----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Pande Ngaku Ketemu Baramuli

Jumat, 17/12/1999
Jakarta, JAWA POS.-

Wakil Ketua BPPN Pande Lubis, yang sudah berstatus sebagai tersangka dalam
skandal Bank Bali (BB), mengaku tak tahan untuk terus berdiam diri. Setelah
merasa dirinya dipojokkan oleh berbagai statemen dalam pemberitaan di
berbagai media cetak dan elektronik, Pande mengaku merasa perlu memberikan
klarifikasi.

''Sebab, dari berbagai pemberitaan itu, 95 persen yang menyangkut diri Pak
Pande Lubis tidak benar. Semua memojokkan Pak Pande, yang sengaja
dikorbankan,'' kata Asfifudin, kuasa hukum Pande Lubis, dalam pengantarnya
sebelum kliennya menjelaskan berbagai tudingan berkaitan dengan skandal BB.

Pande, yang selalu menolak menjawab setiap ditanya wartawan setelah
pemeriksaan dirinya di Gedung Bundar Kejagung, mengaku sengaja berbuat
seperti itu. Hal itu justru dimaksudkan untuk membantu kelancaran
pemeriksaan. Tetapi, karena pemberitaan itu terus memojokkan dirinya, Pande
pun merasa perlu memberikan klarifikasi. Karena itu, dia pun memanfaatkan
kesempatan dengan mengundang para wartawan untuk konferensi pers di hotel
Ibis, Jakarta, kemarin.

Menurut Pande, pertemuan 11 Februari 1999 di hotel Mulia Senayan Jakarta,
yang menyebut-nyebut dirinya terlibat, adalah tidak benar. Meski begitu,
katanya, dia mengaku memang pernah bertemu dengan mantan Ketua DPA A.A.
Baramuli di Hotel Mulia. Tetapi, pertemuannya itu sama sekali tidak
berkaitan dengan skandal BB.

''Saya memang bertemu dengan Baramuli di Hotel Mulia. Tetapi, saya tak ingat
tanggal dan jam pertemuan itu. Pertemuan itu berlangsung di lobi hotel dan
tidak ada kaitannya dengan Bank Bali,'' tutur Pande.

Pengakuan Pande ini, agaknya, semakin membuka tabir terjadinya konspirasi
politik dalam skandal BB. Sebab, baik saat diperiksa di Gedung Bundar
Kejagung maupun saat ditemui di berbagai kesempatan, Baramuli selalu
mengatakan bahwa dirinya tidak pernah bertemu dengan Pande di hotel Mulia,
apalagi dalam kaitan BB.

Menurut Pande, pertemuannya dengan Baramuli itu memang tidak direncanakan.
Dia juga mengaku tak ingat apa yang dibicarakan pada saat pertemuan
tersebut. Yang pasti, katanya, pembicaraan itu sama sekali tak terkait
dengan BB.

''Waktu itu, saya ke hotel Mulia bersama Dedi, teman saya. Dedi bukan orang
BPPN. Dia hanya kawan biasa. Kami ke sana untuk makan malam. Selesai makan,
Dedi pergi ke toilet dan saya menunggu di lobi hotel. Di lobi itu, secara
kebetulan saya bertemu dengan Baramuli. Kala itu, Baramuli bersama
teman-temannya. Jumlahnya 3 sampai 4 orang. Tetapi, saya tak memperhatikan
siapa saja yang bersama dengan Baramuli waktu itu,'' cerita Pande.

Pada pertemuan itu, Pande mengaku bersalaman dengan Baramuli. Kemudian,
tiba-tiba muncul Eko S. Budianto, deputi kepala BPPN. Ternyata, pertemuannya
dengan Baramulai itu, yang diketahui oleh Eko, justru dijadikan kesaksian
saat dimintai keterangan oleh jaksa pemeriksa.

Pande mengatakan tak punya pikiran bahwa pertemuan tersebut akan membawa
dampak buruk pada dirinya. Soalnya, pertemuan dengan Baramuli itu tanpa
rencana. ''Kami hanya kepergok. Tidak ada hal-hal penting yang dibicarakan,
apalagi menyangkut BB,'' jelas Pande.

Menurut dia, seandainya pertemuan itu terjadi lebih dulu antara Eko dan
Baramuli, mungkin dia juga akan memberikan kesaksian serupa. ''Jika Eko dulu
yang bertemu dengan Baramuli, maka saya pun akan memberikan kesaksian bahwa
Eko bertemu Baramuli,'' tuturnya.

Pande juga menegaskan tidak tahu-menahu bahwa pada 11 Februari 1999 itu ada
pertemuan penting di hotel Mulia. Sebab, dari pertemuan inilah, menurut
mantan Dirut BB Rudy Ramli, pencairan klaim BB menjadi lancar.

Tetapi, Pande membantah dugaan bahwa pencairan klaim BB itu terkait dengan
pertemuan 11 Februari di hotel Mulia. ''Pencairan klaim BB itu tidak ada
sangkut-pautnya dengan pertemuan di hotel Mulia. Klaim itu bisa cair karena
sudah ditetapkan dalam kepres dan diputuskan oleh yang berwenang,'' katanya.

Menurut Pande, tentang pencairan klaim BB itu, mestinya yang bertanggung
jawab penuh adalah Ketua BPPN Glenn Yusuf. Pasalnya, apa yang dilakukan
Pande itu atas perintah pimpinannya, yakni ketua BPPN tersebut. ''Saya di
sini hanya menjalankan tugas. Tetapi, justru saya yang dijadikan korban,''
tandasnya, menyesalkan.

Untuk mengklarifikasi pertemuan 11 Februari 1999, Pande usul agar
siapa-siapa yang terkait dalam pertemuan tersebut dikumpulkan untuk dicek
silang.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Dec 1999 jam 10:22:52 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke