---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 17/III/22-28 Mei 2000 ================================================ REBUTAN KEKUASAAN DI TNI (POLITIK): Ada kabar Panglima TNI akan diganti. Katanya, ini upaya Jendarl Tyasno menggusur Laksamana Widodo. Laksamana TNI Widodo AS memang terlalu "demokrat" untuk kalangan TNI Angkatan Darat, yang di masa suka main seenaknya itu. Widodo yang dibantu Kapuspen Marsekal Madya TNI Graito Usodo, oleh kalangan TNI Aangkatan Darat dianggap terlalu jauh bertindak terlalu jauh menarik TNI keluar dari wilayah kekuasaan. Widodo dianggap terlalu lunak terhadap berbagai serangan dari para politisi sipil yang menuntut TNI minggir jauh-jauh dari politik dan kekuasaan. Ini membuat, TNI tidak lagi dianggap sebagai kekuatan yang diperhitungkan. Demikian informasi yang dikumpulkan Xpos dari sejumlah sumber di TNI Angkatan Darat. Kelemahan Widodo paling mutakhir ketika ia tak melakukan perlawanan ketiak ada ide kekuasaan TNI dipereteli lagi dengan disubordinatkan di bawah Departemen Pertahahan dan Keamanan. "Mabes TNI tidak mengeluarkan pernyataan apapun atas ide itu," ujar sebuah sumber Angkatan Darat (AD). Memang, dengan memasukkan TNI di bawah Dephankam, otonomi TNI benar-benar habis, apalagi seorang Menhankam bisa dijabat oleh seorang sipil, seperti sekarang ini. Sebagai institusi di bawah Dephankam, TNI berada di bawah kendali kabinet sepenuhnya. Bagi kalangan AD, struktur ini berbahaya, baik bagi banyak kepentingan internal TNI maupun berbahaya jika Dephankam dikuasai oleh orang-orang dari partai atau kelompok partai tertentu. Toh, yang pasti kalangan AD gemas dengan sikap Widodo yang diam. Ia dianggap tak peka berbagai upaya politik kelompok lain yang ingin menguasai TNI untuk kepentingan politik tertentu. Tak sabar dengan sikap Widodo, kalangan AD berusaha mendongkel Widodo. Dua pekan terakhir, rumor tentang penggantian Widodo menjadi perbincangan di kalangan TNI. Lalu, sepekan berikutnya jadi berita di media massa. Rumor itu berisi penggantian Widodo oleh Jendral TNI Tyasno Sudarto, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dan pengisian jabatan KSAD oleh Pangkostrad, Letjen TNI Agus Wirahadikusumah. Kabar ini langsung dibantah Presiden KH Abdurrahman Wahid, kendati ia kemudian mengatakan, pergantian di tubuh TNI diserahkan ke mekanisme internal TNI. Ini artinya, jika para jendral di Dewan Kepangkatan dan Jabatan Tinggi menginginkan pergantian itu, Gus Dur harus menerimanya. Kartu ini tampaknya yang dimainkan Tyasno. Menurut sumber Xpos di kalangan AD, rumor itu sengaja diluncurkan oleh Tyasno untuk menciptakan prakondisi mutasi itu. "Anda kan tahu, rumor yang dibantah seperti itu kan biasanya justru yang terjadi," ujar sumber itu. Tyasno sendiri tak tegas ketika menjawab isu promosi dirinya menjadi Panglima TNI itu. Ia tidak membantah, namun juga tidak mengiyakan secara tegas. Jawabannya netral-netral saja: "Sebagai prajurit, siap ditugaskan di mana saja." Jadi, isu mutasi itu bukan isapan jempol. Namun, TNI Watch!, terbitan internet yang mengulas hal ihwal TNI, mengajukan analisis yang berbeda. TNI Watch! menulis "Bagaimana mungkin Panglima TNI Laksamana Widodo AS dan KASAD Jenderal Tyasno Sudarto akan diganti, padahal mereka baru menjabat sekitar enam bulan? Panglima TNI Laksamana Widodo dan KASAD Jenderal Tyasno, setidaknya akan menjabat untuk masa dua tahun. Bahkan bisa lebih lama, kalau presidennya masih Gus Dur. Jelasnya, mereka akan terus di posisinya, selama Gus Dur menjabat Presiden. Bagi Gus Dur, mereka adalah pasangan serasi untuk mereformasi kalangan TNI. Baru-baru ini, KASAD Tyasno Sudarto meluncurkan gagasan cemerlang, dengan menghapuskan seragam loreng bagi anggota TNI-AD. Dan Gus Dur sangat terkesan dengan ide pembaruan KASAD tersebut. Dan lagi ide KASAD tersebut tidak berbau proyek, karena tak membuat seragam baru. Yang ada adalah membuang bagian loreng, sementara seragam hijau tetep digunakan, tanpa perlu membuat yang baru. Beda halnya dengan pergantian seragam di masa KASAD Jenderal Hartono, dimana seragam PDH (Pakaian Dinas Harian) bagian atas diganti warna hijau yang lebih muda, jadi perlu ada proyek membuat pakaian baru, khususnya bagian atas." Analisis ini bisa saja salah. Proyek seragam baru, mungkin saja bagian dari trik Tyasno agar lebih populer dan jadi kandidat nomor satu posisi Panglima TNI. AD memang tak akan membiarkan setiap peluang yang akan diperoleh para jendral dari angkatan lain untuk menduduki jabatan Panglima TNI yang selama Orde Baru dikuasai AD. Merebut kembali jabatan Panglima TNI ke tangan AD bagi para jendral AD adalah upaya yang mereka sebut sebagai "cara untuk memulihkan martabat TNI". Selain rumor tentang mutasi Panglima TNI, memang ada juga rumor tentang mutasi untuk tingkat Pangdam ke bawah. Pangdam yang akan mengalami penggantian adalah Pangdam IV/Diponegoro dan Pangdam VI/Tanjungpura. Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Bibit Waluyo akan diganti Mayjen TNI Istarto Subagio Iskandar, yang kini masih berdinas di Lemhanas. Sedang Pangdam VI/Tanjungpura Mayjen TNI Zainuri Hasyim bakal digantikan Mayjen TNI I Gede Purnawa, kini masih menjabat Panglima Divisi Infanteri 1/Kostrad. Mayjen TNI Istarto dan Mayjen TNI I Gede Purnawa, sama-sama alumni Akmil angkatan 1971. Lalu, ada juga rumor pembersihan sisa-sisa orang Wiranto, yakni dilikuidasinya jabatan Wakil Panglima TNI yang diduduki orang dekat Wiranto, yakni: Jenderal TNI Fachrul Razie. Pembersihan ini dilakukan agar Wiranto tak main belakang untuk mengkambinghitamkan AD, misalnya kabar yang merebak di kalangan intelijen bahwa pasukan pro Wiranto akan menembaki aksi mahasiswa Jaringan Kota dengan target sejumlah mahasiswa tewas. Target akhirnya: memaksa Widodo dan Tyasno mundur. Sehingga calon kuat Panglima TNI, tiada lain adalah Fachrul. (*) ========================================================= Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ---------------------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 May 2000 jam 08:28:27 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
