----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 4 Desember 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

AJAKAN DIALOG MB GAM EROPA KEPADA PENGUASA GUS DUR
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

Tanggapan untuk Pres Gus Dur dan MB GAM Eropa.

SIKAP GUS DUR TERHADAP AJAKAN DIALOG MB GAM EROPA

Pagi ini, Sabtu, 4 Desember 1999, saya menerima Seruan dari MB GAM Eropa
dalam rangka memperingati proklamasikan ke 23 berdiri kembali Aceh
berdaulat dan merdeka oleh Dr. Teungku Muhammad Hasan di Tiro 4 Desember
1976, yang ditulis oleh Dr Husaini Hassan melalui bagian Penerangannya
saudara Syahbuddin Abdurrauf  yang beralamat di MARKAS BESAR GAM EROPA
P.O. Box 2084, 14502 Norsborg, Sweden Fax: 00-46-8-53188460

Setelah saya membaca isi seruan Saudara Husaini Hassan diatas, ada hal
yang sangat menarik bagi saya untuk digaris bawahi dan diadakan tindakan
langkah selanjutnya. Dimana isi sebagian dari seruan MB GAM Eropa yang
saya anggap penting ini, ternyata sebagian besar telah saya tulis dalam
tulisan "Jalan terbaik duduk berunding Gus Dur dan Rakyat Aceh" (
http://www.dataphone.se/~ahmad/991123.htm ).

Dalam tulisan itu saya menyampaikan bahwa
"Jalan terbaik penyelesaian Aceh adalah Pemerintah Gus Dur dan semua
yang terlibat dalam krisis Aceh secara bersama-sama duduk dibelakang
meja bundar, siap untuk membicarakan persoalan-persoalan yang sedang
menimpa rakyat Aceh. Dalam perundingan, dialog, pembicaraan, diskusi
mengenai krisis Aceh ini harus ada yang menyaksikan. Saksi ini harus
disepakati oleh kedua belah pihak. Adanya saksi ini menurut pemikiran
saya adalah suatu yang adil. Artinya, adanya saksi bisa menjadi dasar
pegangan untuk benar tidaknya, dipatuhi tidaknya apa yang telah
dibicarakan dalam perundingan tersebut. Saksi harus yang netral dan
tidak memihak. Bisa dalam bentuk salah seorang wakil dari salah satu
negara yang netral. Bisa orang yang dianggap netral yang bukan orang
warga Indonesia. Bisa juga warga Indonesia yang oleh kedua pihak
dianggap orang yang netral. Pelaksanaannya harus di suatu tempat yang
netral. Artinya bisa disalah satu negara yang netral yang telah
menyiapkan untuk dijadikan negaranya tempat berunding. Mengapa
berunding? Karena walaupun Pemerintah Gus Dur tidak mengakui semua pihak
yang terlibat dalam krisis Aceh, seperti GAM/AGAM (terlepas apakah
gerakan mereka itu Islam atau sekuler), tetapi, menurut pemikiran saya,
mereka adalah salah satu paktor yang terlibat dalam krisis ACEH. Soal
diakui tidaknya GAM/AGAM secara de facto oleh Pemerintah Gus Dur
bukanlah suatu soal. Yang menjadi soal adalah secara realita dilapangan
GAM/AGAM ini memang punya peranan yang penting yang menurut pemikiran
saya Gus Dur tidak boleh mengabaikannya.". (
http://www.dataphone.se/~ahmad/991123.htm ).

Nah sekarang perhatikan dan telaah apa yang ditulis oleh saudara Husaini
Hassan dalam seruannya yang menyangkut masalah dialog dengan Penguasa
Gus Dur. Seruan Husaini Hassan berisikan,

"Pimpinan GAM telah menetapkan politik untuk dialog atau perundingan
dengan RI sebagai berikut:

PERTAMA
Setiap dialog antara GAM dengan pemerintah RI harus didampingi oleh
pihak ketiga (negara) yang netral dan diterima oleh kedua pihak.

KEDUA
Dialog dilakukan di salah satu negeri netral yang diterima oleh kedua
pihak.

KETIGA
Dialog dilakukan untuk menerima pelaksanaan referandum dengan pilihan
(opsi) merdeka bagi Aceh.

KEEMPAT
Dialog untuk mengakui bahwa Aceh yang mempunyai latar belakang sejarah
sebagai satu negara yang berdaulat, bangsa Aceh mempunyai hak menentukan
nasib diri sendiri di dalam satu negara yang merdeka, lepas dari RI.

Berdasarkan pengakuan itu dapat dilakukan perundingan yang berkaitan
dengan berbagai hal dan kepentingan lainnya antara kedua pihak.
Pemerintah RI harus ingat, bahwa pada tanggal 27 Desember 1949, Belanda
secara ilegal telah menyerahkan
Aceh ke tangan Indonesia. Padahal, tahun 1942 Belanda angkat kaki dari
Aceh sebelum ada maklumat mereka menyerah kalah dari lasykar Aceh". (
Dr. Husaini Hassan, BERSATU DAN KHIDMAT MEMPERINGATI 4 DESEMBER, Menteri
Pendidikan dan Penerangan Aceh Merdeka, Anggota MP GAM, Ketua MB GAM
Eropa, 4 Desember 1999).

SIAPA YANG KUAT DAN SIAPA YANG LEMAH

Dimana dalam perundingan ini nantinya akan terlihat siapa yang mempunyai
kekuatan dan mempunyai kartu-kartu yang bisa ditampilkan untuk diberikan
dan dipakai jalan penyelesaian krisis Aceh.

Bagi pihak yang lemah, sudah barang tentu tidak punya kartu yang
disodorkan apalagi untuk jalan pemecahan dan penyelesaian krisis Aceh.
Tentu saja bagi pihak yang lemah ini untuk kompensasinya hanya dengan
melalui teriakan-teriakan yang seolah-olah besar dan kuat padahal isinya
keropos.

Bagi pihak yang kuat, sudah barang tentu siap dengan kartu-kartu yang
bisa dikorbankan dan dijadikan bahan pemecahan dan penyelesaian krisis
Aceh. Tentu saja bagi pihak yang kuat ini akan melahirkan
gagasan-gagasan yang baik dan positif untuk mencapai keberhasilan
penyelesaian krisis Aceh. ( http://www.dataphone.se/~ahmad/991123.htm ).

APA YANG HARUS DILAKUKAN GUS DUR

Seperti yang telah ditulis dalam tulisan "Gus Dur lemparkan referendum
Aceh kepada Amien dan Akbar" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/991292.htm
), saya mengajukan usul yaitu,

"Cara pendekatan dan dasar yang dipakai untuk memecahkan Aceh adalah,
1. Islam
2. Sejarah Kesultanan Islam Aceh
3. Perlawanan gigih ulama dan pimpinan muslim Aceh terhadap Portugis dan
Belanda
4. Negara Islam Indonesia di wilayah Aceh

1. Islam
Islam merupakan agama yang dianut oleh seluruh rakyat Aceh dari sejak
abad ke 12. Berdasarkan Islam inilah seharusnya pendekatan dan dialog
yang akan diadakan antara rakyat Aceh dengan Penguasa dan rakyat
Indonesia.

2. Sejarah Kesultanan Islam Aceh
Dari mulai abad ke 12 sampai tahun 1350 Kerajaan (Kesultanan) Islam
telah berdiri di Aceh, dibawah nama Kerajaan Islam Samudera-Pasai dengan
Raja (Sultan)-nya Malik ul Saleh dan diteruskan oleh cucunya Malik ul
Zahir.

Di awal abad ke 15 tegak kembali Kesultanan Aceh, setelah hampir 160
tahun ada di bawah pengawasan Kerajaan Majapahit-Hindu, dengan
pemimpinnya dari mulai Sultan Ali Mukayat Syah (1514-1528), diteruskan
oleh Sultan Salahuddin (1528-1537), dilanjutkan oleh Sultan Alauddin
Riayat Syahal Kahar (1537-1568), dikebangkan oleh Sultan Ali Riyat Syah
(1568-1573), kemudian dipimpin oleh Sultan Seri Alam (1576 dan
dijalankan oleh Sultan Muda (1604-1607) dan diakhiri oleh Sultan
Iskandar Muda dengan gelar marhum mahkota alam (1607-1636).

3. Perlawanan gigih ulama dan pimpinan muslim Aceh terhadap Portugis dan
Belanda
Perlawanan terhadap Portugis yang telah menjajah Malaka pada tahun 1511
yang dipimpin oleh Sultan-sultan diatas dari Kesultanan Islam Aceh. Yang
diteruskan oleh Sultan Machmud Syah melawan Belanda yang telah
mendeklarasikan perang melawan Aceh pada tanggal 26 Maret 1873. Perang
Aceh terus berlangsung sampai tahun 1904 dibawah pimpinan Sultan Machmud
Syah, Panglima Polem, Teuku Umar, Cut Nya' Dien dan Tuanku Muhammad
Dawot (pengganti Sultan Machmud Syah yang wafat).

4. Negara Islam Indonesia di wilayah Aceh
Setelah perang Aceh berakhir tahun 1904 dan Indonesiapun telah kembali
menjadi RI pada tanggal 14 Agustus 1950 setelah diadakan pengakuan
kedaulatan RIS oleh Belanda pada tangal 27 Desember 1949. Kemudian 3
tahun setelah RIS bubar dan kembali menjadi RI, Daud Beureueh di Aceh
pada tanggal 20 September 1953 memaklumatkan Negara Islam Indonesia di
bawah Negara Islam Indonesia yang dipimpin oleh Imam SM Kartosoewirjo".
( http://www.dataphone.se/~ahmad/991292.htm ),

Nah dari keempat pendekatan diatas adalah dasarnya hanya satu yaitu
Islam.
Jadi dengan dasar Islam-lah yang harus dijadikan sebagai titik tolak
perundingan atau dialog antara Penguasa Gus Dur dengan MB GAM Eropa.

Apabila MB GAM Eropa ingin mendirikan negara sekuler, maka itu
bertentangan dengan apa yang telah diperjuangkan oleh nenek moyang Aceh
dari sejak abab ke 12 sampai masa Kepemimpinan Daud Beureueh dengan
NII-Aceh-nya di bawah Negara Islam Indonesia pada periode tahun
1953-1962.

Inilah sedikit tanggapan untuk Pres Gus Dur dan MB GAM Eropa.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 4 Dec 1999 jam 11:58:54 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke