----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

MARI MEMBANGUN NEGARA BESAR YANG KUAT
Perspektif Untung Rugi Disintegrasi Indonesia

Oleh: Sulistya Putra*)

Timtim lepas dari Indonesia menjadi negara yang merdeka, apa untungnya
bagi
bangsa Timor Lorosae? Lebih makmurkah? Elit politiknya mungkin ya,
karena bisa
menikmati tunjangan jabatan dari pinjaman luar negeri. Rakyatnya belum
tentu.
Namun yang jelas, mereka "merdeka" dari ancaman ditembak mati TNI yang
dapat
menimpa sewaktu-waktu. Masalah bentrok dengan milisi pro integrasi,
itu urusan lain.

Aceh, Irian, Kaltim, Kalteng, Riau merdeka, apa untungnya buat rakyat
setempat?
Bagi Aceh dan Irian, mungkin ada kemiripannya dengan Timtim, yaitu
"merdeka"
dari pembunuhan sewenang-wenang yang sangat menonjol dilakukan TNI di
wilayah
tersebut. Bebas dari ketakutan dan ancaman ditembak mati sewaktu-waktu
adalah
alasan yang paling manusiawi. Alasan lainnya? Yang paling umum
diketahui adalah
alasan ekonomi, yaitu bebas dari ketidakadilan pemerintah pusat yang
hanya
meneteskan sebagian kecil hasil kekayaan alam ke daerah asalnya.

Motif ekonomi inilah yang demikian kuatnya merasuk di pikiran sebagian
penduduk
daerah-daerah yang marak dengan gerakan untuk memisahkan diri dari
Republik
Indonesia. Dalam benak mereka, setelah mereka-reka nilai kekayaan alam
per
tahun dibagi jumlah penduduk setempat, maka nilai pendapatan per
kapita
setempat akan meningkat dengan pesat sehingga menjadi jauh lebih
makmur dari sekarang.

Asumsi inilah yang dicangkokkan dalam benak Saudara-saudara di
daerah-daerah
tersebut. Karena itu, di daerah yang pelanggaran HAM oleh TNI-nya pun
tidak
menonjol, tetap ada gerakan untuk memerdekaan wilayahnya, Riau
(daratan)
misalnya. Sebabnya adalah motif ekonomi untuk bebas dari ketidakadilan
ekonomi
dan mengambil peluang untuk meningkatkan kesejahteraan. Padahal, untuk
alasan
yang satu ini, seluruh rakyat di segenap wilayah Indonesia juga
mengalami
penindasan dan ketidakadilan ekonomi. Jadi seluruh rakyat dari Sabang
sampai
Merauke selayaknya berjuang "memerdekakan" diri dari penindasan dan
ketidakadilan ekonomi selama ini.

Sebetulnya perlu dikaji lebih jauh apakah benar skenario peningkatan
kemakmuran
penduduk setempat itu dengan cara memerdekakan wilayah masing-masing
dari RI?
Siapa yang paling untung dengan lepasnya berbagai wilayah itu dari RI?
Benarkah
kesejahteraan rakyat akan langsung menikmati keuntungan? Belum tentu.
Yang
paling dulu bertepuk tangan adalah para elit daerah dan para pemilik
modal,
khususnya para pengelola pertambangan dan pengusaha yang menguasai
hasil bumi
wilayah tersebut. Di Irian, jelas Freeport yang akan diuntungkan. Dan
di Aceh,
pengelola situs Arun dan Mobil Oil yang untung. Mengapa demikian?
Karena
keterbatasan sumber daya manusia di daerah urban sekarang ini,
tentunya
kemampuan mengelola kekayaan alam akan masih bergantung pada pihak
asing atau
konglomerat Jakarta. Apalagi para kapitalis asing itu akan berurusan
dengan
pemerintahan dari "negara baru" yang masih lemah dan mencari pengakuan
sehingga
tidak punya posisi tawar yang terlalu kuat.

Bisa saja terjadi, orang-orang asing itu memaksakan lobi untuk
penggandaan
kapasitas produksi namun tetap dengan prosentase yang lebih
menguntungkan
pihak
asing. Jadi, seolah-olah nominal "jatah" untuk wilayah setempat
meningkat,
padahal orang asing yang tetap menikmati jauh lebih besar dalam waktu
lebih
singkat dari hasil penggandaan kapasitas produksi tadi.

Dan selanjutnya ceritanya dapat mirip dengan "Orba Chronicle", yaitu
Soeharto,
TNI, dan kroninya. Karena kemampuan SDM yang tidak merata, "daerah
yang
memisahkan diri" itu akan didominasi oleh pejabat pemerintahnya dan
anggota
parlemennya. Gelagat yang umum adalah, para elit daerah ini yang akan
mendominasi perekonomian setempat. Mereka inilah yang akan malang
melintang
makan suap dari pihak asing dan membentuk konglomerasi baru yang tidak
mensejahterakan rakyat banyak. Calon penikmat lokal ini dapat terlihat
bibit-bibitnya dari tokoh-tokoh daerah yang sudah ada dan berbisnis
saat ini.
Yang jelas, pihak asing sudah pasti untung dan rakyat kecil lagi-lagi
termarginalisasi.

Apakah "cerita lama" ini sudah tercakup dalam "cita-cita kemerdekaan"
di
beberapa daerah itu? Jika hal itu terulang kembali, bagaimana cerita
selanjutnya? Salah satu kemungkinan, rakyat yang merasa tidak puas
bergerak
mencari peruntungan ke luar perbatasan wilayah. Karena wilayahnya
sudah
terbatas, penduduk yang didatangi merasa tidak nyaman karena tanah
garapannya
makin menyempit. Hal seperti ini dapat memancing perebutan
sumber-sumber
kekayaan alam antar suku dan antar wilayah yang bertetangga.

Kemungkinan lain, para elit daerah yang tidak mau disalahkan sebagai
penikmat
lokal akan memprovokasi rakyat untuk mengkambinghitamkan penduduk
pendatang
yang bukan "suku bangsa asli" daerah setempat sebagai "parasit".
Misalnya para
pekerja tambang dari luar daerah atau para transmigran dari Pulau Jawa
yang
membawa keahlian budidaya tanaman ke berbagai daerah transmigrasi.
Maka
terjadilah "ethnic cleansing". Para pendatang kemudian diusir atau
dimusnahkan.
Jika ini terjadi, maka saudara-saudara dari suku pendatang dan
sekutunya akan
membalas dendam dengan menyerang wilayah pengusir sehingga terjadilah
perang
antar suku dan antar wilayah dalam jangkauan yang lebih besar lagi.
Belum
lagi
pertempuran di laut akibat perselisihan antar kapal berbagai wilayah
dan asing
yang lebih mudah lagi memasuki "wilayah laut yang sudah bebas". Dan
selagi
rakyat bertempur, pihak asing tetap saja menikmati keuntungan dengan
menghisap
kekayaan alam setempat dengan membayar "biaya perlindungan" seperti
yang
selama
ini terjadi.

Apakah motif ekonomi yang kebablasan sehingga memicu kiamat bagi
suku-suku
bangsa Nusantara itu sudah dipikirkan? Apakah sudah disadari bahwa
yang paling
diuntungkan dengan memisahkan diri dari wilayah Indonesia adalah
orang-orang
asing, sedikit elit lokal, dan lagi-lagi "orang-orang penting Jakarta"
?

Kiranya Saudara-saudara di Aceh, Riau, Kalimantan, dan Irian Jaya
dapat
menyadari bahwa masalah ketidakadilan selama ini bukanlah gara-gara
"orang
(dari) Jawa" dan bahkan pernyataan umum "sebagian besar hasil kekayaan
alam
kami dibawa ke Jakarta" pun belum tentu benar. Mengapa? Karena
masyarakat
kebanyakan yang "bukan orang penting" di Pulau Jawa ini, bahkan
kebanyakan
penduduk di kampung-kampung di Jakarta, sama susahnya, sama
tertindasnya, dan
tidak pernah tahu menahu apalagi menikmati hasil kekayaan alam dari
daerah
Saudara-saudara. Jika hasil kekayaan alam seluruh propinsi selama
puluhan
tahun
ini terkumpul di bank-bank Jakarta, mengapa banyak bank yang keropos
sampai
harus dilikuidasi dan dibekukan? Ataukah sejumlah besar dana itu
disimpan di
luar negeri? Jika demikian, lagi-lagi pihak asing yang menikmati
pemanfaatan
hasil kekayaan alam Indonesia itu, baik dengan langsung menghisapnya
ataupun
secara tak langsung melalui penyimpanan dana orang-orang Indonesia di
sana.

Jadi, marilah kita berpikir lebih tenang dan jernih lagi. Telah jelas
bahwa
akar permasalahan penindasan dan ketidakadilan di seluruh Indonesia
adalah
Soeharto dan TNI dengan Dwifungsi dan segala pelaksanannya yang
menyuburkan
gurita Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme di segala bidang dan bahkan
melahirkan
berbagai pelanggaran HAM yang luar biasa.

Karena itu, jika Saudara-saudara di seluruh wilayah Indonesia
benar-benar
ingin
memerdekakan diri demi kesejahteraan sesungguhnya, bukan kemerdekaan
semu yang
menguntungkan segelintir elit daerah dan pihak asing, serta tidak
ingin
menumpahkan darah sia-sia dalam perang antar suku dan antar wilayah
yang hanya
menguntungkan elit lokal dan asing, bahkan ingin tetap dapat bebas
bepergian
dan berusaha di seluruh wilayah negara besar dari Sabang sampai
Merauke,
marilah kita bersatu padu dan serempak berjuang menyapu bersih akar
penindasan
dan ketidakadilan tersebut.

Perjuangan kongkrit kita saat ini dapat kita laksanakan dengan bersatu
padu
mendukung penyelesaian masalah Saudara-saudara kita di Aceh, saudara
"seibu
pertiwi" yang melahirkan negara Republik Indonesia ini, yaitu dengan
bersama-sama memberikan dukungan untuk:
1. Menuntut pengadilan bagi para penanggungjawab pelanggaran HAM oleh
militer
di Aceh.
2. Menuntut pemerataan kesejahteraan dengan memperbesar pembagian
hasil untuk
daerah.
3. Menuntut pelaksanaan otonomi luas yang substansif untuk pengaturan
kebijakan
dan strategi pembangunan daerah termasuk mengutamakan putra-putra
bangsa dalam
pengelolaan sumber-sumber daya alam setempat.

Apapun istilahnya, baik federasi maupun otonomi luas dalam negara
kesatuan,
akar permasalahan penindasan dan ketidakadilan, yaitu KKN, Dwifungsi
TNI/Polri,
dan segala bentuk Orbaisme harus disapu bersih. Hanya dengan inilah
supremasi
hukum dapat ditegakkan dan masyarakat tiap wilayah dapat menentukan
kebijakan
strategisnya sendiri sesuai kondisi masyarakat setempat. Dengan
demikian,
kesejahteraan dapat dicapai merata di seluruh wilayah dengan penuh
kedamaian
tanpa diracuni pemikiran "wilayah kesukuan", "wilayah keagamaan", atau
"wilayah
kelompok" lainnya.

Jika perspektif disintegrasi ke depan belum cukup, dapatlah
diingat-ingat
latar
belakang Sumpah Pemuda 28 Agustus 1928 yang suka rela, tanpa paksaaan,
dan
penuh kesadaran sampai melahirkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus
1945. Dan
sebagaimana disaksikan jutaan rakyat Indonesia, setelah penghitungan
voting
pemilihan Presiden, Gus Dur sambil memegang tangan Megawati
menyerukan, "...
dengan ini saya menyatakan kemerdekaan Indonesia... untuk kedua
kalinya
setelah
Bung Karno mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17
Agustus
1945...." yang dimaksudkan untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia dari
rejim
Orde Baru. Karena itu, jika kita masih merasa ditindas ketidakadilan,
marilah
kita merdekakan diri kita dalam kerangka pikir kebersamaan untuk
membangun
satu
masyarakat bangsa Indonesia yang besar dalam satu negara Republik
Indonesia
yang maju, kuat, adil dan merata kemakmurannya.

Jakarta, 16 November 1999

*) Sulistya Putra
Admin GERAKAN SARJANA JAKARTA
Ketua ILUNI UI JAKARTA

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Nov 1999 jam 06:27:15 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke