---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- GAM BANTAH PERNAH BERDIALOG DENGAN DUS DUR BANDA ACEH, Radio Nikoya-FM (Rabu, 15/12). Berbagai upaya penyelesaian persoalan Aceh hingga kini terus dilakukan oleh Presiden Gus Dur, menurut KH. Said Agiel Siradj, orang dekatnya Gus Dur, "bahwa secara diam-diam, Presiden Gus Dur telah bertemu dengan tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan tokoh Aceh lainnya. Dari pertemuan itu, mereka sepakat tetap bergabung dengan Indonesia," tutur Agiel di Jakarta, Senin lalu kepada wartawan. Untuk segera menyelesaikan kasus Aceh ini, Agiel juga mengharapkan agar semua pihak untuk bersama-sama menyatukan komitmen kebangsaannya. "Jangan justru hanya menyalahkan Presiden. Selalu menuding Gus Dur yang bersalah, Presiden tidak mampu dan sebagainya. Persoalan Aceh itu persoalan bangsa bukan persoalan Aceh semata," tambahnya. Dari pernyataan KH. Said Agiel Siradj tersebut, kelihatannya ada sebuah kemajuan dalam penyelesaian konflik di Aceh yang berkepanjangan dan merenggut banyak korban baru itu, melalui sebuah kompromi politik dengan tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dilakukan oleh Presiden. Namun Rabu (15/12) pagi, pimpinan Biro Penerangan Aceh Sumatera National Liberation Front (ASNLF / GAM) di Denmark, Tengku Yusra Habib Abdul Gani dalam suratnya yang diterima Redaksi Radio Nikoya-FM membantah isu kalau telah adanya sebuah pertemuan rahasia dengan Presiden Gus Dur, "sama sekali belum pernah terjadi dialog antara GAM dengan rezim Jakarta baik secara diam-diam maupun terbuka. Dengan begitu fitnah terhadap bangsa Acheh untuk kesekian kalinya telah dibuat oleh pemimpin "Indonesia"-Jawa melalui kaki tangannya. Dalam kultur masyarakat "Indonesia"-Jawa, agama kadang kala dipandang sebagai najis yang mesti disingkirkan. Tidak ada pantangan membuat fitnah. Perkara ini terjadi karena semua politisi di "Indonesia" telah dibentuk dari acuan yang rapuh. Mereka tidak mempunyai tempat bergantung dalam perkara politik dan nilai-nilai peradaban manusia yang paling hakiki, humanis dan demokratis ", tutur Yusra Habib. Tengku Yusra Habib Abdul Gani, aktivis Aceh Merdeka kelahiran, Kenawat-Takengon (Aceh Tengah) 12 April 1955 itu, juga mengatakan, "dalam perang Surabaya tahun 1945, di-kumandang-kan kalimah Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, tetapi bukankah kemudian dari kalangan ini pula yang menjegal syari`at Islam di Indonesia ? Apa yang dilakukan Soekarno terhadap bangsa Acheh. Bukankah janji-janji yang diikuti dengan pengkhiantan ? Kini Gus Dur dan Amien Rais, yang keduanya lebih dikenali sebagai pemimpin organisasi Islam juga telah nyata-nyata menipu bangsa Acheh. Dalam pandangan politik dan untuk menjaga kesinambungan penjajahan di Acheh, pemimpin-pemimpin 'Indonesia' telah kehilangan semua pertimbangan logis, humanis dan demokratis-nya, untuk diketahui oleh semua bangsa Acheh, jika akan terjadi juga di kemudian hari suatu dialog terbuka antara GAM dengan rezim berkuasa Indonesia dengan syarat-syarat yang telah kami kemukakan sebelumnya, maka kami akan mengumumkan secara resmi kepada seluruh masyarakat dunia. Perlu diketahui bahwa satu-satunya sumber GAM adalah yang bernaung di bawah kepimpinan Tengku Hasan M. di Tiro", tutur ayah 3 orang putra (Kenna Yuri Pemulodia, Wien Fikri Azima dan Peteri Linge), yang menetapkan syarat utama dalam pertemuan dialog antara pimpinan ASNLF/GAM, Tengku Hasan M di Tiro dan Presiden Gus Dur itu dihadapan Badan Dunia (PBB) serta mesti juga melibatkan Amerika, Inggeris dan Utusan Parlemen Eropa, dikarenakan menurut ASNLF, dalam sejarah Aceh telah membuktikan peranan negara-negara ini ketika tercetus perang antara Kerajaan Belanda dengan Kesultanan Acheh masa lalu. Sementara itu, Jafar Siddiq, pimpinan International Forum for Aceh (IFA) di New York, dalam mengomentari pernyataan dan ancaman dari Lee Kuan Yew, mantan menteri senior dan tokoh berpengaruh di Singapura bagi keinginan besar warga masyarakat di propinsi Daerah Istimewa Aceh untuk merdeka serta dukungan dari pemimpin negara-negara Asean kepada Presiden Gus Dur agar Aceh tetap berada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, kemarin, mengatakan, "menurut hemat saya pernyataan para pemimpin Asean, serta beberapa negara lain bahwa mereka mendukung integritas wilayah Indonesia tidak lebih dari basa basi diplomatik saja, standar umum antar negara. Hampir tidak pernah kejadian ada negara menyatakan dukungan secara terbuka terhadap gerakan kemerdekaan di negara lain. Dukungan biasanya baru akan datang paling cepat setelah kemerdekaan secara defacto itu berujud", katanya. Persoalan Aceh terlihat semakin ada titik terang kearah penyelesaiannya, karena Hasan di Tiro dan Gus Dur sama-sama bersedia untuk berdialog dan berkompromi dengan sejumlah syarat, persoalannya mungkin tinggal sejauh mana kedua belah pihak dapat menerima persyaratan untuk dialog itu, hanya dengan niat yang tulus dan kejujuran sajalah duanya akan dapat saling bertemu dalam satu meja perundingan untuk menyelesaikan persoalan umat yang sedang sakit ini. (Tim). News Division RADIO NIKOYA 106.15 FM Banda Aceh Hit Radio Station Jaringan Radio Independen Unesco-PBB http://www.nikoyafm.dk3.com http://come.to/nikoyafm Fax : +62.651.21071 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 15 Dec 1999 jam 07:17:37 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
