----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

KOLOM SUPANGKAT:

    POLA LAMA POLITIK LN: GERBONG KEROYOKAN (BANDWAGON)
MENGAPA KITA KORBAN MALAPETAKA, MASUK LAGI MALAPETAKA?
                    PERANG DINGIN SUDAH USAI

Indonesia sebagai negara besar tampaknya belum bisa meninggalkan politik luar
negeri kuno berupa "Gerbong Keroyokan" (Bandwagon) a la Alatas jaman Perang
Dingin walaupun Perang Dingin sudah lama usai. Tapi sebagai Penasihat Menlu
Alwi Shihab rupanya ia masih berpengaruh.

Demikian pula politik "membonceng" negara besar lainnya, dalam hal ini, RRC,
masih juga disinabungkan, malah ditingkatkan menjadi "poros porosan" a la
Sukarno yang telah ditinggalkan oleh Suharto. Politik membonceng RRC ini
hanya untuk "pinjam" veto RRC di Dewan Keamanan dalam soal Timtim.

Tujuannya tentu saja untuk kepentingan politik dalam negeri, namun jalan yang
ditempuh terlalu ortodoks. Alatas dengan tujuan "mengemong" ego besar Suharto
telah menghidup hidupkan Non Blok yang sudah mati, OKI (Organisasi Konpe-
rensi Islam), keduanya merupakan penghamburan dana, terutama Non Blok.

Padahal Non Blok sudah irelevan karena punahnya Perang Dingin. Tapi Alatas
berdalih Non Blok masih hidup, setidaknya untuk kepentingan ekonomi.
India, Yugoslavia, Mesir sudah tidak mau membesar besarkan Non Blok karena
mereka melek realitas, Alatas membuta terus demi menjilat Suharto yang
dengan segala senang hati mengotorisasi pengeluaran dana secara berlimpah
sekalipun dengan menyelewengkan uang pinjaman luar negeri yang dijadikan sumbernya.

Menlu Nicaragua, seorang dokter mata, terheran heran atas gerakan Non Blok
Indonesia: "Why Nonaligned?", "Why Nonaligned?".................Setelah saya
jawab: "Untuk mendapat dukungan internasional tentang Timtim", ia kembali
bertanya: "Apakah dukungan internasional itu diperoleh atau tidak?" Nyatanya
tidak atau terbatas sekali, Nicaragua menyatakan mendukung, namun dalam
voting Komisi HAM Jenewa justru abstain dan Indonesia tetap dikutuk.

OKI adalah kartu mati sejak semula. Tujuan untuk mempersatukan negara negara
Islam melawan Israel dan Barat jangankan bisa dicapai, didekati pun tidak.
Dukungan untuk politik integrasi Indonesia dalam prakteknya tidak bisa dijabarkan,
negara Afrika bekas jajahan Portugal dalam voting tetap negatif.

Kalau Presiden Gus Dur mau mencari dukungan internasional OKI untuk politik
Aceh Indonesia, maka hal ini hanya mendemonstrasikan kelemahan belaka, se-
olah olah kita sudah tidak berdaya dan memerlukan dukungan luar negeri untuk
mempertahankan diri terhadap arus separatisme.

Konon Qatar, dll sudah mulai begerak untuk mendukung Indonesia.
Apakah separatisme Aceh bisa digagalkan dengan dukungan Qatar dan OKI?
Bukan lagi sangat meragukan, melainkan mustahil.

Poros porosan a la Orde Lama?

Perang Dingin sudah usai. Lagi politik bebas aktif praktis tidak pernah bisa
dipraktekkan karena kita memilih apa yang disebut Kissinger sebagai "alignment
of the nonaligned" dengan kepincangan "equodistance".

Sudah bukan jamannya lagi. Sekarang ini jaman revolusi komunikasi, seluruh
dunia sudah menjadi satu poros. Poros porosan adalah politik Perang Dingin
yang tidak bebas walaupun aktif melawan satu blok, blok Barat. Indonesia su-
dah menjadi korban Perang Dingin mulai dari G30S sampai Timtim yang maha-
berat akibatnya sampai detik ini dan boleh jadi sampai beberapa generasi mendatang.

Apakah malapetaka ini tidak bisa ditelaah hikmahnya?

Alangkah bodohnya kita ini mau mengulangi kebodohan berkesinabungan wa-
laupun sudah menderita malapetaka!

Poros porosan dengan RRC mempunyai potensi malapetaka baru karena:
1. Masalah peluru kendali nuklir yang merupakan ancaman terhadap Amerika
    dan Jepang.
2. Masalah Taiwan yang merupakan bom waktu nuklir Cina-Amerika.

Tidak mengherankan Amerika kelabakan waktu Presiden Gus Dur mengumum-
kan politik Poros porosan ini, mungkin ia sudah mendapat briefing dari
Presiden Clinton.

New York, 27 Nopember 1999.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 29 Nov 1999 jam 02:27:06 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke