----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

BERITA UTAMA WASPADA JUMAT, 26 NOVEMBER 1999
Menjelang HUT GAM 4 Desember:
Pejabat, Pengusaha Menghilang

BANDA ACEH (Waspada): Menjelang hari ulang tahun Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 4 Desember 
mendatang,
suasana kota di Aceh semakin gerah. Setelah warga non Aceh beramai-ramai eksodus ke 
Sumut, giliran
puluhan pejabat teras dan pengusaha top menghilang dari bumi Serambi Mekkah itu.
Di Banda Aceh, misalnya, sejak sepekan ini diketahui sedikitnya 35 pejabat teras di 
lingkungan Pemda
Aceh akan bertolak ke Jeddah, Arab Saudi, untuk melakukan perjalanan ibadah umroh dan 
pameran
dagang. Sedangkan puluhan pengusaha top di daerah itu lebih awal sudah menghilang dari 
Banda Aceh
menyusul merebaknya aksi teror dan pemerasan.
Sumber Waspada di Banda Aceh mengatakan, kalangan pejabat tersebut beberapa di 
antaranya sudah lebih
dahulu berangkat. Seperti Wagub Aceh Bustary Mansyur dan sejumlah Kakanwil dan Kadis 
Tk.I Aceh.
Sedangkan yang lain rencananya akan bertolak dari Banda Aceh 27 November (besok) 
dengan pesawat
komersial.
Bagaimana Gubernur Aceh? Dikabarkan dia juga akan hijrah bersama pejabat lainnya. 
Namun, karena yang
bersangkutan akan memberi penjelasan tentang persoalan Aceh di hadapan Tim Pansus 
Masalah Aceh
DPR-RI yang dijadwalkan, Senin lusa, maka rencana menunaikan umrah jadi tertunda. 
Kemungkinan
Gubernur Syamsuddin Mahmud, baru akan menyusul pertengahan Ramadhan.
Sedangkan the big five pengusaha di Aceh, menurut informasi sudah jauh-jauh hari 
meninggalkan Aceh.
Hengkangnya pengusaha pribumi ini memang tidak bisa dipisahkan dengan situasi keamanan 
di Aceh yang
kian hari semakin tak menentu. Batas dead linenya awal Desember depan, bersamaan HUT 
ke-23 GAM.
Eksodusnya sejumlah pengusaha sukses tampaknya memang bisa dipahami. Tapi, soal 
umrahnya puluhan
pejabat teras tadi telah mengundang protes tak sedap. Tidak hanya dari mahasiswa, 
kritikan keras
juga datang dari DPRD Aceh.
Kalangan dewan menilai keberangkatan para pejabat untuk menunaikan ibadah, sah-sah 
saja, jika
situasi keamanan terkendali. "Persoalannya kita kan tahu semua, situasi sedang tidak 
kondusif, masak
mereka tega meninggalkan rakyat seperti ini. Ini patut kita sesalkan," ujar 
Jauharuddin Harmay,
anggota DPRD Aceh, kemarin.
Bahkan menurut Imam Syuja' Ketua PW Muhammadiyah Aceh, jika pejabat meninggalkan 
rakyat dalam
kondisi tidak menentu seperti ini merupakan perbuatan dosa.
Keberangkatan para pejabat dalam situasi daerah Aceh yang kian tak terkendali, itu 
dianggap mereka
ingin "cari selamat" dan melepaskan diri dari tanggung jawab.
Memang, sejak berkembangnya berbagai opini negatif di tengah meningkatnya eskalasi 
gangguan keamanan
di Aceh, sampai Kamis (25/11), memaksa berlanjutnya gelombang eksodus secara 
besar-besaran. Malah,
uniknya, keluarga besar TNI/Polri pun ikut latah meninggalkan Aceh hingga batas waktu 
7 Desember.
"Kemungkinan ibu-ibu dharma pertiwi menumpang pesawat Hercules milik TNI AU," kata 
seorang anggota
Polri kepada Waspada di Banda Aceh, Rabu kemarin. Polisi berpangkat sersan ini mengaku 
baru merasa
tenang dalam tugas bila seluruh keluarganya diungsikan dari Aceh.
Sembako terancam
Heboh akan terjadinya perang besar-besaran antara kelompok yang bertikai di Aceh, juga 
berpengaruh
buruk terhadap aktivis perekonomian di daerah paling barat wilayah NKRI tersebut. 
Pasokan barang
kebutuhan sembilan bahan pokok dari daerah tingkat-II dan Sumut, dirasakan mulai 
tersendat-sendat.
Sebab, banyak pedagang yang menghentikan kegiatannya karena takut terjadi aksi 
pembakaran seperti
beberapa waktu lalu.
Di tengah kepanikan tersebut, minat beli masyarakat terhadap sembako semakin 
meningkat. Suasana itu
tidak hanya terlihat di pasar-pasar pusat perdagangan Banda Aceh saja, tapi pedagang 
pasar
tradisional pinggiran kota pun kewalahan menghadapi lonjakan pembeli.
Menurut pantauan Waspada, belum ada gejala kenaikan harga nominal barang. Begitupun 
banyak pihak
yang khawatir akan kehilangan sembako menjelang 4 Desember mendatang.
"Sudah menjadi kebiasaan, bila jumlah pembeli meningkat drastis, maka harga sembako 
akan naik dan
menghilang dari pasaran," kata seorang ibu kepada Waspada di pasar Aceh, Banda Aceh.
Hingga berita ini dikirim, suasana kota Banda Aceh masih aman-aman saja. Tidak ada 
indikasi akan
terjadi perang besar di kota spiritual ini. Begitupun, warga non Aceh yang masih 
bertahan tetap
merasa was-was karena provokasi berjalan terus.
Seorang pemuka agama di Banda Aceh yang asli putra Aceh, wanti-wanti sudah meyakinkan 
agar warga non
Aceh jangan eksodus karena sesama muslim, tanpa melihat suku dan keturunannya, adalah 
saudara.
"Pengusiran itu perbuatan provokator untuk menjatuhkan martabat orang Aceh. Kami orang 
Aceh paling
memuliakan tamu dan pendatang sepanjang tidak merusak nilai-nilai adat dan nuansa 
Islami di tanah
nenek moyang kami ini."
Marilah kita rapatkan barisan untuk menentang kezaliman, bukan malah bercera-berai. 
Nah! Sekarang
yang tertawa ria provokator itu karena berhasil melaga orang Aceh dengan suku lain. 
Ini perbuatan
terkutuk yang bertentangan dengan syariat Islam! Tulis ini di Waspada," demikian 
pemuka agama itu.
(b04/b06)
'Hak Rakyat Aceh Untuk Merdeka'

LHOKSEUMAWE (Waspada): Direktur Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia 
untuk Keadilan
(LBH-APIK) Jakarta yang juga anggota MPR Nursyahbani Katjasungkana, SH mengatakan, 
untuk merdeka itu
adalah hak rakyat Aceh. Tapi harus ada pengakuan dari dunia internasional.
Nursyahbani Katjasungkana, SH mengatakan hal tersebut kepada wartawan di sela-sela 
acara doa
perempuan Aceh dan pelantikan pengurus LBH APIK Aceh di Masjid Baiturrahman 
Lhokseumawe, Kamis
(26/11) siang.
Ketika wartawan menanyakan, kira-kira "sepakat" tidak bu, kalau Aceh Merdeka? Itu apa, 
tidak
memerlukan kesepakatan orang lain. Itu adalah hak rakyat Aceh," jawabnya.
Selaku pengamat hukum internasional, bisa tidak Aceh merdeka "tanpa izin" Jakarta. 
"Kalau menurut
hukum internasional, setidaknya itu harus ada pengakuan dari dunia internasional. 
Memang, bukan izin
seperti itu, ya. Tapi kan negara itu harus ada pengakuan, terbentuknya negara harus 
ada pengakuan,"
katanya.
Kata dia, gerakan rakyat Aceh menuntut keadilan saat ini yang dipelopori mahasiswa dan 
unsur
lainnya, dengan menuntut diadakannya referendum sama sekali bukan gerakan separatis. 
"Sama sekali
tidak sama," katanya.
Menurutnya, tindakan separatis berbeda dengan permintaan referendum, karenanya adalah 
keliru sekali
jika ada yang menyamakannya. Referendum, katanya adalah cara menyatakan pendapat dari 
rakyat dan itu
adalah Hak Azasi Manusia (HAM) juga, yang biasa dilakukan negara-negara demokratis. 
"Dikatakan
separatis, kalau itu dilakukan dengan cara kekerasan bersenjata," sebutnya.
Kata Direktur LBH APIK itu, selama ini Indonesia telah mengeksploitasi Aceh meskipun 
secara esensial
penindasan itu terjadi di mana-mana bukan hanya di Aceh saja di masa Orde Baru. "Namun 
penderitaan
warga di daerah-daerah lainnya itu tidak separah di Aceh."
Karenanya, tugas pemerintah sekarang sepertinya sangat berat karena harus menuntaskan 
berbagai kasus
yang disebutnya limbah yang ditinggalkan oleh rezim pemerintahan lama yang berkuasa 
selama 32 tahun
itu.
Pihaknya juga sependapat dengan pengamat lain yang mengatakan, seharusnya Presiden 
Abdurrahman Wahis
(Gus Dur) saat ini tetap berada di dalam negeri dan segera menuntaskan kasus Aceh.
Namun, katanya, masalah yang dihadapi Gus Dur saat ini bukan hanya masalah Aceh saja, 
tapi termasuk
kelaparan yang bakal melanda seluruh negeri. "Gus Dur di luar negeri pun juga 
mengeluarkan
statemen-statemen tentang Aceh yang berarti dia tidak melupakan daerah Serambi Mekkah 
ini," kata
anggota MPR dari Utusan Golongan ini.
Ditanya harapannya di masa mendatang mengenai Aceh, Nursyahbani Katjasungkana secara 
diplomatis
mengatakan, "berdoa sajalah", sebutnya sambil mengutip Firman Allah yang bermakna 
berdoalah niscaya
akan Ku-kabulkan. "Hanya doa yang harus selalu kita panjatkan agar tidak membutakan 
mata dan
mentulikan orang-orang yang mengambil keputusan terhadap Aceh.
Sebab jika sudah kun fayakun, hanya Tuhanlah yang tahu. "Termasuk jika Tuhan 
menghendaki merdeka,
maka hari ini juga Aceh akan merdeka," katanya.
Menyangkut pengadilan HAM terhadap aktor yang terlibat selama pemberlakuan DOM di 
Aceh, anggota MPR
dari utusan golongan itu menyebutkan, sebenarnya hal itu adalah tuntutan kedua setelah 
tuntutan DOM
dicabut. Tuntutan kedua itu adalah mengadili pelaku pelanggaran HAM termasuk 
perkosaan. Tapi
sayangnya, respon pemerintah sangat lamban sekali karena memang kalau itu dibawa ke 
pengadilan akan
meruyak ke mana-mana.
Kata dia, pihaknya sendiri merasa kalau para pelanggar yang diadili hanya pada tingkat 
prajurit yang
memang secara hukum harus diadili, tapi sebetulnya yang harus diadili adalah 
orang-orang yang
bertanggungjawab menerapkan DOM yang menyebabkan terjadinya pelanggaran-pelanggaran 
itu. Beberapa
nama yang sudah disebut-sebut, dari mantan Pangab hingga Pangdam dan Gubernur Aceh 
yang meminta
didatangkan pasukan dari pusat, yaitu Ibrahim Hasan, ujarnya.
Menurutnya, tidak ada pilihan lain bagi pemerintahan Gus Dur selain harus mengadili 
para pelanggar
HAM atau terpaksa membiarkan Aceh menentukan nasibnya sendiri. "Pilihan itu tidak bisa 
dihindari,"
cetusnya.
Apakah dunia internasional bisa mengadili pelaku pelanggaran HAM di Aceh? Ya bisa. 
Masalahnya
sekarang ini adalah ketika melakukan prosedur internasional banyak kelemahan. 
Pengadilan kriminal
internasional baru disahkan November lalu dan itu berlaku hingga terbentuknya 
pengadilan
internasional kejahatan (internasional crimer corp). Pengadilan kejahatan 
internasional ini belum
terbentuk sampai sekarang, jadi agak sulit dibawa ke internasional, tegas Nursyahbani 
Katjasungkana.
Menyangkut kompensasi terhadap korban pelanggaran HAM, dia menyebutkan, dalam prinsip 
hukum, suatu
perkara terkait dengan dua aspek, pidana dan perdata. Sudah menjadi adigium dalam 
hukum kalau
membunuh juga harus memberi kompensasi kepada korbannya namun ini kurang populer di 
Indonesia,
apalagi oleh pelanggar HAM.
Kata dia sejak tahun 1985 PBB telah mengeluarkan Deklarasi Prinsip-prinsip Keadilan 
Korban Kekerasan
dan Penyalahgunaan Kekuasaan. Di situ diatur dengan sangat rinci apa-apa yang harus 
diberikan negara
kepada para korban kejahatan penyalahgunaan kekuasaan. Mulai dari kompensasi uang, 
sekolah gratis,
kesehatan gratis dan lain sebagainya. Dan itu bukan hanya kepada korban tapi juga 
kepada anak-anak
dan keluarganya.
Lebih lanjut Nursyahbani mengungkapkan, dalam situasi apapun, perempuan dan anak-anak 
selalu menjadi
korban utama. Penderitaan itu menjadi semakin berat karena memang hampir-hampir sistim 
sosial dan
hukum tidak pernah mempersiapkan mereka menghadapi hal-hal seperti itu. "Dalam situasi 
normal saja
perempuan sudah terjepit, apalagi di masa-masa perang," katanya.
Nursyahbani mencontohkan, ketika masa DOM penderitaan kaum laki-laki agak berbeda 
dengan yang
dialami kaum perempuannya. Karena, kata dia, kaum pria hanya dibunuh saja, tetapi 
perempuan sesudah
diperkosa baru dibunuh.
Acara doa perempuan dan pelantikan LBH APIK Aceh berlangsung dengan khidmat lebih 
kurang empat jam
dihadiri sekitar 500 peserta, terdiri dari aktivis perempuan-perempuan korban DOM 
(Forjadom), maupun
peserta lainnya yang terdiri dari perempuan-perempuan yang perduli terhadap kekerasan 
terutama
terhadap perempuan di Aceh. (tim)
Pemerintah, GAM Dan RakyatAceh Harus Duduk Satu Meja

MEDAN (Waspada): Pemerintah Pusat, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan masyarakat Aceh 
harus segera duduk
di satu meja disaksikan pihak ketiga seperti PBB ataupun negara tetangga untuk 
menyelesaikan masalah
Aceh.
Demikian pendapat Direktur Eksekutif Forum Aceh Diranto (The Aceh Forum Settlement 
Foundation)
Ridwan Hanafiah dan Sekretarisnya Marzuki Mahmud di Redaksi Hr. Waspada Medan Kamis 
(25/11) sebelum
bersilaturahmi dengan Wakil Pemimpin umum Hr Waspada H. Teruna Jasa Said.
Ridwan Hanafiah menjelaskan, masalah Aceh sudah sedemikian parahnya karena sebagian 
rakyat ingin
menuntut kemerdekaan melalui referendum, tetapi Jakarta (Pemerintah Pusat) belum juga 
bergeming.
''Upaya pemerintah untuk menyelesaikan kasus di Aceh volumenya masih terlalu kecil dan 
tidak
maksimal,'' kata Ridwan Hanafiah menambahkan.
Menurut dia, Presiden Gus dur dan Wapres Megawati Soekarnoputri serta kabinetnya harus 
mempunyai
niat dan komitment jelas menyelesaikan kasus Aceh.
''TNI pun harus mendukung kebijaksaan presiden dan jangan berbuat sesuatu di luar
perintah/komando,'' tambahnya.
Menurut dia, masyarakat Aceh sebenarnya sudah sangat menderita dengan 
kerusuhan-kerusuhan yang
terjadi di Aceh dan menginginkan masalahnya diselesaikan dengan damai tanpa 
menimbulkan korban
ataupun pertumpahan darah. ''GAM dan TNI harus menghormati orang-orang Aceh dan jangan 
lagi
menjadikan mereka sebagai korban,'' ucapnya.
Direktur Eksekutif Forum Aceh Diranto Ridwan Hanafiah menilai pemerintah harus 
melakukan pendekatan
persuasif dan dialog dengan masyarakat Aceh .
Katanya, kalau pendekatan militer dilaksanakan lagi maka akan menimbulkan lebih banyak 
korban dan
mengulangi lagi cara-cara penyelesaian yang pernah ditempuh Presiden Soeharto dan BJ 
Habibie.
Menurut Ridwan Hanafiah, sudah saatnya TNI ataupun GAM membuka jelas identitas mereka 
dan
bertanggung-jawab untuk setiap kerusuhan dan kematiaan warga sipil akibat peristiwa 
tembak-menembak.
Katanya, baik GAM ataupun TNI selama ini lepas tangan dan tidak pernah mau 
bertanggung-jawab bila
terjadi pembunuhan ataupun korban yang tewas diakibatkan penembakan. ''Yang 
dikambinghitamkan selalu
pihak ketiga.''
Tidak sulit
Dia mengatakan, masalah Aceh bisa diselesaikan pemerintah bila ada keinginan politik 
yang kuat untuk
melakukannya.
Saat ini rakyat Aceh menuntut referendum dan Pemerintah Pusat harus menjawabnya 
tuntutan mereka dan
bukan kembali memberlakukan daerah darurat militer di Aceh ataupun melakukan 
pendekatan-pendekatan
kekerasan. ''Yang diminta pisang kok mau diberikan pisau,'' katanya.
Dia menegaskan, orang Aceh sebenarnya bukanlah suku sulit didekati baik ditinjau 
secara antropologi
maupun sosiologi. Katanya, sejak dulu orang Aceh sudah melakukan asimilasi kawin 
dengan suku lain
dan bisa bekerjasama secara ekonomi dengan etnis berbeda.
Tetapi, menurut dia, dalam beberapa hal orang Aceh selalu ditinggalkan pemerintah 
seperti soal
pembangunan dan mereka menjadi korban untuk kasus-kasus GAM.
Hal itulah, katanya, menyebabkan orang Aceh tidak puas sehingga ketidakpuasan mereka 
lambat laun
menggunung dan meletus saat ini.
Menurut Ridwan Hanafiah, Pemerintah Pusat sebenarnya harus melakukan pendekatan 
kemanusian dan
menggunakan perasaan untuk menyelesaikan kasus Aceh . Kalau dilakukan pemerintah 
pastilah orang Aceh
memberikan respon, sebab mereka adalah manusia.
''Selama ini Pusat hanya melakukan pendekatan kekuasaan menyelesaikan masalah Aceh, 
sehingga tak
pernah bisa mengatasi masalah,'' tambahnya.
Sedangkan mengenai ulangtahun GAM 4 Desember 1999 ini, dia berkeyakinan tidak akan 
menimbulkan
kerusuhan-kerusuhan. Katanya, kalau mereka ingin merayakan ulang tahun ataupun potong 
kerbau boleh
saja dan pihak lain harus mengerti.
Selanjutnya mengenai eksodus suku lain di Aceh ke Sumatera Utara sehubungan dengan HUT 
GAM , dia
melihat berhubungan dengan politik. Katanya, seharusnya kaum transmigran tidak 
eksodus. (m45)
Ratusan Bocah Pengungsi Derita Busung Lapar

SIGLI (Waspada): Kondisi kesehatan 10.000 lebih warga pengungsi yang bertahan di kamp 
pengungsian
Masjid Abu Di Beureueh, Beureunuen, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, sangat 
memprihatinkan.
Selain mengalami kekurangan pangan, dilaporkan ratusan bocah menderita kekurangan gizi 
dan busung
lapar.
Ratusan bocah yang menderita kurang gizi dan busung lapar, dilaporkan tidak mendapat 
perhatian
serius dari dinas/instansi terkait sehingga kondisi mereka bertambah kurus dan 
perutnya buncit, kata
sumber Rabu (24/11).
Pantauan Waspada, sejumlah bocah pengungsi itu kondisinya sangat menyedihkan, selain 
perutnya
buncit, kulit berkerut dan kondisi badannya sangat lemah, sehingga membuat sejumlah 
lembaga swadaya
masyarakat (SLM) ikut peduli.
Ir Nurtini, anggota tim independen mengatakan, sejumlah bocah yang menderita 
kekurangan gizi dan
busung lapar itu terpaksa dirujuk ke RSU Sigli dan RSUZA Banda Aceh. Mereka sekarang 
ini bagaikan
tak ada yang peduli, ungkap Noni, panggilan akrab Nurtini.
"Sangat sulit mengurus bocah kurang gizi dan busung lapar di pengungsian yang persis 
bagaikan tak
ada yang mau mengurus," kata Manawiyah seorang ibu dari Kecamatan Geumpang yang 
anaknya terserang
kurang gizi dan busung lapar.
Hal yang sama juga diungkapkan sejumlah wanita lain yang anak-anak mereka menderita 
busung lapar,
kurang mendapat perhatian dari dinas terkait. Saya pasrah saja, apalagi saya tak punya 
uang dan tak
tahu tempat mengadu. Mengharapkan suami sudah kawin dua," ujar Manawiyah.
Sejumlah mahasiswa yang berposko di komplek kamp pengungsian Beureunuen mengatakan, 
pihaknya tak
bisa berbuat banyak, seharusnya Dinas Kesehatan yang lebih peduli, namun nyatanya 
tidak," kata
Koordinator Posko Mahasiswa Said Rizal Pahlevi.
Selain ratusan bocah menderita kekurangan gizi dan busung lapar, menurut Said Rizal, 
sejumlah orang
tua juga banyak yang mengalami gangguan kesehatan dan banyak di antara mereka sudah 
dirujuk ke RSUZA
Banda Aceh. "Seharusnya pengungsi mendapat perhatian serius dari dinas terkait dan 
pemerintah
daerah," tambah Said Rizal.
Aktivis LSM, Ir Nurtini mengharapkan, pemerintah daerah dan dinas terkait peduli 
terhadap nasib
ratusan bocah yang selama berada di kamp pengungsian juga sudah putus sekolah.
Kepala Puskesmas Mutiara dr Abdul Hamid, juga mengakui banyak warga pengungsi terancam 
berbagai
jenis penyakit. Saya selalu mengingatkan agar kebersihan lingkungan tetap dijaga dan 
jangan makan
serta minum sembarangan," katanya.
Pihak kami, kata Hamid, tetap peduli terhadap setiap warga pengungsi. Kami telah 
berusaha maksimal
sesuai kemampuan yang ada, namun penyakit tetap saja menghinggapi mereka, 
tambahnya.(b18)
Ratusan Pelajar Show Of Force Di Banda Aceh
Tolak Pemberlakuan Darurat Militer

BANDA ACEH (Waspada): Ratusan pelajar SLTP dan SMU yang tergabung dalam Solidari-tas 
Pelajar Untuk
Rakyat (SPUR) dan Kesatuan Aksi Pelajar Aceh (KAPA), Kamis (25/11), melakukan show of 
force
mengelilingi kota Banda Aceh.
Sebelumnya, para pelajar yang berasal dari seluruh dati-II di Aceh ini melakukan apel 
akbar di
lapangan Blang Padang yang tujuannya mensosialisasikan referendum di kalangan pelajar. 
"Kami
menginginkan semangat referendum terus bergema di Aceh," ujar Syahrul Razi, 
koordinator bersama aksi
tersebut.
Kemudian, dengan mengendarai truk, kenderaan roda dua dan juga yang berjalan kaki, 
ratu-san pelajar
ini melakukan aksi mengeliling kota Banda Aceh. Para pelajar dengan semangat 
meneriakkan kata-kata
referendum di sepanjang jalan merekan lalui.
Usai berkeliling, para pelajar ini mendatangi gedung DPRD-I Aceh untuk menyampaikan 
pernyataan sikap
dari Forum Pelajar Aceh yang intinya menolak pemberlakukan status darurat militer 
dalamimplementasi
apa pun di Aceh. Disitu, mereka diterima Zaini Jalil SH anggota DPRD-I Aceh dari 
Fraksi PDI-P.
Di hadapan Zaini Jalil, para pelajar dengan tertib menyampaikan orasi-orasi secara 
bergantian.
Menurut mereka, pendekatan militeristik yang saat ini diterapkan pemerintah Indonesia 
dalam
menyelesaikan kasus politik di Aceh hanya mengakibatkan tumpahnya darah dan hilangnya 
nyawa
manusia-manusia tak bersalah.
Penerapan Daerah Operasi Militer (DOM), menjadi saksi sejarah yang telah mengakhiri 
kehidupan ribuan
rakyat serta merobek kehormatan ratusan perempuan, yang aksesnya muncul ribuan anak 
yatim piatu dan
anak-anak yang tidak memiliki masa depan serta generasi bodoh di Aceh.
Karenanya dalam pernyataan sikap para pelajar menyatakan tetap akan memperjuangkan 
referendum sampai
titik darah terakhir serta menolak berbagai bentuk pendekatan militeristik dalam 
menyelesaikan
ketidakadilan politik di Aceh.
Para pelajar juga dengan tegas menolak pemberlakuan Darurat Militer di Aceh dan 
menuntut pembubaran
semua institusi teritorial TNI di daerah ini serta mendesak amnesti umum bagi tapol 
dan napol Aceh.
Usai membacakan pernyataan sikap, Syahrul Razi yang didampingi Rahmat dari SPUR 
menyerahkan kepada
Zaini Jalil SH untuk ditandatangani. Dengan penuh ketenangan, anggota termuda dari 
FPDI-P
menandatangani pernyataan sikap yang diserahkan wakil pelajar Aceh tersebut.
Dalam aksi yang berlangsung selama hampir empat jam tersebut dikabarkan tidak 
menimbulkan seorang
korban pun. Bahkan bisa dikatakan aksi tersebut berjalan cukup tertib dan mulus, 
dimana hanya
terlihat beberapa petugas yang siaga untuk menjaga segala kemungkinan yang bakal 
terjadi.
Dalam kesempatan yang sama, utusan dari BEM Unaya dan Solidaritas Pelajar Aceh Untuk 
Rakyat
Tertindas (Sparatis) juga menyampaikan pernyataan sikap tentang kasus penembakan 
terhadap dua orang
mahasiswa yang terjadi di kawasan Geuceu Menara Banda Aceh dua hari lalu.
Mereka menyatakan sangat mengutuk peristiwa penembakan tersebut dan menuntut agar 
aparat berwenang
untuk segera mengusutnya hingga tuntas serta menyeret pelakunya ke pengadilan. 
(b07/cik)

Melecehkan Relawan Wakampas
Anggota TNI Akan Dimahmilkan

BANDA ACEH (Waspada) : Gara-gara menelanjangi seorang aktivis LSM Yasma yang menjadi 
relawan
Wakampas di Bakongan, Aceh Selatan, Lettu Inf R Sumanti, anggota Yonif 131 Padang 
bersama lima orang
temannya, segera akan dimahmilkan, kata Danrem 012/TU Kol Inf Syarifuddin Tippe.
"Kalau visum membuktikan mereka melakukan penganiayaan terhadap relawan itu, maka 
Komando akan
menyeret tersangka ke Mahmil. Pokoknya kata tidak segan-segan menindak oknum TNI yang 
menyakiti hati
rakyat. Laporkan segera ke saya, pasti saya tindak," kata Danrem 012/TU di dampingi 
Danden POM I/2
BB Mayor CPM Soekir, di Banda Aceh, Selasa (23/11).
Peristiwa yang menimpa Haikal bersama lima orang temanya ini, terjadi Kamis (18/11) 
lalu, berawal
ketika sejumlah pasukan TNI sekitar pukul 17.00 WIB, datang ke lokasi para pengungsi 
dengan
menumpang dua kendaraan roda empat.
Kepada wartawan di Banda Aceh, Haikal mengakui, setibanya di lokasi tersebut, aparat 
TNI itu
langsung mengobrak-abrik kemah para pengungsi dan mengusir mereka untuk pulang ke 
desanya
masing-masing.
Melihat para pengungsi kucar-kacir dan ketakutan. Haikal bersama lima temanya itu, 
meminta aparat
untuk tidak bersikap kasar kepada para pengungsi. Karena, menurutnya, itu adalah hak 
rakyat sipil
untuk berlindung, dimana saja yang mereka rasakan lebih aman.
Namun, kata Haikal, para aparat TNI tersebut, tidak menggubris apa yang disampaikan 
oleh relawan
yang sedang melaksanakan tugas kemanusiaan itu. Bahkan, para relawan ini, diusung 
aparat secara
paksa untuk naik ke mobil mereka dan membawanya ke Makoramil Bakongan, tempat aparat 
TNI non organik
itu di BKO kan.
Sampai di markas aparat TNI itu, jelasnya, ia bersama teman-temannya dimasukkan ke 
dalam ruangan dan
dilucuti pakaiannya. "Di badan kami yang tinggal hanya celan dalam," sebut relawan itu.
Menurut Haikal, seorang aparat TNI, yang belakangan diketahuinya sebagai Komandan 
Pleton, mendekati
yang memopor dadanya dengan gagang senjata yang dipegang sang Danton itu. Dan dari 
mulut teman-teman
saya mendengar mereka mengucapkan Allahu Akbar....," ungkapnya.
Tidak hanya itu, kata Haikal, dagunya juga menjadi sasaran empuk sang komandan, hingga 
darah segar
pun mengucur membasahi tubuhnya dan lantai tempat ia berdiri. Kemudian, teman-teman 
Haikal pun terus
menerus 'digilir' dengan popor senjata.
"Sekira tengah malah, kami dipisahkan ke dalam dua ruangan, masing-masing tiga orang. 
Di-sinilah
kami ditelanjangi," ujarnya
Setalah itu menurut pekerja kemanusiaan ini, mereka kembali dimasukkan ke dalam sebuah 
ruangan dan
disuruh berjejer untuk difoto latar belakang bendera GAM. Kemudian, kelima temannya 
itu,
diperintahkan menumpang sebuah minibus L-300 menuju arah Tapak Tuan.
Namun, sebutnya, mereka tidak sampai ke sana. Karena, sesampai di Kawasan Terbangan, 
ada sejumlah
massa sedang melakukan sweeping. Mereka diturunkan di tempat itu, dan selanjutnya 
mendapat perawatan
masyarakat setempat.
"Saya sendiri, baru dilepaskan esok harinya, setelah datang anggota DPRD setempat ke 
markas aparat
TNI tersebut," katanya.
Setelah beberapa saat dapat perawatan dari warga setempat, Haikal bersama lima relawan 
lainnya,
masing-masing, Zairi Karnaini, Ahmad Fadli, Razikin dan Rizal Sabri, keempatnya Mhs 
Unsiyah dan Mohd
Dinar, Mhs IAIN Ar Raniry, dibawa ke Rumah Sakit Dr Zainoel Abidin, Banda Aceh, untuk 
mendapat
perawatan secara intensif.
Selain itu, Danrem 012/TU, mengaku, pihaknya telah memerintahkan Dandim Aceh Selatan, 
untuk membantu
Den POM I/2 BB dalam melakukan penyidikan terhadap kasus ini. (tim)
-----------------------------------------------------------------------

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 26 Nov 1999 jam 08:31:20 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke