---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- KH Hasyim Muzadi: Hasil Kerja Intelijen Tidak Bagus Daniel Sparingga: Kekerasan Masih akan Terjadi Malang, 20 Desember SUARA PEMBARUAN Tindakan anarkhis seperti pembakaran dan pembunuhan di kompleks STT Doulos, Cipayung, Jakarta Timur oleh kelompok yang mengatasnamakan agama, merupakan salah satu indikasi nyata bahwa kemampuan badan-badan intelijen yang dimiliki negara masih buruk dan jauh dari harapan. ''Intelijen TNI/Polri yang selama ini mereka banggakan sendiri dalam setiap kali peringatan HUT-nya tidak pernah jelas kerjanya, sehingga seringkali kasus serupa, selalu saja terus terjadi dan tidak pernah bisa diungkap dalangnya, apalagi sampai dibawa ke meja pengadilan,'' demikian Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, KH Hasyim Muzadi, dalam perbincangan khusus dengan Pembaruan, Senin (20/12) subuh, di Malang. Hasil kerja institusi intelijen kita yang selalu menyatakan tekad pengabdiannya secara habis-habisan buat keamanan negeri ini dalam kenyataannya selalu kebobolan. Yang kita pertanyakan sekarang, faktor apa yang membuat badan intelijen kita yang namanya mentereng dan sedikit menyeramkan itu justru selama ini terkesan tidak berfungsi, kata Kiai Hasyim. Bagaimana jadinya negeri ini jika intel kita baru terlihat bekerja setelah peristiwa amuk massa. Akibatnya, anarkhi yang bermuatan politis sudah telanjur terjadi. Seharusnya, hasil ''penciuman mendalam'' badan-badan intelijen itu segera ditindaklanjuti lewat koordinasi kelembagaan guna mencegah secara dini ancaman yang bisa menimbulkan kerawanan (apalagi berbau SARA) agar tidak sampai terjadi. ''Semangat atau gairah pelaksanaan tugas yang dilakukan para petugas intelejen dari institusi TNI/Polri selama ini terasa semakin hari semakin menurun. Apakah karena sakit hati dihujat melulu, atau karena faktor-faktor lain, seperti desakan rakyat yang memberikan tugas secara over-dosis hingga semakin memperlemah efektiktivitas kerja badan intelejen kita,'' katanya dalam nada bertanya. Masih Akan Terjadi Sementara itu, pengamat politik FISIP Unair Surabaya, Dr Daniel Sparingga mengingatkan agar kasus main hakim sendiri seperti dalam Kasus Doulos menjadi pelajaran berharga dalam proses politik. Diperlukan peranan yang lebih besar bagi institusi atau kelembagaan kenegaraan dalam menampung luberan aspirasi masyarakat, demikian Sparingga dalam diskusi ''Surabaya Round Up, Reaksi dan Penghakiman oleh Massa'', yang diselenggarakan Radio SCFM, Surabaya, Senin (20/12). Dikatakan, sulit untuk tidak percaya, kasus serupa akan berhenti di kasus Doulos saja, karena yang pada hari ini sebagai penonton, tidak menutup kemungkinan menjadi penderita di waktu mendatang. Hal itu bisa terjadi karena kasus-kasus kekerasan terjadi beberapa kali semenjak tewasnya sejumlah orang yang diduga dukun santet di Banyuwangi, kemudian diikuti tindakan kekerasan massa di tempat lain, bahkan perusakan bagian dalam dari Mesjid Istiqal di Jakarta, tetapi semuanya tidak bisa diselesaikan secara hukum, padahal hukumlah yang merupakan tumpuan terakhir untuk menyelesaikan berbagai macam penyimpangan yang terjadi di masyarakat. ''Rakyat bisa menjadi tidak bertanggung jawab terhadap kasus-kasus kekerasan, jika proses politik diwarnai dengan kekuatan-kekuatan elite politik saja, sementara penegakan hukum belum menjadi supremasi karena kuatnya pertarungan di antara elite politik,'' katanya. Jika kekerasan dan aksi penghakiman oleh massa tidak bisa dihentikan, menurut Dr Daniel Sparingga, reformasi yang sudah berjalan sebenarnya hanya sekadar mengganti pemerintahan, sementara masyarakat tidak ikut berubah atau jalan di tempat. ''Bahkan proses pemulihan ekonomi bisa sangat terganggu dengan aksi-aksi kekerasan massa yang main hakim sendiri itu,'' katanya. Menurutnya, yang paling membahayakan adalah komunalisme atau bangkitnya kekuatan rakyat yang berdasarkan sektarian dan primordialisme, serta persoalan ketidakadilan yang dimanfaatkan oleh pertarungan elite politik yang sangat berpengaruh. Dikatakannya, aksi kekerasan dan aksi penghakiman massa sangat mencemaskan, karena dampaknya berimplikasi pada masalah pemulihan ekonomi, sebab semakin banyak menambah daftar panjang aksi kekerasan massa yang terjadi di Indonesia. Mengomentari soal kebringasan massa, Pembantu Dekan III Fakultas Psikologi Unair Surabaya, Dr Hawai Makrus mengatakan, hal itu terjadi akibat ulah provokasi, sehingga setiap terjadi tindak kekerasan di masyarakat dikhawatirkan ada ''udang dibalik batu'' atau ada orang-orang yang menggerakkan. Karena itu perlu diketemukan serta diteliti latar belakang terhadap orang-orang yang menggerakkan massa untuk melakukan tindakan yang destruktif, katanya. Dia mengingatkan, jangan sampai Indonesia yang memiliki dasar Pancasila, tetapi dalam praktek untuk mempertahankan kekuasaan mempergunakan cara-cara komunisme dengan cara kekerasan untuk mengalahkan lawan-lawan politiknya.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Dec 1999 jam 10:29:46 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
