,

" Tapi semenjak membaca buku dan banyak merenung
saya tidak lagi mempercayai bahwa Tuhan itu ada "

" Dan kini saya adalah seorang atheis "
Tegas cowok berumur 39 yang pernah kawin 2 kali ini
tanpa perasaan bersalah.

Omongan dia ini keluar setelah kita berbincang mengenai
agnostik, yang lucunya Tim dan saya meminjam buku
yang sama tentang itu dari Green County Library.

Saya respek dengan desisi Tim, tapi saya jelas malu
menyadari bahwa saya bukanlah manusia yang secerdas
dia sangka. Kelebihan saya dari orang rata-rata barangkali
ialah bahwa saya lebih punya akses pada buku dan punya
hobby beol sambil baca, itu saja..

Tapi Tim worship me, dia banyak bertanya dan berkali-kali
mengajak saya ikut bareng nonton resital supaya bisa
ngobrol,bahkan dia pernah menawarkan mengganti sepatu
rem mobil gratis bila saya ada waktu, saya jelas makin malu ...

Pernah saya jelaskan pada Tim, bahwa saya bukanlah seorang
atheis, walaupun saya juga bukan seorang yang religious.
Saya juga belum sampai masuk pada tahap agnostik, cuma dalam
periode gelisah , saya adalah seorang troubled believer..

Tim adalah manusia yang sopan, dia selalu kelihatan tenang.
Bila manusia ini seorang muslim, dia adalah seorang ayatullah,
bila Nasrani, Dia adalah seorang pastur berwajah cerah,

Tim adalah biksu, dalam ketidakpercayaannya pada agama,
Tim justru menjadi seorang yang alim, " Manusia itu tidak
mati " begitu yang dia pernah bilang.

Ketika saya bertanya apa maksudnya, dia menjelaskan
" Ketika manusia mati, dia akan hidup lagi di benak
generasi berikutnya dalam bentuk kenangan "

Walaupun saya nggak begitu ngerti apa maksudnya,
tapi saya malah yakin bahwa tingkat intelegensi Tim
itu lebih tinggi dari orang Minang cetek macam saya.

Tim adalah manusia jujur, di personal websitenya dia
bercerita banyak tentang hijrah pemahaman ketuhanannya
dari theis ke atheis, dari ortodok ke penolakan akan eksistensi
Tuhan.Dan kalaupun ada sesuatu yang dia tidak yakin
dia tidak ragu untuk mengatakan " I Dunno "

Tim tidak pernah ngomong vulgar, hatinya bersih dari
dengki , benaknya tidak dikuasai libido, dia juga selalu
berpikiran baik pada setiap orang.

Tim  pernah mampir ke apartemen saya untuk
dinner bersama, dan dengan santai menyantap ayam
goreng balado bikinan sang bini yang luar biasa pedas.

Tim tidak pernah menjelekkan agama dan prinsip orang,
dia jelas tidak mengenal Islam, Budha , Hindu dan  Kejawen.
Dia juga tidak pernah sok berkhutbah soal moral , tentang
sorga dan neraka.

Tim bukan seorang kriminal, pencuri ataupun koruptor,
dia juga bukan seorang yang tega menipu dan membunuh manusia..

Ironisnya manusia seperti Tim dalam semua agama...

Tempatnya selalu di neraka....

(Apakah Tuhan maha bijaksana ?)

Hasan Basri

October 24, 1999

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Oct 1999 jam 01:39:54 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke