---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Agama dan Korupsi Salah satu ciri yang bisa diharapkan pada orang-orang yang mengaku beragama adalah kejujuran. Kalau kejujuran ini belum terlihat dan terbukti dalam kata dan perbuatan orang-orang yang mengaku beragama, maka agama bagi mereka hanya sekedar merek, sekadar bendera, sekadar atribut. Alangkah ironis, manusia Indonesia yang sering begitu kental memperlihatkan sikap keagamaan mereka ternyata secara bersama-sama sampai sekarang masih belum berdaya apa-apa menghadapi penyakit korupsi. Penipuan demi penipuan, korupsi demi korupsi tampaknya berjalan mulus saja tanpa sedikitpun mengundang perasaan berdosa dan malu. Akal untuk mencuri masih tetap menguasai pikiran sebagian besar orang Indonesia yang sering komat-kamit mengucapkan ayat-ayat dari kitab suci. Kalau dihadapkan pada kesempatan bisa mencuri dengan aman ternyata agama yang mereka tonjol-tonjolkan itu sekadar hinggap di mata, bukan bersarang di hati. Begitu muncul kesempatan, dan jika dikira tak bakal ketahuan, maka Tuhan yang sekadar hinggap di mata itupun terbang sementara korupsi dan penipuan-penipuan dilakukan seenaknya tanpa menimbulkan beban moral, tekanan perasaan berdosa atau bersalah di hati lantaran di sana Tuhan yang kerap dikomat-kamitkan siang malam itu memang tidak pernah benar-benar hadir sebagaimana mestinya. Kalau Tuhan memang ada di hati dan pikiran kebanyakan orang Indonesia sebagaimana harusnya, kenapa korupsi yang jelas-jelas sangat melanggar kehendak Tuhan itu toh dilakukan juga? Memang terasa ada yang mengganjal ketika kita bicara soal Tuhan dengan segala keghaibannya, ketika berteori-teori tentang agama dalam seribu satu aspek luhurnya, ketika kita beragumen bahwa agama tidak akan tertinggal oleh kemajuan science dengan begitu bersemangatnya padahal kita belum juga mampu menunjukkan kehadiran Yang Maha Tahu di dalam diri kita masing-masing dengan berusaha melalui usaha serta cara kita sendiri-sendiri pula untuk melenyapkan korupsi yang nyata-nyata mencemoohkan Tuhan, memiskinkan rakyat dan mengotorkan reputasi orang Indonesia sebagai manusia yang sering mengaku berakhlak tinggi karena percaya kepada Tuhan. Marilah sejenak kita membumikan agama dengan berhenti dulu bicara tentang hal-hal yang high-sounding, agar kita dengan jernih dan terfokus dapat memikirkan bagaimana caranya kita bisa mengobat borok-borok sosial dan ekonomi akibat ketidak kejujuran yang memudahkan perbuatan korupsi atau mencuri kerana hal inipun sesungguhnya sangat relevan dalam konteks pembicaraan tentang agama. Hanya saja lebih membumi, lebih menyangkut kehidupan kita sehari-hari, dan karena kita percaya kepada hari akhir, juga ikut menentukan di mana tempat yang layak bagi masing-masing kita di akhirat nanti. Kalau saja semua orang Indonesia betul-betul perduli pada masalah korupsi yang jangkuan akibat buruknya justru lebih luas dan merusak daripada bentuk-bentuk pelanggaran lain di Indonesia; kalau saja kita semua tegar memegang prinsip bahwa membiarkan korupsi sama saja dengan melakukan korupsi itu sendiri; membiarkan pencurian sama dengan mencemoohkan agama yang dibela-bela tanpa ampun itu, barulah kita punya dasar berpijak yang tidak fiktif untuk mengatakan bahwa kebudayaan korupsi yang sudah merasuk sedemikian jauh ke dalam mentalitas orang Indonesia secara serius penanganannya memang sedang diusahakan. Tidakkah ironis bahwa di negara di mana kita melihat kebanyakan manusia dengan begitu fanatik memukul-mukul genderang dan meniup-niup terompet agama dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat seperti di Indonesia justru di sana korupsi dan segala penipuan justru menunjukkan wajahnya yang paling edan? Cobalah anda jumlahkan semua angka kekayaan negara yang telah dicuri selama tiga puluh dua tahun terakhir ini, lalu salurkan sebagian untuk menaikkan gaji para pegawai dan sebagian lagi untuk membiayai peningkatan sumber daya manusia Indonesia dalam jangka yang sama pula. Apa yang terjadi? Silahkan anda bayangkan sendiri! Suharto bersama konco-konconya digulingkan terutama sekali karena pencurian-pencurian kekayaan negara yang mereka lakukan. Setiap kesalahan harus dihukum! Sudah berapa orang koruptorkah yang dijebloskan ke dalam penjara? Sudah adakah contoh yang bisa dijadikan 'peringatan' bahwa kalau anda korupsi anda tidak bisa tawar-menawar, anda pasti masuk bui? Manusia, apalagi kalau ada kesempatan, memang cenderung untuk tidak jujur, demi keuntungan dirinya. Di negara manapun korupsi itu terjadi. Yang membedakan adalah di negara-negara yang hukumnya tegak, kalau orang ketahuan, tidak perduli siapapun dia, akan diseret ke pengadilan dan diganjar dengan hukuman. Adanya contoh-contoh bahwa siapa yang ketahuan korupsi pasti tidak akan bisa menghindar dari pengadilan dan penjara, adalah syarat mutlak bagi tegaknya hukum. Kalau contoh-contoh yang diharapkan itu belum ada, semua upaya memberantas korupsi cuma omong kosong! Kerugian yang diderita oleh Indonesia bukan sedekar kerugian material, tapi juga kerugian moral. Ia telah menghunjamkan kebiasaan korupsi ke dalam semua lembaga kenegaraan Indonesia sehingga tidak dapat lagi sekedar dikompensasi dengan 'harta' yang dikembalikannya itu. Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa Indonesia adalah negara hukum, dan hukum di Indonesia adalah adil kalau para pencuri kelas teri yang mencopet di jalanan dibiarkan begitu saja ketika dipukuli dan dibakar sementara seorang Suharto yang telah menyengsarakan ratusan juta rakyat dan dan merusak ahlak lembaga-lembaga pemerintahan boleh mengulur-ngulur waktu dengan sekadar alasan kesehatan (yang belum tentu benar) hanya lantaran dia seorang mantan Presiden? Di mana letak timbang rasa kemanusiaan kita? Di mana letak rasa keadilan kita? Tidak adakah orang Indonesia yang tersinggung rasa keagamaan mereka menyaksikan berbagai ketidak-adilan semacam itu? Apakah upaya memberantas korupsi yang jelas-jelas telah memiskinkan kita lahir bathin ini tidak pantas dibicarakan demi memperlihatkan wajah kehidupan beragama yang lebih baik sehingga bisa membangkitkan keyakinan dan kepercayaan orang luar kepada kita? Sekali lagi, alangkah ironis bahwa di sebuah negara di mana semua manusianya mengaku ber-Tuhan tetapi di sana korupsi yang jelas-jelas haram justru memperlihatkan sosoknya yang paling memalukan! Wassalam, Vita Brevis (Juga Manusia Indonesia) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 28 Jun 2000 jam 06:27:41 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
