---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Republika, 19 Januari 2000 KASTER: TNI Tetap Loyal Pada Presiden Jakarta - Kalangan TNI kembali menipis isuu kudeta atas pemerintah Presiden Abdurrahman Wahid. "TNI masil loyal kepada presiden," tegas Kepala Staf Teritorial (Kaster) TNI Letjen Agus Widjojo di Jakarta, Selasa (18/1). "TNI masil loyal dan harus loyal (pada presiden). Namanya juga Tentara Nasional Indonesia, Presidennya namanya juga Presiden Republik Indonesia, bagaimana tidak loyal? Harus loyal," tanda Kaster menjawab pertanyaan wartawan usai menjadi pembicara dalam seminar bertajuk 'Nasionalisme Indonesia Menghadapi Tantangan Abad XXI'. Pertanyaan wartawan itu berkaitan dengan pernyataan Presiden Abdurrahman Wahid agar jangan ada pihak yang berpikir tentang akan munculnya kudeta. Pernyataannya itu mengomentari sinyalemen Dubes AS untuk PBB Richard Holbrooke yang menyebutkan bisa terjadi kudeta militer di Indonesia melihat situasi yang berkembang saat ini. Kepada wartawan, Agus Widjojo juga menegaskan bahwa tidak pernah terpikirkan oleh TNI untuk melakukan kudeta, bahkan tidak ada dalam sejarah. Masih menjawab pertanyaan wartawan, Agus menampik bila ada anggapan bahwa TNI merasa terganggu dengan adanya penggantian sejumlah pejabat penting di tubuh TNI yang dikabarkan atas keinginan presiden itu. "Penggantian itu, termasuk jabatan Kapuspen sudah merupakan rencana TNI untuk mengadakan suatu rotasi," kata tokoh yang dijuluki jenderal pemikir itu. Agus juga membantah adanya anggapan bahwa penempatan sejumlah perwira tinggi tinggi dari angkatan lain untuk menggantikan posisi yang dulunya ditempati perwira AD merupakan tindakan perwira AD merupakan tindakan Presiden untuk menjauhi TNI AD. "Ah, Ndak," ujarnya. Dalam sebuah tulisan di harian The Australian, selasa (18/1), analis Indonesia dari Universitas Nasional Australia (ANU) Alan Dupont menepis kemungkinan kudeta itu. Ia melihat Presiden Abdurrahman Wahid menghadapi moral militer yang telah mencapai pada tingkat yang rendah. Pengusutan pelanggaran HAM yang dilakukan Komisi Penyelidikan Pelanggaran (KPP) HAM Timtim semakin memojokkan posisi militer yang reputasinya sudah suram. Atas dasar itu, Dupont kurang sependapat dengan kekhawatiran akan adanya kudeta oleh TNI kepada pemerintahan. "Dengan kondisi lemahnya kepemimpinan TNI sekarang tidak mungkin militer melakukan tindakan kudeta," katanya. Kasus Maluku, ujar Dupont, merupakan suatu gambaran kenyataan bahwa kekuatan militer tidak kemampuan untuk menghentikan kekerasaan yang terjadi di kota tersebut. "Gejolak di kepulauan tersebut memberikan gambaran kurangnya komitmen dan bukannya kekurangan sumber daya manusia," tambahnya. Pada hari yang sama, pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Ichlasul Amal MA saat disinggung mengenai pernyataan Richard Holbrooke menilai, pernyataan itu sebagai hal yang berlebihan, karena TNI tidak mungkin melakukan kudeta tehadap pemerintahan yang sah. "Indonesia itu negara terbuka dan besar, lain dengan negara Afrika yang kecil, sehingga dalam kondisi objektif seperti itu tidak memungkinkan TNI untuk melakukan kudeta," kata Rektor UGM itu. Lagipula, menurut dia, untuk melakukan kudeta itu tidak mudah, karena membutuhkan dukungan dan kesatuan yang solid. "Namun, saya kira, meskipun ada perbedaan ataupun kekecewaan akibat pergantian jabatan, TNI tidak mungkin melakukan kudeta. Apalagi Panglima TNI Laksamana Widodo AS telah menjamin tentang hal itu," kata Chlasul Amal. Hal senada juga diungkapkan pengamat politik UGM lainnya, Prof. Dr. Arfan Gaffar yang mengatakan, TNI tidak mungkin menggulingkan pemerintahan yang sah. "Saya kira TNI tidak mungkin melakukan kudeta terhadap pemerintah Gus Dur dan Megawati, karena sebagai prajurit TNI harus loyal kepada negara dan siap menerima tugas apapun dari atasannya, yaitu presiden sebagai Panglima Tertinggi TNI," katanya. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 25 Jan 2000 jam 10:23:55 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
