----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Press Release
9 November 1999

Pernyataan Sudrajat yang mengatakan bahwa referendum
hanya bisa diberlakukan terhadap pemerintahan yang
statusnaya non governing territory adalah satu
percobaan untuk menipu Bangsa Aceh dan ini perlu
dijelaskan kepada Bangsa Aceh semua supaya memahami
latar belakang sejarah.

Latar belakang sejarah bahwa penyerahan negeri Aceh
oleh pihak penjajah belanda kepada penjajah indonesia
adalah satu perbuatan yang tidak sah dan merupakan
satu tindakan yang melanggar hukum internasional di
bawah konvensi PBB. Tindakan pelanggaran dan tidak sah
tersebut adalah disebabkan penjajah belanda tidak
pernah berhasil menjajah Bangsa dan Negeri Aceh
dibawah kuasa penjajahannya.

Oleh sebab itu, sebutan sudrajad bahwa negeri Aceh
sudah mempunyai pemerintahan yang dimaksudkannya
adalah pemerintahan dibawah penjajahan indonesia
adalah merupakan satu tindakan yang coba untuk
melakukan penipuan terhadap Bangsa Aceh dan juga
sekaligus ingin menutupi bukti sejarah yang telah
diakui oleh masyarakat internasional sejak dahulu
lagi. Bahkan keberadaan negara Aceh yang berdaulat
telah wujud sebelum republik pura-pura indonesia
(sebenarnya sebuah penjajahan)dipropagandakan.

Oleh sebab itu, tuntutan referendum yang sedang
menggema di Aceh sekarang ini merupakan satu tindakan
damai dan patut dipuji karena dengan cara ini berarti
Bangsa Aceh masih memilih jalan damai untuk menentukan
nasibnya di masa depan walaupun selama ini penjajah
indonesia melalui serdadu TNI dan POLRI telah berlaku
kejam dan zalim terhadap Bangsa Aceh.

Tuntutan referendum yang disuarakan oleh Bangsa Aceh
juga bukan merupakan tuntutan segelintir manusia yang
berbangsa Aceh, tetapi merupakan satu tuntutan
menyeluruh dari Bangsa Aceh yang hidupnya di seluruh
dunia. Bahkan jika ditanya pada hewan dan
tumbuh-tumbuhan yang hidup di negeri Aceh, maka
jawaban yang tepat adalah referendum.

Penjajah indonesia jangan menolak kenyataan. Kekejaman
dan kezaliman yang mereka lakukan berpuluh-puluh tahun
terhadap Bangsa Aceh tidak akan terlupakan begitu
saja. Tidak akan terobati dengan janji-janji palsu,
tidak terobati dengan iming-iming dusta yang sudah
cukup dikenal. Mungkin juga tidak terobati dengan apa
saja, kecuali REFERENDUM.

Dengan pelaksanaan REFERENDUM, mungkin penjajah
indonesia dapat menebus dosanya yang selama ini telah
membusuk ibarat borok yang bernanah.

Bangsa Aceh sudah tidak mempercayai lagi pemerintah
indonesia yang sudah terkenal kezalimannya. Jadi
sekali lagi REFERENDUM adalah cara damai yang bisa
diterima oleh Bangsa Aceh. Jika penjajah indonesia
tidak mau menerima cara ini, nampaknya Bangsa Aceh
akan mengulang sejarah lama yang pernah dihadapi oleh
penjajah belanda yaitu JIHAD BANGSA ACEH.

Negeri Aceh bukan lah "abang kandung" kepada propinsi
lain seperti yang disebut oleh sudrajat. Keberadaan
aceh dalam indonesia adalah berlaku melalui penindasan
dan perampasan yang samasekali tidak direstui oleh
pemiliknya yaitu Bangsa Aceh.

Tidak ada jalan penyelesaian yang sesuai terhadap
peristiwa Aceh, kecuali dengan menyerahkannya kepada
pemiliknya yaitu Bangsa Aceh, untuk menentukan (1)
TETAP BERGABUNG DENGAN PENJAJAH INDONESIA atau (2)
PISAH DAN MERDEKA DARI PENJAJAH INDONESIA.

KEPADA PENJAJAH INDONESIA DIINGATKAN BAHWA JALAN YANG
TEPAT ADALAH MELALUI REFERENDUM. JANGAN LEWATKAN DAN
LAMBATKAN KARENA IA AKAN MENDATANGKAN PENYESALAN.

=======================================================
Mayjen Sudrajat :
Referendum Bukan Cara Terbaik
Reporter: M. Ishlah

detikcom, Bandung- "Referendum bukanlah cara
penyelesaian terbaik", ujar Kapuspen TNI Mayjen
Sudrajat di Bandung Senin (8/11/1999) usai memberikan
ceramah di Sesko-AD. "Aceh itu masalahnya bukan
referendum atau merdeka,"kata Sudrajat.

Menurut Sudrajat persoalan utama di Aceh adalah
terjadinya ketidakadilan. "Untuk itu solusi terbaik
adalah duduk bersama dan berdialog mencari jalan
keluar. Ini adalah pandangan TNI", ujar Sudrajat.

Sudrajat juga menegaskan bahwa tuntutan yang
dilaksanakan dalam gelombang ribuan masyarakat Aceh
ini harus dilihat secara komprehensif dan menyeluruh.
Menurut Sudrajat, referendum hanya diberlakukan pada
masyarakat yang teritorialnya belum ada pemerintahan
yang statusnya non governing territory.

"TNI memandang tidak realistik karena Aceh sudah
mempunyai pemerintahan", tegas Sudrajat. Menurut
Sudrajat, TNI telah berketetapan persoalan utama
bukanlah referndum atau mendirikan Aceh Merdeka.

"Masalah di Aceh ini adalah sektor ekonomi, politik
dan pembagian kesejahteraan, ini harus diakui yang
harus diangkat dan dibereskan", ujar Sudrajat.

Sudrajat sepakat untuk menyelesaikan berbagai
persoalan ini dengan mendekati semua aspek baik
politik, sosial-budaya dan terutama agama. Agama
sangat sentral karena penyelenggaraan syariat Islam
sangat kuat dan melekat di hati rakyat. "Masyarakat
Aceh harus menahan diri karena ada cara yang lebih
baik dengan dialog secara terbuka", ujar Sudrajat.

"Indonesia akan merasa kehilangan kalau Aceh lepas,
sebab Aceh Abang Kandung dari propinsi yang lain",
ujar Sudrajat. Untuk itu Sudrajat mengakui pihaknya
sangat hati-hati untuk memasukkan kasus ini dalam
kategori makar atau tidak.

Menurut Sudrajat, ini merupakan ekspresi masyarakat
Aceh yang belum merasa comfortable dan nyaman pada
sistem pemerintah pusat dan daerah. "Komunikasi antara
Jakarta dan daerah harus dibenahi", tandas Sudrajat.

=====
Penerangan MPGAM
http://members.xoom.com/aceh_merdeka/

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 9 Nov 1999 jam 04:51:20 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke