----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

ADA UPAYA PEMBUSUKAN ISLAM

        BANDA ACEH, (MeunaSAH, 31/1/200) Empat organisasi berbasis Islam
mencurigai adanya upaya pembusukan terhadap citra Aceh yang islami. Di
antaranya dengan melakukan berbagai tindak kekerasan sadis tehadap etnis
lain sesama muslim, penembakan di lingkungan masjid, atau mengarak
'tersangka' pelaku kesalahan sesuka hati dengan maksud hura-hura. Demikian
Serambi Indonesia (31/1).

        Dugaan adanya grand skenario membusukkan Aceh dan Islam itu,
berkembang dalam diskusi marathon empat organisasi Islam, yaitu Badko HMI,
PW PII, Thaliban, dan KAMMI, sejak Jumat hingga Sabtu sore kemarin. Diskusi
itu membahas situasi Aceh terakhir, serta beragam organisasi gerakan dengan
baju HAM, demokratisasi, lingkungan, dan semacamnya. Menurut Ormas Islam
ini, apa pun baju mereka dapat diterima sepanjang operasionalnya secara
langsung atau tersamar, tidak malah merendahkan martabat Aceh dan Islam itu
sendiri. "Kembalilah ke Islam! Ada yang tidak jujur menafsirkan syariah
Islam sehingga mengesankan suasana kacau balau begini," kata Ketua M Tanwier
Mahdi, Pj Ketua Badko HMI Aceh ketika menjelaskan hasil diskusi Ormas
berbasis Islam tersebut.

        Diskusi itu mengeluarkan satu seruan yang ditandatangani oleh Tgk H
Bulqaini Tanjungan, SAI (Thaliban), M Noor Fakhrurrazi (KAMMI), M Tanwier
Mahdi (Badko HMI), dan M Ysuf AG, S.AG.

        Mengutip pendapat dalam diskusi, Aceh tidak lebih tinggi dari Islam.
Karenanya, tidak ada alasan memakai label Aceh untuk melanggar hukum Islam,
seperti membunuh etnis lain, mengarak orang yang diduga berbuat salah, atau
semacamnya. Tanwier melihat ada yang ingin mencitrakan Aceh dan Islam --dua
hal yang tak bisa dipisah-- sebagai satu kesatuan yang kacau balau, bahkan
bar-bar. Mereka secara langsung atau tidak, memprovokasi rakyat untuk
melanggar hukum Islam itu sendiri. "Menyakitkan sekali," katanya.

        Padahal, tambah Tanwier, umat Islam secara nasional saat ini sedang
'dianiaya' secara kasar. Kasus Ambon atau Maluku, pemboman masjid Istiqlal,
atau kerusuhan di berbagai komunitas mayoritas Islam, adalah contoh-contoh
nyata. "Kasus Aceh dan pencitraan Islam yang kasar di Serambi Mekkah ini
agaknya punya benang merah dengan berbagai situasi nasional itu. Semoga
masyarakat cepat memahami ini. Sebab, Aceh adalah kebanggaan Islam, dan
karenanya Aceh harus 'dibusukkan'," tambahnya.

        Karena itu, keempat organisasi berbasis Islam ini mengeluarkan
sejumlah butir sikap. Diantaranya, meminta agar semua pihak menyelesaikan
persoalan Aceh secara Islami, mengajak agar rakyat berpegang teguh pada tali
(hukum) Islam, dan meningkatkan ukhuwah islamiah, serta mengajak agar semua
pihak tidak meninggalkan ulama. Kepada komponen umat Islam di Aceh, apapun
suku dan rasnya, agar, agar merapatkan barisan dan mewaspadai upaya-upaya
menghancurkan citra Islam oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan Aceh
aman. Apa pun upaya penyelesaian Aceh, keempat organisasi ini tetap
berprinsif pada kebenaran yang bersumber dari al-Quran dan Hadits. ***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 31 Jan 2000 jam 18:29:52 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke