----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Republika, 18 Januari 2000

Halmahera Perlu Air

Oleh S. Sinansari ecip

Gus telah bicara. Lebih baik terlambat daripada tidak
sama sekali. Gus minta maaf dan berduka atas jatuhnya
para korban di daerah-daerah. Tangan-tangan jahat
diminta menghentikan obok-oboknya, bila tidak, akan
ditindak tegas. Selain itu, tuntutan daerah akan
diperhatikan. Itu terjadi pada acara 'baku dapat sepotong
sagu belah dua' masyarakat Maluku di Jakarta dan
sekitarnya pada malam Minggu (15 Januari). Acara cukup
mengharukan. Hanya orang yang berhati batu yang tidak
terharu menonton acara tersebut. Banyak penonton,
termasuk yang di rumah, yang mengucurkan air mata.
Istri Gus di Senayan juga beberapa kali menyeka air
matanya.

Memang, Halmahera dikeliling air. Pulau yang bentuknya
mirip Pulau Sulawesi berukuran kecil ini tiba-tiba
mendidih dijilat api dari Ambon nun jauh di selatan. Api
bergerak meloncat ke Pulau Haruku, Saparua, Seram,
Buru, Ternate, dan Halmahera. Orang baku kejar dan
baku parang. Pada waktu beberapa hari Maluku diblokir,
barangkali sudah menumpuk pengungsi di pelabuhan.
Gambarannya barangkali mirip lukisan Raden Saleh
ketika ada kebakaran hutan. Binatang-binatang
berdesakan di pinggir laut, hampir jatuh ke air.

Nasi telah menjadi bubur. Apa yang bisa dilakukan untuk
Halmahera, yang namanya hanya sayup-sayup sampai ke
Jakarta kalau tidak ada malapetaka?

Pada awal Kerusuhan Ambon, Komnas HAM ke Ambon,
yakni Albert Hasibuan dan Benyamin Mangkudilaga. Di
Pasar Mardika mereka diacungi senjata-senjata tajam.
Terpaksa mereka lari terbirit-birit. Bagian ini ada di
dalam liputan gambar televisi.

Tim Komnas HAM lalu menugasi Universitas Pattimura
untuk membuat laporan analisis tentang Kerusuhan
Ambon. Meski laporan ini agak ilmiah tapi kurang
berimbang. Di dalam tim sembilan orang dosen yang
dipimpin oleh Rektor, hanya satu orang yang Islam, yang
boleh dikatakan tidak diberi peran. Unpatti dikenal
sebagai kubu kelompok tertentu yang kuat, seperti halnya
'kubu' Pemda Kodya Ambon.

Yang menarik, Human Rights Watch (Pemantau HAM
Internasional) membuat laporan yang bagus. Terhadap
satu peristiwa diambilnya sumber Islam dan Kristen,
kemudian dicarikannya third opinion, pendapat ketiga,
yang dianggapnya netral.

Yang jadi persoalan adalah untuk Kerusuhan Halmahera
(Provinsi Maluku Utara pada umumnya), Komnas HAM
tidak berbuat apa-apa. Di televisi, Marzuki Darusman
beralasan Komnas HAM akan turun setelah keadaan reda.
Asmara Nababan juga mengatakan sangat mungkin
Komnas HAM membentuk Komisi Penyelidik Pelanggaran
(KPP) HAM untuk Maluku. Munir dari Kontras dan KPP
HAM Timtim, dalam artikelnya di Satunet.Com menulis,
Komnas HAM boleh melakukan yang lain tapi jangan lupa
kasus yang besar, yaitu Maluku. Bersamaan dengan
terpilihnya pimpinan yang baru, Komnas HAM akhirnya
membentuk KPP HAM Maluku. Itu semua dilakukan
setelah banyak orang sangat meributkan kelambanan
pemerintah dan Komnas HAM.

Persoalannya, mengapa Komnas HAM dan yang lainnya
baru sekarang tergerak hatinya? Mengapa pula umat
Islam lain yang berada di berbagai organisasi yang lain
juga diam saja? Apakah hati mereka tidak tergerak oleh
berbagai peristiwa tragis yang menyayat hati itu? Ke
mana kemanusiaan dan kepedulian banyak orang?

Halmahera tidak perlu lagi provokator. Halmahera tidak
perlu senjata api. Halmahera tidak perlu orang-orang
sangar dan beringas. Halmahera perlu siraman air yang
dingin, bukan lagi api.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jan 2000 jam 03:27:18 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke