----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 08/III/13-19 Maret 2000
- ------------------------------

SUMBANGAN BERDARAH PERISTIWA 27 JULI

(POLITIK): Satu setengah milyar dikeluarkan untuk menggusur massa PDI di
Jalan Diponegoro. Sofyan Wanandi, Sugeng Saryadi dan Tommy Winata pun urunan.

Gubernur DKI Sutiyoso tidak  bisa terus anteng ayem. Namanya memang nyaris
luput dari daftar para perwira militer yang diduga terlibat penyerbuan
markas DPP PDI, 27 Juli 1996. Tambahan, kesemua mereka belum kunjung
diperiksa kepolisian. Namun, belakangan mantan Pangdam Jaya itu mulai
sedikit gusar.

Seperti diberitakan media massa, Polda berupaya memperlihatkan keseriusan
menuntaskan masalah dengan melimit-waktukan dirinya sendiri. "Dalam tiga
bulan Polda akan menuntaskan kasus ini," demikian Kapolda Brigjen (Pol)
Nurfaizi. Ucapan itu lantas diikuti dengan penangkapan tokoh-tokoh PDI yang
diduga terlibat. Terakhir, mantan Sekjen hasil Kongres Medan Buttu R Hutapea
ditahan.

Toh, sejumlah praktisi hukum dan pengamat politik menilai kerja tersebut
belumlah serius. Kepolisian dianggap masih ewuh untuk bekerja menurut
kewenangannya. Terbukti, belum satu pun perwira-perwira militer yang
berkuasa waktu itu disinggung-singgung sebagai penanggung jawab. "Apalagi
diperiksa dan ditangkap," tukas Trimedya Panjaitan, Ketua Umum Serikat
Pengacara Indonesia (SPI) kepada Xpos.

Padahal peristiwa 27 Juli 1996, sejak prolog-klimaks hingga epilog
mencitrakan tindakan operasi politik dari militer. Beserta perlengkapan
intelejen dan instrumen kekerasannya, tentu saja. Ratusan wartawan foto
dalam dan luarnegeri turut menyaksikan polah aparat militer dalam
'menggebah' konsolidasi massa PDI pada kurun waktu tersebut. Umum pula
diketahui cerita-cerita bagaimana TNI (ABRI waktu itu) merekrut ratusan
orang sipil untuk membantu penyerbuan.

Lantas kenapa pula cuma berujung pada seorang Buttu R Hutapea? Di mana
soalnya? "Polisi memerlukan dukungan kuat dari pihak paling atas," komentar
Kadispen Brigjen (Pol) Dadang Garnida. Lho, bukankah Kapolri sendiri telah
memberi titah?

Sementara Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) beberapa waktu lalu memberi
beberapa bahan guna ditindaklanjuti Polda. Isi laporan, terang Petrus
Selestinus dan Trimedya Panjaitan menyangkut 'donatur' aksi 27 Juli 1996.
Dipaparkan, terdapat dua nama pengusaha besar dari hasil investigasi TPDI.
Dalam jumpa pers baik TPDI pun Polda sepakat tidak menyebut jati diri
pengusaha dimaksud.

Apakah untuk mengusut keterlibatan kedua konglomerat inipun polisi
memerlukan "dukungan kuat dari pihak paling atas"? Jawabnya: ya. "Polisi
memang meminta TPDI menjadi fasilitator pertemuan mereka dengan Gus Dur guna
beroleh dukungan," ungkap Panjaitan seusai penyerahan investigasi. "Mereka
pun berharap betul akan support dari Panglima TNI (Widodo AS)".

Jadi, siapa pihak pemberi dana aksi militer pada 27 Juli 1996 sebenarnya?
Xpos mencoba melakukan kompilasi data dari berbagai sumber dan dokumentasi
media waktu itu. Ditengarai sekurangnya tiga nama yang turut membiayai aksi
militer itu. Entah nama mana yang termasuk dalam daftar hasil investigasi
TPDI. Keterlibatan pengusaha dalam berbagai aksi politik penguasa orde lalu
sendiri, sejatinya bukan fenomena aneh. Apalagi mengingat pencapaian status
dan peringkat posisi kekayaan yang mereka raih tidak terlepas dari ulur
bantu pemerintah sendiri. Atau lebih tepat: ulur bantu Soeharto sebagai
penguasa waktu itu.

Maka, ketika Pangdam Jaya Mayjen Sutiyoso menyebut angka Rp1,5 milyar
sebagai ongkos operasi bukan persoalan besar. Kendati pemerintah sendiri
hanya menyediakan tidak lebih dari Rp 200 juta. Pendek kata, berapa jumlah
dan darimana yang penting "operasi pembersihan Jalan Diponegoro dari
kerumunan massa" harus berlangsung. Presiden Soeharto dikabarkan meminta
penasihat militer kepresidenan Syaukat Banjaransari mengontak sejumlah
konglomerat.

Tidak perlu waktu panjang untuk mengumpulkan uang yang dibutuhkan. Bos
Gemala Grup Sofyan Wanandi yang kini menjabat di Dewan Pemulihan Ekonomi
Nasional (DPEN) disebut-sebut donatur paling pertama. Selanjutnya, Tutut
melalui Sugeng Sarjadi dari grup Kodel menjadi penghibah terbesar.
Konglomerat lainnya adalah Tommy Winata yang (sebetulnya) dikenal dekat
dengan Taufik Kiemas, suami Megawati Soekarnoputri. Biaya urunan tiga
kelompok usaha ini kemudian ditotal mencapai jumlah yang dikalkulasi Sutiyoso.

Kok Pangdam yang diserahi tugas hitung menghitung? "Sutiyoso bisa mengetahui
persis berapa dana yang dibutuhkan karena Jakarta adalah wilayah
kewenangannya," tanggap Panjaitan menjawab pertanyaan Xpos. Artinya
kegusaran Sutiyoso kini pun menjadi seperti wajib. Ia tidak dapat anteng
ayem terus. Laun dan pasti dirinya bakal diseret serta dengan beberapa
perwira tinggi lainnya. Atasan pun bawahan Sang Pangdam.

Dengan kata lain, mantan Presiden Soeharto pun bakal dimintai
pertanggungjawaban? Panjaitan tidak memungkiri. Namun dirinya mewanti,
"Untuk langsung ke sana (Soeharto-red) itu tidak bisa". Dalam hukum pun
bukan cuma pelaku langsung atau pemberi perintah yang harus dikenai hukuman.
Tetapi juga mereka yang memberi bantuan kepada si pelaku dan mereka yang
tidak mendiamkan sedemikian rupa meski mengetahui lebih dulu. "Tidak penting
apakah mereka yang berdiam ini setuju atau tidak setuju," tutup Panjaitan. (*)

- ---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Mar 2000 jam 18:06:01 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke