----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Media Indonesia - 27 Januari 2000

Dialog, Cara yang Tepat Selesaikan Konflik di Maluku

TERNATE (Media): Wapres Megawati mengatakan cara yang paling
tepat untuk menyelesaikan konflik horizontal di Maluku adalah
dengan dialog terbuka antara pihak-pihak yang bertikai. Dengan
demikian, terjalin komunikasi yang bisa menjembatani kepentingan
bersama.

"Hal ini mengingat sebenarnya dari laporan-laporan di kedua
pihak ada persamaan-persamaan, yakni mereka sama-sama
menginginkan perdamaian," kata Mega dalam keterangan pers di
atas KRI Arun yang berlayar dari Ternate menuju Halmahera,
kemarin. Wapres berada di Maluku dalam rangka kunjungan 3 hari
untuk mengupayakan penyelesaian konflik di sana.

Dikatakan oleh Wapres, setelah bertemu para tokoh setempat,
pihaknya melihat adanya nuansa semu yakni keinginan masing-
masing pihak yang tidak terkomunikasikan. Karena itulah upaya-
upaya mempertemukan kedua belah pihak dalam dialog-dialog akan
sangat membantu menyelesaikan persoalan.

Berdasarkan hal-hal tersebut Mega mengaku sangat optimis akan
bisa membantu menyelesaikan persoalan Maluku sebagaimana
ditugaskan Presiden KH Abdurrahman Wahid kepada dirinya.

"Saya selalu optimis. Dengan niat baik semuanya akan bisa
diselesaikan. Kalau ada elite politik meragukan saya, itu memang
sejak dulu. Ya biarkan saja. Marilah kita sama-sama belajar.
Kita tunjukkan masing-masing tanggung jawab kita," ujar Mega.

Sementara itu, Ketua Komnas HAM Bambang W Soeharto, yang saat
ini berada di Ternate, Maluku, kemarin, juga menyatakan
komunikasi antarkelompok yang bertikai merupakan kunci pertama
dalam menyelesaikan konflik Maluku. Sedangkan untuk daerah-
daerah yang masih rawan, kata Bambang, penyelesaian harus
dilakukan area by area dan case by case.

"Setelah itu langsung dilokalisasi demikian seterusnya,"
katanya, dengan menambahkan penanganan kasus Maluku harus segera
tuntas, mengingat ribuan korban telah jatuh. Karena itu Bambang
berharap pemerintah pusat tidak menganggap enteng masalah ini.
Konflik di Maluku sendiri, sampai kemarin masih terjadi di Pulau
Bacan.

Tokoh agama

Dalam diskusi mencari solusi konflik Maluku dan antisipasi
perembetannya di Jakarta semalam, disimpulkan peran tokoh-tokoh
agama dalam penyelesaian konflik di Ambon dan Maluku tetap
penting namun tidak kalah pentingnya peran aparat keamanan atau
pemerintah dalam bentuk tindakan yang tegas terhadap pelaku
kerusuhan di Maluku.

Demikian kesimpulan para pembicara tersebut yang merupakan tokoh
agama dan cendekiawan muslim/Kristen yakni Azyumardi Azra, Frans
Magniz Suseso, Eka Darma Putra, dan Ahmad Sumargono.

Pada bagian lain Frans Magniz dan Ahmad Sumargono menilai
pengaruh berita media massa terhadap konflik di Maluku cukup
mempengaruhi emosi umat masing-masing agama untuk bersikap
reaktif dalam masalah tersebut, sedangkan Eka Darma Putra
berharap peran dan tanggung jawab yang sangat besar pimpinan
agama terhadap umatnya sendiri tidak hanya sekadar solidaritas
keagamaan dan persahabatan tapi dapat melebihi dari itu yakni
solidaritas kebangsaan dan kemanusiaan.

Sementara Azyumardi Azra mengatakan agar istilah jihad yang
dikumandangkan umat Islam jangan selalu diartikan sebagai perang
karena jihad mempunyai makna multidimensional seperti bekerja
sungguh-sungguh dan menyumbangkan harta atau obat-obatan.
(Awi/Drd/Bay/P-2)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 31 Jan 2000 jam 09:55:17 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke