----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

ISTIQLAL (13/06/2000)# Sudah Lebih 14 Abad Janji Tuhan:
MENGAPA KAUM MUSTADHAFIN BELUM JUGA MENJADI PEMIMPIN DI BUMI?

Oleh: Abdi Tauhid

        Sudah lebih 14 abad Al Quran diturunkan ke bumi. Ternyata masih ada
janji Tuhan yang dikemukakan dalam A1 Quran juga belum membumi, masih
menjadi ide saja. Janji Tuhan yang dimaksud ialah yang tertera dalam
surat Al Qashas ayat 5-6. Menurut Buletin DDII No 17 Thn ke XX
(Zulqa'idah 1413 H, April 1993 bahwa Al Quran merupakan kitab suci
yang secara jelas dan tegas membela dan memihak kaum dhuafa. Pembelaan
dan penidakkannya, antara lain: "Dan kami hendak memberi karunia
kepada orang-orang yang tertindas (mustadafhin atau dhuafa) di bumi
dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka
orang-orang yang mewarisi bumi. Dan kami tegakkan kedudukan mereka di
bumi" (Al-Qashash: 5-6).
        Kenyataan dewasa ini menunjukkan orang-orang yang tertindas
(mustadafhin atau dhuafa) masih tetap tertindas dan miskin. Mengapa?
Apakah Tuhan ingkar janji, atau ummatnya, terutama ulama-ulamanya tak
mengamalkan petunjuk-petunjuk yang diberikan Tuhan dalam A1 Quran,
sehingga A1 Qashash ayat 5-6 itu masih tetap merupakan janji yang
belum dibuktikan?
        Sewaktu Al quran itu diturunkan ke bumi, masyarakat manusia telah
terbagi dalam dua kubu yang pokok, yaitu kubu mustadafhin yang
tertindas dan miskin, dan kubu mustakbirin (para tiran, anskuh dan
kaya). Umat tidak satu lagi. Supaya kaum mustadafhin bisa berubah
keadaannya tidak lagi menjadi tertindas dan miskin, tetapi menjadi
merdeka, mereka harus mengubah diri mereka sendiri. Hal itu dengan
tegas dalam Surat Ar Ra'du ayat 11: "Sesungguhnya Allah tiada mengubah
keadaan suatu kaum, kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka
sendiri".
        Menjadi kewajiban pemimpin Islamlah untuk menyadarkan kaum
mustadafhin akan kebenaran  Tuhan dalam surat Ar Ra'du ayat 11
tersebut. Untuk itu kaum mustadafhin harus bangkit mengorganisasi
diri, supaya lilitan penindasan yang dipasungkan kaum mustakbirin atas
leher mereka, dapat dilemparkan jauh-jauh.
        Apakah para pemimpin Islam berperan menyadarkan kaum mustadafhin
berbuat demikian, atau yang dilakukan sebaliknya, yaitu meninabobokan
kaum mustadaffhin supaya tetap tertindas dan miskin dengan berbagai
cara yang seakan-akan mereka memihak kaum mustadafhin, tetapi
sesungguhnya hendak melestarikan ketertindasan kaum mustdafhin tsb?

FAKTOR DALAM YANG MENENTUKAN PERUBAHAN
        Bertolak dari surat Ar Ra'du ayat 11, maka faktor yang menentukan
akal terjadi perubahan keadaan kaum mu&tadafhin dari yang tertindas
dan miskin menjadi merdeka dan sejahtera, adalah faktor dalam kaum
mustadafhin sendiri. Bukan faktor luar, misalnya faktor bantuan dari
luar. Adalah benar, faktor luar bisa membantu mempercepat terjadinya
perubahan, bisa juga memperlambat terjadinya perubahan.
        Bagaimana pandangan Yusuf Qardhawi tentang hal itu? Tampaknya Yusuf
Qardhawi mempunyai kecenderungan: faktor luarlah yang menentukan akan
terjadi perubahan pada keadaan kaum mustadafhin tsb. Dalam bukunya
"Kiat Islam mengentaskan kemiskinan" terbitan Gema Insani Presss Jkt,
1995, Yusuf Qardhawi menegaskan bahwa bukan faktor dalam yang
menentukan perubahan. Yusuf mengemukakan ada 6 sarana untuk
mengentaskan kemiskinan, yaitu:
* Bekerja
* Jaminan anak famili yang berkelapangan
* Pemberian zakat
* Jaminan Baitul Mal dengan segala sumbernya
* Berbagai kewajiban di luar
* Sedekah sukarela dan kemurahan hati individu

        Dengan menekankan kepada pemberian bantuan dari luar, berarti Yusuf
Qardhawi "memberikan pendidikan" dalam arti yang negatif kepada kaum
mustadafhin. Mereka dididik supaya hidupnya tergantung dari bantuan
dan jangan mempersoalkan mengapa mereka sampai miskin dan terindas.
Terima sajalah bantuan.
        Dengan "dididik" supaya kaum mustadafhin terus tergantung kepada
bantuan dari orang lain dan memang terus menerus dijejali dengan
bantuan, makin lama kaum mustadafhin makin tergantung kepada bantuan
tsb. Sehingga akan makin tumpul daya kreasinya untuk mengamalkan isi
surat Ar Ra'du ayat 11.
        Bantuan dari luar memang bisa mempunyai arti positif, jika bantuan
itu dalam bentuk menyadarkan kaum mustadafhin bahwa kemiskinan dan
ketertindas yang mereka alami bukanlah kehendak Allah, melainkan ulah
sementara manusia serakah, yang suka memakan  darah yang mengalir
dalam tubuh orang lain. Mereka yang serakah itu kini bernaung di bawah
bendera kapitalisme. Bahkan saja menyadarkan, bila perlu turut
mengorganisasi mereka supaya kuat persatuannnya dalam menghadapi kaum
mustakbirin.
        Bantuan yang semacam inilah yang akan memungkinkan berubahnya keadaan
kaum mustadafhin dari tertindas dan miskin menjadi merdeka dan
sejahtera, sebagai langkah pertama untuk bisa menjadi pemimpin di
bumi.
        Yusuf Qardhawi dengan tidak menyebut sumber dari buku marxis mana
yang dibacanya, dengan seenaknya saja mengatakan: "menurut marxisme
untuk menghancurkan kemiskinan tidak ada jalan lain selain dengan
menghancurkan golongan aghniyat (golongan orang berada) dan menyita
semua kekayaannya. Selain daripada itu mereka melarang sistem
pemilikan individu, serta menyulut pertikaian antar kelas masyarakat
berdasarkan kedengkian (hal: 43).
        Apa yang dikatakan Yusuf Qardhawi itu adalah sebuah fitnah. Tak ada
dalam program marxisme untuk menghancurkan kemiskinan harus
menghancurkan golongan aghniyat golongan berada. Yang akan dihancurkan
marxisme ialah sistem kapitalisme, sistem yang menghalalkan manusia
menghisap atau memakan darah yang mengalir dalam tubuh orang lain.
Tentu soalnya menjadi lain, bila orang berada itu mempertahankan
sistem kapitalisme dengan mati-matian. Bila demikian, tentu yang
bersangkutan terseret oleh arus pelenyapan sistem kapitalisme. Tentu
tidak akan demikian yang dialami oleh orang berada tsb, jika mereka
tidak merintangi majunya masyarakat yang adil.
        Juga merupakan sebuah fitnahan Yusuf Qardhawi yang mengatakan
marxisme akan menghapuskan hak milik individu, hak milik pribadi.
Padahal justru sebaliknya. Marxisme tampil ke depan untuk membela hak
pribadi buruh yang dicuri kaum kapitalis melalui pembelian tenaga
kerjanya. Yang akan dihapuskan marxisme ialah pemilikan atas alat-alat
produksi, misalnya pabrik, tanah dsb. Karena bila alat-alat produksi
itu diperkenankan menjadi milik perseorangan, tentu akan
dipergunakannya sebagai senjata atau jalan guna dapat mencuri nilai
lebih dari tenaga kerja kaum buruh. Alat-alat produksi harus menjadi
milik umum (negara).
        Bahwa marxisme tidak menghapuskan hak milik individu, seperti
difitnahkan Yusuf Qardhawi tsb dapat pula dibuktikan tentang hak milik
yang diakui di Uni Sovyet (tempo dulu). Hak milik yang diakui itu itu:
1. Hak milik pribadi yang diperolehnya dari hasil kerjanya,
   prestasi kerjanya.
2. Hak milik kolektif (pertanian kolkhos)
3. Hak milik umum (negara)

        Sebenarnya Yusuf Qardhawi juga mengerti hal itu. Itu terbukti dengan
kata-katanya pada halaman 20, yang berbunyi: "Mereka pun menentang
prinsip hak milik pribadi, khususnya terhadap tanah, pabrik dan
alat-alat yang mereka namakan sarana produksi". Jadi, kata-kata hak
milik pribadi itu dimanipulasinya seolah-olah berlaku untuk semuanya.
Padahal khusus mengenai alat-alat produksi. Di sini kelihatan tidak
jujurnya Yusuf Qardhawi.
        Selain daripada itu Yusuf Qardhawi juga mengemukakan bahwa marxisme
itu menyulut pertikaian antar kelas berdasarkan kedengkian. Benarkah
itu? Kaum mustadafhin tidak akan bebas dari ketertindasan dan
kemiskinannya bila tidak berjuang melepaskan belenggu yang dililitkan
kaum mustakbirin di leher dan kakinya. Kaum mustadafhin berjuang
membebaskan dirinya, bukan karena kedengkian, melainkan untuk membela
hak-haknya yang dirampas.
        Kaum mustadafhin tidak akan melakukan perjuangan terhadap yang
menindasnya, sekira kaum mustakbirin tidak melakukan penindasan atas
mereka. Jadi, kalau ada yang menyulut pertikaian antara kaum
mustadafhin dengan kaum mustakbirin, maka yang menyulutnya adalah
penindasan yang dilakukan kaum mustakbirin itu sendiri.
        Seperti juga Allah Swt tidaklah berdasarkan kedengkian kepada kaum
mustakbirin, bila melalui surat Al Qashash ayat 5-6 memihak kaum
mustadafhin, dengan firmannya menjanjikan karunia kepada kaum
mustadafhin untuk menjadikan mereka sebagai pemimpin di bumi dan
mewarisi bumi. Sikap anti marxisme Yusuf Qardhawi itu turut berperan
menghambat membuminya surat A1 Qashash ayat 5-6 di atas.

MEMERANGI MARXISME, ATAU MEMERANGI AL HUMAZAH/AL QASHASH?
        Yang sepikiran dengan Yusuf Rardhawi yang anti marxisme itu, terdapat
pula di kalangan sementara pemimpin-pemimpin Islam Indonesia pendukung
fasisme Suharto. Sama-sama hendak menolong orang miskin, tetapi bukan
untuk menghapuskan kemiskinan. Malahan supaya tetap dapat melahirkan
orang-orang miskin yang baru. Untuk itulah mereka menentang marxisme.
        Bagi mereka cukup terang bahwa PKI itu anti kapitalisme. Dalam hal
anti kapitalisme, sebenarnya Islam seiring jalan dengan PKI, atau bisa
dikatakan komunisme mengikuti Islam. Bukankah Islam 1200 tahun lebih
dulu dari marxisme? Islam anti kapitalismel cukup jelas dari surat A1
Humazah yang mengatakan "terkutuklah orang-orang yang menumpuk-numpuk
harta." Dan yang menumpuk-numpuk harta itu ialah kaum kapitalis.
        Tentang Islam anti kapitalisme, cukup gamblang dikemukakan H.O.S.
Tjokroaminoto 76 tahun yang lalu, melalui tulisannya "Islam dan
sosialisme". Disana dikatakan: "Menghisap keringat orang-orang yang
bekerja, memakan hasil pekerjaaannya lain orang, tidak memberikan
kebahagiaan keuntungan yang semestinya (dengan seharusnya) menjadi
kebahagiaannya lain orang yang turut bekerja mengeluarkan keuntungan
itu semua perbuatan yang serupa ini  oleh Karl Marx disebut
"meerwaarde", adalah dilarang dengan sekeras-kerasnya oleh agama
Islam, karena itulah perbuatan memakan "riba" belaka." Dengan begini
nyatalah agama lslam ialah "memerangi kapitalisme" sampai pada
akarnya, membunuh kapitalisme mulai dari "benihnya", oleh karena
pertama-tama sekali yang menjadi dasarnya kapitalisme, yaitu memakan
keuntungan "meerwaarde" (nilai lebih-pen) sepanjang pahamnya Karl Marx
dan memakan riba.
        Bagi mereka juga cukup jelas bahwa komunisme berjuang untuk hapusnya
penghisapan manusia atas manusia, untuk tegaknya sosialisme di
Indonesia. Dimana kaum buruh, tani yang di bawah kapitalisme tertindas
dan miskin, harus menjadi pemimpin, hingga kaum kapitalis tidak lagi
bisa menghisap kaum buruh, tani dan rakyat miskin lainnya. Ini juga
seiring dengan surat A1 Qashash 5-6 di atas, yang menjanjikan akan
menjadikan kaum mustadafhin sebagai pemimpin di bumi dan mewarisi
(kekuasaan ) di bumi.
        Jadi, yang wajar Islam dan komunisme itu harus bergandengan dalam
melawan kapitalisme dan menegakkan sosialisme. Tetapi itulah yang
tidak mereka lakukan. Mereka justru memerangi-marxisme-komunisme, yang
tidak mempunyai arti lain, selain memerangi Al Humazah( 1-4) dan A1
Qashash 5-6.
        Malah kini dengan menggunakan nama KAK (Komando Anti komunis) telah
terdengar ancaman: mereka akan membakar, menculik bila kaum komunis
muncul kembali, karena dicabutnya Tap MPRS No XXV/1966 oleh Gus Dur.
        Dan yang tak kurang menariknya ialah tafsiran Amien Rais terhadap
pelaksanaan surat A1 Qashash ayat 5-6 itu, seperti yang termuat di
dalam tabloid Adil (No 42 thn ke-66, 22-28/7/98), dengan judul
"Pemerintahan yang Welas Asih". Di dalamnya antara lain Amien Rais
mengatakan "Allah Swt berkenan memberkati orang-orang yang tertindas
di muka bumi dan menjadikan mereka pemimpin dan pewaris (kekuasaan).
Demikian kata A1 Qashash ayat 5-6."
        Bila ditafsirkan ayat ini, kata Amien Rais memberi petunjuk bahwa
sebuah pemerintahan yang memperhatikan kehidupan orang-orang yang
lemah dan diperlemah oleh struktur sosial, pelitik dan ekonomi, dengan
berusaha melakukan perubahan-perubahan struktural yang diperlakukan,
maka pemerintahan itu lestari. Di samping itu pemerintah harus
berwatak welas asih pada rakyat kecilnya.
        Tafsiran Amien Rais ini berarti, bagi Amien Rais surat A1 Qashash 5-6
itu sudah menjadi kenyataan, meskipun pemerintahan itu tidak dipimpin
kaum mustadafhin, asal mempertahankan kepentingan kaum mustadafhin.
Padahal, bagaimanapun juga besarnya perhatian pihak lain, apalagi bila
yang memegang kekuasaan  itu kaum mustakbirin, maksimal perhatiannya
hanya sekedar bantuan. Berbeda bila kaum mustadafhin sendiri yang
memperhatikan dirinya. Mereka akan hapuskan penindasan yang dilakukan
kaum mustakbirin atas diri mereka.
        Tafsiran Amien Rais benar-benar hendak membelokkan tujuan A1 Qashash
5-6, supaya kaum mustakbirin tetap berkuasa. Padahal cukup gamblang
dikatakan menjadikan kaum mustadafhin sebagai pemimpin di bumi dan
mewarisi bumi. Bukan untuk diwelas asih oleh pihak lain. Tafsiran
serupa ini juga turut menghambat membuminya surat Al Qashash 5-6,
meskipun telah 14 abad lebih Tuhan menjanjikannya.
        Belum membuminya surat A1 Qashash ayat 5-6 bukanlah karena Tuhan
ingkar janji, tetapi adalah karena pemimpin-pemimpin Islam sendiri
tidak menggunakan petunjuk Tuhan dalam surat Ar Ra'du ayat 11, malahan
mereka memerangi diamalkannya surat Al Humazah (ayat 1-4) dan surat A1
Qashash 5-6 itu, melalui memerangi marxisme-komunisme.
        Mereka memerangi marxisme-komunisme dengan tuduhan anti agama, anti
Tuhan, atheis hanya untuk menyembunyikan diri mereka menggunakan agama
untuk kepentingan politik membela kapitalisme. Mereka diuntungkan oleh
kapitalisme. Padahal komunisme bukannya anti Tuhan, anti agama, atheis
melainkan Non-theis, artinya hanya mempersoalkan masalah dunia belaka,
soal hubungan manusia dengan manusia setelah manusia ada, bagaimana
supaya terdapat keadilan. Komunisme memang tidak mempersoalkan masalah
akhirat.
        Masalah beragama adalah masalah manusianya mau beragama atau tidak.
Islam menyatakan tidak ada paksaan dalam agama (A1 Baqarah 256).
Mereka mau beriman, berimanlah, mau kufur-kufurlah. Resiko diakhirat
tanggung masing-masing (A1 Kahfi 29). ***

- ------------------------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 14 Jun 2000 jam 06:42:12 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke