----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

PERCIKAN BUDAYA 99/III/1999
====================

     Dul Gemet Kasanmuntiro

          YANG AENG-AENG

Ada cerita-cerita 'aeng' di kalangan orang-orang pergerakan
yang memperjuangkan kemerdekaan dulu. Cerita- cerita itu sering
lucu, tapi sayang jarang tercatat. Sedangkan cerita-cerita
aeng itu, bisa memeberi jiwa dan  melengkapi suasana
saat berlangsungnya peristiwa atau jaman. Dengan tahu
cerita-cerita aeng itu, kita lebih bisa memahami watak
pelaku sejarah dan suasana kejadian. Lain dengan membaca
sejarah yang cuma berisi tumpukan data. Lain pula dengan
kebiasaan pada buku BABAD yang banyak bumbu-bumbu, sehingga
membikin pembacanya tak mudah untuk menafsirkan kembali, yang
kadang-kadang tokoh sejarah dibikin 'angker', 'mistik',
sehingga membuat pembacanya yang kurang kritis bisa memuja
berlebih-lebihan. Penulisan skenario "Janur Kuning" dan
"Pemberontakan PKI" nya Orde Baru, juga belum lepas dari
gaya penulisan cerita babad. Tingkah laku tokoh-tokoh yang
mungkin suatu waktu jadi tokoh sejarah sering lepas dari
jepretan penulisan (sengaja disaring). Bagian yang lucu-lucu
itulah yang saya maksud dengan cerita AENG itu. Misalnya
almarhum Pak Gatot (Gatot Subroto), tingkah lakunya sering
aeng. Pada suatu hari ia keliru (atau mungkin mengelirukan diri)
masuk WC perempuan. Lalu diingatkan oleh yang di dalam. "Pak,
ini WC perempuan". Apa jawab Pak Gatot? "Ini, juga untuk
perempuan." Ketika datang di suatu wilayah, dia disambut dengan
terompet. Sambil memeriksa barisan, Pak Gatot mendekati peniup
terompet itu. Apa bisikya? "Jangan keras-keras, nanti kondor!"
Anekdot-anekdot tentang filosof, kaisar-kaisar Tiongkok, Tsar
Rusia dan raja-raja Eropa jaman dahulu, masih bisa kita dapati.
Sebenarnya anekdot juga genre sastra, tapi mengapa guru-guru
sastra tak ada yang mengajarkan di sekolah?
Mengumpulkan cerita-cerita aeng dan anekdot-anekdot yang
berkembang di masyarakat, saya kira perlu. Karena anekdot-
anekdot itu juga merupakan cermin jaman, yang darinya bisa ditarik
pelajaran.
Penguasa otoriter memang tidak suka pada anekdot, apalagi kalau
anekdot itu menyindir diri mereka. Sebenarnya kalau anekdot
sindiran itu diterima dengan rendah hati, bisa membantu mengubah
kesalahan atau kekurangan, menjadikan mereka lebih manusiawi.
Karena pengalaman kemanusiaannya, mungkin Gus Dur --Presiden kita
sekarang, bisa memahami persoalan ini. Dan mungkin di 'markas'
Gus Dur juga tidak sedikit tumpukan anekdot yang menggambarkan
jaman kita di akhir-akhir ini. Pulitisi yang baik, saya kira
tugasnya bukan hanya membuat garis politik. Tapi karena garis
politik itu diperuntukkan kepada manusia, maka perlu menguasai
seluk beluk manusia. Bisa menanggapi kritik, termasuk yang berbentuk
anekdot. Cerita yang betul terjadi menjelma menjadi anekdot, itulah
yang saya maksud dengan cerita 'aeng' itu. Cerita-cerita itu
umumnya lucu, tapi lucunya kadang-kadang sampai ke tingkat 'tragis'.

Cerita aeng: JAWA JEGOG KAING...KAING...!

Diantara pejuang kemerdekaan ada dua orang yang bernama Sayuti.
Satu Sayuti Melik, suami SK Trimurti. Trimurti sendiri, juga tokoh
penting dalam perjuangan. Di jaman kolonial pernah merasakan
penjara; di awal Republik pernah memimpin Partai Buruh dan pernah
menjabat Menteri Perburuhan. Mungkin bila diteliti, Undang-Undang
Perburuhan yang paling maju (artinya menguntungkan buruh), yang
dibikin saat Bu Tri menjadi menteri.
Sayuti yang lain, adalah Sayuti Melok. Karena matanya lebar, untuk
membedakan dengan Sayuti Melik, kawan-kawannya memanggil Sayuti Melok.
Ada cerita aeng tentang Bung Melok ini. Ketika tamat AMS (SMA jaman
kolonial dulu), ijazahnya ditempelkan di blek untuk jual dendeng.
Sejak itu ia lalu ikut di pergerakan kemerdekaan. Baik Bung Melok
Bung Melik, termasuk orang yang dekat dengan Bung Karno.
Cerita tentang ijazah, juga terjadi pada Sudisman. Begitu tamat
(kalau tak salah HBS Surabaya), dia bersumpah tak akan menggunakan
ijazah kolonial itu untuk cari makan. Dia lalu aktif di Gerindo
(Gerakan Rakyat Indonesia) bersama Amir Syarifuddin, Moh. Yamin,
Wikana, A.K.Gani dsb.
Kemudian Jepang masuk. Pada Januari 1943, Amir Syarifuddin dan
53 kawannya ditangkap, termasuk Sudisman. Tokoh-tokoh pentingnya
seperti: Pamudji, Sukayat, Abdul Azis, Abdul Rachman, Amir dihukum
mati. Atas permintaan Bung Karno dan Bung Hatta, hukuman mati pada
Amir Syarifuddin tidak dilaksanakan, diganti hukuman seumur hidup.
Bung Amir meringkuk di penjara Lowokwaru, Malang. Tentang nasib
Sudisman selanjutnya, Anda tahu. Dia kemudian menjadi pemimpin PKI.
Dan ketika Orde Baru yang dikepalai Suharto bekas serdadu kolonial
itu merebut kekuasaan, dia dibunuh.  Tidak sedikit pejuang-pejuang
kemerdekaan yang nasibnya seperti Sudisman. Ini cerita aeng yang
lucu, tapi ironis dan tragis!

Ketika Palembang jatuh ke tangan Jepang (12 Pebruari1942), keluarga
Bung Karno oleh Belanda dilarikan dari Bengkulu ke Padang. Rencananya
keluarga itu akan dibawa ke Australia, tapi kapal yang akan mengangkut
dibom oleh Jepang di pulau Enggano. Akhirnya setelah Belanda menyerah,
Bung Karno jatuh ke tangan Jepang. Oleh Jepang dia dibawa ke Jakarta.
Di sana mendirikan POETERA (Pusat Tenaga Rakyat) yang terkenal dipimpin
oleh Empat serangkai: Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara dan
Kyai haji Mas Mansur. Poetera menghimpun tokoh-tokoh masyarakat dan
punya cabang di daerah-daerah. Dalam pidato pembukaannya Bung Karno
antara lain baerkata:" Kau putera, kau putera, kau putera...(sambil
menunjuk yang hadir berganti-ganti arah) dan aku juga putera, Putera
Indonesia." Kemudian POETERA oleh Jepang diganti menjadi JAWA HOOKOO KAI
(Pusat Kebaktian Rakyat). Lalu apa komentar tokoh kita Mas Sayuti Melok
yang menempelkan izasah AMS nya di blek untuk jual dendeng itu?
"Jawa Hookoo Kai" diplesetkan menjadi "Jawa jegog kaing..kaing...!"

24 Nopember 1999
Dihimpun oleh Dul Gemet Kasanmuntiro

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Nov 1999 jam 03:31:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke