---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Kamis, 8 Juni 2000 Herlina Papare: Elite Politik Papua Khianati Generasi Muda 28 "BEBERAPA elite politik Papua yang saat ini menjadi lokomotif gerakan kemerdekaan Papua, telah mengkhianati generasi muda. Di Jakarta mereka menandatangani tanda kesetian kepada Negara Kesatuan RI (NKRI) dan berjanji tidak memperjuangkan Papua merdeka. Di Papua, mereka menggerakkan massa menuntut kemerdekaan. Mengapa perjuangan itu tidak dilakukan saat Papua masuk dalam agenda Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)?" demikian ditegaskan Ketua Yayasan Pengabdi Pancasila (Yapencas) Ny Herlina Papare di Jayapura, Sabtu (3/6). Sebagai tokoh kepercayaan generasi muda, elite politik seharusnya menyatakan sikap tegas. Sikap mereka jangan berbeda ketika berada di Jakarta dengan ketika berada di Papua. Sikap seperti ini dinilai Herlina sebagai upaya mengejar kepentingan pribadi dengan mengorbankan rakyat kecil. "Di Jakarta, awal 1999, pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie, beberapa elite politik yang saat ini sangat vokal bicara mengenai kemerdekaan Papua, telah menandatangani pernyataan kesetiaan kepada NKRI, bahwa mereka tidak akan pernah mengkhianati RI. Dan, jika pemerintah bertindak tegas berdasarkan hal ini, siapa yang salah?" kata ibu lima putra ini. Dari awal, ketika status politik Papua diperbincangkan antara Belanda, Indonesia, Amerika Serikat, dan PBB, elite politik itu tidak pernah menunjukkan kegigihan memerdekakan Papua. Mereka justru tergiur pada tawaran harta serta janji jabatan. Keponakan dari pejuang ulung penyatuan Papua ke dalam NKRI Silas Papare ini mengatakan, pada masa pemerintahan Belanda dibentuk satu partai politik disebut Partai Nasional (Parna) oleh para elite politik. Parna mempersiapkan warga Papua menentukan nasib sendiri yakni kemerdekaan bersama Indonesia. Yang mengherankan, kini elite politik menggiring generasi muda untuk menuntut kemerdekaan. *** TUNTUTAN kemerdekaan bergulir setelah reformasi. Pemerintah memberi berbagai peluang kepada para elite politik Papua dan rakyat Papua untuk meluruskan sejarah dalam wadah persatuan dan kesatuan nasional. Sikap pemerintah dinilai terlalu jauh memberi kesempatan berdemokrasi. Sikap ini dibarengi dengan membiayai Kongres Papua. Padahal, biaya seperti itu dapat dimanfaatkan untuk mensosialisasikan persatuan dan kesatuan Papua ke dalam NKRI melalui LSM yang ada. Karena itu menurut ibu pemain sepak bola kesebelasan Semen Padang, Erol FX Iba, perilaku elite politik Papua saat ini hanya untuk mengejar kepentingan pribadi. Tetapi satu saat, yang paling menderita adalah rakyat kecil. Walau demikian, kemerdekaan Papua seperti dituntut para peserta kongres, tidak mudah dicapai. Jika tuntutan itu dibahas secara luas di dunia internasional, maka PBB, Amerika Serikat dan Belanda harus merombak kembali seluruh proses sejarah penggabungan Papua ke dalam negara RI. Siapa yang akan lebih berperan dalam proses itu bisa menentukan suara yang dihasilkan. *** HERLINA lahir di Serui, Kabupaten Yapen Waropen, 19 Oktober 1952, dari pasangan Paulus Papare dan Yuliana Bonay. Kedua orangtuanya mempunyai andil besar bagi proses penggabungan Papua ke dalam NKRI. Mereka berasal dari keluarga pejuang penyatuan Papua Barat ke dalam NKRI. Namun, menurut aktivis pejuang Pancasila dan Ketua Kesatuan Penerus Pejuang RI ini, para pahlawan pejuang kemerdekaan Papua ke dalam NKRI tidak pernah diperhatikan sampai hari ini. Pemerintah hanya memberikan penghargaan demi penghargaan tetapi tidak ada upaya membangun kesejahteraan mereka. Tentang yayasan yang dipimpinnya, Herlina mengatakan ia dibantu 25 orang pekerja di yayasan itu. Mereka setiap hari bekerja mempersatukan masyarakat ke dalam NKRI sebagaimana diamanatkan para pejuang terdahulu. Mereka berjalan kaki dari rumah ke rumah di Jayapura dan ke daerah-daerah. "Kami kerja cuma-cuma. Kami sama sekali tidak punya dana. Kami berbakti hanya untuk meneruskan perjuangan almarhum Papare. Ke- 25 anak buah saya tidak diberi upah apa pun. Semangat perjuangan kami hanya karena ingin mengabdi kepada bangsa ini," katanya. Menurut Herlina, kharisma para pejuang itu masih sangat besar hingga kini dan dapat dimanfaatkan pemerintah pusat sebagai kekuatan oposisi terhadap para elite politik Papua. Ketika elite politik menggerakkan massa untuk meminta kemerdekaan Papua Barat, kekuatan oposisi itu masih menunggu sikap pemerintah pusat. "Kita semua tahu, tuntutan kemerdekaan itu sudah sangat deras. Pemerintah harus berkorban luar biasa menggiring generasi muda masuk ke bingkai NKRI kembali. Jangan gunakan kekerasan, tetapi bagaimana pemerintah mendekati para pejuang termasuk anggota veteran yang masih hidup," tutur perempuan yang selalu mengenakan pakaian berwarna biru tua ini. Hasil kongres harus didengar pemerintah karena merupakan kemauan seluruh lapisan masyarakat Papua. Bendera Bintang Kejora sudah dikibarkan, semangat patriotisme sedang berkobar-kobar. Untuk mengatasi hal itu, pemerintah jangan mengandalkan pemerintah daerah, Kaditsospol dan aparat keamanan setempat. Mereka-mereka itu justru yang membuat tumbuhnya benih-benih kemerdekaan di hati rakyat Papua karena sikap dan perilaku mereka yang kurang simpatik selama ini. Pemerintah juga tidak boleh berupaya membujuk elite politik dengan berbagai upaya seperti dilakukan selama ini. Ketika elite politik berhasil dipegang, tuntutan arus bawah masih tetap kuat. "Kekuatan aspirasi merdeka tidak terletak pada elite politik. Apa pun yang mereka lakukan tidak akan mampu membendung tuntutan merdeka yang begitu kuat, kecuali dipaksakan. Tetapi, konsekuensinya akan jatuh korban di pihak rakyat," katanya. Yang paling dekat dan paling disegani kelompok arus bawah adalah para pejuang yang membawa Papua masuk ke dalam NKRI. Pada para pejuang itulah harapan rakyat kebanyakan bisa dipenuhi. Menurut Herlina, pemerintah pusat harus mulai mendata tokoh berkharisma di Papua yang pernah berjasa bagi penyatuan Papua ke dalam NKRI. Para tokoh itu sampai kini masih memiliki kekuatan luar biasa. Massa yang mereka miliki pun sangat luas, tetapi mereka masih menunggu pemerintah dan sejauh ini mereka memilih diam. Jika massa dari kelompok oposisi ini tidak dipegang dan diarahkan, semua komponen masyarakat Papua akan digiring ke dalam aspirasi kemerdekaan. Ini, perlahan-lahan sudah mulai tampak dan makin meluas. *** HERLINA sangat mengagumi perjuangan almarhum Silas Papare. Ketika memasukkan Papua Barat ke dalam NKRI, secara luar biasa telah menghubungkan Papua Barat dengan Pulau Jawa, dengan menggunakan tongkat. Tongkat itu dikuasai orang yang ditunjuk Silas menjelang kematiannya. Namun, orang itu selama ini diabaikan pemerintah. "Tokoh kharismatik itu bisa membawa Papua ke dalam suatu kemerdekaan baru tanpa pertempuran seperti ketika Papua bergabung dengan NKRI. Saya adalah pejuang penegak Pancasila dan kedaulatan RI, saya tahu adat dan kekuatan mistik tersebut," kata Herlina, tanpa mau merinci kepercayaan tentang kekuatan itu. Alur berpikir generasi muda seakan-akan telah diarahkan para elite politik bahwa seluruh sejarah penyatuan Papua ke dalam negara RI seakan-akan tidak melibatkan satu orang Papua pun. "Saya yakin, jika tokoh masyarakat yang berkharisma ini bertindak, tidak akan terjadi bentrokan atau benturan antara massa pendukung kemerdekaan dan massa pejuang penyatuan ke dalam NKRI. Kharisma para tokoh pejuang penyatuan, jauh lebih kuat daripada kekuatan elite politik," kata Papare. (Kornelis Kewa Ama) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 14 Jun 2000 jam 08:34:06 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
