----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Republika, 13 Desember 1999

Aceh: Menciptakan Keberanian untuk Hidup

Anhar Gonggong - Staf Pengajar pada Pascasarjana Universitas
Indonesia

Beberapa saat saya termenung membaca berita, ''kalau bendera
Merah Putih diturunkan, GAM atau TNI yang mati''. Kemudian juga
berita, ''Sparatisme akan disapu Bersih''. Pernyataan yang
mengandung (keberanian?) itu, karena biasanya pernyataan yang
bersedia mati untuk membela tegakkan ''sesuatu'', dianggap
pemberani, dikeluarkan oleh seorang (Mayor) Jenderal, Kepala
Penerangan TNI. Tentu saja, sebagai kelompok bagian bangsa yang
merasa paling bertanggungjawab atas pertahanan-keamanan -- walau
anggapan seperti ini kurang tepat -- pernyataan itu wajar-wajar
saja. Kalau tidak berbunyi seperti itu, yang menuansakan
keberanian, seorang Kepala Penerangan TNI, mesti ngomong apa?

Bangsa kita memang sakit! Dan sakitnya bukan sekedar sakit flu
yang memerihkan tulang-tulang, sehingga obatnya cukup Decolgen;
atau sekedar batuk-batuk dengan obat di Komix saja. Tidak! Sakit
kita sudah sedemikian rupa beratnya, sehingga mencari obatnya
memerlukan sejumlah dokter spesialis yang harus berembug secara
serius untuk menentukan dan mencari obatnya yang tepat. Itu pun
belum tentu berhasil, karena sekian banyak dokter spesialis yang
berembug itu, tidak mustahil, kebingungan menentukan jenis
penyakitnya; dan itu berarti pula dokter-dokter spesialis itu
bingung menentukan obatnya.

Lalu kita berbuat apa? Apakah kita perlu mengajak sejumlah orang
yang sering merasa hebat dengan keparanormalannya? Mungkin-
mungkin saja. Tetapi saya pun khawatir, mereka ini pun akan
bingung untuk mencari mantera yang paling tepat-ampuh. Waktu
bersemedi di sebuah gunung yang paling keramat-sepi, tidak cukup
empat-lima bulan. Padahal waktu penyembuhan sudah sedemikian
mendesaknya, sehingga waktu selama itu sudah terlalu lama.

Bagi orang Aceh, menakutinya dengan teriakan ''engkau atau aku''
yang mati, bukanlah sesuatu yang menggetarkan hatinya lagi.
Teriakan kata mati sudah terlalu sering terdengar di telinganya.
Matanya sudah tidak terbelalak melihat mayat terbujur di jalan-
jalan. Tumpukan mayat di lubang yang satu, tidak lagi
mengherankannya. Kata mati bukanlah sesuatu yang ditakutinya!

Hal itu juga terjadi di Ambon-Maluku sana. Kematian karena
saling membunuh bahkan di antara sesama keluarga sedarah dalam
arti sebenarnya di antara mereka, bukanlah sesuatu yang dianggap
aneh. Membunuh karena alasan agama yang berbeda, seakan dianggap
sah-sah saja, ''tanpa beban''. Kematian seperti itu, tampak tak
bermakna untuk ditakuti!

Lalu apa yang dapat dikatakan dalam situasi sakit, tetapi
kematian tidak lagi menggetar-ditakuti? Saya teringat pada dua
orang guru saya, kakak-beradik, Kyai Haji Muchsin Tahir dan Haji
Siti Aisyah Tahir, ketika saya belajar di Madrasyah Darul
Da'watul Irsyad (DDI) bertempat di bawah sebuah rumah panggung.
Keduanya anak kandung dari Imam Lapeo, ulama cerdas yang amat
disegani --bahkan cenderung dikeramatkan-di ''Kerajaan-kerajaan
Mandar''. Ada kalimat yang pernah dikatakannya kepada saya, yang
sampai sekarang masih teringat; yaitu (tentu saja dalam bahasa
Bugis-Mandar), ''Persoalan kita di dunia ini, bukanlah
keberanian untuk mati, melainkan setiap waktu berusaha
menciptakan keberanian untuk hidup.'' Dalam situasi sakit kita
sekarang, dan saudara-saudara sebangsa kita di Aceh -- saudara
sebangsa yang sebenarnya dan bukan sekedar sebutan basa-basi -
termasuk di dalamnya, seharusnyalah kembali mengingatkan
kelampauannya yang ''indah-mesra'' bersama di dalam Indonesia.
Karena pada saat warga Aceh ''melupakan keacehannya'' dan
yang ada di dalam pikiran imajinya, ''hanyalah
keindonesiaannya''. Paling tidak itu, mungkin terjadi di dalam
periode mempertahankan kemerdekaan yang kita proklamasikan pada
17 Agustus 1945. Bahkan juga Muhammad Hasan Tiro berada bersama
di Yogyakarta dalam periode 1945-1949 itu. Pada waktu itu dengan
lantangnya, seperti juga warga bangsa-bangsa lainnya di seluruh
Indonesia, warga Aceh yang ''telah mengindonesiakan dirinya
secara sadar'', juga bersama meneriakkan Merdeka atau Mati. Dan
yang beteriak lantang seperti itu -- tampak sebagai teriakan
yang berdaya magis -- bukan hanya tentara dan gerilya pejuang
yang bersenjata, melainkan juga rakyat biasa; bahkan juga anak-
anak ingusan.

Jadi Aceh tidaklah pernah takut mati, juga untuk Republik
Indonesia yang sejak awal memang ikut ditegakkannya!

Apa relevansi makna dari ingatan saya terhadap ucapan bermakna
dari kedua guru DDI saya itu, dalam konteks situasi sakit kita
sekarang? Saya percaya, yang meluntur, untuk tidak mengatakannya
telah tiada, di dalam diri rakyat dan pemimpin-pemimpin Aceh,
juga pada diri orang-orang Ambon-Maluku, ialah ''keberanian
untuk hidup dan berkarya bersama di dalam bangsa-negara
Indonesia''. Terlepas dari apapun alasannya.

Justru saya melihat bahwa virus utama sakit parah kita sekarang,
sebagai bangsa-negara, ialah ketiadaan keberanian untuk hidup
bersama. Virus ini telah menjangkiti pemimpin dan rakyat Aceh;
juga warga Ambon-Maluku. Berkurang-tiadanya keberanian rakyat
dan pemimpin Aceh untuk hidup bersama di dalam bangsa-negara
Indonesia, telah berjalan berangsur dalam jarak waktu yang cukup
lama; setidaknya lebih dari satu generasi. Secara embriotik, itu
telah berlangsung sejak 1952, di bawah pimpinan yang amat
terhormat, Abah Daud Beureuech. Tokoh besar Aceh yang amat
dihormati, karena ''kejujuran dan keberanian semasa hidupnya''.
Beliau dihormati setidaknya oleh rakyat Aceh-tidak oleh karena
keberaniannya untuk mati, tetapi karena menampakkan tingkah laku
bermakna untuk berani hidup! Kita memang lagi sakit. Untuk
sembuh, kita pasti memerlukan waktu yang lama. Celakanya!, sakit
yang demikian parahnya, sehingga untuk penyembuhannya kita hanya
memerlukan waktu yang amat singkat. Dalam kejaran waktu itu,
dokter-dokter spesialis kita amat sulit menemukan obatnya yang
dapat memiliki daya penyembuh yang sangat mujarab-ampuh. Walau
demikian, saya percaya, berdasar pada pengetahuan saya terhadap
perjalanan bangsa-negara ini sejak awal, salah satu obat
penyembuh terpenting yang dapat diberikan ialah ''menyuntikkan
virus kesediaan menciptakan keberanian untuk hidup (bersama)
kepada rakyat dan pemimpin Aceh, serta juga warga Ambon-Maluku
agar bersedia kembali hidup bersama di dalam Indonesia''.
Karena itu, Bung Jenderal, orang Aceh tidaklah takut pada kata
mati, melainkan justru pada keberanian untuk hidup. Dalam rangka
itu, TNI seharusnya tidak berteriak tentang mati, walau itu
pertanda keberanian, melainkan menyampaikan ajakan sejuk kepada
rakyat dan pimpinan Aceh, agar TNI dan GAM serta seluruh rakyat
Aceh, 'bersama-sama menciptakan keberanian untuk hidup'.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Dec 1999 jam 09:37:31 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke