----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 16/III/15-21 Mei 2000
- ----------------------------------------

TUDING MENUDING PELAKU 27 JULI

(POLITIK): Para pejabat militer kasus 27 Juli saling tuding. Setelah
Syamsir, Sutiyoso, dan Syarwan, kapan langsung ke Soeharto?

Terlibat ya, tapi bukan penanggungjawab. Demikian koor kompak beberapa
pejabat militer terkait kasus 27 Juli setelah diperiksa kepolisian RI.
Mantan Kassospol ABRI Letjen (Purn) Syarwan Hamid, misalnya. Kendati
mengaku memiliki peran dalam penyelenggaraan Kongres Medan, April
1996, ia menolak sebagai pihak yang bertanggungjawab. Apalagi
dikaitkan dengan skenario pengambilalihan Kantor DPP PDI di Jl.
Diponegoro No. 58. Alih-alih, Syarwan melempar tudingan ke arah mantan
Mendagri Yogie Suardi Memet.

"Pak Yogie ketika itu menyimpulkan bahwa cara menyelesaikan kemelut
antara kubu Megawati dengan kubu Soeryadi adalah melalui Kongres,"
papar Syarwan, Jumat (5/5) lalu. Sebagai pembina politik, mendagrilah
yang berwenang mencari cara penyelesaian konflik-konflik di antara
partai politik waktu itu. Sementara dirinya, demikian Syarwan, hanya
melanjutkan apa yang diinstruksikan pimpinan TNI (ABRI). Yakni
menjamin kelangsungan Kongres PDI Suryadi. Soal pilihan tempat di
Medan pun diungkapkan bukanlah usulan dari pihaknya.

Kalau pengambilalihan kantor DPP PDI, Syarwan punya andil? "Bukan saya
yang harus menjelaskan itu. Kalau saya yang ditanya, percuma saja.
Saya akan katakan bahwa itu tidak benar," elak Syarwan. Kepada tim
pemeriksa ia memberi jawaban yang sama perihal peristiwa Sabtu Kelabu
itu.

Sebelumnya, Polri telah memeriksa Gubernur DKI (mantan Pangdam Jaya)
Letjen (Purn) Sutiyoso. Dalam keterangan tertulisnya, Sutiyoso
menjelaskan posisinya. Saat itu ia hanya melakukan sebatas pada
pengamanan agar kerusuhan yang sudah diduga bakal timbul tidak melebar
ke lokasi lain di luar area Jl. Diponegoro dan sekitarnya. "Pada hari
itu memang saya ada di lapangan, tapi itu bukan hal yang luar biasa,"
ujar Bang Yos (panggilan akrab Sutiyoso). "Sudah lazim saya ada di
lapangan pada saat anak buah saya melakukan operasi".

Sutiyoso juga membantah isu yang menyebutkan dirinya meminta ratusan
juta kalau pasukannya hendak 'dipakai'. "Uang itu untuk biaya makan
pasukan selama 5 hari di lapangan," aku Bang Yos lagi. Hitungan lima
hari dimaksud meliputi hari H dan pemulihan situasi Jakarta. Seperti
halnya Syarwan Hamid, dalam kesempatan itu Sutiyoso juga mengelak
bertanggungjawab atas peristiwa 27 Juli itu. Jabatan yang dipegangnya
kala itu, sebatas mengamankan ibukota.

Selanjutnya, Sutiyoso mengaku hanya mengerahkan pasukan pada kisaran
hari H dan sesudahnya. Namun, dari catatan Xpos, Sutiyoso juga
diketahui telah memimpin pasukan Kodam Jaya yang menyapu barisan
demonstrasi saat melintas Stasiun Gambir, 20 Juni 1996. Demonstrasi
itu dilakukan sebagai ungkapan penolakan penyelenggaraan Kongres Medan
yang dibuka pada hari itu juga.

Seusai membubarkan demonstrasi yang berakibat ratusan orang luka-luka,
Sutiyoso memberi keterangan pers dari atas kendaraan militernya di
simpang Gondangdia. "Saya tidak akan mentolerir pengerahan massa
semacam ini. Jangan bilang mereka luka-luka, Anda (wartawan -red.)
bisa cek sendiri ke rumah-rumah sakit, anak buah saya juga banyak yang
luka-luka," demikian Sutiyoso.

Sebelum Sutiyoso dan Syarwan diperiksa, tim pemeriksa kepolisian telah
memintai keterangan mantan Direktur "A" BIA Mayjen Zacky Anwar
Makarim, 29/4. Runut-runutan keterangan sejak Zacky, Sutiyoso hingga
Syarwan inilah yang menguatkan dugaan "koor kompak" para mantan
petinggi militer. Ketiganya lugas menyebut "pengambil keputusan
politik waktu itu", "pimpinan tertinggi" dan "senior TNI" sebagai
tokoh yang patut bertanggung jawab.

Ada yang beranggapan, masing-masing pejabat militer yang diperiksa
telah satu bahasa dalam memberi keterangan. Yakni memunculkan
kalimat-kalimat yang oleh publik akan ditafsirkan (setidaknya
diharapkan akan ditafsirkan) sebagai figur nasional tertinggi. Tidak
lain mantan Presiden Soeharto. Sebab, Soeharto-lah pengambil keputusan
politik, pimpinan tertinggi dan tokoh senior di TNI kala itu. Masa iya
mereka akan "mengorbankan" Soeharto? Membiarkan Soeharto seorang diri
bertanggungjawab atas peristiwa yang melibatkan banyak tangan?

=============================================================
Posisi Jabatan Sipil dan Militer Kurun Waktu 27 Juli 1996
=============================================================
Presiden/Panglima Tertinggi ABRI  Jenderal (Purn) HM Soeharto
Panglima ABRI                           Jenderal Feisal Tanjung
Staf Ahli Pangab bidang Hankam  Mayjen Agum Gumelar
Mendagri                                Yogie Suardi Memet
Dirjen Sospol                           Soetoyo NK
Menkopolkam                             Letjen (Purn) Soesilo
                                        Soedarman (alm)
Menhankam                               Jenderal (Purn) Edi Sudrajat
Kasad                                   Jenderal R. Hartono
Wakasad                         Mayjen FX Soedjasmin
Kasum ABRI                              Letjen Soeyono
Kassospol ABRI                  Letjen Syarwan Hamid
Kapuspen ABRI                           Brigjen Amir Syarifudin
Pangkostrad                             Letjen Wiranto
Kapolri                         Jenderal (Pol) Dibyo Widodo
Deputi Operasi Kapolri          Mayjen Hutagalung
Direktur Reserse                        Brigjen Noerfaizi
Ka BIA                                  Mayjen Syamsir Siregar
Wakil Ka BIA                            Mayjen Achdari
Direktur "A" BIA                        Mayjen Zacky Anwar Makarim
Pangdam Jaya                            Mayjen Soetiyoso
Kasdam Jaya                             Brigjen Sjafrie Sjamsoeddin
Kapolda                         Mayjen (Pol) Hamami Nata
Gubernur DKI                            Surjadi Sudirdja
Kapolres Jakpus                 Letkol Abubakar Nataprawira
=============================================================

Kelihatannya tidak pasti begitu. Perilaku politik Indonesia yang akrab
dengan kalimat-kalimat multi makna, sudah terbiasa dengan ujaran
semacam itu. Apalagi pelontar kalimat masih orang itu-itu juga. Mantan
pejabat yang pada masa lalu kerap kali memberi keterangan yang
'menyesatkan' kepada publik. Incaran masyarakat memang Soeharto. Itu
disadari betul, oleh siapapun. Maka, apa salahnya berujar seolah-olah
mengarah kepada Soeharto?

Apakah pihak Polri sendiri terlihat serius mengungkap? Lagi-lagi
jawabannya pasti tidak. Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI)
meragukan itikad Polri memeriksa para pejabat militer dan sipil serta
politisi yang terkait dalam peristiwa itu. Sampai saat ini Polri hanya
menahan politisi-politisi sipil yang diduga terlibat. Belakangan malah
status tahanan Lukman F Mokoginta dan Sahala P Sinaga diturunkan
sebagai saksi, Jumat (2/5) lalu. Kalau caranya seperti itu, bagaimana
bisa berharap banyak kasus 27 Juli akan tuntas? Apalagi mengharapkan
Soeharto diperiksa dan diadili. (*)

- -------------------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- --------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 May 2000 jam 10:09:45 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke