---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Soal Kasus Pengungsi Keracunan: 'Kuah Leumak Bawa Malapetaka' BANDA ACEH (Waspada): Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan bahwa kuah leumak (kuah bersantan) dan sayur bening yang dikonsumsi para pengungsi diduga terkontraminasi racun serangga, kata Drs, Dany Djatoha, Kepala Balai Penelitian Obat dan Makanan (POM) Aceh. Sementara, pada hari yang sama, ratusan warga transmigrasi Desa Panca, Kecamatan Seulimum, mulai eksodus dan 'bergabung' dengan para pengungsi dari enam desa di kecamatan tersebut. Warga transmigran itu, ditampung di salah satu SD Negeri, yang tidak jauh dari Masjid Jamik Seulimum. Kepala Balai Penelitian Obat dan Makanan itu, kepada Waspada, Selasa (30/11), menjelaskan, jenis dan tingkat kandungan racun serangga dalam sayur yang dikonsumsi pengungsi di Masjid Seulimum, Aceh Besar itu, belum dapat dipastikan. "Staf kami sedang berupaya meneliti jenis dan kadar pestisida yang ada dalam makanan tersebut. Besok baru akan kita peroleh keterangan yang lengkap," kata Drs Dany Djatoha. Kepala Dinas Kesehatan Aceh Besar, dr. H. Bakry Abdullah, yang dikonfirmasi Waspada di kediamannya membenarkan hasil penelitian tersebut. "Ada kemungkinan racun serangga itu sengaja ditaburkan ke dalam kuah lemak yang dikonsumsi pengungsi. Karena, dari sampel yang diambil, baunya cukup menyengat hidung," ungkapnya. Diduga racun serangga itu dimasukkan oleh seorang wanita 'misterius', ke dalam sayuran yang telah dimasak. Wanita tersebut hingga kini masih terus diburu para mahasiswa dan relawan, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya itu. Ichsan, seorang relawan untuk pengungsian Lam Tamot, menjelaskan, jiwa para pengungsi dapat terselamatkan berkat kesigapan paramedis dan relawan serta mahasiswa yang ikut membantu mengangkut korban ke rumah sakit dan puskesmas terdekat. "Mereka telah melewati masa kritis. Dan umumnya kondisi kesehatan mereka telah mulai pulih," tutur Ichsan. Namun demikian, kata dia, hingga saat ini, masih ada beberapa di antara pengungsi yang masih memerlukan pengobatan dan perawatan secara intensif. Menurutnya, para pengungsi yang masih menjalani perawatan serius itu, disebabkan kondisi fisiknya yang masih sangat lemah. "Mungkin karena, tingkat keracunan yang mereka derita lumayan serius, jika dibanding dengan korban yang lain," ujarnya. Dari posko relawan untuk korban racun pestisida, yang digelar di Rumah Sakit Umum dr.Zainoel Abidin Banda Aceh, diperoleh keterangan, para pengungsi itu dipulangkan ke lokasi dengan menggunakan beberapa kenderaan roda empat yang disediakan Pemda Aceh Besar. Sementara, dari lokasi pengungsian, koresponden Waspada melaporkan, ratusan warga transmigrasi yang selama ini bermukim di Desa Panca, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar, sejak Senin (20/11) malam, sekitar pukul 20:30 meninggalkan tempat tinggal mereka dan bergabung dengan para pengungsi lainnya di Masjid Jamik Seulimum. Kedatangan etnis non Aceh ini, disambut dengan penuh keakraban dan linangan air mata haru oleh para pengungsi dari enam desa lainnya yang lebih dahulu telah mengungsi ke tempat tersebut. "Karena daya tampung di Masjid Seulimum sangat terbatas , warga setempat terpaksa menampung mereka di SD setempat, hanya puluhan meter dari masjid. Bahkan, keamanan mereka yang ikut mengungsi itu, kami yang menjaganya," sebutnya salah seorang warga setempat. Sementara itu, ratusan warga Lam Tamot, Aceh Besar, yang tidak tertampung di lokasi pengungsian Masjid Jamik Seulimum, sejak Senin malam mulai berdatangan ke Banda Aceh. Oleh mahasiswa, para pengungsi itu, kini ditampung di Masjid Kampus Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh. "Kami sangat berterima kasih kepada mahasiswa yang telah membantu kami. Sebab, setelah kejadian penembakan warga oleh aparat, kami takut berada di desa. Karena, di sana, sekarang banyak masuk aparat. Kami tidak tahu apa yang mereka cari," ungkap salah seorang pengungsi. Tinjau Pengungsi Aceh Di tempat terpisah, Pangdam-I/BB Mayjen TNI Afandi Sip meninjau langsung pengungsi Aceh di Panti Parmadi Putra Insaf Jl. Wiliam Iskandar Medan/Jl. Pancing dan Transito Jl. Belawan Selasa (30/11). Dalam peninjauan Pangdam didampingi Asistel Kasdam I/BB Kol. Inf. M.Yahya, Aster Letkol Czi Drs Mardjono, Ka. Pendam I/BB Letkol Inf Drs H. Nurdin Sulistyo serta perwakilan Anggota DPRD Tk-I dari fraksi TNI, Dandim 0201/BS Letkol Kav. M. Hariyanto diterima langsung Kakanwil Depsos Sumut Drs M. Himatul Anwar. Ditengah-tengah pengungsi, Pangdam I/BB menyatakan turut merasa sedih dan terpukul setelah mendengar dan melihat langsung Exsodus warga Aceh ke daerah ini. Kedatangan kami kemari untuk berbagi rasa dengan bapak-bapak dan warga pengungsi agar tetap tabah menghadapi musibah yang sedang terjadi saat ini. Pangdam mengharapkan agar para pengungsi selama berada di daerah Medan, dapat menjaga ketertiban dan keamanan, dan hilangkan perasaan tidak cocok ataupun tidak enak sesama warga, karena anda semua harus senasib dan sepenanggungan dan lebih ditingkatkan rasa persatuan dan kesatuan serta menjalin tali persaudaraan sesama warga pengungsi maupun di sekitar tempat kita berada, jelas Affandi.(tim) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 1 Dec 1999 jam 08:05:22 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
