---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 21/III/19-25 Juni 2000 ================================================ PAHLAWAN (LUGAS): Krisis politik, selalu menghasilkan dua alternatif: kehancuran dan kebangkitan. Bagi mereka yang berpandangan fatalis, krisis melulu dianggap sebagai malapetaka. Sebaliknya, bagi mereka yang penuh harapan, krisis bukan berarti celaka. Krisis bisa berarti proses berat penuh tantangan yang harus dilalui sebelum "melahirkan" sesuatu. Krisis ibarat perjuangan seorang ibu sebelum melahirkan "bayi kebahagiaan" yang segera mengganti semua tangis menjadi derai tawa. Krisis, karenanya, juga selalu menghasilkan pecundang dan pahlawan. Para pecundang adalah mereka yang mau melakukan apa saja. Intrik dan segala kekotoran untuk menghindari pedihnya rasa sakit. Mereka termasuk para oportunis politik yang mau mengambil keuntungan di tengah-tengah luka bangsa yang menganga. Mereka menjadi pencundang bukan karena kalah dalam pertarungan. Tapi, karena mereka memilih untuk takluk pada kepentingan pribadinya, di kala bangsa dan negara masih membutuhkan pengorbanan. Sementara itu, para pahlawan adalah mereka yang rela menanggung derita, kecewa, bahkan kesempatan untuk menjadi nomor satu. Mereka adalah para pemenang, bukan untuk dirinya sendiri. Tapi, untuk rakyat banyak. Para pecundang adalah mereka yang mandi kekayaan dari dana yang semestinya digunakan untuk kepentingan rakyat, misalnya dalam kasus Bulog. Bukan itu saja, para pecundang adalah yang memanfaatkan krisis politik untuk menjatuhkan kekuasaan pemerintah yang sah. Mereka tak segan-segan gunakan segala macam isu untuk menghantam lawannya. Mulai dari isu SARA hingga kesehatan presiden. Mereka melakukan tawar-menawar dengan siapapun --termasuk bekas lawan politiknya-- untuk menggolkan kepentingan sesaatnya. Mereka hanya bermanfaat bagi para pahlawan untuk satu hal: Membuat para pahlawan bercermin untuk membedakan yang mana pahlawan, yang mana pecundang. Tanpa ada pecundang, memang takkan ada kata "pahlawan". Kita semua bisa menjadi pecundang. Bisa pula menjadi pahlawan. Sebab, predikat demikian sangat situasional. Seorang pahlawan hari kemarin, bisa menjadi pecundang hari ini. Begitu pula sebaliknya. Celakalah mereka yang terus-menerus memainkan peran pencundang dari hari kemarin hingga kini. Sungguh, kita perlu memberikan penghargaan yang tulus bagi Megawati Soekarnoputri dan Akbar Tanjung. Mengapa? Karena, setidaknya, hingga saat ini, mereka tak terpancing tawaran sekelompok makelar politik untuk menjadi nomor satu di republik ini. Mereka sadar, cara-cara itu takkan membuat masa depan demokrasi Indonesia akan lebih cerah. (*) ========================================================= Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ------------------------------ SiaR WEBSITE: http://lawpc42.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 22 Jun 2000 jam 05:33:47 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
